Top Ad 728x90

Monday, March 12, 2012

Podium Kata

Mendengar Kultum atau kuliah tujuh menit, mungkin Anda akan terbayang pada seorang ulama besar di atas mimbar atau di televisi menjelang buka puasa bulan Ramadhan. Kultum memang sangat berhubungan dengan hal itu, penceramah memberikan tausiyah, mengajak mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang tidak baik. Semua terangkum dalam putaran waktu tidak lebih dari tujuh menit saja. Seorang pemberi pencerahan pun diharuskan menyampaikan intisari saja sebuah ulasan.
Untuk mereka yang sudah terbiasa menjadi penceramah ulung, waktu tujuh menit tentu bukan hal yang akan memberi beban. Namun untuk mereka yang – mungkin – baru pertama sekali menjadi pembicara di atas mimbar, atau di depan orang banyak, angka tujuh itu akan jadi api sangat panas agar bisa segera menyelesaikan kuliah mereka. Apalagi untuk mereka yang dikategorikan masih berumur sangat remaja. Baru berinjak dari anak-anak ke masa remaja. Baru menyadari keberadaan mereka dibutuhkan di suatu kelompok. Baru mengerti baik buruk walau hanya secuil saja. Baru mengenal berteman dengan siapa saja. Baru ada di umur belasan tahun.
Tentu, mereka yang polos ini merasa sedikit terbeban berdiri di depan orang banyak dengan memberikan kuliah singkat. Kata kuliah dianggap belum sesuai untuk usia mereka yang masih belia. Umur belasan tahun berdiri di depan orang, memberikan pencerahan, akan dianggap banyak tahu oleh sebagian yang lain. Hal ini akan terjadi jika tidak melihat latar belakang mereka berdiri di atas mimbar bagai ulama besar.
Benar. Kuliah tujuh menit ini untuk siswa dan siswi di madrasah-madrasah seusai shalat dhuhur, mungkin shalat lima waktu jika madrasah berasrama. Kali ini saya menyorot salah satu madrasah yang dulu pernah membuat saya mengenal banyak ilmu. Dan sekarang saya kembali kesini untuk mengajar ilmu kepada mereka-mereka yang masih sangat belia. Madrasah itu MTsN Blang Balee, salah satu madrasah yang sangat populer di daerah saya. Walau bukan di tingkat Kabupaten Aceh Barat, namun untuk kecamatan tempat saya berdiri, gaung merdu madrasah ini dari dulu sampai sekarang masih sangat bergema. Banyak alumni yang menjadi orang hebat. Banyak yang menyanjung. Banyak orang tua yang mengantarkan anak-anak mereka mengais ilmu di sini.
Dan sekarang, ketika saya kembali ke sini setelah sekian tahun. Kuliah tujuh menit itu masih berlaku. Setiap siswa dan siswi diharuskan mampu berdiri di depan podium dan menyampaikan satu materi ceramah. Sebuah pembiasaan yang turun-temurun masih dilakukan. Siswa atau siswi yang sudah dijadwalkan menjadi calon penceramah itu, mau tidak mau harus siap. Mereka disediakan waktu paling tidak sebulan lebih untuk menyiapkan isi ceramah.
Cukup mencengangkan jika dalam keseharian siswa tidak berani tampil ke depan, berkat Kultum ini mereka mampu berdiri dan menyampaikan ceramah. Paling tidak ini cambukan agar mereka terbiasa, termasuk menilai bahwa mereka mampu dan siap mental jika ditantang dalam masyarakat untuk menyampaikan pesan moral.
Pembiasaan yang dilakukan ini bukan tidak ada alasan. Setiap madrasah yang sudah mencanangkan program ini mengharapkan siswa dan siswi mampu dan siap mental untuk berdiri di depan orang lain. Setelah lulus mereka tidak diragukan lagi untuk tampil di dalam lingkungan masyarakt yang kerap sekali sangat berbeda dengan sekolah.
Sudah banyak madrasah yang melakukan ini, bahkan sudah jadi sebuah kebiasaan. Cerminan ini memberikan motivasi untuk siswa dan siswi bahwa mereka sangat dihargai dan dituntut untuk menjadi pribadi yang tangguh, bertanggung jawab dan berilmu pengetahuan.
Memulai dari hal kecil memang sangat sulit, apalagi dari madrasah tsanawiyah yang siswanya masih di bawah lima belas tahun. Namun, dari sinilah pembentukan karakter itu menentukan arah perubahan dalam diri mereka. Alangkah tidak cukup jika berpuas di sini saja. Berharap semua madrasah bisa melakukan ini. Memberi yang positif. Inspirasi dan motivasi. Pada mereka yang masih mencari jati diri.
***

2 komentar:

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90