Top Ad 728x90

Wednesday, November 23, 2011

Apa Kabar, Girls?

Pernah dengar kata Akhwat?
            Saya yakin kita semua pasti mengenal dan sering berinteraksi dengan yang namanya ‘Akhwat’ itu. Kalau menurut kaidah Bahasa Arab, akhwat itu adalah saudara perempuan, tetapi kalau sekarang ini akhwat itu identik dengan aktivis dakwah dan sebagai-sebagainya, pikir sendiri aja deh!
            Saya di sini bukan mau ngomongin tentang mana yang dikatakan akhwat atau bukan melainkan ada satu hal yang nggak mungkin saya lupa tentang sosok akhwat itu. Dan apakah itu?So, ngintip aja ke depan.
            Pernah nggak jumpa sama akhwat yang pake jilbab gede tapi di belakang motor seorang cowok? Atau pernah nggak lihat akhwat yang duduk berduaan dengan cowok ganteng di kafe-kafe kecil di tepi jalan bila senja tiba? Dan pernah nggak dengar akhwat yang selalu ngomongin tentang cowok tampan atau aktor di film-film laga?
            Kalau nggak pernah! Ke laut aja deh, coy!
            Nah, saya udah beberapa kali nemuin kasus kayak beginian. Pertama waktu saya masih di bangku Tsanawiyah (ingat kan Madrasah Tsanawiyah yang setingkat dengan SMP? Itu dia). Ketika itu saya kelas tiga, emang sih kalau kelas tiga kita agak rada-rada sombong dikit karena mau terbang (ke mana, Man?). Habis itu anak kelas tiga biasanya sering sok jago di hadapan adik-adik kelasnya. Saya kayaknya–emang iya kali ya–melakukan hal yang sama seperti yang teman-teman saya lakuin waktu itu. Tebar pesona istilahnya. Siapa aja cewek yang lewat di depan pasti disiulin. Mau cakep, hitam, putih, bersih, jelek (istilah untuk siapa<?>), pasti dikerjain. Percaya nggak percaya tanya aja sendiri sama anak-anak SMP yang lagi heboh-hebohnya dengan yang namanya cinta. Sekali lagi, C-I-N-T-A! Atau sama anak SD yang pada jaman ini udah punya gebetan. Huahaha (ketinggalan deh lo!)
            Wow! Udah ngelantur ke mana-mana. Entar dulu. Kita nggak ngomongin masalah itu sekarang. Namun… (senyum dulu, say! Lega, kan?) saya ingin menekankan tentang seorang cewek (baca : akhwat) yang menarik perhatian saya. Orangnya cakep, (nggak kalah amat sama Luna Maya atau Agnes Monica), suka tersenyum manis sama siapa aja, pintar, berjilbab lebar (jangan kira di Tsanawiyah siswinya semua berjilbab lebar lho) dan dia adik letting saya.
            Masalahnya. Saat saya deketin dia malah nganggap saya mau pedekate sama dia (kegeeran saya ceritanya). Dan ketika kami kenalan ternyata anaknya heboh, suka tertawa ngakak, suka jahilin orang, rame banget kalau deket-deket sama si cantik itu.
            Tapi… ada nyamuk masuk mulut gue nih, tolong dong… masa lo diam aja. Entar dulu gue ambil minum…^:^
            Cewek itu ternyata punya cowok. Urung saya deketin dia lagi karena isu-isu langsung tersebar luas ke seluruh penjuru. Nampaknya mereka telah lama menjalin hubungan itu tapi karena si cewek sering ikut kajian keislaman maka hubungan mereka merenggang. Bukannya putus tetapi ‘bercinta dalam diam,’ pikir aja sendiri bagaimana bentuknya.
            Saya yang dulunya kagum padanya karena begitu gigih mendalami Islam dan mempertahankan nilai-nilai keislamannya itu perlahan-lahan menurun. Saya langsung memberikan nilai minus untuknya ketika saya tahu dia tetap jalan dengan si cowok ganteng itu sepulang sekolah.
            Semua orang punya hak! Saya akui, tapi kalau hak itu disalahgunakan mana mungkin saya mau mengakuinya. Belakangan saya mendengar (bahkan melihat sendiri) jilbab cewek itu udah nggak selebar dulu lagi. Kajian keislamannya juga nggak lancar lagi bahkan sering nggak datang. Sering duduk-duduk dengan cowok-cowok lain selain cowoknya itu. Lebih dari itu, dia udah sangat sering jalan bareng dengan sang cowok pujaannya itu.
            Tunggu!
            Jangan kira saya cemburu ya. Tapi saya nggak enak aja kalau lihat dia yang aktivis dakwah (katakanlah demikian) melakukan kemungkaran. Menurut kamu bagaimana? Saya yakin kamu juga nggak setuju bila ada orang yang pacaran sebelum menikah. Ngaku aja, nggak usah nyimpen unek-uneknya di dalam hati entar basi sendiri. Busuk, bukan?
            Seringnya dia jalan sama sang cowok tampan itu akhirnya menjadi buah bibir di sekolah. Nyatanya semua orang ngomong kalau cewek tadi udah sangat ‘liar’. Saya nggak tahu istilah liar itu apa. Tapi saya dapat menangkap kalau yang ngomong itu ingin mengatakan bahwa si cewek itu nggak bermoral lagi.
