Top Ad 728x90

Friday, April 6, 2012

Mengeja Hijaiyah


Belajar mengaji sudah dilakukan semenjak masih kanak-kanak. Apakah ke alim ulama atau belajar bersama orang tua di rumah. Pembiasaan tersebut dilakukan untuk dapat membaca huruf Arab, kelak bisa mengaji dengan lancar dan membedakan huruf-huruf hijaiyah. Sikap senang dan bosan kerap kali diperlihatkan anak-anak dalam memulai ngaji. Tak ayal terjadi kekerasan dalam membisakan anak-anak mengaji.
Mungkin Anda masih ingat, di kampung-kampung dihampir seluruh daerah di Aceh terkenal dengan awe diplah tujoh.[1] Di Meulaboh, di pedalaman khususnya sebagian ulama/teungku yanga mengajar ngaji punya pegangan rotan ini. Sesekali akan dikeluarkan untuk menakut-nakuti anak didik agar mau disiplin belajar mengaji. Jika ada di antara mereka yang main-main di depan Al-Qur’an tak segan pula sang teungku akan memukul. Waktu dulu hal ini sangat ditakuti oleh anak didik sehingga membuat mereka bisa mengaji. Namun sekarang sudah jarang dilakukan mengingat banyak orang tua tidak terima anaknya dipukul. Hasilnya anak didik sering membantah omongan teungku dan ujung-ujungnya tidak bisa membedakan huruf-huruf Arab dalam kitab suci.
Terlepas dari bagaimana cara Anda diajarkan mengaji, hal ini akan menjadi pembiasaan yang bagus untuk anak-anak. Belajar mengaji dan mengaji bukan hanya berlaku pada anak-anak yang masih dibawah usia baligh. Mengaji juga bisa dilafalkan oleh siapa saja, tidak memandang umur dan kedudukan.
Pembiasaan mengaji juga dilakukan di MAN Terpadu Samatiga, sebelum memulai pelajaran jam pertama pukul 07.45 WIB, semua siswa mulai dari kelas satu sampai kelas tiga diharapkan mengaji. Metode yang digunakan adalah melanjutkan bacaan Al-Qur’an dari hari sebelumnya. Dilakukan secara bersama-sama dengan pengawasan guru bidang studi yang masuk jam pertama. Jika ada kelas yang sudah mengkhatam sampai tamat, mereka bisa mengulang kembali dari awal dan seterusnya. Namun sangat jarang mereka bisa khatam mengingat waktu yang diberikan hanya lima belas menit sebelum memulai pelajaran. Suara bacaan mereka teratur dan mengikuti semua yang sudah diajarkan.
Kesalahan yang terjadi kemudian akan dilakukan proses pembelajaran kembali. Guru bidang studi Qur’an Hadist bertugas meluruskan bacaan anak-anak yang masih kurang bagus. Ada yang diberikan tugas menghafal surat-surat pendek dan ada pula yang masih belum pandai mengeja didikte untuk bisa mengeja dengan benar.
Hal ini dilakukan sudah sejak lama, setelah tsunami dan berlangsung sampai sekarang. Kebiasaan tersebut sudah tidak mesti mendapat teguran lagi dari guru, sesuai kelas masing-masing begitu sampai ke sekolah dan bel berbunyi mereka akan masuk ke kelas dan memulai mengaji.
Usai mengaji, pelajaran pun dimulai. Tentu dengan perasaan yang lebih tenang dan dekat dengan Sang Kuasa. Lantunan ayat-ayat yang didendangkan akan membuka hati mereka menerima pelajaran, harapannya begitu. Tidak hanya sekadar mengaji sebagia tuntutan peraturan sekolah melainkan karena kesadaran diri sendiri bahwa mengaji itu akan mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Sebagai MAN Terpadu Samatiga, madrasah ini telah memberikan pelajaran yang terbaik untuk segenap siswa-siswi. Mengajarkan hal positif tentu akan mendapatkan feedback yang tidak kalah berharga bagi masa depan mereka. Mengaji sebelum memulai pelajaran adalah suatu hal yang sangat penuh makna. Satu sisi mendekatkan diri kepada Allah SWT., mencintai Muhammad SAW. sebagai perantaran turunnya Al-Qur’an, menenangkan pikiran, menjauhkan dari hal-hal negatif selama belajar, dan membuka hati untuk dapat menangkap pelajaran dengan mudah.
Di sisi lain, mengaji bersama itu menciptakan kekompakan dan keharmonisan antar sesama siswa-siswi. Tidak mengutamakan ego masing-masing, yang lebih pintar mengaji bukan berarti harus bersuara keras sedangkan yang masih terbata harus baca dalam hati. Semua dilakukan dengan tertib, saling mengingatkan, saling membagi ilmu bacaan yang benar, saling percaya dan saling menghargai.
Mengeja hijaiyah di awal pagi, secerah matahari segitu juga ilmu menerangi jalan hidup mereka, siswa-siswi di MAN Terpadu Samatiga. ***
Rumah, 24 Maret 2012


[1]Rotan dibelah tujuh

2 komentar:

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90