Top Ad 728x90

Wednesday, January 11, 2012

A Atau V, Ya?


Pagi-pagi sekali saya sudah rapi. Baju putih, celana biru, sepatu hitam dan ransel hitam pemberian sepupuku. Sama dengan yang lain, hari ini saya kembali bersekolah. Tentu saja saya sudah kelas satu sekolah menengah pertama. Hari pertama saya akan bertemu teman baru, guru baru dan bangunan sekolah baru. Dibandingkan dengan sekolah lain, sekolah baru saya letaknya dekat hutan. Tempat penduduk sekitar mencari nafkah, menakik karet dari pagi sampai siang. Seperti pekerjaan kedua orang tua saya.
Sepintas, sekolah ini bagai bangunan tua yang sudah dibangun puluhan tahun lalu. Namun ternyata sekolah baru saya ini baru dibangun setelah tsunami penghujung tahun 2004. Mungkin karena dekat hutan, atau karena jauh dari perkampungan sehingga terkesan sangat tidak berkelas. Tiap pagi, ada saja monyet memberi salam pada yang datang. Walau saya belum tahu pasti kebenarannya, bisa saja ada hal demikian.
Senyum saya mengembang. Saya benar-benar gagah dengan baju dan celana biru. Rasanya saya sudah sangat dewasa. Apalagi ibu saya datang memuji anak bungsunya yang akan masuk sekolah. Setelah tamat sekolah dasar saya memang sempat menganggur. Banyak alasan yang membuat saya tidak melanjutkan sekolah lagi. Di antara alasan yang kuat, pertama orang tua tidak punya biaya dan kedua karena saya tidak percaya diri bersekolah. Entahlah. Saya sangat takut dipukul lagi oleh guru di sekolah yang baru jika saya tidak bisa atau membandel.
Sekarang bukan waktu bicara ketakutan lagi. Saya sudah berani. Minggu lalu, saya sudah diterima di sekolah menengah pertama. Awalnya karena saya malu dan iri melihat teman-teman sekampung dan seusia saya semua sekolah. Desakan orang tua juga datang bertubi-tubi. Akhirnya saya beranikan diri masuk sekolah. Harap-harap cemas. Namun ini sebuah tantangan, saya pikir. Saya harus mencoba. Saya laki-laki yang tidak mau disebut pengecut. Jika saya perhatikan tampang saya pagi ini, benar-benar bukan seorang pengecut. Saya sangat macho seperti pendekar-pendekar hebat di film laga.
Langkah saya sangat pasti, saya menuju sekolah baru. Berdiri di deretan siswa lain yang berseragam sama. Menghormat bendara. Sebuah hal yang belum pernah saya lakukan. Di sekolah dasar dulu, saya tidak pernah melakukan ini karena sekolah saya tidak ada upacara bendera Senin pagi.
Senin yang sangat istimewa. Saya merasa tersanjung bisa bersekolah lagi. Kelima sila yang sudah lupa bisa saya ingat kembali waktu pelafalan di upacara tadi. Teman-teman baru menyambut saya dengan hangat. Hari pertama terlewati begitu indah. Saya telah jadi siswa, bersekolah dan menggapai cita-cita setinggi angkasa.
Seminggu berlalu. Bulan berganti dengan cepat. Kaki saya tetap menderapkan langkah ke sekolah. Jarak rumah dengan sekolah tidak begitu jauh, sekitar dua kilometer. Saya dan teman sekampung berjalan kaki ke sana. Rasa letih tidak terasa karena diiringi canda tawa. Semangat saya menggebu-gebu. Padahal baru kelas satu, saya merasa sudah hampir tamat.
Di kelas, teman-teman saya sangat mudah memahami pelajaran. Saya sedikit lambat daya tangkap dan sering kali bingung apa yang diucapkan guru. Makin hari saya merasa makin tertinggal. Guru bilang begini saya pahami begitu. Guru sampaikan ini saya lakukan itu. Guru menyuruh saya ke depan kerjakan soal ulangan harian, saya malah bengong tidak mengerti mau berbuat apa.
Semenjak hari itu saya malah banyak murung. Hari yang paling naas dalam hidup saya datang juga. Bukan hanya saya. Dua teman lain. Seorang perempuan dan seorang laki-laki. Kami bertiga dipanggil ke kantor guru. Saya penasaran. Sedikit ketakutan. Kami bertiga termasuk siswa dengan prestasi paling belakang. Ketiga dari kami adalah rangking terakhir. Begitu hasil ujian tengah semester dua hari lalu.
