Top Ad 728x90

Saturday, September 14, 2013

, , ,

Fatin; Memulai Kontroversi


Katanya “Hanya Bagus di Grenade!”
Grenade sudah mengantarkan Fatin lolos audisi. Barulah permulaan yang sangat berat dirasa gadis berkerudung ini. Fatin yang sudah terbiasa menyanyikan lagu Grenade seakan tidak bisa keluar dari aura lagu tersebut. Bukan tidak belajar menjadi diri sendiri dan melupakan Grenade yang telah melambungkan namanya. Fatin terlihat berusaha semaksimal mungkin belajar dan terus belajar. Tetapi tetap belum bisa menghadirkan lagu yang lebih spektakuler.
Cibiran pun datang. “Fatin hanya bagus di Grenade doang!”

Bisa saja cibiran itu benar. Selama proses berjalannya acara ini belum pernah Fatin mempertontonkan lagu-lagu yang lebih megah dari aslinya. Menurut sebagian orang yang katanya sangat mengerti musik, lagu yang didendangkan Fatin terdengar jelek sekali. Tidak ada perubahan apapun. Fatin tidak berkembang di bawah bimbingan Rossa. Fatin tidak mau belajar. Fatin memang tidak layak lolos. Fatin tidak cocok jadi peserta acara ini. Fatin cocok qasidahan saja. Fatin ini. Fatin itu. Berbagai ejekan dilayangkan untuk gadis putih abu-abu ini tanpa melihat perjuangan dan usahannya mencapai titik di mana semua orang yang bermimpi menjadi penyanyi berada.
Terlebih, ketika Dani lagi-lagi memberikan argumen yang rasanya tidak perlu dipertanyakan.
“Lagu yang pertama kali kamu nyanyi apa?”
Grenade,”
“Oh, jadi Grenade?”
Intinya; Dani seakan ingin mempertegas bahwa Fatin hanya bisa satu lagu. Bayangkan saja, spekulasi yang muncul setelah itu. Fatin nyanyi dan kenal Grenade sejak SMP dan merupakan lagu pertama yang disukai dan dinyanyikan. Mungkin sudah berulang kali Fatin menyanyikan lagu ini. Sehingga tidak ada celah menjelekkan Grenade versi Fatin. Toh, dia sudah sangat hafal lekuk-leluk lagu yang menggambarkan marah itu!
Inilah letak kesalahan kita sebagai pendengar. Suka pada pandangan pertama dan tidak peduli lagi pada pandangan selanjutnya. Padahal klasifikasi di pandangan setelah pertama bisa menjadi sebuah pembelajaran menghargai usaha. Si Fatin memang bisanya Grenade doang! Ya jelas karena sering dinyanyikan. Untuk lagu-lagu selanjutnya, tentu tidak semua dengan Grenade. Pada Grenade Fatin belum terbebani apa-apa. Belum terpikir untuk tampil maksimal dan mendapat juara. Fatin hanya nyanyi saja. Tanpa teknik macam-macam.
Ketika audisi lolos dan sudah bersama orang-orang kompeten yang dipilih acara ini, maka Fatin yang tidak tahu menahu akan sebuah pelajaran bermusik langsung terkejut. Betapa tidak? Dia hanya bisa nyanyi. Lalu disuguhkan belajar teknik, dalam waktu mendesak dan mulai dari nol. Rasanya bukan perkara mudah memulai pelajaran dalam waktu sekejap dan ingin mendapatkan hasil maksimal. Tidak semudah membalik telapak tangan. Ini bukan pura-pura macam skenario sebuah film setelah ditonton usai. Fatin akan terus berada di alam nyata ini untuk menghibur penggemarnya yang semakin hari semakin menggila.
Mulailah si Fatin menyanyikan lagu lain selain Grenade. Dengan teknik pas-pasan mumpung baru belajar. Berdiri di jutaan penonton di dalam ruangan megah itu dan di rumah-rumah seluruh Indonesia. Panggung bukanlah ruang kelas belajar, di mana dia sering menghibur teman-temannya saat waktu senggang. Di awal penampilan dia berhasil tidak terjungkal dan pingsan. Apalagi dengan kritikan pedas dari juri seakan menusuk hatinya; seperti telah mati berdiri. Fatin masih tetap berada di panggung semerbak lampu itu tanpa memedulikan lirikan syirik peserta yang tidak lolos.
Yakinlah, mereka yang tidak lolos membenci Fatin setengah mati, sampai berdarah daging. Masa penyanyi yang hanya bagus di Grenade itu lolos-lolos terus ke babak selanjutnya. Apa juri telah tuli atau telah disogok? Nah lho? Ini yang bahaya. Jika dilihat dari kemampuan keluarga, tentu Fatin tidak sanggup menyogok keempat juri. Ayahnya hanya seorang pengawai pemerintahan yang kalah jauh gajinya dibandingkan keempat juri. Mamanya hanya ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan perbulan. Mana mungkin Fatin menyogok juri?
Sogok menyogok bukan soal bagi Fatin. Daya tariknya sudah membuat orang terpikat untuk terus melihat penampilannya. Dan Dani dengan Rossa sudah tentu tahu hal ini, mereka berdua sudah malang melintang di industri musik Indonesia. Paham betul emas dan imitasi dalam bermusik. Emas akan terlihat kilauannya walau baru pada pandangan pertama – walau Rossa agak sinis di awal. Sedangkan imitasi lambat laun semakin memudar. Semakin digosok semakin hilang kilaunya. Dan emas, semakin digosok semakin berkilap. Kilauannya telah menyilaukan mata dan percikan suaranya telah memanjakan telinga untuk terus mendengar dan mengamati setiap gerak tubuhnya.

