Top Ad 728x90

Thursday, September 19, 2013

, ,

KTSP Simpang Siur, Kurikulum 2013 Menerjang





Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sudah dicanangkan pemerintah sejak tahun 2006 merupakan salah satu perbaikan terhadap kurikulum terdahulu. Kurikulum yang sering kali dikenal dengan sebutan KTSP lebih mengedepankan keaktifan siswa dalam mengeksplorasikan kemampuan mereka. Kurikulum ini diharapkan mampu membuat siswa bersaing dengan keahlian yang mereka miliki. Kurikulum ini juga menjadi pembaruan yang sangat signifikan terhadap kurikulum terdahulu.

Pada pelaksanaannya KTSP mengutamakan nilai-nilai karakter bangsa yang terdiri dari jujur, toleransi, mandiri, demokratis, komunikatif, tanggung jawab, percaya diri, berorientasi tugas dan hasil dan lain-lain. Sebenarnya nilai-nilai karakter yang diharapkan dalam KTSP ini sudah terpatri dengan sendirinya dalam pendidikan moral. Siswa sudah memahami pentingnya penananam nilai karakter tersebut, dalam pelaksanaan Pendidikan Kewarganegaraan bahkan pendidikan agama nilai-nilai karakter sudah bukan barang baru. Tidak ada yang salah dalam hal penanaman nilai-nilai karakter dalam KTSP seperti yang dimaui pemerintah, semua berdasar dan benar adanya. Permasalahan yang muncul kemudian adalah penerapan di lapangan yang diabaikan oleh sebagian guru. Nilai-nilai karakter bangsa ini hanya tertera dengan manis di Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Dalam RPP di kurikulum ini terdapat tiga poin penting dalam melaksanakan pembelajaran. Ketiga poin ini harus benar-benar dipahami guru sebelum menerapkan RPP di kelas. Ketiga poin tersebut adalah konfirmasi diartikan sebagai penegasan, pengesahan, pembenaran. Kemudian elaborasi diartikan sebagai penggarapan secara tekun dan cermat. Dan eksplorasi diartikan penjajahan lapangan dengan tujuan memperoleh pengetahuan lebih banyak (terkait keadaan), terutama sumber-sumber alam yang terdapat dari tempat itu. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Online versi Android).
RPP merupakan landasan penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Ketiga poin di atas harus benar-benar tercantum dalam RPP, sehingga akan terbentuk proses pembelajaran seperti yang diharapkan sesuai KTSP. Penyusunan RPP yang benar dan sesuai anjuran KTSP akan mencerminkan terlaksanannya kurikulum tersebut. Setiap guru berhak menyusun RPP sesuai keadaan dan kondisi sekolah, karena lagi-lagi KTSP mengedanpan situasi sekolah tertentu. Setiap sekolah akan berbeda guru dan kultur maka RPP yang disusun pun akan mengacu pada kemampuan siswa. RPP sekolah unggulan yang punya fasilitas memadai akan jauh berbeda dengan RPP sekolah pelosok. Di sinilah letak keunggulan KTSP, walau pada pelaksanaannya masih belum terlaksana dengan benar. Banyak faktor yang mendukung KTSP tidak diterapkan guru, salah satunya informasi tidak tersampaikan dengan terstruktur dan hanya kalangan tertentu saja yang mampu menerapkan KTSP ini.
Apakah KTSP benar-benar diterapkan di semua sekolah?

