Top Ad 728x90

Wednesday, November 9, 2011

Banda Aceh, Suatu Senja Ramadhan

Bulan Ramadhan selalu disambut dengan senang hati oleh seluruh masyarakat Aceh, mulai dari pedesaan sampai perkotaan. Belum sampai hari pertama puasa, tradisi megang sudah menjadi hiasan di mana-mana. Megang merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Aceh, di mana setiap kaum laki-laki – seperti – wajib membawa pulang sekilo atau lebih daging. Baik daging kerbau, sapi atau bahkan ayam. Untuk keluarga mereka yang sudah menunggu asap mengepulkan aroma daging sebelum malam menyerukan azan tarawih malam pertama. 
Selain itu, megang juga merupakan sebuah momen silaturahmi bagi seluruh masyarakat Aceh. Jika di perkotaan tidak begitu diperhatikan untuk masalah yang satu ini, namun jika kita melihat ke daerah pedesaan, tradisi megang itu tidak hanya sekadar sekilo daging. Berkunjung ke rumah saudara untuk sekadar silaturahmi sebelum menyambut Ramadhan juga berlangsung meriah, sebut saja Tape Ketan dan Lemang disuguhkan untuk mengakrapkan silaturahmi. 
Saat petang tiba, seluruh masyarakat Aceh bergegas untuk ke masjid. Menunggu shalat tarawih malam pertama, malam yang akan menjalin silaturahmi semakit erat. Shalat tarawih di malam pertama itu bagai malam yang sangat penuh makna, banyak yang menghiasi masjid dengan doa-doa panjang sebelum berpuasa esok hari. 
Kita tinggalkan malam yang telah menaburkan pahala untuk umat Islam di Ramadhan ini. Beranjak sahur, kericuhan juga terdengar di setiap penjuru tanah pahlawan ini. Setiap keluarga terbangun menyiapkan dan bersama menyantap sahur. Perasaan senang, bahagia, suka dan berbagai rasa lain berkecamuk karena esok akan memulai puasa. 
Bulan puasa, Aceh tentu saja sangat berbeda dengan bulan yang lainnya. Jika biasanya jalanan padat dan pusat perbelanjaan digirangkan oleh penjual dan pembeli. Mulai hari pertama puasa, sepi sekali. Di jalanan hanya satu dua kendaraan berlalu lalang dan hanya beberapa pusat perbelanjaan yang buka. Jika biasanya banyak warung kopi dan restaurant yang buka, banyak yang makan di tepi jalan dan di tengah keramaian, bulan puasa hal ini tidak terdapat di Aceh. Bukan karena ada yang melarang dan undang-undang yang dibuat pemerintah. Tetapi karena masyarakat Aceh sadar, mengerti dan sangat menghormati bulan penuh berkah ini. Tidak ada yang makan di tengah hari, tidak ada yang menjual makanan – sebut saja makanan ringan – siang hari dan bisa kita katakan, masyarakat Aceh sangat mencintai Ramadhan! 
Namun, hal ini akan sangat jauh berbeda dengan sesudah siang dan menjelang sore hari. Kepadatan menjadi pemandangan setiap tahun di kota Banda Aceh dan hampir di seluruh kota lainnya di Aceh. Masyarakat Aceh yang dari pagi hanya mengurung diri di rumah – untuk yang tidak punya aktivitas, atau bekerja dan berbagai kesibukan lainnya. Melepas penat dan berburu penganan berbuka petang nanti. 
Menghamparkan pandangan ke seluruh penjuru Banda Aceh, semangat muda dari pemuda dan pemudi Aceh menghiasi setiap trotoar jalan. Mereka menjajakan penganan berbuka beraneka ragam. Jika tertarik kita tinggal membeli yang senang kita lihat dan pastinya enak dimakan waktu berbuka sebentar lagi. Kebanyakan penjual jajanan berbuka adalah mahasiswa yang mengisi waktu sore mereka dengan mencari uang tambahan, katakanlah seperti itu. Tentu saja, tidak bisa dipandang sebelah mata, mereka mencari rejeki dengan halal tanpa menunggu kiriman dari orang tua semata. Bila dihitung-hitung, pengeluaran di bulan Ramadhan pasti akan sangat besar dibandingkan bulan lain. Dengan berjualan di sore hari, akan meringankan beban mereka. 
Jelang berbuka, jalanan makin macet saja. Untuk kita yang sedang berburu penganan berbuka tidak akan melewatkan begitu saja jika ada makanan yang menarik mata. Membelinya, membawa pulang dan berbuka dengan makanan enak yang baru saja dibeli. Namun untuk penjual di sepanjang trotoar jalan Banda Aceh, terkadang mereka harus merelakan waktu buka puasa di depan gerobak atau meja mereka berjualan untuk berbuka. Rasa itu tidak bisa dibandingkan dengan jajanan mereka yang habis terjual. 
Ramadhan berlalu sudah tiga hari, kemegahan dan kesenangan yang diperlihatkan masyarakat Aceh tidak terhenti di hari ketiga. Semangat menabung pahala sebanyak-banyaknya akan berakhir di hari ke tiga puluh Ramadhan nanti. Kita patut berbangga, bahagia dan senang, karena tahun ini kita masih bisa merasa manisnya Ramadhan! 
– Bai Ruindra –

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90