Top Ad 728x90

Friday, January 13, 2012

Cacak, Cincut dan Dek


Kebahagiaan datang begitu tangisan kecil menghampiri seluruh ruang tunggu persalinan. Aku harap-harap cemas, berharap persalinan kali ini tidak seperti dua tahun lalu. Waktu itu adik ibuku, yang sekarang sedang melahirkan normal, melahirkan anak pertamanya dengan caesar.[1] Anak pertama yang lahir tahun dua ribu tujuh itu berkelamin perempuan. Sudah bisa bersuara satu dua kata. Di keluarga besarku, dia sebagai penghibur. Setiap saat ada saja yang ingin mengendong, memeluk, mengajak jalan tertatih dan keliling kampung dengan sepeda motor butut kesayangan keluarga kami.
Kini, setelah dia bisa berbicara, paling tidak sudah bisa mengucapkan nama ayah ibunya, adiknya kembali lahir. Sekarang berkelamin laki-laki. Tentu saja kasih sayangnya terbagi dari ibunya yang harus segera menyusui. Tapi ini tidak membuat ia hilang kasih sayang. Dalam keluargaku, kasih sayang berlimpah kerap kami berikan untuknya. Bahkan, dia sering diboyong adik ibuku yang nomor dua. Kebetulan adik ibuku ini belum mempunyai momongan di usia pernikahan dua puluh lima tahun mereka.
Ibuku ini paling tegar, walau belum mempunyai anak sendiri. Dengan lahirnya adik sepupu perempuan kecilku ini, adik ibuku ini bisa mengobati rindunya pada seorang anak. Banyak waktu yang mereka habiskan bersama. Sudah seperti anak dan ibu kandung. Seperti tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Bahkan sering ada tangisan jika berpisah sehari saja. Mungkin karena ibunya sendiri harus berbagi kasih dengan sang adik.
Hari berlalu begitu cepat. Rumah nenekku riuh dengan suara bising mereka. Sekarang sudah dua tahun berlalu semenjak adik laki-laki kecilku lahir. Dia tumbuh menjadi lelaki yang tampan. Sudah bisa berjalan. Sudah bisa berbicara. Sedangkan kakaknya sudah lebih dulu menghabiskan waktu empat tahunnya dengan berbagai cara. Bermain layaknya perempuan kecil dengan boneka dan masak-masakan.
Jika tiap seminggu dua hari ibunya ke sekolah, mereka berdua kerap bermain berdua ditemani nenek. Ulah mereka tidak ubah dengan kanak-kanakku dulu. Sang kakak sering menganggu aktivitas kemachoan sang adik. Bola kaki yang seharusnya kepunyaan adik laki-laki gagahnya, ia rebut atau tendang jauh-jauh. Sang adik yang masih tertatih-tatih berlari mengejar bola bagai pemain sepak bola hebat dunia. Namun sang kakak, kembali mengacaukan suasana. Mengambil bola, membuang ke tempat lain.
Lain waktu, kemarahan sang adik muncul juga. Saat sang kakak bermain boneka, sang adik yang geram sering diganggu permainan laki-lakinya. Merebut boneka. Membawa lari. Kadang di buang ke tong sampah. Ke kamar mandi sampai basah. Ke hujan lebat. Ke terik matahari. Atau disembunyikan ke tempat yang tidak diketahui oleh siapapun, termasuk dia sendiri lima menit ke depan. Setelah itu, sang adik terkekeh dalam suara kecilnya. Sang kakak dengan teriakan tangis melapor ke nenek. Tangis kakak tidak lantas membuat adik laki-lakinya berubah pikiran. Malah makin menjadi-jadi. Mainan masak-masakan sang kakak diambil dan dimainkan sesuai seleranya. Sang kakak yang gondok sering ingin memukul adiknya. Tapi lagi-lagi nenek datang melerai. Kakak ngambek. Adik senang. Tertawa-tawa.
Mungkin masa kecil memang seperti itu. Sewaktu kecil mungkin aku, kau, atau siapa saja juga melakukan hal yang sama. Hanya saja aku tidak bisa mengingat semua yang pernah aku lakukan dulu. Beberapa kejadian saja yang masih melekat dalam ingatanku. Menangis di tengah gerimis karena kedinginan. Main bola. Main mobil-mobilan. Main tanah. Kedua adik sepupuku juga melakukan hal yang sama.
Pagi hari mereka memulai dengan tangis, lega sejenak setelah makan dan tidur siang. Setelah itu bermain, kecapean, menangis lagi. Ingin tidur di malam hari, menangis lagi. Rutinitas yang sama. Tidak bisa dipungkiri. Aku mengalaminya – mungkin – juga di masa lalu.
Beranjak hari, makin tumbuh menjadi anak-anak yang gemas. Sang kakak masih sering menganggu adik, demikian sebaliknya. Susu yang seharusnya milik kakak, diminum adik, susu adik jadi hak milik kakak. Mobil-mobilan jadi milik bersama. Boneka kadang dipeluk adik waktu tidur malam. Bola kaki sempat dimain-main kakak sebagai tempat duduk di depan pohon jambu depan rumah. Mereka berbaur, berbagi kasih sayang yang semestinya begitu.
Mereka berdua, berbagai hal yang mereka lihat, dengar dan rasakan begitu cepat dipraktekkan. Omongan kasar mudah dilafalkan. Kelakuan tidak baik acap kali ditiru. Bukan tidak pernah kakak menjewer adik, tahunya adik malah mengambil batu mau melempar kakak. Lain waktu adik dipeluk sampai tidak bisa bernapas oleh kakak. Kesempatan lain, adik malah mencubit kakak sampai merah di lengan kanan. Semua terjadi begitu cepat. Seiring perkembangan mereka. Banyak yang mereka tahu, banyak pula yang mereka perbuat.