Problema KTSP
Kurikulum ini sudah sangat lama dilaksanakan, kondisi ini benar untuk sebagian daerah. Masalah yang muncul dalam pelaksanaan kurikulum ini adalah kurangnya sosialisasi sehingga tidak semua guru paham maksud KTSP. KTSP yang diharapkan terlaksana dengan benar dan sesuai prosedur terbengkalai karena pemerintah abai dalam hal melatih guru memahami perkara ini.
KTSP yang sudah mengakar terus menjadi kertas tertulis dalam RPP guru. Guru yang tidak pernah mengikuti pelatihan dan pedalaman materi akan KTSP tidak pernah tahu menahu mau dari kurikulum ini. Semua peraturan yang terpatri dalam KTSP hanya sebatas tahu bahwa ada perubahan kurikulum. Guru-guru di kota besar dengan mudah memahami karena selain pelatihan yang diikuti juga media pembelajaran yang lengkap. Guru-guru di daerah terpencil masih terfokus pada pembelajaran manual tanpa pernah mengetahui pentingnya KTSP. Hal ini terjadi karena pemerintah lupa bahwa di daerah terpencil masih terdapat guru yang butuh pedalaman materi akan KTSP.
Tidak ada yang salah dengan KTSP yang dijalankan pemerintah untuk memajukan pendidikan Indonesia. Kesalahan terjadi pada pelaksanaan dan sosialisasi ke semua guru yang tidak merata sehingga KTSP tidak dipahami dengan benar, imbasnya pelaksanaan pembelajaran masih tidak ada perubahan dan cenderung sama dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Kedatangan Kurikulum 2013
Di saat pelaksanaan KTSP yang belum menyeluruh, pemerintah kembali menggalak kurikulum baru yaitu, Kurikulum 2013. Dalam hal ini lagi-lagi pemerintah tidak disalahkan karena tujuannya benar. Kesalahan akan terulang jika Kurikulum 2013 tidak disosialisasikan dengan benar oleh pihak terkait. Pemerintah bisa beralasan mutu pendidikan rendah karena berbagai sebab, namun jika sebagian guru tidak paham akan kurikulum baru ini pemerintah patut disalahkan karena mutu pendidikan bukan hanya terletak pada guru namun juga pada semua fasilitas yang belum mampu pemerintah berikan ke semua sekolah. Pemerintah seakan hanya melihat pendidikan di kota besar saja, sedangkan pendidikan di daerah terpencil hanya dipandang sebelah mata. Kasus yang sering terjadi adalah minimnya guru berkompetensi di sekolah terpencil sehingga pendidikan tidak berlangsung maksimal. Guru-guru yang berkompetensi tinggi bahkan bersemak di kota besar!
Kurikulum 2013 tak ubah dari KTSP. Sama-sama mengharapkan pembelajaran aktif dan bernilai karakter. Pada Kurikulum 2013 terdapat tiga penilaian, yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Hal ini mengacu pada RPP yang disusun guru. Ranah sikap terdapat pada Kompetensi Inti diikuti dengan Kompetensi Dasar 1 dan 2 yang terletak di bagian atas RPP setelah indentitas sekolah. Ranah pengetahuan terletak pada Kompetensi Dasar 3 dan ranah keterampilan terletak pada Kompetensi Dasar 4. Ketiga penilaian ini harus tertulis dengan jelas dalam RPP yang disusun guru.
Penekanan Kurikulum 2013 lebih kepada lima aspek penting. Kelima aspek ini harus tercantum dalam RPP seorang guru seperti tidak aspek pada RPP KTSP. Kelima aspek yang terdapat dalam Kurikulum 2013 adalah mengamati, menanya, mencoba, menalar dan komunikasi. Kelima aspek ini lebih terperinci dan mudah dipahami guru sehingga pelaksanaan pembelajaran pun semakin mengedepankan keaktifan siswa.
Kurikulum 2013 yang dicanangkan pemerintah dengan matang masih dalam tahap penyelesaian yang entah kapan. Harapan yang muncul adalah, selama peningkatan kualitas kurikulum tersebut pemerintah pun harus meningkatkan kualitas guru untuk mengetahui pelaksanaan kurikulum ini. Jika pengalaman di KTSP yang hanya tinggal nama sedangkan implementasinya tidak diketahui dengan benar oleh guru, maka untuk Kurikulum 2013 guru harus dilatih dengan benar tanpa pandang bulu. Pemerintah berhak memberikan pelatihan kepada semua guru, bukan hanya guru di kota besar saja melainkan guru-guru di pedalaman pun harus tersentuh dengan mau kurikulum ini.
Jika tidak, Kurikulum 2013 tetap akan menjadi pemanis dalam peningkatan mutu pendidikan. Kita tunggu saja, gebrakan apa yang dilakukan pemerintah dalam membuang bingung guru antara KTSP dengan Kurikulum 2013!

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90