Di depan kelas, saya gemetar. Kedua teman saya tidak jauh berbeda. Saya membayangkan hal terburuk akan terjadi. Kami diminta duduk di depan kepala sekolah. Bagai disidang karena telah melakukan kesalahan besar, kepala sekolah memberi wejangan. Kami dikasih nasehat. Solusi atas permasalahan yang sedang melanda kami bertiga.
Saya tidak pernah membayangkan akan mengalami hal ini. Waktu di sekolah dasar, saya hanya diminta belajar kekurangan saya. Guru saya tidak memberikan bimbingan yang berarti. Di sekolah saya tetap dinomor terakhirkan. Saya semakin tertinggal bahkan dua kali tinggal kelas. Umur saya tidak muda lagi. Saya jadi malu. Ini alasan ketiga saya tidak mau melanjutkan sekolah setelah lulus.
Alasan keempat? Saya sangat-sangat malu mengatakannya. Saya tidak berani tapi saya harus mengatakannya. Termasuk kenapa saya dan dua teman saya dipanggil menghadap kepala sekolah. Karena alasan ini. Bahaya besar. Bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk semua orang yang mengalaminya. Saya tidak habis pikir, tujuh tahun, bukan, sembilan tahun saya di sekolah dasar. Saya tidak bisa baca!
Saya buta aksara. Saya tidak bisa membedakan huruf kecil dan kapital. Mana huruf pertama dan terakhir dalam abjab. Antara A dengan V. Antara L kecil dengan I besar. M dan N. Nol dengan O. Susah menghafal  huruf X. Saya tidak ingat dan tidak mengenal awal abjad sampai akhir. Saya bingung. Tapi saya harus tahu.
Kami bertiga duduk diam. Masing-masing sudah diberi tugas. Keputusan besar sudah diputuskan walau tidak diketuk palu seperti sidang di pengadilan. Keputusan kepala sekolah tidak bisa diganggu gugat. Masing-masing dari kami mendapatkan guru dampingan. Mulai besok, saya dan kedua teman akan memulai pelajaran dan kelas baru. Kami tidak akan menjumpai kegembiraan dan kegundahan hati teman-teman di dalam kelas. Tidak bisa melihat raut bingung teman-teman mengerjakan tugas matematika atau fisika. Tidak harus tertawa saat salah satu dari kami tidak bisa membaca puisi dengan benar. Tidak akan menertawakan salah seorang teman yang dihukum, karena salah mengucapkan pembukaan undang-undang dasar.
Besok pagi, saya akan berkelas di kantor guru. Rasanya bagai pesakitan menerima kenyataan ini. Saya belajar membaca. Dari awal. Seperti masih di kelas satu sekolah dasar bukan kelas satu sekolah menengah pertama.
Seminggu berlalu. Teman laki-laki yang sama nasib dengan saya tidak datang lagi. Dia berhenti sekolah. Minggu setelahnya, teman perempuan juga mengikuti langkah teman laki-laki itu. Tinggal saya yang belum paham mana A dan V. Hati kecil saya menyuruh menyerah. Tekad saya belum sampai menyerah. Saya tetap ke sekolah dua tiga hari ke depan.
Sampai hari itu tiba, saya belum memutuskan untuk berhenti. Seperti biasa. Teman-teman keluar kelas di jam pulang sekolah sedangkan saya dari dalam kantor guru. Mereka mengejek. Bertanya beda A dengan V. Mengajari baca Ini Budi, Ini Wati atau Ini Ibu Budi, Ini Bapak Budi!
Saya tersudut. Malu. Sedih. Saya lelaki macho yang cengeng. Dengan derap langkah gontai saya pulang dan tidak kembali di hari-hari selanjutnya. Saya putuskan meninggalkan angan dan cita-cita menjadi orang pintar. Pintar hanya dimiliki oleh orang-orang yang bisa membaca. Saya tidak bisa membaca, bagaimana saya bisa membedakan baik buruk. A dengan V selalu salah di mata saya.
Jika sekarang saya merasa sedih, tentu saja. Seharusnya saya sudah tamat sekolah menengah pertama. Namun karena perjuangan saya yang tidak tuntas, saya berhenti di sini. Di tempat yang sama, saya tidak bisa membaca. Bila Anda, siapa saja, saya sedih mendengar Anda sama seperti saya!
***
Rumah, 28 September 2011
Seperti pengalaman sepupu yang putus sekolah

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90