Fals
Nyanyian Fatin masih seperti itu-itu saja. Menurut mereka – sekali lagi – yang mengaku sangat mengerti musik itu; Fatin semakin hari semakin jelek. Salah minum obat. Salah resep. Salah Rossa sebagai mentor. Salah kru dibalik sang sukses ini. Salah semua di mata mereka sebagai pengamat itu. Padahal mereka sendiri hanya sebagai penonton. Beberapa kali kita lihat video mereka sedang latihan, tampak jelas lelah dan berjuang memberikan yang terbaik di malam Sabtu. Menemani akhir pekan penonton yang hanya menunggu penampilan Fatin, walau tampil terakhir tetap saja ditunggu dan membuat error jangan internet saat video shownya di upload.
Fatin lagi-lagi belajar dari kritikan yang sudah dialamatkan kepadanya. Semakin terbeban untuk menampilkan yang terbaik. Lagu-lagu yang dinyanyikan pun kadang terdengar kacau balau, kadang terdengar biasa saja, kadang malah jelek sekali. Karena alasan yang sangat lemah, Fatin masih dibayang-bayangin Grenade yang telah melambungkan namanya!
Setelah berhasil keluar dari iming-iming Grenade dan menyanyi lagu lain dengan menggunakan teknik, ternyata Fatin belum mampu menghipnotis kembali para penonton yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan “maha” yang mampu meledakkan panggung hiburan tanah air, seperti pertama audisi. Teknik bernyanyi belum mampu menyeimbangkan antara karakter vocal menjadi lebih bagus.
Belum lagi usai pada permasalahan – katanya Fatin – tidak bagus, isu fals menjadi masalah berikutnya. Beberapa lagu yang dinyanyikan Fatin terdengar fals di mana-mana. Fatin tidak mampu memberi keseimbangan pada lagu yang sedang  di nyanyikannya. Akibat fals ini pula nada-nada yang diambil Fatin, khususnya nada tinggi jadi tidak enak. Fals adalah sumbang, atau tidak tidak selaras, tidak senada, dan tidak seirama. Fatin mengalami hal ini di awal-awal. Pada nada rendah suaranya serak seseraknya, dan kadang menghilang. Pada nada tinggi, sering tidak sampai.
Permasalahan ini muncul bukan karena Fatin jelek. Karena tidak punya teknik. Dia baru saja memulai di acara ini. Sedangkan lawannya sudah belajar dari sebelum ikut acara. Artinya Fatin tidak hanya memulai mengolah vocal menjadi segar namun mengolah teknik menjadi etnik yang kemudian dikenal sebagai ciri khas lain selain karakter suara.
Tampaknya Fatin sudah bekerja keras untuk mencapai taraf itu, bahkan ribuan tenaga dalam diri remajanya sudah dikerahkan untuk menaklukkan panggung hiburan tanah air. Terbukti, lagu-lagu yang dinyanyikan Fatin yang menurut sebagian orang fals bahkan kembali booming  dan disukai masyarakat Indonesia.
Alasannya bisa apa saja. Bisa jadi sudah jenuh mendengar suara fals milik penyanyi yang modalnya paha mulus, baju seksi, dan superketat. Alasan ini cukup kuat mengingat pendengar tidak harus melihat aksi panggung penyanyi saja namun mendengar suaranya. Jika suara yang selalu fals hanya mengandalkan lekukan tubuh saja tentu orang akan bosan. Saat Fatin datang dengan aura yang berbeda, apapun tentangnya akan dibela. Toh, penyanyi yang bermodal goyang tubuh dan badan seksi juga sangat fals, malah tidak bisa dibedakan mana suara si penyanyi A dengan B. Sama saja. Kecuali melihat aksi panggung mereka.
Biar dikata fals di setiap lagu, Fatin punya ciri khas. Tak perlu melihat aksi panggungnya; karena memang tidak akan bergoyang ala nama binatang, cukup mendengar suaranya saja kita sudah tahu itu adalah dia! Si Fatin foya.


