Top Ad 728x90

Saturday, September 14, 2013

,

Peran Ibuku di Bulan Ramadhan


 
Bulan Ramadhan selalu menyisakan makna terdalam bagi masing-masing individu yang mau introspeksi diri. Bulan penuh berkah ini membuat orang-orang beriman berlomba mencari kebajikan dan meneladani setiap perilaku baik sehingga menjadi orang-orang yang sabar.

Puasa tidak hanya menahan makan dan minum. Puasa mengajarkan menahan amarah dari kerakusan hawa napsu dalam mendapatkan sesuatu. Puasa juga membuat badan menjadi sehat – berdasarkan beberapa penelitian. Puasa juga menjadikan seseorang yang dahulunya bermalasan mau tidak mau bangkit dan mencari nafkah di bumi Tuhan seperti yang sudah dijanjikan.


Bagi orang-orang beriman, puasa sudah jelas hukumnya. Wajib. Namun puasa pun dilakukan berbagai macam cara. Puasa saja tanpa sembahyang. Puasa saja tanpa makan minum tapi mengumpat. Puasa dan melaksanakan semua ajaran Islam dengan benar.

Selama puasa, banyak hal yang luput dari perhatian kita. Banyak sekali yang terjadi selama puasa ini. Puasa yang membuat lelah berpikir karena kurang makan dan minum tak lantas kita tidak melakukan aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran.

Seorang ibu, juga berpuasa seperti kita. Seperti seorang ayah. Seorang anak perempuan. Seorang anak laki-laki. Namun, puasanya seorang ibu terasa lebih “lelah” dibandingkan dengan puasa golongan lain.

Kaum ibu sangat menentukan puasa seorang ayah dan anak-anak berhasil sampai waktu berbuka di waktu sahur. Ibu bangun lebih cepat menyiapkan menu sahur, jika belum ada nasi maka akan menanak nasi, menggoreng telur atau ikan, dan lain-lain. Pada waktu yang sama ayah dan anak-anak masih terlelap dalam mimpi indah. Begitu meja makan terhidang aneka makanan, baru ibu membangunkan ayah dan anak-anak untuk menyantap sarapan sahur sebelum tiba waktu imsak (waktu mulai berpuasa).

Sehabis makan sahur, ayah dan anak-anak kembali tidur atau menonton televisi dan mengerjakan hal lain yang ringan-ringan saja. Dan ibu, tanpa penolong masih bergerlya di dapur membersihkan suasana berantakan sehabis sahur. Mulai dari mencuci piring, mengelap meja makan dan seterusnya.

Azan subuh berkumandang baru ibu bisa beristirahat sebentar, jika sanggup akan mengikuti langkah ayah dan anak-anak ke masjid. Apabila masih sangat lelah, akan berdiam diri di rumah dan menunaikan shalat Subuh seorang diri.

Pagi datang dengan sinar matahari yang terik, ibu tergopoh-gopoh mengikuti langkah ayah ke hutan belantara, bekerja di kebun karet. Atau bekerja di tempat lain. Atau ke sawah bagi yang masih menikmati indahnya sawah di bulan Ramadhan, baik menanam padi maupun menanen. Anak-anak; ada yang berdiam di rumah atau ke sekolah.

Pulang dari pekerjaan mencari uang bersama ayah, ibu masih ditunggu pekerjaan lain. Ayah masih bisa istirahat sebelum waktunya belanja keperluan berbuka di siang hari setelah shalat Dhuhur. Ibu masih dengan pekerjaan yang sama seperti biasanya, mencuci baju dan membersihkan perkarangan rumah yang belum sempat dilakukan sehabis sahur. Baju ayah dan anak-anak dan bajunya sendiri.


Azan Dhuhur berkumandang, ibu berangkat mandi dan membersihkan diri. Di  siang hari ayah dan anak-anak bebas tidur sampai sore. Ibu masih menyiapkan pekerjaan lain, apakah menyetrika atau pekerjaan lain. Belum sempat istirahat sehabis menunaikan kewajiban sehari-hari sebagai muslimah, ibu harus duduk di dapur dengan pisau di tangan. Mencincang ikan atau daging, mengiris bawang hingga mata berair, menggoreng ikan atau daging sampai kadang gosong, menanak nasi, membuat kolak permintaan ayah dan anak-anak. Semua dilakoni seorang diri dengan tampa pamrih dan keluh kesah.

Sore hari menjelang berbuka, ayah dan anak-anak keluyuran menikmati suasana ramai di sepanjang jalan. Penuh canda dan tawa. Ibu masih berkonsentrasi pada kesibukannya di dapur. Menyiapkan penganan berbuka untuk ayah, anak-anak dan dirinya.

Usai berbuka, ibu membersihkan meja makan dan mencuci piring hingga tak ada sisa kotoran sedikit pun. Ayah dan anak-anak sudah siap berangkat tarawih, ibu masih belum berwudhu. Dalam langkah cepat ibu menyusul ayah dan anak-anak menuju masjid menunaikan shalat sunat yang hanya ada di malam bulan puasa. Ada yang mengerjakan 8 rakaat, ada pula yang 20 rakaat ditambah witir 3 rakaat.

Rutinitas ibu terus berlanjut, setiap hari, setiap waktu. Akan seperti itu!

Peran yang sangat membutuhkan keikhlasan. Maka dari itu Nabi Muhammad selalu menyebutkan kedudukan ibu di atas ayah. Peran ibu sangat banyak dibandingkan ayah dan anak-anak. Ibu tak pernah mengeluh akan peran ini. Ibu menjalani dengan tabah dan sabar.

Mari kita cintai ibu selayaknya, seperti rasa cinta kita pada diri sendiri!

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90