Top Ad 728x90

Wednesday, November 23, 2011

Kenapa Harus Menulis

Kenapa?
            Ada banyak hal yang menjadikan seseorang ingin menjadi penulis. Ada yang berpandangan bahwa dengan menulis ia akan kaya raya seperti halnya JK Rowling. Ada pula yang memandang dengan menulis akan dikenal banyak orang seperti Asma Nadia atau Hilman ‘Lupus’ Hariwijaya. Atau ada pula yang menjadikan menulis sebagai hobi yang musti disalurkan.
            Fenomena dunia kepenulisan sekarang tidak jauh berbeda dengan dunia entertainment. Banyak penulis yang disejajarkan dengan para aktor atau artis yang selalu tampil di layar kaca. Banyak penulis yang beken karena disanjung-sanjung karena tulisannya. Banyak penulis yang dikenal karena tulisannya yang menggugah. Banyak pula penulis yang dijadikan panutan karena tulisannya tersebut. So, mau pilih mana?

1.      Nulis Harus Nekat
Kenapa saya katakan demikian? Karena bila tidak nekat mana jangan harap akan lahir satu paragraph saja dari apa yang ingin kita tulis. Gerakkan pena terlebih dahulu baru kamu bisa berkata kalau “Saya ingin jadi penulis!” setelah itu kamu baru bisa menyombongkan diri dengan title kamu itu. Kamu bisa! Jangan pernah menunggu esok pagi untuk membubuhkan kertas buram kamu dengan kata-kata indah dan bermakna yang kelak akan dibaca banyak orang. Ingatlah! Nekat untuk nulis adalah satu kewajiban untuk kamu sebagai awal kamu menggerakkan pena.

2.      Nulis Bukan Bakat
Bakat? Siapa bilang? Menulis itu bukanlah bakat yang terpendam dalam diri kamu. Cobalah kamu mencoba satu paragraph hari ini. Nah, kamu bisa bukan? Apakah itu bakat kamu? Juga bukan nyatanya.
Tepislah ungkapan bahwa menulis adalah bakat terpendam yang harus kamu kembangkan. Jangan pernah terpaku pada hal nggak ‘laku’ seperti itu karena yang akan menulis adalah kamu – sekali lagi – bukan bakat kamu. Contoh yang paling ngetren saat ini, Neno Warisman yang seorang artis papan atas saja nulis apalagi kita. Atau Tamara Geraldin yang nampangnya selalu nangkring di tipi juga nulis. Atau Happy Salma, pemain sinetron itu juga nulis. Bukankah itu bukan berawal dari bakat?
Jadi, buanglah kata ‘bakat’ itu jauh-jauh dari kamu sebelum kamu memulai satu kata.Menulis!

3.      Nulis Nggak Bikin Miskin
Ini yang lebih keliru. Siapa bilang dengan menulis kamu bakal miskin? Contohnya saja JK Rowling, dari seorang miskin bisa menjadi kaya setelah menelurkan resep praktis Harry Potternya. Atau Asma Nadia dengan Jangan Jadi Muslimah Nyebelinnya. Atau Habiburrahman El-Shirazy dengan Ayat-Ayat Cintanya. Rata-rata buku mereka semua best seller di pasaran. Kuncinya ya nulis!
Tak ada kata lain selain nulis. Pastikan kamu udah siap untuk menggerakkan pena untuk menulis hari ini. Apapun itu. Mau sebait puisi. Lagu cinta. Sebuah cerpen atau pantun jaman beuhula, nggak apa-apa. Yang penting kamu nulis!
Nah, sebelum kamu nulis ada hal yang penting buat kamu perhatiin baik-baik. Apa yang akan kamu tulis? Dan idea pa yang akan kamu tuangkan. Banyak! Bahkan bersemak. Kamu mau nulis puisi, silahkan. Mau nulis cerpen, boleh-boleh aja. Mau nulis novel, siapa yang larang. Dunia nggak selebar daun kelor, bukan?

