Top Ad 728x90

Saturday, March 15, 2014

Kami Juga Kabut Asap


Photo by Bai Ruindra
Seperti biasa, pagi hari saya melakukan aktivitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Akhir-akhir ini memang berita gelapnya Pekanbaru karena kabut asap yang membuat kesehatan terganggu menjadi topik berita utama. Belakangan, tidak hanya ibu kota Provinsi Riau saja yang mengalami hal tersebut, saya merasakan hal yang sama di beberapa pagi terakhir. Entah karena di daerah saya tidak ada wartawan, entah karena lupa ada yang meliput berita kebakaran hutan di sini.

Sama halnya dengan di Pekanbaru, di kota kecil Meulaboh Aceh Barat juga mengalami kabut yang pekat sekali di pagi hari. Lambat-laun kabut asap ini menghilang sedikit demi sedikit menjelang siang sampai sore, namun tidak pernah habis ditelah panas. Di pagi hari, seperti semula, kami menghirup udara kotor dan pandangan tidak terang.
Photo by Bai Ruindra


Kabut asap ini berasal dari hutan di kawasan Samatiga, Aceh Barat. Disinyalir kebakaran tersebut terjadi karena tidak sengaja dan dikarenakan kemarau panjang akhirnya api merembet ke mana-mana.

Seorang warga; namanya saya tiadakan; merupakan salah satu korban kebakaran hutan ini. Akibat kebakaran ini warga tersebut mengalami kerugian begitu banyak mengingat batang karet perkebunan miliknya masih belum tumbuh besar. Warga yang enggan disebutkan namanya di sini mengatakan bahwa sudah dua kali mengalami masalah yang sama, namun kali ini semua batang karet miliknya ludes terkabar dan tidak mendapat respon apa-apa dari pemerintah daerah yang membiarkan kebun karet tersebut kian terbakar habis. Warga yang ingin berbagi dengan kita ini berharap ada pihak yang mau berkorban sedikit memberikan bantuan guyuran hutan buatan ke hutan yang semakin memanas.

Photo by Bai Ruindra

Dikarenakan semakin meluas kebakaran yang terjadi tidak tertutup kemungkinan kota kecil di barat Aceh ini akan mengalami hal yang sama dengan Pekanbaru. Saya – sebagai orang yang tidak punya wewenang apa-apa, merasa bahwa hidup kami sangat tergantung pada kuasaNya yang entah sampai kapan akan menghentikan kemarau.


Dan semalam, hujan benar-benar turun. Sebentar saja. Lalu saya kembali kecewa. Hujan tidak memberi waktu lama menyiram tanah di sawah yang sudah terbelah-belah, lalu memadamkan api yang entah seperti apa besarnya di tengah hutan belantara sana. Seakan, matahari pun enggan menerangi tanah kami yang sudah kering dan retak. 

Photo by Bai Ruindra

4 komentar:

  1. Jangan sampai deh Aceh berkabut asap seperti Riau :(

    ReplyDelete
  2. Hampir saja seandainya semalam tdak hujan lebat. Tks doanya :)

    ReplyDelete
  3. Sekarang gimana kondisinya, Bai? Masih berasap juga daerah Arongan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sdh tdk lg. Kmrin malam hujan lebat dsni.

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90