Top Ad 728x90

Wednesday, November 23, 2011

3D+P

Bagaimana seharusnya seorang guru mengajar? Pertanyaan seperti ini akan selalu timbul jika seorang guru itu tidak berhasil dalam mendidik/ mengajar suatu mata pelajaran. Katakanlah mata pelajaran eksakta yang membutuhkan perhatian dan kecermatan khusus dalam memahami teori-teori dan penurunan rumus yang ada di dalamnya.
            Seorang guru – selain mempunyai ketrampilan khusus dalam mengajar – juga membutuhkan perhatian kepada peserta didiknya demi mencapai tujuan yang maksimal. Bila seorang guru hanya mampu menguasai teori-teori dan penurunan rumus saja sedangkan perhatiannya kepada peserta didik sangat kurang maka jangan pernah berharap pelajaran yang diajarkannya akan berhasil.
            Perlu diingat bahwa, peserta didik akan memperhatikan pelajarannya lima belas menit pertama dan lima belas menit terakhir. Lima belas menit pertama untuk mengetahui materi apa yang akan disampaikan oleh gurunya tersebut dan lima belas menit terakhir untuk memastikan bahwa pelajaran itu telah selesai dan apa yang dapat diambilnya dari belajar hari itu.
            Perhatian penuh peserta didik terhadap pelajaran yang disampaikan sangat mendukung mencapai kesuksesan. Misalnya menit-menit pertama peserta didik sudah merasa bosan apalagi menit-menit selanjutnya. Akhirnya apa yang terjadi, 3D + P akan segera bermain di benak meraka.
            “Dari pada dengar dia (baca : guru) ngomong di depan mending duduk, dengar, diam dan pulang,” begitu yang sering saya dengar. Bukan hanya siswa-siswi di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau yang sederajat dengan keduanya. Mahasiswa saja yang taraf pemikirannya sudah jauh lebih berkembang juga akan merasa jenuh bila dosennya tidak mempunyai cara-cara jitu dalam mengajar. Selanjutnya seperti yang telah saya tekankan tadi:. 3D + P!
            Nah, untuk menghindari kejenuhan itu kita – siapa pun calon guru – harus pandai menciptakan suasana yang nyaman untuk melanjutkan pelajaran kita. Jangan sampai peserta didik sibuk dengan dunia mereka sendiri di belakang sana sedangkan kita sibuk dengan dunia kita sendiri di depan kelas. Dengan kata lain. Guru ngawur, siswa main catur!
            Kalaulah kita – sekali lagi calon guru – tidak menginginkan hal di atas terjadi maka carilah suasana santai dalam mengajar. Jangan mentang-mentang kita sudah hafal betul penurunan suatu rumus maka dengan seenaknya menulis di papan tulis tanpa melirik ke belakang. Padahal peserta didik sudah menggerutu ingin cepat-cepat ngacir dari kelas itu atau bahkan sudah mendengkur sambil mendengar radio dari ponsel mereka.
            Apakah kualitas pendidikan akan terjamin jika hal itu tetap terjadi? Sama sekali tidak akan, bukan?  Maka dari itu, lihatlah kemauan peserta didik kita supaya apa yang kita sampaikan mengena dan mereka akan balik menantang kita dengan pertanyaan keingintahuan mereka.
            Lalu, bila mereka – peserta didik – melemparkan pertanyaan berat sehingga membuat kita tidak mampu menjawabnya, jangan pernah menyudutkan mereka karena timbulnya pertanyaan itu tetapi berilah suatu harapan bahwa kita akan berusaha menjawabnya di lain kesempatan.
            Karena berdasarkan pengalaman, ada guru yang sama sekali tidak menghargai pertanyaan-pertanyaan atau pendapat-pendapat peserta didik tersebut. Guru itu merasa bahwa tidak ada sejengkal kata-katanya yang salah. Dalam artian apa pun yang keluar darinya itu adalah benar! Di sini seorang guru akan terlihat egois dan tidak pandai menyalurkan ilmu yang telah didapatkannya di bangku kuliah. 
Dengan demikian, peserta didik akan merasa pendapatnya tidak diterima! Dan sampai kapan pun ia tidak akan mengajukan pertanyaan atau pendapatnya kepada guru tersebut. Bukankan kita tidak menginginkan hal itu terjadi?
Peserta didik itu bukanlah sosok bayi yang belum tahu-menahu tentang dunia pendidikan. Banyak peserta didik yang sangat mengerti pendidikan sehingga tidak mengabaikan waktu untuk tidak mencoba hal baru mengenai pendidikan tersebut. Bisa jadi peserta didik itu lebih banyak membaca dari pada guru sehingga pengetahuannya bertambah.
Kalau kita lihat perkembangan saat ini sebagian – yang mempunyai keinginan keras dalam belajar – peserta didik tidak lagi terpaku pada guru saja. Mereka banyak melakukan hal-hal baru sendiri sehingga ketika berada di dalam kelas dia akan balik menantang guru tersebut dengan penemuannya.  Peran guru tidak lagi identik dengan sosok serba bisa tetapi sosok guru itu harus mampu meluruskan di mana yang belum di mengerti oleh peserta didik di samping belajar kembali.
            Maka, hasil yang dicapai pun akan maksimal dan kita tidak akan rugi lama-lamanyerocos di depan kelas. Paling tidak di lima menit terakhir saat kita menyampaikan kesimpulan pelajaran kita hari itu mereka tidak membuang-buang waktu untuk tidak mendengarnya dengan seksama.
            Apa pun itu, jika dimulai dengan semangat yang kuat maka hasilnya juga akan bagus. Begitu juga dalam mengajar. Kuncinya hanya satu. Iqra’.
            Terkutip dari itu saya teringat ketika pertama sekali saya bercita-cita ingin menjadi salah satu bagian dari calon pendidik/ pengajar tersebut. Dan hanya satu kunci yang saya pegang sampai saat ini – mungkin – juga untuk waktu-waktu ke depan.

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90