Top Ad 728x90

Tuesday, April 22, 2014

, , , , ,

Guru Kami, Pahlawan Semesta

Photo by Bai Ruindra

Saya mengenalnya lebih kurang 13 tahun lalu, suatu masa yang panjang ketika dia masih tegap dalam langkahnya. Sekarang, setelah lebih 37 tahun mengabdi, langkahnya tidak lagi setegak kala muda. Tubuhnya sudah ringkih dan harus dibantu kruk untuk dapat menapaki hari-hari bersama kami.

Dia, Dra. Rosmalawati Idris, seorang guru saya dan guru kebanyakan orang sukses di kampung kami. Bu Ros, begitu panggilannya merupakan guru tertua di sekolah kami dan hanya mengabdi pada satu sekolah semenjak pengangkatan menjadi guru pegawai. Bu Ros selalu memberi senyum pada kami, walaupun langkahnya tidak pernah rata antara kiri dan kanan. Dalam keseharian, tubuhnya boleh saja lemah tetapi suara dan cara mengajarnya bahkan mampu menyaingi guru lain yang lebih muda. Semangatnya dalam mengajar tidak pernah pudar dari semenjak saya kenal fisiknya hingga kini sudah pensiun.

Bu Ros, satu-satunya guru “titipan” dari Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Barat yang ditugaskan kepada MAN Suak Timah (Kementerian Agama). Sebagai guru yang diperbantukan, Bu Ros tetap mengajar anak-anak madrasah sesuai kemampuan beliau. Walaupun banyak sekali surat-menyurat yang harus diurus ke Dinas Pendidikan bukan berarti membuatnya ingin cepat-cepat ditarik kembali oleh ibu kandung. Saat guru-guru lain di bawah naungan bapak sendiri - semua administrasi lancar di bawah kementerian agama - Bu Ros kadang tersandung karena harus melalui proses di Dinas Pendidikan kemudian pindah tangan ke Kementerian Agama (dulu Departemen Agama). Bu Ros tidak pernah mengeluh, dengan langkah tertatih beliau bertahan di madrasah.

Bu Ros adalah seorang guru kelahiran tahun 1959, perempuan kuat dan perkasa di mata saya sebagai siswa dan sebagai rekan kerja kini. Sejak kecil Bu Ros sudah mengalami masalah dengan kesehatannya. Kaki sebelah kiri Bu Ros terkena penyakit folio, entah karena dulu tidak cepat disembuhkan atau memang tidak tahu-menahu masalah ini, Bu Ros pun tidak ingat apa yang dilakukan kedua orang tuanya waktu itu, akhirnya kaki kiri Bu Ros lebih kecil dari ukuran normal. Semasa muda dan masih kuat, Bu Ros masih sanggup berjalan mengelilingi perkarangan sekolah kami, tetapi menjelang masa pensiun, seiring usia yang lanjut, Bu Ros sudah menggunakan kruk membawa langkahnya ke kelas. Semula satu kruk, sampai akhirnya dua kruk dan Bu Ros tetap mengajar sebagaimana kewajibannya. Jadwal mengajar yang sudah diembannya sebagai guru profesional dengan 24 Jam Pelajaran, dilaksanakan Bu Ros tanpa mengeluh maupun meminta bantuan guru lain apalagi kepada guru honorer. Bu Ros sanggup mengajar 4 sampai 6 jam dalam sehari, walaupun kemudian atas kesadaran kami semua, jam Bu Ros disesuaikan dan diatur supaya beliau tidak terbebani di usia senja dan kondisi fisiknya. Bu Ros malah meminta tugas dan tanggung jawabnya diberikan penuh, karena baginya, gaji yang diberikan pemerintah pada sisa umurnya merupakan amanah yang tidak bisa dimanipulasi.

Benar kiranya, guru pahlawan tanpa tanda jasa, jika melihat banyak sekali yang dilakukan Bu Ros. Dengan keterbatasan yang dimiliki, Bu Ros berdiri di antara kegagahan dan kegarangan guru-guru muda di antara para siswa. Terlepas dari semua itu, Bu Ros tetap menjadi salah seorang guru yang disegani oleh siswa-siswinya. Bukan karena kaki Bu Ros tidak normal, karena Bu Ros mengajar dengan cara yang tidak sama dengan guru lain. Suara lantang, sikap tegas dan berwibawa. Pelajaran Qur’an Hadist yang diajarkan beliau menjadi pelajaran yang sempat ditakuti siswa-siswi. Ketegasan Bu Ros terletak pada siswa yang tidak bisa menghafal ayat al-Quran maupun sepotong hadits. Siswa yang tidak bisa, tidak segan pula Bu Ros meminta hafal kembali maupun berdiri di depan kelas sampai mampu menghafal.

Guru menjadi satu-satunya penentu baik buruk seorang manusia. Sampai kapan pun pendidikan yang diberikan guru akan selalu dikenang dan tidak pernah diletakkan di suatu tempat terendah. Bu Ros, barangkali salah satu guru dengan keterbatasan yang telah mencerdaskan bangsa. Pemerintah hanya sanggup memberikan materi dengan jumlah tertentu selama pengabdiannya, tetapi ilmu yang diajarkannya tidak akan pernah habis maupun menghilang dari ingatan siswa-siswi. Bahkan untuk saya pribadi, tidak akan ada tulisan inspiratif ini sebelum saya mengenal Bu Ros dengan segenap hasratnya mengajarkan baik buruk dalam agama.