            Benar aja. Masa dia pacaran nggak kapok-kapoknya. Udah dengar orang pada ngomongin dia mulu, dianya masih adem ayem mempertahankan hubungan tanpa status itu. Emang sih, jaman sekarang kalau nggak pacaran itu kuno. Takut dibilang nggak laku. Padahal nggak juga tuh, masih banyak cowok ganteng yang nggak pacaran atau masih banyak kok cewek cantik yang masih ngejomblo. Nggak percaya kan? Nyari aja sendiri.
            Ketika saya udah cabut dari Tsanawiyah dan meneruskan pendidikan ke Aliyah, saya masih saja mendengar tentang si cewek nan cakep itu. Kali ini bukan dengar gosip-gosip nggak laku doang tetapi saya melihat dengan mata kepala sendiri kalau si cewek manis itu buka jilbab! (kecuali kalau bepergian jauh dan ke sekolah dia tetap berjilbab).
            Kiamatlah hati saya. Mulai saat itu saya nggak pernah lagi ngomong sama dia. Ngelirik pun rasanya enggan. Perasaan gimana gituuu!
            Udahlah. Biakan saja dia dengan dunianya dan biarkan saya dengan dunia saya. Emang kamu kepikir nggak dunia itu berapa buah?
            Beberapa waktu saya melupakan sosok anggun berjilbab lebar itu. Bagi saya dia adalah masa lalu yang akan memudar dengan sendirinya. Namun perkiraan saya sama sekali nggak kena. Saya malah diiming-iming pernah berhubungan tanpa status sama dia. Jelas saja saya kacau-balau, mungkin kalau ada monyet di depan mata pasti udah saya teriakin untuk membawa saya melompati pohon demi pohon mencapai hutan. Malu berat saya waktu itu. Lebih-lebih yang negur saya itu guru saya sendiri yang kenalan dekat si cewek tadi.
            Keren, Man! Padahal seumur idup gue nggak pernah ngimpi jadian ama dia. Lha sekarang … gue dapet cewek cakep. Girang benar gue!
            Saya sempat shock mendengar teguran itu. Mungkin karena saya patah hati kali ya ketika cinta pertama saya lari entah ke mana. Lupakan. Yang nggak perlu dibahas ditinggalin aja lebih baik.
            Sejak saat itu nilai minus untuk cewek itu makin bertambah dari saya. Mungkin karena saya nggak kepikir akan dihadapkan pada masalah besar ini. Saya tetap nggak peduli dengan masalah itu, toh kapan-kapan masalah itu akan ngacir seiring berjalannya waktu. Tapi…. Banyak tapinya nih. Masalah itu makin membesar.
            Saya sempat bertanya saat itu.
            “Sebenarnya cewek mana yang dapat dikatakan akhwat?”
            Padahal saya udah tahu siapa akhwat itu sebenarnya (menurut kaedah Bahasa Arab tentunya). Pertanyaan itu terlontar juga akhirnya dari mulut saya. Nggak ada yang menjawab. Bahkan teman-teman saya mensuppor saya untuk itu. Atau hanya mengatakan “Lupakan aja!”
            Jelang beberapa bulan rupanya berita itu bungkam. Saya terlalu sibuk di OSIM (OSIS kali ya) dan banyak menghabiskan waktu untuk ngehafal rumus-rumus fisika, matematika atau kimia yang makin ruwet. Akhirnya saya dapat melepaskan masalah itu. Syukur….
            Masalah selanjutnya….
            Ikuti pesan-pesan berikut ini… minum dulu yach!
            Si cewek tadi rupanya makin heboh aja dengan cowoknya yang katanya udah putus. Saat itu saya emang nggak peduli tapi karena banyak yang ngomong tentang dia akhirnya telinga saya nguping juga.  
            Cewek itu bukannya berubah mendengar suara-suara miring di sekitarnya. Dia malah semakin menjadi-jadi. Katanya–emang terjadi–dia mandi di laut bareng cowoknya waktu hari perpisahan. Walau dia berjilbab kala itu tapi bagi saya nggak ada lagi nilai minus untuk saya berikan untuknya. Nol tok!
            Lepas dari itu semua. Saya makin bertanya-tanya tentang sosok akhwat yang sebenarnya itu bagaimana rupanya. Suka jalan sama cowok? Sering ngerumpi tentang cowok-cowok ganteng bareng teman-temannya? Suka ngabisin uang hanya untuk belanjaan yang nggak perlu? Atau…
            Sesosok cewek yang berpenampilan sederhana, jilbab nggak sampai ke pinggul tetapi menutupi dada, pintar membagi waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, nggak nampakin kalau dia pandai agama padahal emang pandai, selalu tersenyum untuk siapa saja walau belum dia kenal, nggak sombong dengan pengetahuan agamanya dan nggak mengutamakan penampilan doang!
            So, siapakah akhwat itu sebenarnya?
^^^

Banda Aceh, 12 Maret 2006

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90