Top Ad 728x90

Friday, November 9, 2012

, ,

Kenapa Bapak Memukul Kami?

">Fenomena pelanggaran HAM mendadak muncul ketika beberapa kasus pemukulan siswa yang dilakukan guru ditayangkan beberapa televisi. Tanpa mencari akar permasalahan lebih lanjut pemberitaan tersebut begitu saja menyudutkan guru, tepatnya dunia pendidikan yang sudah membesarkan si pemberita menjadi pencari berita. Tak lantas saya juga membenarkan pemukulan siswa oleh guru-guru di sekolah, namun ada beberapa pengecualian yang musti digarisbawahi sebelum memberikan vonis itu.

Sebagai seorang guru tentu saja saya mengerti sekali kondisi seorang siswa, kemampuan siswa yang berbeda itu pula yang menjadikan seorang guru untuk memikirkan berbagai metode agar siswa-siswi paham. Tidak berhenti sampai di sini saja, selain perbedaan kepandaian, masalah lain yang kerap membuat guru geram, kesal dan bahkan marah adalah sifat bandel yang melekat pada beberapa siswa. Bandel bisa didefinisikan dengan berbagai pengertian; tidak mendengar pelajaran, cuek, sibuk menggambar saat pelajaran berlangsung di bangku sendiri, menganggu teman, dan hal-hal lain yang membuat guru emosi. Sebagian guru yang terlampau emosi memang akan bermain tangan, sebagian yang lain menghukum dengan memberikan tugas, sebagian lagi diam saja dan membiarkan berlalu sampai jam pelajaran berakhir setelah menegur.

Guru yang memukul siswa selalu diidentikkan dengan guru laki-laki. Mempertimbangkan laki-laki sebagai seorang yang gagah atau kekar lalu mengharuskan siswa ketakutan selama pembelajaran berlangsung. Walau sebenarnya tidak semua guru laki-laki kejam di mata siswa; bahkan ada yang adem ayem saja dalam mengajar dan siswa malah lebih paham. Guru perempuan dianggap sebagai seorang yang bisa melindungi sehingga belum pernah mendengar ada kasus guru perempuan memukul siswa. Jika pun ada tidak tereksplorasikan dengan nyata.

Kita tinggalkan perbedaan guru laki-laki dan perempuan, jika memang berniat memukul masalah gender tidaklah menjadi persoalan. Memukul tanpa alasan memang tidak dibenarkan, selain berdampak pada kekerasan fisik juga berdampak pada psikologis siswa. Pemukulan yang sering terjadi memang karena hal sepele lalu dibesar-besarkan padahal bisa diselesaikan dengan musyawarah di sekolah. Pemukulan yang pernah ditayangkan pula memperlihatkan kerugian fisik pada siswa, hal ini tentu akan membuat trauma. Padahal dalam Islam sendiri sudah diajarkan untuk memukul anak jika tidak mau mengerjakan shalat di usia lebih sembilan tahun. Jangan menganggap Islam kejam dulu, silahkan kaji dan telaah cara pemukulan yang diajarkan Rasulullah.

Guru sama dengan orang tua kedua bagi siswa. Jika hak memukul ada pada orang tua kandungnya; guru juga punya wewenang yang sama. Memukul yang bagaimana? Terdapat beberapa pendapat dalam Islam untuk hal ini, terutama menghindari kepala dan wajah. Namun pukulan yang diberikan juga sebatas memukul dengan satu lidi dan sebanyak tujuh kali atau lebih. Hal ini bukanlah sebagai hukuman berat melainkan sebagai suatu pelajaran agar membuat jera dan tidak mengulangi hal yang sama.

Beberapa kejadian ini pernah terjadi di sekolah saya. Kasusnya memang sangat sepele, siswa-siswi tidak mematuhi perintah yang berbunyi “JAGALAH KEBERSIHAN”. Slogan ini terpampang dengan jelas di depan kantor kepala sekolah. Dan tidak hanya itu pula, berulang kali tiap ada kesempatan peringatan membuat sampah pada tempatnya selalu diagung-agungkan kepala sekolah saya. Tibalah pada hari naas itu bagi siswa-siswi. Di Senin pagi yang cerah, seusai upacara bendera kebanggaan Indonesia. Seluruh siswa-siswa diminta berdiri di barisan masing-masing. Lalu bapak yang penuh senyum itu mengambil tiga lidi yang dicabut paksa dari sapu lidi dari kelas tiga, meminta siswa-siswa membuat amin, memukul telapak tangan satu persatu mereka sebanyak tujuh kali.

