Top Ad 728x90

Monday, September 16, 2013

, ,

Apa Bedanya Miss World dengan Girl’s Generation?




Menyikapi banyak masalah yang muncul masalah pagelaran seni yang selalu disangkut-pautkan dengan kemolekan tubuh perempuan, sebaiknya pihak terkait yang berkoar-koar masalah ini harus instrosfeksi diri terlebih dahulul. Alasannya, karena tidak semua yang diprotes tersebut benar-benar dimusnahkan dan tidak semua acara yang menghabiskan dana milyaran bahkan triliyunan tersebut gagal.

Belakangan, perhelatan dunia yang menampatkan perempuan-perempuan cantik berlenggak-lenggok di atas catwalk didemo besar-besaran hampir di seluruh Indonesia. Puncak masalah ini karena acara yang dikenal dengan sebutan Miss World ini banyak mudharatnya ketimbang baiknya. Dilihat dari sudut pandang mana acara ini banyak sisi negatif? Terkadang terlalu dibesar-besarkan sehingga anak kecil pun mencari tahu semua tentang Miss World, dari yang tidak tahu menjadi lebih tahu karena diberitakan besar-besaran. Selama perjalanan acara ini di Bali belum pernah sekalipun ditayangkan di televisi nasional perempuan-perempuan berparas “cantik” ini berbikini. Dan jauh-jauh hari sebelum para perempuan pilihan negara masing-masing ini, panitia pelaksana di Indonesia sudah mengatakan bahwa tidak ada sesi bikini.

Nah, itu! Bikini! Rasanya, otak masyarakat Indonesia kalau sudah berbau pornografi langsung melek. Tanpa perlu menelaah lebih lanjut, sebagian besar masyarakat kita langsung berpikir ke arah nafsu. Tentu saja bernafsu jika pikirannya kotor dan tidak melihat dari berbagai sisi. Dalam hal Miss World yang diselenggarakan di Indonesia, pihak panitia sudah mengatakan bahwa sesi bikini akan diganti dengan tradisi khas Indonesia. Sebenarnya, masalah bikini ini terlalu dibesar-besarkan, sampai menjelang malam pemberian mahkota pemilihan putri dunia ini belum sedetik pun ditayangkan para perempuan tersebut berpakaian tak beradab sesuai kebiasaan ketimuran yang selalu diagung-agungkan masyarakat Indonesia. Bahkan, beberapa tayangan menunjukkan promosi besar-besaran terhadap budaya Indonesia untuk disantap media asing.

Pikiran yang selalu kotor memang tidak bisa diubah dengan mudah. Dan adat ketimuran? Apakah para pelakon seni di Indonesia sudah melakukan hal ini? Saban waktu kita terbelalak menyaksikan goyangan pelakon seni di Indonesia yang rasanya sangat kurang beradab dibandingkan dengan para calon putri dunia tersebut.

Acara Miss World itu sendiri sudah dicanangkan untuk mengenalkan Indonesia kepada dunia luar. Dan sebagian besar konsep acara yang tidak sesuai dengan kultur budaya Indonesia sudah dihapus dan diganti dengan lebih bernilai. Lantas, kenapa masyarakat Indonesia yang notabene beradab berkoar-koar sampai hilang suara menggagalkan acara ini? Malah, yang melakukan demo tersebut lupa masalah lain yang sudah menghancurkan pola pikir mereka terhadap bikini.

Ajang Miss World akan menggelarkan malam puncak tanggal 28 September 2013 di Sentul, rencana awal yang gagal karena ulah sebagian masyarakat yang mengacu sangat suci dengan mendemonya. Sampai kini malam puncak tersebut masih simpang siur dan entah di mana akan dilaksanakannya. Lalu, di mana sesi bikini yang diprotes? Yang ada adalah sembilan gadis cantik asal Korea Selatan yang tergabung dalam Girl’s Generation berlenggak-lenggok dengan seksi tanggal 14 September 2013 lalu. Ke mana suara-suara yang mau mem’bom’ ajang Miss World? Kenapa sembilan gadis cantik Korea Selatan ini malah goyang dengan tangtop dan celana hampir seperti bikini tak ada yang protes?

Lalu, beberapa goyangan pelakon seni Indonesia yang membutakan mata penggemar dengan goyangan penuh nafsu.

Inilah potret yang tidak layak dicontoh oleh generasi muda Indonesia. Miss World dituntut bubar sebelum usai, tidak tahunya Girl’s Generation malah sudah mengebrak Indonesia terlebih dahulu tanpa ada yang tuntut! Masalah ini yang kemudian membuat simpati terhadap kelompok pensuara atas kebenaran tersebut kabur, istilah lain semut di mata orang lain kelihatan gajah di mata sendiri tak tampak. Begitulah, terlalu membesar-besarkan masalah yang jauh ke depan tanpa melihat dan mendiskusikan lebih bijak dengan pihak terkait, lalu lupa masalah lain yang kadang sudah menimbulkan nafsu sampai ke taraf tertinggi.

