Top Ad 728x90

Tuesday, October 30, 2012

,

Simalakama Seorang Guru

"> Gurumu adalah orang tua kedua bagimu. Mungkin itu kalimat yang sesuai menggambarkan kedudukan seorang guru bagi seseorang. Lepas dari didikan orang tua tentu saja seseorang dididik oleh seorang guru, mulai dari taman kanak-kanak sampai menjelang akhir sekolah menengah atas. Guru tidak pernah lepas bertanggung jawab atas apa yang akan diajarkan kepada siswa-siswinya. Sebagai orang tua; guru memberikan segenap kasih sayang dan pengorbanan tanpa pandang bulu.

Jika seseorang sudah berada di sekolah, maka tanggung jawab atasnya adalah guru. Orang tua sudah memberikan wewenang sepenuhnya kepada guru, mau tidak mau orang tua harus menerima keputusan guru. Terlepas dari apa yang sering terjadi, akan pelanggaran HAM yang didengungkan, tanggung jawab guru perlu digarisbawahi. Kedudukan seorang guru hampir sama dengan orang tua kandung, sukses tidaknya seorang siswa terletak pada cara guru mengajar. Setiap kesalahan yang melibatkan siswa setidaknya guru memberikan nasehat, bukan dalam artian ringan tangan karena sudah dianggap sebagai anak sendiri.

Tugas guru tidaklah ringan, mereka punyak tanggung jawab besar dalam mengendalikan pembelajaran sehingga berhasil. Namun adakalanya pembelajaran yang berlangsung tidak sesuai dengan harapan. Guru yang pada dasarnya diangap sebagai pahlawan tersebut cenderung mementingkan kepentingan lain dibandingkan pemahaman siswa. Saat hal tersebut terjadi guru tidaklah sesuai disematkan sebagai pahlawan. Pahlawan merupakan sosok yang rela berkorban, ikhlas, berjiwa besar, tanggung jawab, disiplin, dan lain-lain; bisa didefinisikan sendiri.

Lembar Kerja Siswa 
Tidak ada yang salah dengan buku LKS, boleh-boleh saja guru menganjurkan siswa-siswi menggunakan LKS. Pada penerapannya, guru mengajar bukan hanya memberikan tugas kepada siswa dari setumpuk latihan soal yang terdapat dalam LKS.

 LKS sudah melenakan guru dalam bertugas, sebagian dari guru mengandalkan LKS tanpa memilah materi ajar. Sebagian lagi bahkan tidak pernah mengetahui materi ajar dalam LKS sesuai dengan kemampuan siswa; kemampuan bukan pada ketuntasan karena setiap siswa memiliki kemampuan berbeda. Guru mengacu pada kurikulum yang ditawarkan tanpa perlu memaketkan kembali dengan kondisi dan situasi sekolah dan siswa (khusunya daerah tempat mengajar).

LKS yang dijual di pasaran belum tentu sesuai dengan daerah tertentu. Untuk pelosok Aceh Barat tentu saja LKS yang bertaraf pendidikan Jakarta akan tidak cocok. Ketimpangan ini kerap diabaikan guru, terpenting di hadapan siswa terdapat LKS, kesesuaian materi dengan kondisi dilupakan begitu saja.

Mana kala pembelajaran berlangsung, tidak sedikit guru melupakan tugas mengajar. Guru ini mengandalkan LKS karena dianggap ‘mudah’ dipahami, materi sudah disingkat, kemudian siswa disuruh jawab soal latihan dan guru duduk manis di depan kelas bahkan di meja piket atau beralasan ke kantor.

Kemalasan ini bukan kesalahan LKS namun guru sudah dimanjakan oleh LKS. Siswa-siswi di perkampungan Aceh Barat ini, yang belum terbiasa dengan situasi menjawab soal tanpa diarahkan materi terlebih dahulu, akan bingung tujuh keliling. Siswa-siswi yang terbiasa disuap materi kemudian contoh soal baru soal akan kacau balau begitu menjawab soal tanpa pemahaman. Kita berbicara pada pelajaran eksakta yang butuh penjelasan khusus, dibandingkan pelajaran lain, pelajaran berhitung ini akan membingunkan siswa. Nah, penerapan mengajar dengan LKS ini tidaklah indah diterapkan pada pelajaran-pelajaran yang tergolong rumit. LKS boleh saja dipakai, pelaksanaanya harus diikuti dengan pendalaman materi sebelum menjawab soal-soal.

Model Pembelajaran 
Sebagian guru masih mengabaikan model pembelajaran yang sesuai dengan materi ajar. Bahkan, sebagian lain seakan lupa ada berbagai macam model mengajar yang bisa diterapkan. Guru yang malas berpikir tidaklah terpikir untuk melakukan gebrakan dalam kelas. Tugasnya adalah mengajar dengan metode ceramah, tanya jawab, kelompok, selesai. Padahal model lain banyak sekali tergantung materi ajar pada jam yang sudah ditentukan itu.

Ibarat sedang menjahit baju, setelah menentukan model dan ukuran tentu si penjahit punya metode dalam memotong kain, menjahit, maupun menyetrikan pertama sekali. Metode-metode inilah yang akhirnya menjadikan baju tersebut nyaman dipakai oleh konsumen. Keinginan konsumen akan model terbaru juga menjadikan penjahit untuk mengolah pikiran, setelah tahu model baru pasti akan menemukan metode baru pula karena metode lama tidaklah cocok menjahit baju model baru.

