Top Ad 728x90

Saturday, March 31, 2012

Kopi Panas Ayahku


Bermula dari dia, aku ada untuk menulis kisah ini. Saat aku sadar akan sebuah kebahagiaan dan kesedihan, beliau selalu datang dengan senyum dan merangkulku manja. Langkahnya tak pernah lekang dari sikap sensitifku terhadap mata dunia. Aku bertopang pada jiwanya yang selalu kokoh dan sabar, menyadarkan aku yang terlena dengan cahaya kemegahan lingkunganku.
Sudah dari kecil pula, ketika aku benar-benar sadar bahwa hidupku sudah nyata. Aku melihat pagi bersama beliau dengan secangkir kopi di meja reyot rumah kami. Mata beliau mengisyaratkan harapan untuk pagi, ke kebun karet mengais rejeki dan sepulang dari sana turun ke sawah menuai padi milik kami. Tak pernah bosan matanya berbinar. Walaupun hari kami – di masaku yang belia – kehidupan keluargaku tak berubah dari hari ke hari.
Beliau adalah Ayahku. Laki-laki yang sudah membuatku ada. Walau banyak referensi mengumpamakan surga di telapak kaki Ibu, sehingga mau tak mau harus mendapat restu Ibu dan tak boleh menyakiti jiwa dan raganya. Bagiku Ayah tetap mempunyai surga di bagian yang lain. Entah bagian mana surga itu berada, aku juga tidak boleh sejengkalpun menyakiti psikis dan fisiknya. Kedua orang ini telah memberikanku kehidupan, menyusuiku sampai dua tahun, memberikan pisang sebagai pengganti nasi di umurku yang masih balita, memakaikan baju agarku terlihat sopan dan tidak kedinginan, memandikan badanku dari kotoran supaya rupaku tetap menawan, dan menjagaku dari segala hal yang memperlambat perkembangan mental dan tubuhku.
Aku adalah mereka. Aku merupakan harapan Ibu. Dan aku cerminan Ayahku. Semua yang beliau lakukan akan kuikuti setiap perkembanganku. Beliau mengajarku akan banyak hal, yang tak pernah aku dapatkan di jenjang pendidikan mana pun. Karena beliau, guru tanpa buku dan tak pernah mendikte arti kehidupan untukku.


Tangannya di Pundakku
Lahirku sama dengan yang lain, dari seorang Ibu dan dibesarkan oleh kedua orang tua. Mereka mengajarku berjalan, berbicara, bersikap dan bertingkah laku. Sifat lembutku adalah bagian dari Ibuku. Sifat tegasku merupakan didikan Ayahku, agar menjadi laki-laki, sebagai pemimpin untuk diri sendiri, untuk keluarga dan untuk lingkungan di mana langkahku menetap.
Seorang Ayah tentu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mulai dari nafkah sampai akhlak mulia. Ayah tak pernah mengeluh lantaran beras di dapur sudah habis. Tak pernah pula mengatakan recehan rupiah sudah kosong dari sakunya. Tiap kali kuminta, adik-adikku juga meminta, beliau tetap memberikannya. Setiap pagi di hari sekolah, di atas meja sudah terdapat tiga lembar uang kertas. Masing-masing untuk kami. Sebagai anak tertua, tentu harga rupiahku lebih banyak dibandingkan kedua adikku. Namun, inilah peraturan yang diberlakukan Ayah, berdasarkan sekolah kami, dari jam pulang sekolah kami.
Aku dan kedua adik tumbuh di bawah lindungan tangannya. Ke mana saja langkah kami, langkahnya tetap mengikuti. Kami tidak dibenarkan menerima begitu saja pemberian orang lain, tidak dibenarkan merokok untukku, tidak dibenarkan pulang sampai azan magrib, diantar mengaji sehabis magrib dan dijemput seusai isya. Semua beliau lakukan karena segenap cinta hanya untuk kami. Lelahnya bekerja di siang hari tak pernah membuat kakinya pegal, atau lupa menjemput kami di surau kampung.
Kebiasaan itu, tercipta jadi nada yang tak pernah kulupakan. Bahkan saat teman-teman lelaki seumurku mulai merokok, aku malah diam. Bukan tidak pernah aku mencoba menghisap batang bernikotin itu, namun tatapan mata Ayah membuat tanganku kembali kosong. Sigaret yang sudah menyala dan mengempulkan asap kubuang begitu saja. Di lain waktu, saat Ayah tak bersamamu, begitu diajak teman merokok aku langsung menghindar. Awalnya karena rasa takutku yang terlampau besar pada Ayah. Semakin lama makin terlupa akan kebutuhan menghirup asap tersebut. Pikiranku yang belum berpengetahuan mengenai bahaya rokok, hanya mengatakan tak akan kenyang jika hanya memakan rokok, dihirup kemudian dibuang kembali menjadi asap.
Lambat laun, di hariku yang semakin dewasa, aku membenarkan semua sikap Ayah. Beliau memang tidak menegurkan dengan kata-kata, bahasa nonverbal darinya cukup mengajarku arti diamnya.