Salah Lagu
Soal fals di setiap lagu bisa dialami oleh banyak penyanyi lain. Lain halnya jika seorang juri yang selalu menyebut Fatin salah pilih lagu. Lagu tidak sesuai dengan karakter Fatin. Lagu tidak cocok dengan suara Fatin. Lagu tidak bagus dinyanyikan Fatin karena tidak bisa mengambil nada tinggi.
Apalagi ini? Nada tinggi? Memang semua penyanyi harus mampu mencapai suara beberapa oktaf? Harus melengking-lengking? Teriak-teriak? Sepertinya tidak semua penyanyi dunia menyanyi dengan suara tinggi itu. Dan suara tinggi itu pula bisa dilatih, seseorang yang ingin punya suara tinggi juga bisa melakukan itu. Coba saja teriak dengan satu tarikan napas setiap pagi, lalu minum air putih, ulangi lagi secara berkala pasti akan mencapai nada tinggi ini. Sebuah proses pembelajaran, dan secara sederhana lakukanlah anjuran di atas pasti akan mampu bersaing dengan penyanyi dengan nada tinggi.
Lagi-lagi, apa perlu semua penyanyi harus mampu mengambil nada setinggi-tingginya? Lama-lama bisa meledak pendengaran pendengar kalau demikian adanya. Dalam bermusik hal ini tentu menjadi lumrah dan harus, tapi dalam memberikan sesuatu yang istimewa kepada pendengar tidak mesti mampu bernada tinggi. Mampulah menghibur, bukan bisa membuat orang terpana lalu dilupakan, tapi buat orang terperangah lalu diingat sepanjang masa.
Lagu yang dipilih tidak salah. Semua lagu bagus, paling tidak mampu menghibur pendengarnya. Lagu yang dinyanyikan Fatin juga punya cita rasa tersendiri, interaksi yang dibangun Fatin dengan lagu tersebut bisa menghadirkan suasana berbeda. Perbedaan yang signifikan, Fatin tidak pernah menjadikan lagu tersebut sama seperti penyanyi asli, tidak pula menyanyikan sebuah lagu harus lebih bagus dari penyanyi asli. Fatin menyanyikan lagu dengan keluar dari bayang-bayang penyanyi asli. Dia tidak gagal. Lagu-lagu yang telah dinyanyikannya menjadi laris manis di media. Dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang dulu suka lagu itu bisa kembali bernostalgia. Mengenang suatu masa saat lagu itu jaya tetapi dengan cara berbeda, versi Fatin!.


