Top Ad 728x90

Wednesday, November 9, 2011

Berapa Harga "Al-Qur'an" Ini?

Kamu sering berbelanja? Atau malah terlampau sering mungkin. Kamu sering ke toko buku? Atau kamu malah gak pernah mampir ke toko buku (masa seh?). Saya yakin di antara kamu ada yang sering ke supermarket untuk shopping atau ada juga di antara kamu yang sering ke toko buku untuk mengincar buku terbaru karya penulis kesukaanmu. Itu mah biasa. Dan sangat biasa malah.
Nah, jika ada di antara kamu yang ke toko buku untuk “membeli” Al-Qur’an itu yang luar biasa. Kenapa? Saya punya kawan, tepatnya bisa saya katakan kakak karena lebih tua dari pada saya. Si kakak ini – katanya – seumur hidup dia belum pernah “membeli” Al-Qur’an karena sering “dibeli” sama ibunya.
Ceritanya sangat lain ketika dia ingin “membeli” sendiri Al-Qur’an. Dengan gagah si kakak ke toko buku dan melihat-lihat model Al-Qur’an yang bagus. Pemilik toko buku itu pun memperlihatkan model-model Al-Qur’an yang dimilikinya. Si kakak tersenyum-senyum melihat model-model Al-Qur’an yang membuat hatinya berbunga-bunga. Dia memilih-milih model mana yang akan dia “beli”.
Saat si kakak mendapatkan model yang menurutnya sangat bagus dan menarik, si kakak mengambilnya. Lalu memperlihatkan kepada pemilik toko buku sambil berkata begini.
“Bisa kurang gak, bang?” Tanya si kakak dengan yakin tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Pemilik toko itu terdiam. Tanpa berkata apa-apa. Si kakak pun terdiam, mungkin mengira kalau si pemilik toko itu mempertimbangkan harganya. Namun, perkiraan si kakak salah.
“Mbak,” kata pemilik toko itu. “Kami tidak bisa mengurangi harga Al-Qur’an dan juga tidak bisa menambah. Berapa harga yang diberikan agen kepada kami, segitu pula kamu akan “menghadiahkan” kepada pembeli,” begitu penjelasan si pemilik toko buku itu. Si kakak makin bingung.
“Menghadiahkan? Bukannya dijual, bang?”
“Iya. Al-Qur’an itu tidak boleh dikatakan “dijual” melainkan “dihadiahkan”. Tidak ada kata “jual-beli” dalam menghadiahkan Al-Qur’an,”
Si kakak tidak bisa berkata apa-apa. Toh, memang si kakak baru kali ini ke toko buku dan mencari Al-Qur’an. Namun, keterkejutan di kakak makin menjadi-jadi ketika si pemilik toko buku berkata begini.
“Mbak ini muallaf ya?” lalu mengambil beberapa buku tentang Islam dan menyodorkan pada si kakak. Si kakak makin bingung. Mau menjawab iya, tidak mungkin karena memang si kakak bukan muallaf. Mau mengatakan tidak, si kakak merasa gengsi karena pasti akan malu. Akhirnya si kakak senyum-senyum saja sambil keluar di toko buku itu.
Di luar, si kakak tertawa terpingkal-pingkal. Mengapa tidak tertawa? Dia tampak sangat bodoh. Bagaimana tidak? Dia mendapatkan pengalaman yang sangat berharga hari ini. Dan betapa bodohnya dia tidak pernah bertanya kepada sang ibu mengenai “menghadiahkan” Al-Qur’an itu.
Berbelanja gak ada yang salah. Namun, harus dilihat apa yang ingin kamu “beli” itu. Jangan sampai kamu salah mengatakan atau keceplos saat transaksi jual-beli. Pengalaman si kakak tadi sangat berarti buat saya – semoga berarti juga buat kita semua. Karena siapa sangka kita juga akan mengalami hal yang serupa tanpa kita sadari. Sudah seharusnya, saya berterima kasih kepada si kakak yang mau memberi sedikit “pengalaman berharganya” kepada saya dan kepada kita semua.
Pengalaman itu adalah guru yang terbaik, bukan?

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90