Cacak
Mungkin kau akan bertanya, cacak atau Cecak? Kau tidak salah membaca, ini benar-benar cacak. Ce a ce a ka. Cecak merupakan salah satu binatang kecil yang mungkin kau dengar cicauannya tengah malam buta. Rumahku masih sering terdengar suara Cecak. Cecak sering memaksa nyamuk yang lewat di depan penciumannya. Sering membuang kotoran di sembarang tempat. Sering membuat ekor jika sudah kepepet lalu kabur menunggu ekor kembali tumbuh.
Berbeda dengan cacak. Cacak hanya sebuah panggilan kecil saja. Istilah kerennya nick name. Nama kecil ini dinobatkan seorang yang masih belum bisa berbahasa dengan benar untuk orang terkasihnya. Suaranya masih terpatah-patah mengeluarkan kata. Namun kata itu bisa dengan mudah ia ucapkan.
Cacak merupakan panggilan adik untuk kakaknya. Kau tahu, betapa ngakaknya kami mendengar sebutan adik pada kakaknya. Waktu itu, beberapa hari ia baru bisa berkata-kata. Sang kakak sibuk memperbaikan mainan adik di halaman luas rumah nenek. Adik geram karena kakak tidak peduli yang dia minta. Adik berlari menghampiri kakak. Kakak berlari menjauh. Di antara kami yang duduk di halaman berumput, memanggil kakak agar jangan berlari. Kasihan adik yang sudah berlari tertatih. Tapi apa yang terjadi? Kakak makin tertawa-tawa. Puas dengan hasil kerjanya ngerjain adik yang lebih kecil darinya.
Adik berteriak-teriak tidak jelas. Saking lelahnya mengejar kakak yang membandel. Adik memanggil sebutan cacak. Kami semua tersengang. Mungkin dalam pikiran kecilnya, ia berpikir kata yang keluar sudah benar. Dia sudah sering mendengar kami, memanggil kakak.
Semenjak hari itu, pelajaran pertama untuk adik adalah dapat memanggil kakak dengan cacak. Kedua ka diganti ce. Entah susah mengucapkan kata ka atau memang masih cadel dengan kata ka. Akhirnya kata cacak dipakai kami semua. Sudah seperti keharusan bahkan sampai sekarang, saat adik sudah banyak bisa mengeluarkan kata-kata dari mulut mungilnya. Masih memanggil kakak dengan cacak.