Tangannya Tak Menyentuhku
Mungkin akan bingung dikatakan tidak menyentuh. Beliau pernah meraihku dalam peluknya saatku masih bayi. Pernah menjabat tanganku saat bersalaman. Pernah memapah badanku ke kamar mandi saat badanku terbaring sakit. Pernah menjadi sandaran di atas motor saatku berjalan dengannya.
Aku pernah mendengar seorang anak dipukul Ayahnya, karena alasan tertentu. Bahkan sebagian Ayah malah ringan tangan terhadap anak jika berbuat salah. Ada sebagian yang lain memukul anak karena pelampiasan terhadap sesuatu.
Ayah bukan tidak pernah marah. Setiap orang tua pasti akan marah jika anaknya berbuat tidak baik. Ayahku juga demikian. Marahnya pernah membuat jiwaku gemetar dan takut, saat umurku masih remaja. Marahnya tentu beralasan, jika aku tidak mengaji, tidak sekolah, lupa waktu dalam bermain dan tidak mau belajar. Beliau marah hanya sebatas kata, tidak membentak dengan kasar, tidak membuat mentalku terganggu. Dan tidak pernah melayangkan tangan sampai membuat memar badanku.
Bahkan di usiaku yang sudah sangat dewasa, belum pernah sekali pun Ayah memukul dan membentak kasar perilakuku.

Hanya Mengenal Sedikit Kata
Dikatakan bodoh tidaklah tepat, karena setiap orang tidak diciptakan bodoh. Semua punya kepintaran masing-masing, berdasarkan kemampuan dan keahliannya. Ayahku hanya seorang lelaki yang lulus sekolah dasar. Hanya mampu membedakan huruf abjad namun tidak bisa membaca dengan lancar. Di kampungku, beliau mungkin tidak diperhitungkan orang pintar, namun bagiku tetap seorang yang sangat pintar. Karena pintar itu bukan pada satu sisi, pintarnya tidak bisa diukur dengan gelar sarjana dan tahu banyak hal. Beliau pintar, sudah menjadikanku sebagai pribadi yang bisa membedakan baik buruk selama jalan hidupku.
Sekolahnya memang sampai kelas enam. Namun sekolahku sudah selesai sarjana. Mungkin beliau tidak sepintar orang, anggaplah begitu. Sifatnya yang tidak menginginkan anaknya sama dengan beliau, menjadikanku dan adikku bersekolah sampai setinggi mungkin. Menggapai angan dan harapannya. Agar derajat hidupnya dipandang ada dalam masyarakat. Supaya beliau tidak merasa bodoh bergaul dengan orang kampung yang selalu merasa pintar walau tidak sekolah.
Beliau adalah Ayahku, yang tiap hari menunggu secangkir kopi panas buatan Ibuku. Di meja rumah kami yang semenjakku lahir tetap meja yang sama. Mungkin sebentar lagi meja itu akan kugantikan dengan yang baru, seperti gumpalan senyum di wajahnya melihatku sudah menjadi Guru!
***
Rumah, 29 Maret 2012

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90