Top Ad 728x90

Wednesday, November 23, 2011

Apa Kabar Guruku, Sayang?

Dalam mengajar, seorang guru memerlukan kecermatan khusus selain keahlian yang dimilikinya. Karena dengan kecermatan itu seorang guru akan mudah dalam mendidik peserta didiknya. Katakanlah kecermatan itu berupa perhatiannya kepada peserta didik. Apakah peserta didik memahami yang dia sampaikan atau apakah peserta didik memperhatikan pelajaran yang diajarkan dan sebagainya. Untuk itu diperlukan perhatian khusus dari seorang guru sebelum, sedang berlangsung dan sesudah belajar mengajar terhadap peserta didiknya.
Apalagi bila guru itu mengajar di daerah terpencil yang masih jauh dari kota – daerah yang lebih dulu maju – biasanya peserta didik akan mengalami hambatan dalam memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru tersebut. Faktor utama adalah karena peserta didik tersebut masih kurang paham dengan bahasa yang diajarkan oleh guru – di sini Bahasa Indonesia.
            Daerah terpencil yang belum mengenal lebih mendetail tentang kemajuan teknologi akan terhambat dalam mendapatkan pendidikan. Apalagi – misalnya – mereka hanya mengenal televisi untuk menonton sinetron. Atau yang lebih parah dari itu, ada daerah terpencil yang belum mengenal listrik.
            Jadi, kendala seorang guru dalam mengajar bukan karena mereka tidak pandai mengajar atau tidak menguasai kelas. Tetapi mereka sulit berkomunikasi dengan peserta didik yang masih belum terbiasa dengan Bahasa Indonesia. Seorang guru harus mencari-cari kata-perkata dulu untuk diterjemahkan ke dalam bahasa daerah – Bahasa Aceh – sehingga dalam mencapai kurikulum terhambat. Bahan ajaran yang seharusnya dikejar terhalang karena alasan tersebut.
            Guru memerlukan pemahaman mendasar sebelum ia mengajarkan pelajarannya kepada peserta didik. Di mana seorang guru harus memahami kemauan dan kemampuan peserta didiknya terlebih dahulu sebelum mengajar dan tidak pernah memaksakan peserta didik untuk mengerti apa yang di sampaikannya pada saat itu juga dengan cepat, namun secara perlahan-lahan sehingga peserta didik mengerti yang dia ajarkan. Daya tangkap peserta didik di daerah terpencil sangat jauh berbeda dengan daya tangkap peserta didik di luar daerah terpencil tersebut.
            Peserta didik di daerah terpencil yang biasanya belum memahami pentingnya pendidikan akan mengabaikan pelajaran-pelajaran yang disampaikan kepadanya. Peserta didik akan memilih bermain dari pada belajar di ruang kelas. Jadi, kemampuan seorang guru dalam menciptakan ruang kelas menjadi tempat bermain sangat mendukung pelajaran yang diajarkannya tersebut.
            Permainan-permainan itu tentunya menyangkut dengan pelajaran yang diajarkan sehingga peserta didik tidak merasa bosan dan mereka akan cepat menangkap pelajaran yang diajarkan tersebut. Maka, akan timbul berbagai tanggapan dari peserta didik bahwa belajar itu sangat menyenangkan.
            Faktor lain yang dihadapi seorang guru dalam mengajar di daerah terpencil adalah kepekaan orang tua terhadap pendidikan anaknya. Kebanyakan orang tua di daerah terpencil menganggap pendidikan itu hanya untuk orang-orang kaya sehingga mereka-mereka yang hidupnya pas-pasan tidak memerlukan pendidikan. Alasan yang pertama timbul karena mahalnya biaya pendidikan dan jauhnya lokasi pendidikan yang harus mereka jangkau. Kedua, karena pendidikan itu tidak langsung membawa keuntungan bagi mereka, bukan seperti bertani, berternak atau berkebun yang langsung memetik hasilnya.
            Padahal pendidikan dibutuhkan oleh semua orang, pendidikan itu tidak memandang apakah seseorang itu kaya atau miskin, atau apakah seseorang itu pintar atau bodoh. Yang terpenting dalam pendidikan adalah kemauan untuk berusaha mencapai yang terbaik, bukan untuk mengangkat derajat dari miskin menjadi kaya – walaupun ujung-ujungnya ke situ, tetapi pendidikan tidak selamanya berinteraksi dengan kekayaan.
            Kembali lagi pada kendala seorang guru dalam menghadapi sikap orang tua peserta didik dalam memandang pendidikan. Guru memerlukan bahan dan metode yang tepat untuk mengajar sehingga peserta didik bergairah dalam belajar dan sikap orang tua peserta didik dalam menyikapi pendidikan akan berubah. Mereka akan melihat anak-anaknya belajar dan selalu menyanjung tinggi pendidikan.
            Selain itu seorang guru dituntut untuk memberikan motivasi kepada peserta didik, karena dengan motivasi itu peserta didik akan tergugah untuk meningkatkan belajar mereka sehingga membuat para orang tua pun tidak lagi peka terhadap pendidikan anaknya.
            Ditambah lagi karena seorang guru itu mengajar di Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah yang benar-benar membutuhkan konsentrasi penuh dalam menghadapi peserta didik yang masih berumur di bawah duabelas tahun.
            Cara-cara seorang guru dalam meredam kekacauan kelas yang timbul akibat ada peserta didik yang membuat tingkah juga menjadi dasar dalam mencapai kesuksesan dalam mengajar. Karena perlu dipahami bahwa mendidik dengan mengajar itu bukan dua hal yang sama. Mendidik dengan mengajar itu mempunyai arti masing-masing. Kata mendidik digunakan untuk jenjang pendidikan setingkat SD atau MI sedangkan kata mengajar tepat digunakan untuk tingkat SLTP atau SLTA.
            Jadi, mendidik peserta didik di daerah terpencil membutuhkan kesabaran dan kecakapan yang mapan sehingga nilai-nilai pendidikan yang ditanamkan akan terwujud dengan nyata dan cita-cita bangsa tercapai dengan baik.  ***

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90