Cincut
Cincut? Benar. Kata kedua yang membuat kami semua tertawa ngekeh. Mungkin kau belum pernah mendengar kata ini. Sebelumnya, aku juga belum. Kata ini keluar begitu saja dari mulut adik begitu melihat cacak setelah mandi. Biasanya cacak paling bandel dimandikan pagi hari. Namun hari itu karena diiming-imingi akan dibawa kondangan akhirnya mandi juga.
Setelah mandi, cacak bergegas ke kamar dengan handuk kecil masih melekat di badannya. Adik sudah menunggu dengan senyum lebar. Seluruh badannya berubah putih karena dibedaki sama nenek. Di tangan kanan adik memegang kain kecil berwarna pink. Warna kesukaan cacak. Entah karena filling atau karena apa, adik seakan tahu benar cacak sangat suka warna pink. Mulai dari baju. Sepatu. Tas sekolah. Payung. Celana dalam.
Aha! Ini dia yang dipegang sama adik. Celana dalam. Dengan teriakan keras adik memanggil cacak.
“Cacak, cincut!” hanya dua kata yang keluar tapi mampu menghipnotis seluruh rumah di pagi hari. Aku yang sedang menonton berita di salah satu televisi swasta terhenyak. Nenekku bertanya ulang apa yang diucapkan adik barusan. Tanpa rasa bersalah. Tanpa berpikir lagi. Sudah jelas adik belum mengerti apa-apa. Adik berkata dengan bangga.
“Cincut!” tawaku meledak. Yakin? Sebuah kosa kata barukah? Ternyata aku tidak keliru. Adik memaksa-maksa cacak menerima celana dalam – cincut – yang dia pilih dari keranjang baju khusus mereka berdua. Kau pasti menerka-nerka, seperti biasa, cacak berlari-lari keliling rumah tanpa menghiraukan adik. Adik yang marah tidak dipeduli membuang cincut keluar jendela. Tidak tahunya, bukan terus tertawa cacak malah menangis. Salah siapa? Katanya dia mau yang warna pink. Adik sudah tidak peduli. Nenek mencari-cari yang warna senada. Dapat yang merah. Cacak tidak terima. Aku mengambil cincut warna pink yang baru dibuang adik. Karena semalam hujan, dan tanah belum kering cincut itu kotor. Semua serba kebetulan. Cacak tidak terima dan terus menangis.
Tidak tahunya adik malah nyengir dengan cincut lain. Sekarang motif bunga-bunga warna putih. Luput dari pandangan kami yang tertuju pada cacak, adik mencari sendiri cincut lain sekadar menenangkan hati cacak. Cacak yang tidak terima merebut cincut putih itu hampir membuat adik terjatuh. Adik cuek saja. Mungkin dalam hatinya cacak sudah mau menerima dan tidak ngambek lagi. Tapi aku malah berpikir dan bengong sendiri, masa anak sekecil itu bisa berpikir sedewasa ini? Naluriku mengatakan istimewa. Kuperhatikan si adik yang mencari-cari bajunya sendiri.
Ini sangat berharga. Kata kedua yang diucapkan adik dengan spontan membuatnya tumbuh jadi lelaki yang cakap. Aku jadi membedakan. Cacak cengeng. Suka menangis. Hal kecil sudah menangis. Mau tidur masih dengan tangis. Mandi masih diiringi tangisan. Makan begitu pula. Capai bermain juga sama. Seharian tidak sekalipun tidak menangis. Aku pernah mendengar, tangisan anak-anak itu sehat, akan membantu perkembangan psikologi dan intelektual mereka. Benarkah?
Adik terasa berbeda. Mungkin juga karena laki-laki. Atau ada hal lain. Adik terlalu banyak sabar dan cuek menghadapi cacak. Namun bukan tidak pernah adik marah dan mencubit cacak saking kesalnya.  

