Top Ad 728x90

Thursday, January 19, 2012

Segenggam Sirih


Feature Radio Suara Perempuan, Banda Aceh, 2010.
Reporter          : Tia
Naskah            : Ibay
Voice               : Mala
Narasumber     : Siti

Ada yang mengatakan sirih itu bisa membuat gigi kuat dan tahan sampai tua. Benar atau tidak, kita harus membuktikan pernyataan ini suatu saat nanti. Karena banyak yang sudah tua giginya sudah ompong semua. Padahal sering makan sirih katanya.
Sirih memang sangat populer di kalangan masyarakat Aceh. Dari dulu sampai sekarang masih banyak orang yang mengkomsumsi sirih. Ibarat perokok, orang yang makan sirih juga bisa kecanduan. Sehari saja tidak makan sirih bisa tidak enak rasa di mulut.
Kita lupakan saja orang yang makan sirih, kali ini kita akan berkenalan dengan penjual sirih langsung. Pasti Anda penasaran bukan. Padahal tiap saat kita melintasi Masjid Raya Baiturrahman, selalu melihat senyum nyak-nyak penjual sirih di pelataran gang masuk ke halaman masjid termegah itu.
Di antara nyak-nyak penjual sirih itu, ada siti. Seorang perempuan yang sudah berjualan sirih mulai umur tiga belas tahun. Bayangkan saja, jika umurnya sekarang enam puluh tujuh tahun. Sudah sangat lama sekali perjuangannya ini. Siti tidak langsung penjual sirih, jika tidak mengikuti jejak neneknya waktu itu.
Kata Siti, “Diajak nenek, nenek sudah tua. Sekarang nenek sudah meninggal,”
Siti bercerita, sebelum tsunami yang meluluhlantakkan Aceh akhir tahun 2004 lalu. Dia berjualan di seputaran pasar Aceh yang masih dalam pembangunan sampai saat ini. Waktu itu sangat jauh berbeda dengan sekarang. Dulu mereka hanya beralaskan papan seadanya untuk menaruh sirih ditemani lampu teplok dengan nyala temaram. Sekarang ini setelah bantuan datang, paling tidak gerobak kecil putih biru sudah menemani mereka sampai larut malam. Namun ini tidak membuat Siti berbesar hati. Dia masih mengingat masa susah dulu. Bantuan ini sebagai hikmah atas apa yang sudah ia alami tiga belas tahun lalu.
Siti bertutur, dia sangat mencintai profesinya dari dulu sampai sekarang ini. Menjual sirih tetap menghadirkan suasana berbeda untuk Siti. Dia bisa mencukupi kebutuhan keluarga, menyekolahkan anak-anak. Semuanya terasa indah jika dijalani dengan senang.
Siti tidak keberatan jika ada yang menilai pekerjaannya tidak menghasilkan apa-apa. Nyatanya anaknya bisa sekolah. Dia bisa makan. Sudah cukup untuknya dan keluarga!
Usia tidak menghantarkan Siti berhenti berjualan. Uban di rambut tuanya telah terlihat. Namun senyum indah itu membumbung tinggi selangit yang ia haturkan.
Kata Siti “Tinggal di Keudah, kesini naik becak kadang-kadang di antar suami atau anak. Aslinya dari Sigli. Suami berjualan di Kios depan rumah. Ini pekerjaan perempuan, laki-laki kan malu berjualan sirih,”
Siti, pagi hari sudah membungkus daun sirih. Menawarkan pada yang berkenan. Setiap saat azan berkumandang dari masjid raya di depan pelupuk matanya, jejak tua itu melangkah menunaikan panggilan Ilahi. Malam menutup tirai, Siti juga mengakhiri perjuangan hari ini!
Semangat Siti, perempuan tua dengan jiwa muda membara akan menjadikan warna terindah di salah satu sudut kota Banda Aceh yang gegap gempita dengan warung kopi membahana dimana-mana.
Terlepas dari itu semua, perjuangan Siti adalah doa kita semua. Setiap jejak langkahnya adalah harapan. Dan setiap doanya adalah impian.
Siti, mata tuanya membenamkan cinta untuk nanggroe kita!
***

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90