Dalam mengajar, model yang sama akan menjenuhkan siswa. Setiap kali pertemuan guru hanya menggunakan model itu-itu saja, metode hanya ceramah maupun tanya jawab akhirnya siswa mengantuk di kelas. Seperti memakai baju, model yang sama akan bosan dilihat. Demikian pula dengan belajar, model pembelajaran yang sama ditiap pertemuan lama kelamaan proses belajar mengajar diam ditempat. Guru sering marah-marah, merasa siswa tidak bisa menerima pembelajaran. Siswa terkantuk-kantuk akhirnya lupa akan hasil belajar.

Kesalahan ini karena guru tidak mau menghadirkan model pembelajaran yang menyenangkan, mengingat tugas dan tanggung jawab hanya mengajar, cukup mengajar saja. Kadang ada yang berkilah tidak ada waktu memikirkan model dan metode karena sudah mengajar dua puluh empat jam.

Sertifikasi
Dua puluh empat jam merupakan alasan yang tepat bagi seorang guru. Jam pelajaran ini pula dibebankan kepada seorang guru setelah lulus ujian sertifikasi. Guru yang sudah menerima gaji dua kali gaji pokok ini mau tidak mau harus mengajar sesuai jam yang sudah ditetapkan.

Hal ini adalah permasalahan yang sangat fatal. Mengajar dua puluh empat jam pelajaran seakan memberikan jarak lari bagi guru dengan waktu paling cepat. Ngebut. Tidak ada waktu istirahat bagi guru dalam sehari penuh bisa mengajar empat sampai enam jam, padahal jam sekolah hanya delapan jam.

Karena kecapaian, guru tidak sempat memikirkan model pembelajaran dan metode mengajar yang sesuai. Waktu telah memburu mereka menempuh dua puluh empat jam perminggu. Jika di sekolah sendiri tidak cukup jam pelajaran, lagi-lagi guru ngos-ngosan kejar jam pelajaran di sekolah lain. Akhirnya perhatian guru hanya berpusat pada memenuhi jam pelajaran, luput memberikan perhatian pada siswa dan tidak lagi memikirkan metode mengajar yang spektakuler selama berada dalam kelas.

Tidak masalah guru mengajar dua puluh empat jam penuh, namun perlu disiasati dengan berbagai macam cara. Angka 24 dibagi 6 dapatnya 4. Dari itu dapat dilihat 24 adalah jam pelajaran, 6 jumlah hari. Dengan demikian dalam sehari guru mengajar 4 jam saja. Namun ada beberapa hal lain yang musti diperhatikan, setelah mengajar 4 jam tersebut sang guru langsung terbirit-birit pulang dengan berbagai alasan? Bukan itu solusi terbaik. Setelah 4 jam mengajar selebihnya, sisa empat jam lagi di sekolah guru memikirkan model dan metode pengajar untuk pertemuan selanjutnya.

Namun pelaksanaan sekarang ini tidaklah demikian, pembagian tugas tidak diberikan dengan bagus. Berbagai alasan muncul, susah mengatur jadwal, banyak guru tidak dapat jam pelajaran dan lain-lain. Siasatnya adalah menambah jam pelajaran sore hari, dengan catatan jam sore hari tidak dibayar lagi namun dikalkulasikan sebagai tambahan jam yang tidak penuh 24 jam tersebut.

Apalah mau dikata, setelah mendapatkan tunjangan sertifikasi, guru seakan malas mengajar dengan model dan metode pembelajaran. Tugasnya mengajar ya mengajar saja, di akhir bulan dapat gaji plus tunjangan sertifikasi beres semua masalah.

Ujian Nasional 
Inilah permasalahan yang tiada ujungnya. Sebuah ketakutan yang tidak hanya dirasakan siswa, guru juga merasakan hal yang sama. Memang, tujuan pemerintah baik dalam melaksanakan Ujian Nasional, namun pemerintah seakan tidak percaya pada kompetensi guru. Pemerintah terlalu ikut campur dalam urusan ‘meluluskan’ siswa padahal hanya guru yang sangat tahu kepribadian dan kepandaian siswa.

Berbagai kritik hadirnya Ujian Nasional sampai kini terus bergulir, pro maupun kontra. Jika ditelusuri dengan lebih jauh, pelaksanaan Ujian Nasional tidak berimbas pada kepandaian siswa melainkan pada kejatuhan pribadi siswa. Dikatakan demikian karena berbagai alasan; guru mengajar pelajaran yang diUNkan saja, guru mengajar sesuai dengan kisi-kisi UN, guru mengejar kurikulum sesuai UN, guru menjawab soal-soal yang mungkin akan keluar UN, guru menutup mata pada keributan siswa dalam kelas, pelajaran UN dibanyakkan jam pelajaran, dan lain-lain.

Di mana letak kesopanan? Akhlak mulia? Disiplin? Dan lain-lain dalam pendidikan karakter. Tentu saja sudah tertutupi dengan pelajaran UN tersebut. Jawaban guru, siswa mampu menjawab soal UN sudah selesai pelajaran hari ini.

Sangat bertolak belakang, jika UN ini masih menjadi andalan pemerintah dalam mencerdaskan bangsa berapa banyak pula kepribadian siswa yang harus diluruskan.

Jika pada awalnya guru bertugas membentuk kepribadian, sekarang tugas guru adalah menjawab soal-soal dengan benar agar siswa-siswanya lulus UN. Pada akhirnya, guru dianggap sebagai pahlawan karena mampu meluluskan seluruh siswa dalam UN. Bukan pahlawan dalam arti mengajarkan yang tidak tahu menjadi tahu.

Semangat guru, pengabdianmu akan terus kami kenang!

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90