            Ini dia bumbu untuk kamu memulai nulis.
1.      Ide
Hal yang satu ini harus kamu perhatikan betul-betul. Jangan sampai kamu menulis yang nggak laku lagi pada saat ini. Contohnya, kamu nulis tentang perjodohan dengan kakek-kakek (seperti Siti Nurbaya gitu lho), pada saat ini cerita kayak gitu udah basi dan nggak bagus lagi karena udah banyak ide segar lain yang belum di angkat. Apalagi kalau kamu jadi menulis tulisan seperti itu pembaca akan berkata begini ”Hari gini penulis masih kurang ide, cape dehhhh!” yang kena kan kamu, sebagai penulis. Masa penulis nggak banyak ide seh?
Contoh yang paling mudah kamu angkat untuk iede ceritamu, misalnya, sekarang kan banyak orang asing di Aceh nih. Angkat tuh utnuk cerita kamu. Misalnya, tentang seorang bule kesasar ke desa terpencil (baca kelanjutannya....)

2.      Karakter Tokoh/Logika Cerita
Kamu udah punya ide tentang cerita kamu tadi? Nah, sekarang yang harus kamu perhatiin baik-baik adalah karakter dari tokoh cerita kamu itu. Misalnya, di awal cerita kamu nulis kalau bule tersebut sedikitpun nggak bisa bahasa Aceh tetapi dipertengahan cerita kamu udah nulis kalau bule itu ngomong bahasa Aceh dengan lancar. Jelas aja nggak nyambung kan? Pembaca pasti akan mengira kamu emang benar-benar ngayal sambil nulis (ngayal tempang bule kamu itu kalee). Logika cerita kamu udah nggak ada lagi sekarang. Hilang sama sekali, bahkan pembaca akan langsung meninggalkan karya kamu! Ingat, pembaca akan terkesan pada tulisan pertamamu.

3.      Setting
Kamu mau nulis tentang jepang? Silahkan. Kamu mau nulis tentang Amerika? Nggak apa-apa. Kamu mau nulis tentang Irak atau Iran? Nggak ada yang marah. Atau kamu mau nulis tentang daerah kamu sendiri? Itu malah lebih bagus. Tapi ingat, kamu harus punya data-data yang cukup untuk tulisan kamu itu. Jangan mereka-reka tentang suatu daerah. Misalnya kamu nulis tentang Melbourne, di awal udah bagus banget, tetapi kamu ceroboh saat kamu menyelipkan kalimat berikut “Kangguru berlompatan di tengah kota,” jelas aja sangat janggal bukan? Mana mungkin kangguru ada di tengah kota? Iya. Australia dikenal dengan negara kangguru tetapi di mana dan tentunya bukan di tengah kota bukan? Kamu benar-benar harus memahami suatu daerah jika kamu ingin menuangkannya ke dalam tulisan kamu. Nggak usah gusar, selama kamu masih punya tekad untuk menulis tak akan habis ide yang akan dapat kamu tulis, kuncinya harus banyak referensi. Banyak baca. Banyak tanya. Banyak nulis tentunya.

4.      Judul
Dalam memilih judul kamu juga harus hati-hati, bahkan sangat hati-hati. Jangan pernah tergoda dengan judul-judul jaman dahulu kala itu. Pilih judul yang semenarik mungkin. Seperti judul berikut Ada Rindu di Mata Peri (Asma Nadia), Ayat-Ayat Cinta (Habiburrahman El-Shirazy) atau Malaikat dan Iblis (Dan Brown). Atau apa aja deh yang menurut kamu bagus dan enak untuk dilirik.

5.      Alur
Kamu dapat memilih alur cerita itu bagaimana, ada alur maju dan ada alur fastback (maju mundur), suka-suka kamu mau pilih seperti apa. Biasanya untuk penulis remaja mereka banyak mengambil alur maju sedangkan untuk sastra ada yang mengambil alur mundur, namun terasa berat. Terserah kamu deh mau pilih yang mana.
            Itu aja dulu yang perlu kamu perhatiin baik-baik jika kamu ingin memulai menggerakkan pena. Nggak usah gusar dan bengong. Ayo gerakkan pena kamu dan menulislah!
Tak ada kata yang indah selain menulis, menulis, menulis.....
So, kapan kamu gerakkan pena untuk memulai memaknai kata?

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90