Top Ad 728x90

Wednesday, November 9, 2011

Tampangku Ternyata Masih ABeGe

Berbicara ABG kayaknya udah nggak masanya lagi bagi saya, karena biar bagaimana pun saya sudah bukan Anak Baru Gede lagi yang suka ngalor-ngilur entah ke mana-mana. Berbicara masalah ngalor-ngilur, saya memang bukan tipenya. Dari kecil sampai sekarang, saya kurang suka keramaian. Entah kenapa saya lebih suka sendiri dari pada ribut-ribut.
Okey! Kita nggak sedang ngomongin masalah keramaian atau kesendirian tak penting di sini. Ada yang jauh lebih penting dari pada kedua masalah tersebut di atas. Ini masalah saya juga, tentu! Karena saya tidak sedang menceritakan aib orang lain, banyak dosa akhirnya masuk neraka. Mau?
Kita mulai, awalnya saya tidak kepikir nulis tentang ini. Tapi setelah dimeremkan beberapa lama, dua atau tiga hari akhirnya saya memulai. Kenapa? Karena penting banget, kedua karena banyak manfaat dari pengalaman saya ini, ketiga karena saya memang masih tampang ABG, kali!
Nah, apa hubungan dengan Anak Baru Gede ya? Banyak banget. Ini menyangkut dengan tampang
saya yang instan alis imut-imut, norak dan standar! Hehehe!
Dikira Mahasiswa Baru
Ini dia yang nggak penting banget untuk ditulis tapi penting sekali untuk diingat. Saya saja infil mengingat suatu hari yang panas matahari ini. Ohya, infil itu artinya ingin berfaling saking pedenya. Berpaling ke mana? Kalau mau tahu, jangan ke mana-mana kita selesaikan secara adat setelah pesan tak lewat berikut ini.
Cerita ini berawal, suatu hari seperti yang sudah saya singgung di atas, saya pulang dari kampus. Tidak seperti biasa, hari itu saya berhajat ke Masjid Raya Baiturrahman, sekadar wewete istilah orang Aceh, kalau kita artikan secara tak ada kamus atau secara tak benar wewete itu singkatan dari wet-wet manteng, yang dalam bahasa Indonesia raya menempati arti jalan-jalan saja.
Padahal saya sudah katakan di awal, saya tidak suka jalan-jalan. Tetapi kadang-kadang ngidam jalan-jalan itu muncul juga. Paling saya mutar-mutar Masjid Raya Baiturrahman, shalat dhuhur di sana, keliling pasar Aceh atau keluar masuk toko buku dengan tangan kosong, hasilnya ya bisa ditafsirkan sendiri, saya kecapaian dan panas seluruh badan, bukan panas karena sakit deman tetapi karena sinaran matahari memanggang bumi.
Perjalanan saya dimulai, damri yang saya tunggu akhirnya datang juga, seperti pocong daun pisang yang bergoyang-goyang tak diundang. Jelas kan, damri alias bus sekolah itu memang datang sendiri bukan kita yang panggil. Yuk! Mari!
Dengan gagah perkasa saya naik damri yang belum padat penumpang ditandai belum ada orang berdiri. Jangan heran kenapa saya gagah karena saya cowok jadi gentlenya harus terlihat jelas walau kadang-kadang latah juga. Celingak-celinguk saya mencari bangku kosong dan mata saya langsung tertuju di samping cewek berjilbab motif bunga-bunga kecil, pada dasarnya cewek Aceh memang berjilbab semua kagak usah dibilangin siapa pun tahu. Saya tidak begitu memperhatikan motif bunga apa tetapi saya ingat betul warna jilbab cewek itu, putih kepinkan. Ya gitu deh.
Senyum sedikit dipaksa saya duduk di samping tuh cewek. Diam saja. Lagi-lagi kebiasaan saya yang norak banget. Hampir semua cowok kalau duduk berdekatan dengan cewek cantik pasti akan ditegur, bukan? Hal ini jauh berbeda dengan saya, apa mungkin karena saya STD atau memang jelek. Harap kamu tahu juga STD itu dalam kamus kita-kita yang tidak pernah diterbitkan artinya standar, artinya lagi, ganteng nggak jelek pun kagak. Ngerti?
