Top Ad 728x90

Saturday, March 29, 2014

, ,

Romansa Segala Rasa


Hanya ada kau dan aku dalam sebuah rasa yang sama…
Perjalanan panjang ini akan segera berakhir dengan kecupan mesra darimu. Antara Aceh dan Bali jadi terasa sangat dekat saat membayangkan fisikku akan menyentuh fisikmu. Hampir dua tahun pula kita hanya bersuara mesra melalui udara dan maya, bahkan rasa cemburu yang kupendam sudah tidak terdefinisi.
Belum pula ragaku menyentuh dinginnya tanah di antara deru ombak pulau Dewata, aku sudah sangat tidak sabar menunggu burung besi putih dengan logo biru segera menghentikan kipasan sayapnya dan senyummu menghilangkan penatku. Dari atas perairan biru ini dapat kulihat dataran yang akan mempertemukan kita. Walau aku sudah sangat sering melihat dan mendengar gelombang laut, tetapi rasanya pasti akan sangat jauh berbeda. Laut Aceh sudah pernah pilu dengan musibah besar di akhir 2004, laut Bali barangkali masih indah dihiasi pohon hijau dan pengunjung berlimpah setiap saat.
Dan kita, akan segera mengulang manisnya rasa…


***
Kutapaki langkah di atas jalan setapak menuju pertemuan kita. Tak sabar rasanya aku ingin segera memelukmu yang entah masih kurus atau sudah lebih berisi. Terakhir kali kau katakan padaku bahwa dirimu sedikit kelelahan menghadapi pekerjaan yang menumpuk, mungkin ini akan berpengaruh pada pola makan dan kondisi berat badanmu. Tapi sekali lagi, aku tidak pernah memandangmu sebagai bentuk terindah dari pahatan Tuhan. Aku menerima jiwa yang kau punya karena aku tidak memiliki pribadi dan bentuk fisik seperti dirimu.
Kau tahu? Terakhir kali kita bertemu di salah satu sudut Ibu Kota, waktu itu hanya sehari saja. Di bawah gerimis, di jalan setapak menuju penginapan, seperti jalan yang kulalui kini. Perbedaannya, Ibu Kota sangat keruh dengan keadaan dan kita tidak bisa saling memahami mau masing-masing. Kita juga tidak sempat menghabiskan waktu bersama karena kau terlalu sibuk dengan tugas kantormu. Bahkan, untuk minum secangkir kopi saja tidak bisa kau luangkan waktumu, aku memahami, karena aku tidak mau kehilanganmu.
Di bawah matahari Bali yang terasa lebih teduh dibandingkan negeriku, kita akan bisa menghabiskan lebih banyak waktu di sini. Tempat ini pula sengaja kau pilih sebagai pertemuan kita; rumput hijau, bunga entah bernama apa, pohon rindang, patung khas pulau ini yang tidak akan pernah kulihat berdiri di kampung halamanku, serta tempat persinggahan yang dibuat seakan khusus untuk kita berdua. Seperti yang sudah kau katakan padaku, kita akan bertemu di sebuah gubuk di depan kolam ikan yang ada patung berwarna putih.
Aku sudah menunggumu di sini…

***
Kau tersenyum melihatku!
Ah, betapa tidak terbayangkan perasaanku melihat tubuhmu yang semakin mungil. Kau terlihat lelah sekali. Bahkan, tubuhmu seperti tinggal tulang saat kupeluk erat.
Aku merindukanmu…
Sudah pasti. Tanpa kau jawab, aku sudah tahu bahwa bahasa nonverbal darimu mengatakan hal yang serupa. Kupeluk tubuhmu semakin erat, hal ini pun lumrah di pulau ini. Banyak mata yang melihat tetapi tidak mempersoalkan, tentu beda dengan negeriku,  tidak bisa sebebas ini memeluk tubuhmu yang lembut seperti kapas.
Kutatap matamu lebih lama, ada bintik merah dibalik kacamata biru itu.
Kau terlalu lelah, sayang!
Dan lagi, kau selalu mengelak begitu kuutarakan protes terhadap apa yang sedang kau lakukan. Padahal ini untuk kebaikanmu, kebaikanku, dan kebaikan kita semua. Delapan tahun bukan waktu yang sebentar menjalin hubungan dalam jarak tak bertemu fisik. Ibu Kota telah mengubah dirimu menjadi lebih garang dari yang kubayangkan. Ajakan hubungan lebih serius pun tidak pernah kau balas dengan manja seperti saat kubelai aura dalam dirimu. Kau seperti lupa bahwa aku harus mengakhiri masa lajang di usia lewat 35 tahun. Kita sama-sama paham, pernikahan membutuhkan kedekatan jiwa dan raga.
Dulu kau belum bisa memenuhinya. Sekarangkah waktumu?
***

Kami duduk berhadapan. Sisa makanan di atas meja lesehan itu masih sangat banyak. Kau hanya memakan sedikit saja. Aku pun tidak berniat melanjutkan makanku karena iba melihatmu.
Kita sama-sama tertekan dalam hal ini. Tidak ada salahnya kita segera saling membuang ego masing-masing.
***
Kutahu, kau akan menerimanya!
Di bibir pantai, kau duduk menyilakan kaki di bawah atap putih dari kain payung, di kursi biru dengan bantal putih, di antara gelombang, kusarung cincin di jari manismu.