Mungkin, Tuhan punya cara tersendiri memberikan penghargaan pada seorang guru seusia Bu Ros yang sudah melahirkan generasi beragam prestasi. Suatu saat nanti! 

Dalam hal ini, Indonesia Move On dari kebodohan karena seorang guru. Guru punya andil dalam mencerdaskan bangsa dan generasi sampai akhir masa. Gerakan Indonesia Move On yang dilakukan Dompet Dhuafa merupakan salah satu cikal bakal melestarikan kepintaran yang dimiliki negeri ini. Barangkali, Dompet Dhuafa juga memperhatikan guru-guru di seluruh negeri, banyak potret yang melahirkan nyata bahwa tidak semua guru berada dalam bahagia. Melalui Indonesia Move On, Dompet Dhuafa bisa memperhatikan guru-guru yang dianaktirikan oleh pemerintah kita. Bu Ros salah seorang guru, hanya satu dari sekian guru lain yang bisa saja merasakan derita berbeda. Dan guru tanpa tanda jasa ini akan menerima imbalan sesuai keikhlasan hati mereka menerima. Semoga tulisan di blog ini bermanfaat. 




28 komentar:

  1. Hoo....bgs lho bai...!! Gk kyk tlsn drimu yg sprti biasa. kyk trsa agk membara gtu ^^ bgs lho! :)

    ReplyDelete
  2. hmmm...pkok-a beda deh.. aq sush jg blg-a. mgkn Iya agk2 menguras emosi gtu x ya... ^^ biasa-a kn kyk ngasih info ato crta gtu. ni beda bgt..emosi drimu sbg penulis kyk trsa jg :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Karena ak kenal beliau Di. Sngt mengenal deh :((

      Delete
  3. it's very interesting. But, I don't like the title. If u don't mind, pls visit my blog; http://rinalsp.blogspot.co.uk/2014/04/sahara-sang-ibu.html. thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Ini udh ak ganti judul yang dipilih vivalog. Makasih ya nal. Ayo nulis lg yg menarik dan unik :) http://m.log.viva.co.id/news/read/498658-guru-kami--pahlawan-tanpa-tanda-jasa

      Delete
  4. woooow super sekali yah beliau ini, semoga di usia senja saya nanti saya bisa menjadi spt beliau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Beliau tetap menjadi panutan dan dikenal karena kegigihannya. Tks ya mba sudh membaca, smg brmanfaat :)

      Delete
  5. Jadi teringat guru agama waktu Sd dulu, guru yang slalu dicintai sampe sekarang oleh semua mantan muridnya. Tapi karena sudah hampir 8tahun ga pernah ketemu namanya pun aku lupa :( pdahal dulu hampir setiap lebaran atau pun hari biasa aku slalu main ke tempat beliau. Lagi-lagi lewat tulisan Uboi mengingatkan sesuatu yang sangat penting. dan sepertinya aku harus bergegas mencari tahu keberadaan dan nama guru agama itu lagi. Tq ya Boi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tks Des, selagi masih bisa kita tuliskan semua. Hal-hal kecil bisa jd sangat luar biasa begitu kita kaji ulang. Tanpa seorang guru kita tdk akn prnh jadi apa-apa bukn?

      Delete
  6. semangat dan keteladanan yang luar biasa dari Bu Rosmalawati Idris ... semoga keberkahan senantiasa untuk beliau,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Bnyk lg guru lain yg menginspirasi kan?

      Delete
  7. Guru tanpa tanda jasa itu dulu sekarang mah pada demo dimana-mana minta tunjangan udh pada belagu semua guru-guru itu!

    ReplyDelete
  8. Guru saya orang tegas sekali, saya tidak bisa langsung dipukul bahkan dihantuk kepala ke papan tulis. Karna guru itu pula saya pintar matematika syangnya guru saya itu sudah dibawa tsunami...

    ReplyDelete
  9. Sekolah dulu sya paleng bandel, ndak masuk merokok bolos ganggu guru dll. Karna tu sya dpat hukum dr bapak itu hbis upacra saya dikasih rokok sampe muntah. Kerna bapak itu pula saya ndak rokok lagi sampe sdh berkeluarga. Seandainya dpt brtmu lgi bapak tuh sya mau terima kasih tak hingga padanya. Tulisan ini buat saya haru bang bai!

    ReplyDelete
  10. Saya pengen nangis bacanya. Saya punya guru yg sudh tua juga. Guru saya masih honor sejak saya sekolah sampai saya sudah kerja blum juga jd pegawai. Saya terharu lihat dia terkatung-katung gitu semoga pemerintah melihat da. Makash bang bai kisah ni membuka mata hati saya.

    ReplyDelete
  11. Tiada guru tiada presiden!

    ReplyDelete
  12. @Wadi:

    Semua kembali ke niat dan keikhlasan, banyak kok contoh nyata kan?

    ReplyDelete
  13. @Anonim:

    Semoga amal ibadahnya diterima Allah ya :)

    ReplyDelete
  14. @Anonim:

    Wah.... semua orang akan berubah kan mas ya, kita butuh guru yang mampu membimbing kita :)

    ReplyDelete
  15. @Anonim:

    Sama-sama, semoga bermanfaat ya :)

    ReplyDelete
  16. Kami baru baca bang. It's really inspired. Semoga kami bisa mengikuti jejak beliau nantinya. Bersemangat berbagi ilmu dengan sang penerus bangsa higga sampai umurku suda mulai senja. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Nur, semoga terkabul cita-citanya ya....

      Delete
  17. Replies
    1. Terima kasih ya, semoga bermanfaat :)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90