Salah Lagu, Lagi?
Tidak sekali dua kali seorang juri itu mengkritik Fatin salah lagu. Hampir setiap penampilan Fatin disarankan pilih lagu yang cocok. Bila diamati dengan baik-baik tidak semua lagu yang dinyanyikan Fatin tidak enak didengar. Benar dengan kritikan juri itu, ada sebagian lagu yang Fatin nyanyikan tidak sesuai dengan karakter vocalnya. Alias salah lagu!
Kesalahan ini tak lantas jelek, Fatin tetap menyanyi dengan versi dia tanpa harus bersaing menjadi lebih hebat dari penyanyi aslinya. Salah satu komentator ajang ini memang seorang yang sangat kompeten dalam menciptakan lagu-lagu romantis, kacamata dia dalam menilai sangat tepat sasaran. Lagu-lagu yang diciptakanya pun meledak bagai kembang api di pasaran, tidak hanya sekali, berkali-kali. Penilaiannya tentu sangat bagus mengingat bakat Fatin yang masih terpendam, perlu digali lagi menjadi sebuah hasil galian berharga mahal.
Salah lagu kemudian menjadi kata pamungkas juri ini. Sampai-sampai di beberapa kesempatan para penggemar gadis “malu-malu” ini memberi hujatan. Terlebih ketika lagu yang dikata salah ternyata enak didengar. Si juri menilai dengan satu telinga, sedangkan penonton menilai dengan jutaan telinga bahkan tidak hanya di Indonesia. Di sinilah letak kekurangan saran dan kritik sang juri “rampok” dengan selalu membangga-banggakan anak didiknya. Boleh saja demikian, anak didiknya tidak memulai dari nol besar, semua teknik sudah dikuasai lantaran sering manggung dan ikut lomba sana-sini. Si Fatin baru memulai, belum sesuai lagu wajar saja karena lagu yang dia tahu hanya beberapa saja dan itu pun lagu-lagu roman remaja era globalisasi. Tidak semua lagu yang mesti didengar lalu dibuatnya enak.
Salah memang persepsi ini, ikut lomba harus mampu menyanyikan lagu apa saja. Tepat sekali! Untuk kontestan lain tidak jadi masalah, mereka sudah malang melintang di dunia tarik suara. Si Fatin? Berangkat dari kamar mandi sebagai dapur rekaman diiringi gemercik air, dipaksa belajar dalam waktu seminggu bukanlah hal yang wajar. Bagai shock therapy, mau tidak mau Fatin harus bisa dalam seminggu. Menghafal lagu, belajar teknik, menghafal koreografi, menyesuaikan nada, tempo, kesiapan mental menerima kritikan tidak hanya dari juri tetapi dari penonton yang akan kecewa dengan penampilannya.
Salah lagu bisa saja alasan salah satu juri, jangan lupa bahwa pendengar bukan hanya dia. Yang akan membeli lagu Fatin bukan satu pendengar saja, melainkan banyak pendengar yang akan mengantre untuk lagunya!

Salah Kostum
Setiap penampilan seharusnya menampilkan style berbeda. Harus megah. Mewah. Fashionable. Pernak-pernik dilengan dan leher. Semua harus diperhatikan. Selain suara.
Mengenai suara, Fatin sudah belajar banyak dari kru dan Rossa. Untuk urusan penampilan luar, Fatin masih belum terlihat elegan dengan pakaian yang dikenakannya. Beberapa penampilan Fatin seakan hilang arah dengan gaya baju terlalu ketak dan jilbab mini. Ini menjadi perdebatan panjang di dunia maya, Fatin diminta menjadi diri sendiri dengan jilbab harus lebih panjang sampai ke dada dan pakaian juga tidak terlalu ketat.
Ternyata, orang yang sayang sama si Foya ini semakin banyak. Pakaian adalah kelengkapan dalam bertarung. Enak didengar juga harus enak dilihat. Kita memang tidak tahu siapa penata busana untuk Fatin saat akan tampil. Tetapi selintas terpampang nama designers di layar kaca. Designers ini pula yang “meminjamkan” pakaian untuk Fatin kenakan.
Juri juga sempat menyinggung soal pakaian ini, sempat Fatin mengenakan pakaian yang terlalu “tua” untuk ukuran gadis remaja sepertinya. Lain kali pernak-pernik jilbab sangatlah berlebihan sampai-sampai seperti semak belukar. Hal ini tidak perlu. Fashion Fatin cukup biasa-biasa saja. Tanpa perlu terlihat seperti emak-emak mau jual sahur.
Pemilihan warna juga menjadi salah satu pertimbangan. Warna yang senada dengan aura remaja akan lebih mudah diterima penglihatan penggemar dibandingkan dengan warna yang gelap. Warna-warna cerah ala remaja dengan gaya tak berlebihan mau tidak mau akan diikuti oleh remaja berjilbab yang semakin hari semakin banyak di Indonesia ini.
Penampilan yang sangat indah, saat menyanyikan Perahu Kertas dari Maudy Ayunda. Gaya remaja masa kini yang patut dicontoh oleh remaja-remaja kebanyakan. Tidak berlebihan. Jilbab tidak dibuat bersemak. Sederhana tetapi menarik. Pakaian yang dikenakan juga tidak menampakkan bias ketat. Sesuai dengan usia yang disandangnya. Seperti ini pula yang semestinya dipertahankan Fatin sampai waktu-waktu ke depan. Karena kecantikan dalam sudah terlihat dari aura dan kecantikan luar menjadi pelengkap dalam merangkai kata-kata dalam lagu yang dinyanyikannya.