Pinangan ini memang berat untukmu, aku juga rela berbagi waktu denganmu sampai tua. Pulau ini akan mengabadikan segala rasa yang kupendam untukmu dan untuk bahagia kita. Sudah tak terhitung lagi berapa kali aku menyakinkanmu untuk bersedia menemaniku selama nafas masih terhembus. Sabarku sampai pada batasnya saat kau mengatakan hidup kita tidak mesti ada ikatan.
Aku berbeda, sayang. Nyawaku dititipkan oleh-Nya tidak sekadar main-main, Dia sudah menentukan aturan khusus sebelum kita memulai pergumulan lebih jauh. Ini bukan pula karena aku berdarah Aceh, ini karena kita menyambah Tuhan yang sama. Kehidupan kita memang berbeda, kau di Ibu Kota sedangkan pria yang mencintaimu ini di pelosok desa. Kau bahkan tidak pernah menghirup udara segar di antara padi menguning pagi hari.
Kau telah menerima. Aku harap-harap cemas. Dalam aturan kehidupan kota yang tidak tertulis, tentu kau akan sulit menghadapi pria sepertiku. Pertemuan yang kau ajak ke pulau romantis ini membuatku serba salah. Aku tidak pernah duduk manis di dalam pesawat sejauh ini, hanya Ibu Kota tempatmu yang paling jauh kusinggahi. Aku masih belum percaya sebentar lagi akan meninggalkan segala urusan di pedalaman Aceh kemudian menetap di Ibu Kota.
***

Tempat ini akan jadi saksi manisnya hidup yang kulalui bersamamu. Kau tahu apa yang kurasa? Entahlah. Jauh-jauh kita ke mari menimbulkan rasa yang tak bisa kusampaikan padamu. Malam ini pula kau sebut namaku berkali-kali sehingga aku sulit berpaling dari dirimu. Di bawah temaram lampu kawasan Pirates Bay, Café & Restaurant, Bali, kau suapi sepotong Apel yang lidahku merasakan lebih manis dari biasanya. Di dalam kafe yang khusus diciptakan untuk pasangan seperti kita ini kau peluk pinggangku dengan erat sekali. Kau sandarkan kepalamu di pundakku sampai aku tidak bisa melihat rona matamu.
Di depan kita, di tempat yang hampir sama dengan kita bermesraan, banyak pasangan lain yang sedang melakukan sesuatu yang kita tidak tahu. Kau memang lebih agresif dibandingkan saat bercakap-cakap sampai larut malam melalui udara. Karena kuyakin, jiwamu sangat merindu kokohnya fisikku merangkul seluruh badanmu untuk segera melepas keinginanmu.
Belum saatnya untuk itu
Kau telah kupinang, tunggulah waktu setelah itu. Bahagia ini akan berbeda saat kita sudah dalam ikatan resmi agama dan pandangan sosial. Tidak ada yang akan memisahkan kita selama ikatan suci telah kuucapkan.
Mari kita nikmati saja malam ini!


*** 

25 komentar:

  1. Romantis banget ceritanya :)

    ReplyDelete
  2. Cinta tidak kenal jaraklah, saya mengalami kisah ini. Thanks ya cerpennya asyik.

    ReplyDelete
  3. Cinta tidak kenal jaraklah, saya mengalami kisah ini. Thanks ya cerpennya asyik.

    ReplyDelete
  4. andai saya punya style kyk mas ... T_T

    ReplyDelete
  5. @Lukmanul Hakim:

    Syle gmn maksudnya?
    Klu penulisan, semua tergantung pada penulis mau membangun seprti apa.Selamat menikmati ya :)

    ReplyDelete
  6. romantis banget ^_^

    ReplyDelete
  7. pokoknya wow mas:)

    ReplyDelete
  8. suka teknik penulisannya, mendayu-dayu...

    ReplyDelete
  9. LDR mmg menyedihkan, pas ketemu bahagia banget!!!!

    ReplyDelete
  10. LDR mmg menyedihkan, pas ketemu bahagia banget!!!!

    ReplyDelete
  11. jadi ingin ke BALI!!!!!

    ReplyDelete
  12. Bali!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    ReplyDelete
  13. @Anonim:
    Iya, sedih sekali ya jika menjalaninya.

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90