Kita tunggu saja, bagaimana reaksi pendemo yang sudah melihat lenggak-lenggok Girl’s Generation minggu lalu. Dan kita tunggu pelakon seni lain yang akan menggoyang Indonesia dengan aura nafsu ingin diterkam, tentu saja untuk mereka yang selalu memandang masalah “perempuan” selalu dengan nafsu untuk disantap.

Miss World akan berlangsung tanggal 28 September mendatang. Sebagian masih mendemo dan menuntut tidak digelar acara ini. Acara ini akan tetap berjalan, pelakon seni lain pun akan terus berdatangan di Indonesia dengan seksi “bikini” menurut tahta mereka. Demolah mereka agar tidak membuat masyarakat Indonesia terbius. Dan jangan lupa, demo pula “rupiah” yang semakin seksi sampai masyarakat kelas bawah tidak bisa beli kebutuhan hidup hanya menonton aksi demo Miss World di televisi!

5 komentar:

  1. Kasihan banget yg gak tau bedanya missworld sama girls generation.
    Jelas2 missworl didirikan untuk kontes pakaian renang, kalo du barat disebut bikini, kalo disini pakaian dalem. Tubuh wanita harus sesuai kriteria juri, yakni harus sexy, talenta tambahan mungkin diperlukan.
    Girl generation udah jelas2 grup penyanyi yg biasa disebut girlband korea. Yg harus mengandalkan suara bagus, talenta selanjutnya mungkin hanya tambahan.

    Di inggris sendiri, sebagai kampung halaman missworld pernah dihujat oleh kaum perempuan disana. Kenapa? ya karena dirugikan adalah pihak perempuan, wanita hanya dinilai bagus karena kecantikan, bukan dari kepribadian.
    Disini justru didukung, sejak kapan sih indonesia belum terkenal? kok bisa dengan mengundang missworld indonesia jd terkenal? belum terkenal wanita indonesia pake pakaian dalem didepan umum?

    Dunia akan selalu mencatat, indonesia pernah menjadi tuan rumah kontes bikini (pakaian dalem) dengan cara budaya indonesia.

    ReplyDelete
  2. Hehehe, bukan mendukung. Maksudnya gini lho mas, kenapa miss world didemo sedangkan pelakon seni lain yang tak kalah seru dari ini didiamkan. Urusan konteks awal miss itu seperti apa tidak saya sebutkan krn bukan itu yg ingin saya tarik masalah disini. Intinya gini, konteks SNSD dengan miss world apa bedanya? Sama-sama dgn gaya seksi dan menularkan nafsu bagi yang berpikiran kotor bukan?

    ReplyDelete
  3. Girl generation jg kena sensor kok disini, yg sexy2 tentu gak ditayangin di tv2 lokal. Karena apa? apa mau nanti generasi kedepan kita sudah berganti dengan budaya negara lain?
    Mau bukti? coba aja googling lewat gambar, antara missworld dan gg. Kelihatan kok bedanya.
    Mana yg lebih diterima, dan ditolak.
    Negri ini selalu dijejali budaya aneh, sampe2 budaya sendiri terlupakan.
    Contoh aja deh agnes monica, dia ingin go internasional. Menurut saya, dia gagal total. Gak ada satu pun budaya indonesia yg dia bawa, mungkin hanya tempat tanggal lahirny aja yg di ktp.
    Yg dia jual justru nyanyian lagu pop atau r'n'b yg jelas2 dari barat, termasuk gaya berpakaiannya. Lagu yg dia bawa saat diluar negri apa menggunakan bahasa indonesia? coba aja silahkan di googling hehehe.
    Yg patut ditiru itu seperti alm gesang dengan bengawan solonya. Keroncong mendunia, tanpa harus mengikuti aliran luar. Justru merekalah yg belajar.
    Jadi, kalo indonesia mau budayanya maju, bawa budayanya keluar. Bukan budaya luar yg dibawa masuk.
    Contoh aja deh, dulu di pantai bali, mungkin orang2 lokalnya gak ada yg berjemur dengan pakaian renang. Yg bawa kebiasaan tsb siapa? Ada lagi papan peluncur dll. Yg bikin bali akan beda, justru mengikuti budaya luar, perlahan2 mungkin budaya aslinya lenyap. Ya semoga saja masih banyak yg mampu bertahan.

    ReplyDelete
  4. Makanya itu mas, dari artikel ini saya pertanyakan kenapa hanya miss itu yang didemo? acara lain kenapa gk?

    ReplyDelete
  5. Yg jelas sih ada porsi2nya mas, jika gg blm di demo. mungkin belum ada yg tau sisi negatifnya, atau kalo mas bisa kenapa gak dilakuin aja hehehe.
    Contoh jg deh kaya tayangan olga saputra, kelihatannya positif. tapi kalo didiemin, dampak buruknya bagi generasi muda menjadi gemulai. yah walau pun itu hanya sekedar hiburan dan peran. Namun akibatnya, gak gampang kan diterima oleh masyarakat luas.
    Yg aneh justru, yg menolak dianggap kejam. Kalo satu dua orang mungkin wajar, namun jika banyak yg menolak tapi masih tetap digelar. Apakah itu memaksakan pergesekan antara yg pro dan yg kontra, coba acara itu tidak ada, gak ada kan yg saling menghujat. :)

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90