Main payung
Adik suka sekali dengan hujan. Apalagi di sini sering sekali musim penghujan. Kebiasaan adik ini membuat seisi rumah risau.  Adik tidak bisa melihat hujan, gerimis sedikit saja adik sudah minta keluar rumah. Dengan payung satu dia akan berlari-lari di halaman rumah. Bermain air sampai kedinginan dan minta dijemput. Padahal jarak dia main dengan rumah hanya dua tiga langkah orang dewasa dari teras.
Begitulah. Adik membuat kesan sendiri. Hujan menjadikan hatinya sangat bahagia. Namun hujan juga membuat fisiknya cepat lelah dan sakit. Setiap main hujan, adik pasti akan sakit. Lain waktu, dia juga akan main hujan lagi. Jika dilarang bukan mengiyakan malah menangis sejadi-jadinya. Aku paham, dia masih kecil. Sudah sepantasnya menuruti kemauannya. Bermain hujan tentu bukan pilihan yang tepat. Ingin rasanya ketika hujan dia tertidur atau tidak di rumah, di tempat yang sedang hujan.
Lain halnya jika musim kemarau, di tengah terik matahari jika moodnya sedang baik. Adik akan bermain dengan payung di halaman rumah. Kau tahu? Main payung ini sengaja adik ciptakan untuk membuat cacak jengkel. Payung warna pink itu milik cacak. Adik sengaja merampas ketika cacak lalai. Cacak yang sibuk menyabuni boneka dengan pasir tidak melihat adik bermain payung. Ketika sadar payung sudah hilang di samping bonekanya, baru cacak berlari merebut payung di tangan adik.
Adik yang sedang senang-senangnya pamer tidak kena matahari lantara terlindungi payung, nangis sejadi-jadinya. Cacak jelas-jelas tidak melihat ke belakang. Seperti yang sudah-sudah, payung itu cacak campakkan begitu saja. Hanya mencemburui adik yang sedang bermain payung.
Akhirnya, adik dibelikan payung baru. Cacak tidak terima karena payung cacak sudah tua. Adik juga tidak mau payung lama. Bertengkaran kecil terjadi. Sama-sama tidak mau mengalah. Sama-sama nangis. Sama-sama tertidur.
Ketika terbangun di sore hari, sama-sama lupa sudah memperebutkan payung. Kau mau tahu siapa yang mengalah? Sudah bisa ditebak, adik yang masih pelupa mau saja menerima payung lama. Padahal cacak tidak menggunakan payung waktu itu, hanya meletakkan di samping boneka Panda warna pink kesayangannya.
Astut
Nama orangkah? Atau nama sebuah tempat yang suka cacak dan adik kunjungi? Bukan keduanya. Astut hanya sebutan pada sepeda motor tua yang aku sendiri sudah lupa merek apa. Warnanya merah menyala dengan suara bagai meriam, meledak-ledak. Tapi adik dan cacak suka.
Astut ini menjadikan adik bisa tidak makan seharian. Bisa melupakan cacak yang harus meninabobokan boneka Panda pinknya. Sepeda motor tua ini membuat kakak beradik ini rindu setengah mati. Melihat motor tua ini, mereka berdua langsung ingin diajak jalan-jalan. Adik kerap tertidur dibawa dengan motor ini. Tapi tidak setiap waktu ada yang mau membawa mereka dengan motor ini. Jika tidak pandai, bisa-bisa mereka berdua akan jatuh.
Aku pun pernah menyimpan si astut ini hilang dari pandangan adik. Adik yang sudah kangen akan mencari-cari. Menangis sejadi-jadinya minta naik.
Pelajaran lagi untukku, jika tidak ingin suatu kebiasaan dijadikan hal lumrah maka tidak perlu dibiasakan. Naik astut sudah jadi kebiasaan adik sehingga dia ketagihan. Sepeda motor lain yang lebih bagus ada, adik malah tidak mau. Apa yang harus dilakukan? Ujung-ujungnya kembali ke pilihan yang sama.
Adik, cacak, sama-sama masih kanak-kanak. Bersama mereka membuat hari bersemangat. Tidak melihat mereka sehari saja rasanya kangen luar biasa. Walau bukan anak sendiri, tapi kenangan tumbuh besar bersama mereka. Pelajaran indah terlalui bersama mereka. Melatih kesabaran. Membuang jengkel. Berbagi kasih. Pengetahuan. Dan semua. Untuk mereka. ***
Rumah, 26 September 2011


[1]Persalinan melalui operasi/pembedahan  

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90