Kaku di Panggung
Sebagai pemula, Fatin sangat berat berdiri di depan juri dan banyak orang. Semua mata tertuju padanya. Tanpa memedulikan Fatin berusia belia. Fatin harus menampilkan yang terbaik.
Anggun yang sudah sangat profesional dan menelurkan beberapa album internasional memberi kritik pedas akan hal ini. Sebuah renungan untuk Fatin. Sebuah pembelajaran menjadi yang lebih baik ke depan. Berdiri di panggung besar bukan hanya menyanyikan lagu sampai meneteskan airmata. Panggung sudah diciptakan semenarik mungkin, di mana penonton berdiri di bawah dan teriak-teriak memanggil namanya.
Interaksi dengan penonton adalah hal yang wajib dilakukan oleh penyanyi. Di awal Fatin belum melakukan ini. Jika dilihat dari beberapa video kelihatan sekali Fatin masih tersendat-sendat antara maju dan mundur, bagaimana gaya jalan di antara jutaan mata memandang, mempertimbangkan tidak jatuh, tidak terseret gaun yang dikenakan, tidak terpeleset sepatu hak tinggi yang baru dikenakan semejak ikut acara ini.
Semua bercampur jadi satu, hadirlah kaku di panggung. Begini salah. Begitu salah. Ini benar. Itu tidak benar. Jadilah Fatin tidak hanya memperhatikan lagu saja, setiap apa yang akan dilakukan termasuk pakaiannya juga menjadi perhatian.
Pertarungan baru dimulai, kritikan lebih banyak ditujukan kepadanya dibandingkan kontestan lain. Mental anak SMA ini diuji dengan ujian tak hanya sekali. Sikap petarung membaja hanya untuk menampilkan yang terbaik. Dari malu-malu dan lugu menjadi ragu-ragu sampai akhirnya centil dan tersenyum renyah.
Perubahan ini, tak selamanya bisa dialami oleh penyanyi yang sudah sering ikut lomba serupa. Hanya si Fatin yang mengalami. Sekecil apapun itu tetaplah perubahan yang sepatutnya disyukuri. Perubahan tak bisa dikatakan total pada saat yang singkat, perubahan yang benar itu butuh proses untuk mencapai sebuah keberhasilan.
Wajarlah Fatin kaku, dialah pemula dalam ajang ini. Biasanya hanya mengenakan pakaian seadanya, terlihat dari beberapa foto yang beredar, seperti remaja kebanyakan, mengenakan jeans, kemeja lengan panjang atau kaos oblong lengan panjang, dan berjilbab. Setelah lolos audisi dan mulai ikut alur acara, Fatin harus terbiasa dengan busana yang gemerlap, jilbab yang bermacam modis, serta menggantikan sepatu tanpa hak menjadi hak tinggi. Perjuangan yang tak sedikit. Bukan hanya harus belajar teknik bernyanyi, cara berjalan, cara menyeimbangkan badan saat mengenakan sepatu ber-hak juga menjadi pusat perhatiannya.
Walau kemudian Anggun memberi usul, Fatin harus mencoba sepatu dengan hak yang lebih lebar bukan runcing. Usul Anggun membuat Fatin terlihat nyaman, sudah bisa berdansa ala penyanyi R&B. Namun joget versi Fatin kemudian diolok-olok, saking tidak enak dilihat mungkin. Mending Fatin nyanyi saja, diam ditempat.
Pandangan lain malah datang dari Dani, dia membiarkan Fatin bergoyang sesuai koreografi yang sudah diajarkan. Lama-lama dia akan terbiasa. Lucu, kata Dani tapi kelucuan itu menjadi ciri khas. Argumen Dani tidak terbantahkan, sosok Fatin yang diam, bergoyang ikuti irama walau tak sebagus para dancer tetap sama enak dilihat.
Aura itu tak bisa dipelajari melalui les sampai umur beruban. Aura seseorang adalah identitas dalam membedakannya dengan orang lain. Si Fatin sudah punya, kaku di panggung pun menjadi ciri khas yang akan dikenang. Lain kali, dia akan belajar melupakan kaku dan semakin terlihat enjoy.

2 komentar:

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90