Sebenarnya nggak ada hubungan cowok ganteng atau nggak kalau mau negur cewek, ada juga cowok imut plesetan dari itam mutlak tapi dalam hal ngerayu cewek nomor satu. Masalah cewek saya memang payah, begitulah, saya paling anti ngomong pertama sekali dengan orang yang belum saya kenal baik cewek maupun cowok, dan cewek peringkat pertama yang saya diamkan begitu saja.
Huh! Apa hubungan dengan cerita saya ya? Benar sekali. Kamu saya beri nilai lebih seratus kalau ada point nilai lebih seratus sih. Jika dan hanya jika dalam suatu rumus matematika, tidak ada hubungan tentunya saya tidak akan nulis di sini.
Saya tertegun ketika si cewek berjilbab putih kepinkan itu menegur duluan. Hitung-hitung harga diri saya jatuh juga, biasalah ego laki-laki memang begitu. Saya tidak mau sok akrab dan saya juga nggak mungkin tidak menjawab. Sudah syukur diajak ngomong kalau nggak gosong sendiri dalam damri panas begini.
“Kuliah di mana, dek?” tanya cewek itu dengan kalemnya.
Wuih! Angin berhembus dari jendela damri ini. Bukan apa-apa, seandainya ada cermin sebesar pintu damri saya pasti akan kegirangan, bercermin gratis melihat tampang saya ini.
Ya elah. Saya masih dikira lebih muda dari dia. Memangnya tampang saya sangat mendukung dikatakan adek-adek. Saya sendiri tidak yakin dengan tampang yang hancur lebur begini. Tak usah dipikirin, sudah syukur ditegur, sekali lagi, ditegur duluan kalau nggak bakal garing sendiri alias garam digiling, terserah ada arti atau kagak yang penting tahu singkatan kata-kata tak bikin pusing itu. Kalau anak cucu tanya jawab saja begitu, saya yakin mereka pasti akan diam dan mencoba melakukan hal yang kamu sebutkan barusan. Dengan begitu, bereskan urusannya?
“IAIN,” jawab saya singkat. Percakapan pun dimulai. Tanya jurusan dan fakultas apa, asal dari mana, sekolah di mana dulu de es be. Saya juga balik bertanya, dari pada dibilang angkuh oleh cewek itu, yang sampai saya nulis kisah ini tidak tahu namanya siapa dan parahnya saya bahkan tidak ingat lagi bagaimana rupa si cewek. Bego!
Perjalanan kami terasa panjang di hari nan panas ini. Percakapan yang tidak saya inginkan masih mengalir sederas hujan tak kunjung datang di musim kemarau begini. Entah bagaimana satu pertanyaan yang mungkin terlupa atau belum sempat ditanya. Karena terdiam sekitar lima menitan saya balik bertanya.
“Semester berapa?”
“Tiga,”
“Oh,” saya diam lagi setelah ber ‘oh’ panjang sampai bibir moncong serong-serong bolong.
Karena saya diam lagi tanpa bertanya, si cewek balik bertanya pertanyaan yang barusan saya tanyakan ke dia.
“Memangnya kamu semester berapa, dek?”
“Sembilan!”
Huahaa!
Mampus lu!
Saya tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rupa si cewek yang saya sendiri tidak tahu nama itu. Malu jelas. Tersinggung, mungkin.
Sampai si cewek itu turun dia tidak berkata apa-apa lagi. Saya pun tidak. Dia hanya tersenyum ya saya balas saja. Selesai, kan?
Disangka Adek-Adek
Kasus dalam damri terlupakan dalam benak saya. Memang saya pelupa apalagi kejadiannya dengan cewek. Sudahlah. Kita lanjutkan kisah yang paling yahut abad ini.
