Top Ad 728x90

Wednesday, November 23, 2011

UN Antara Lulus dan Gagal

UN sudah usai beberapa hari lalu (buat SMA) namun masih menyisakan kegundahan dan kegelisahan dari berbagai pihak terutama siswa dan siswi yang menjadi peserta Ujian Nasional (UN) tersebut. Kegundahan akan lulus atau gagal dan kegelisahan akan malu jika gagal karena harus mengulang setahun lagi dan berbagai kegelisahan lainnya yang terkadang menjadi suatu masalah yang musti memerlukan penyelesaian. Atau bahkan mampu membuat stress sebagaian dari kita, tidak hanya siswa-siswi, guru bahkan orang tua!
            Lulus atau gagal UN telah menjadi monster yang sangat menakutkan bagi kita, apalagi bagi siswa-siswi yang memang pasukan dalam perang dahsyat ini. Laksana perang besar, mereka (dalam hal ini siswa dan siswi) telah terlebih dahulu patah pedangnya sebelum sempat menghadapi lawan.
            Saya punya beberapa kawan (tepatnya saya panggil Adik) yang tahun ini bertarung untuk mendapatkan nilai 5,0 yang entah untuk apa kegunaannya itu. Seperti yang telah saya singgung di atas, pedangnya sudah patah dan terjatuh ke tanah sebelum sempat diangkat untuk menghunus ke perut musuh. Semangat untuk menghadapi UN sudah patah sebelum seruling UN didengungkan. Bagaimana mau mengikuti perang jika pedang telah patah? Bagaimana menghadapi UN jika semangat sudah tak ada dan keputusasaan menghadang. Bahkan, ada di antara siswa-siswi yanga memilih tidak mengikuti UN walau mereka telah terdaftar sebagai peserta.
            “Buat apa ikut UN kalau akhirnya tidak lulus juga!” begitu kata mereka.
            Nah, siapa yang mau bertanggung jawab kalau sudah begini keadaannya.
            Tiga tahun jadi tidak berarti sama sekali kalau itu yang terjadi. Sia-sia saja duduk di bangku sekolah kalau demikian adanya. Namun, kenyataan memang menjawab semua itu. Itulah yang terjadi saat ini. Ada sebagian dari adik-adik kita yang tidak mau lagi mengikuti UN.   
            Apa benar UN itu layaknya monster yang sangat menakutkan seperti di film-film karton? Kalau memang iya. Kenapa kita tidak menyiapkan pahlawan utnuk membunuh monster tersebut?
            Saya juga sempat ngobrol-ngobrol dengan seorang siswa SMA yang begitu stress dan tertekan ketika mengikuti UN. Katanya kepada saya waktu itu, kalau bisa ia ingin terlahir di tahun 1985 ke bawahn biar tidak mengikuti UN seperti ini. Lucu memang. Tapi mana mungkin? Hal itu sangat mustahil terjadi dan tidak akan pernah terjadi sama sekali.
            Aneh memang. Tapi fakta berbicara demikian.
            UN. Begitu menakutkan. Mengatakan saja rasanya enggan apalagi untuk menghadapinya. Melihat pengawas yang garang-garang sudah seperti lintah kena bakung belum lagi melihat soal-soal matematika yang susahnya minta ampun. Akhinya, gemetar duluan sebelum sempat membaca dan menjawab soal.
            Ngeri sekali. Saya saja terkejut mendengar masalah ini. Ditambah lagi selain pengawas yang garang juga polisi-polisi yang berkeliaran di sekitar sekolah. Seperti mau menangkap mapia narkoba  saja. Namun, lagi-lagi, Ini Indonesia, Bung! Beginilah yang system pendidikan kita saat ini yang banyak orang memperdebatkan bahkan meragukan keberadaannya.
            Nilai? Apakah 5,0 akan menjamin seorang siswa lulus ( = benar-benar lulus; murni lulus).
            Belum tentu. Nilai bukan patokan dalam menjamin pendidikan akan berhasil atau tidak. Ilmu pengetahuan itu sama sekali tidak berpatok pada nilai. Buat apa nilai 5,0 kalau di kepala masih belum ada apa-apa. Atau buat apa nilai 5,0 kalau Cuma untuk lulus UN sedangkan ketika bertarung di SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) tidak berarti sama sekali. UN lulus dengan nilai sempurna sedangkan SPMB gagal. Wah, ini yang lebih berat lagi (Antara UN dan SPMB, saya akan tulis terpisah).
            Satu sisi, UN memang berhasil. Tapi ketika kita melirik ke sisi lain. UN sangat gagal. Kenapa saya katakana demikian? Ada beberapa fakta yang terjadi di lapangan dan berkata lain mengenai keberadaan UN tersebut.
            Ada siswa yang pandai matematika, tapi ketika UN tidak lulus mata pelajaran matematika. Ada siswa yang pandai bahasa Inggris, namun malah mata pelajaran bahasa Inggris pula yang tidak lulus. Kalau sudah demikian adanya, benarkah nilai 5,0 dapat dijadikan patokan berhasil atau tidaknya pendidikan di Negara kita yang kacau balau begini?
            Semuanya kembali kepada kita. Tidak ada yang patut disalahkan dalam hal ini. Saya teringat dengan Ajip Rosidi, seorang penyair, pengarang, redaktur, dosen, peneliti dan penerbit. Penulis buku Dua Orang Dukun  ini berkata begini “Saya bisa hidup tanpa Ijazah!
            Dan benar! Ajip Rosidi membuktikannya. Nilai bukan apa-apa dibandingkan dengan kedudukan beliau setelah itu.
            Lalu, bagaimana dengan UN? Hanya hati kecil kita yang mampu berdebat. Selebihnya bukan wewenang kita dalam merubah sistem pendidikan yang terus berubah-ubah (nah, itu sudah perkara lain lagi).
            Diakhir tulisan, saya cuma ingin mengutarakan keberatan hati saya. Kita tidak patut menyalahkan siapa-siapa dan kita tetap harus berjuang. Lulus atau gagal UN bukan berarti kitaTELAH gagal dan tidak berhasil, bukan?
            Yakinkan diri, kalau kita semua adalah orang-orang yang berhasil!

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90