Sebagian siswi histeris, namun tidak berani menangis. Mereka tidak mengerti kenapa dipukul. Mau protes tentu saja tidak berani; takut kena giliran kedua. Hanya diam dan berdiri menungu penjelasan. Di penghujung siswa terakhir, bapak kepala sekolah ini mengatakan “Inilah akibat kesalahan satu orang semua kena getahnya!”

Selesai memukul siswa terakhir, dengan senyum itu-itu saja kepala sekolah kebanggan kami ini menunjuk tumpukan sampah di bawah pohon mahoni depan kelas tiga. “Sampah itu tidak seharusnya disana, tong sampah sudah tersedia tapi tetap saja tidak mematuhi aturan yang ada. Beginilah akibat kesalahan sebagian teman-teman kalian, satu orang yang salah semua kena hukuman karena sekolah kita punya semua siswa bukan satu siswa yang buat masalah!”

Kebanyakan siswa kami menganggap angin lalu kejadian Senin pagi itu. Bahkan tidak merasakan sakit lagi saat ditanya. Kejadian di sekolah hanya perlu dilihat dan didengar di sekolah saja, mungkin begitu. Tapi tidak pada seorang anak yang pernah sekolah di luar Aceh, di ibukota negara kita. Pulang dengan tangisan lalu menumpahkan luapan emosinya pada ibunya.

Tergopoh sang ibu menghubungi salah satu guru sekolah saya itu. Menanyakan perihal pemukulan kepala sekolah, berdalih pelanggaran HAM dan tidak terima anaknya dipukul begitu saja. Si guru yang sudah tahu persoalannya itu menjelaskan bahwa semua siswa kena pukul, bukan hanya anak ibu itu saja. Setelah dijelaskan alasan pemukulan dan si ibu tetap tidak terima, teman saya ini berkata begini “Jika ibu tidak mau anaknya kami didik sebagaimana peraturan sekolah kami, silahkan ibu datang ke sekolah dan kami berikan surat pindah!”

Mantap! Si ibu terdiam tak lagi memprotes. Pelanggaran HAM bagaimana? Kesalahan harus ditebus dengan hukuman dan hukuman bisa berupa apa saja. Hukuman yang diberikan kepala sekolah saya wajar adanya; tidak memberi bekas pada siswa. Jika Anda ingin mencoba ambilah tiga atau lebih sapu lidi lalu pukulkan telapak tangan Anda dengan pukulan ringan, rasakan apa yang terjadi! Itulah yang dilakukan kepala sekolah kami.

Orang tua yang sudah mengantarkan anaknya ke sekolah tertentu sudah seharusnya melepas tanggung jawab kepada sekolah. Karena apapun yang terjadi pihak sekolah akan menghubungi orang tua siswa. Tanggung jawab guru yang sangat besar mendidik siswa tidak akan sebanding dengan pemukulan dengan tiga sapu lidi. Guru tidak hanya mengajarkan pelajaran semata namun mengajarkan etika, akhlak, mengenal Tuhan, menghargai sesama, sampai seorang siswa tumbuh dewasa dan membedakan baik buruk.

Memukul dengan tanpa alasan dan sampai menimbulkan kecacatan memang tidak dianjurkan. Namun kasus dari kepala sekola saya patut dijadikan pelajara; setiap apapun yang dilakukan harus dipertanggungjawabkan.

Benar unggapan beliau akan sekolah milik bersama; sama-sama pula menjaga agar tetap baik namanya di pandang masyarakat sekitar bahkan sampai harum ke daerah lain. Dan disiplin juga sebagai suatu ilmu bukan? Dan ini pula tidak diajarkan dalam pelajaran apapun. Kepala sekolah saya sudah mengajarkan siswa-siswi kami!

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90