Tak jauh beda dengan kisah damri, sebut saja begitu. Roman sebelum tidur ini terjadi jauh setelah kisah damri itu. Kira-kira tiga bulanan.
Hari itu, saya singgah di kedai langganan untuk beli sayur dan lainnya. Sebagai promosi, saya termasuk lelaki yang suka masak, walau yang dimasakin kadang manis asam asin asalkan bisa dimakan tak apa.
Kedai itu ramai cewek-cewek yang baru pulang kuliah. Saya sedang memilih-milih sayur kangkung dan bayam, rencananya mau dimasakin bening saja ditambah wortel dan toge. Rasanya jangan tanya, hanya lidah saya yang tahu.
Aksi pilih memilih itu terhenti ketika seorang cewek yang sedari tadi memperhatikan saya bertanya.
“Adek ini suka masak ya?”
Saya mengangguk dan tersenyum. Asal punya pasal kita ngobrol karena pemilik kedai sedang menjamu pembeli lain.
“Masih kuliah, dek?”
“Masih,”
“Semester berapa?”
Langsung ke pokok nih bukan seperti cewek damri dulu.
“Sedang merampungkan skripsi,”
Cewek tersebut terpana.
“Saya kira masih adek-adek, wajahnya kok imut sekali ya?”
Saya manyum. Sudah tahu malah balik tanya lagi. Makanya, lain kali itu kalau lihat orang jangan dari tampang luarnya saja.
Setelah mendapatkan keperluan rumah tangga tak jadi alias kos, saya langsung pulang. Kali ini saya tidak merasakan kelucuan seperti di damri beberapa waktu lalu, saya geram. Masa sudah semester akhir begini masih dikira adek-adek. Apa perlu saya perlihatkan KTP?
Stop! Pak!
Mereka tidak salah. Saya saja yang instan alis imut-imut, norak dan standar! Tampang saya memang bisa dikatakan imut, ditambah dengan postur tubuh yang kecil dan tidak setegap cowok kebanyakan. Norak karena saya jarang sekali ngomong duluan dengan orang yang belum saya kenal, makanya dikira adek-adek, kalau cowok nggak apa-apalah, tapi kalau cewek bikin malu orang saja kan? Standar itu karena saya tidak ganteng kayak Brat Pit atau Christian Sugiono dan saya juga tidak jelek kayak smegol manusia kerdil di film The Lord Of The Ring atau seperti peri kecil di film Harry Potter.
Saya biasa-biasa saja, wajah biasa dan postur tubuh tidak luar biasa untuk ukuran cowok macho. Lalu kenapa orang mengira saya masih belasan tahun. Karena wajah saya tidak menampakkan kalau saya sudah lebih dari dua puluh tahun. Terkadang orang mengira saya masih sekolah atau kuliah di semester awal. Alamak! Jauh banget dari perkiraan saya yang hampir selesai strata satu ini.
Hm! Tidak apa-apa. Orang berhak menilai diri kita seperti apa pun. Saya memang menulis tentang ini, tetapi banyak hal yang bisa kita ambil manfaat. Salah satunya jangan pernah menilai orang dari tampang luarnya saja. Apakah dia hitam, putih, kecil, imut, gemuk, kurus, ganteng, cantik, berjenggok atau tidak, pakai celana jeans atau bukan, pakai jilbab atau tidak. Semua kembali pada orang lain yang menilai. Belum tentu orang kurus itu pecandu narkoba, belum tentu orang gemuk itu banyak makan, belum tentu orang ganteng itu berhati baik, belum tentu orang jelek itu penjahat atau perampok dan lain sebagainyalah.
Tidak usah heran, saya menulis apa yang ada. Atau kamu lihat sendiri ke sekeliling, apa yang kurang dari diri kamu dan orang lain. Atau apa yang kamu lihat dari orang hitam jelek gigi maju ke depan, kamu pasti akan mengira orang tersebut jahat eh tahu-tahunya dosen kamu.
Lagi, penampilan luar sangat-sangat menipu, bukan?

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90