Top Ad 728x90

Monday, May 19, 2014

,

Pena Tua

Cerpen tentang guru honor


 
Ibarat pena, ia sudah tidak bertinta jika sudah lama dipakai. Tidak untuk Syarifah, umur boleh tua tapi produktifitas tetap sama seperti muda dulu. Usianya memang tidak muda lagi, menjelang empat puluh tahun Syarifah masih kuat mendayung sepeda yang tak kalah tua dengan dirinya, tiap pagi Syarifah berangkat ke sekolah. Mengajar pelajaran agama sudah jadi kebanggaannya semenjak belia. Syarifah tidak ragu sedikit pun, sepeda tua yang sering mogok jatuh rantai saat mendaki buki tidak menyusut semangatnya.
Senin ini juga sama, Syarifah mendayuh sepeda dengan penuh harapan. Hari ini merupakan hari pertama sekolah. Syarifah senang. Jalan licin tang saban hari dilaluinya tidak akan membuatnya terpeleset. Udara sejuk menjalar ke seluruh persendian. Jalan berliku-liku. Bukit-bukit. Pengunungan sepanjang mata memandang. Jurang curam, sedikit terpeselet Syarifah bisa jatuh ke bawah menghampiri rimbun pepohonan kering bekas dibakar. Syarifah tetap mendayung, sebentar lagi akan sampai ke sekolah. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya, ia tetap tidak melupakan senyum pada alam yang menemaninya.
Riuh suara tawa sudah terdengar begitu Syarifah memarkir sepeda tua di samping sepeda motor guru lain. Sudah lama tidak bertemu pasti banyak cerita yang ingin dibagi. Syarifah memperhatikan letak kerudung putih motif bunga mawar kecil. Sangat setara dengan kemeja biru muda dan rok warna senada. Syarifah tidak minder dengan penampilannya, walau ia berbeda tidak memakai jas bersimbol seperti kebanyakan guru lain. Syarifah tetap sama di mata murid-muridnya, sama-sama guru mereka.
Syarifah masuk dengan salam, sebagian ada yang menjawab sebagian lagi masih menceritakan masa liburan mereka yang menyenangkan. Beberapa guru ada yang memamerkan tas baru dengan merek terkenal, jam tangan mewah bahkan ponsel tercanggih masa kini. Syarifah tidak tergiur, dan jujur saja ia tidak punya cukup uang untuk memiliki barang-barang mahal itu.
Setelah membersihkan meja dengan kain lap seadanya, Syarifah langsung duduk di kursi yang sudah ia tinggal sebulan lamanya. Syarifah membuka laci dan mengeluarkan beberapa buku dan absensi siswa. Di tangannya sudah ada buku bahan ajar semester ini, Syarifah membuka dan larut dalam beberapa materi yang akan ia ajarkan satu semester ke depan.
Gelak tawa masih terdengar, jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh lima menit. Belum ada tanda-tanda proses belajar mengajar akan dimulai di awal pekan pertama. Guru-guru masih belum berhenti dengan cerita selama liburan. Tidak hanya ibu-ibu, bapak-bapak sekarang juga ikut meramaikan acara berbagai cerita itu.
Konsentrasi Syarifah pecah, saatnya mendengar ocehan panjang rekan-rekan yang lain. Berlibur memang bukan kebiasaan Syarifah, ia memilih merajut kerudung berbagai motif atau menjahit pakaian pesanan kerabat dan kenalan dekat. Dari menjahit Syarifah bisa menghabiskan banyak waktu, liburan pun terabaikan. Apalagi sekarang musim remaja masuk sekolah baru. Banyak pula order menjahit seragam baru untuk remaja putri yang baru lulus dari sekolah lama mereka. Syarifah merasa senang. Liburan dapat pekerjaan, artinya dapat uang juga untuk tambahan tabungannya.
Syarifah masih mendengar cerita rekan-rekan yang saling sahut-menyahut, antara khayal dan dalam nyata. Sebagian isi kepalanya terbelah pada beberapa potong baju yang belum selesai ia jahit. Sebagian yang lain memikirkan bahan aja yang itu-itu saja. Sekolah tidak menyediakan buku penuntun yang lain, Syarifah harus menggunakan buku yang sama setiap tahunnya. Mengajar dengan materi yang hanya mengandalkan satu buku penuntun rasanya kalang kabut. Syarifah harus banyak belajar dari buku lain, menambah ilmunya sebelum mengajar pada siswa-siswanya. Syarifah benar-benar bingung tidak bisa berbuat apa-apa, sudah beberapa kali ia mengajukan ke pengajaran, namun hasilnya tidak begitu mengenakkan. Akhirnya Syarifah memilih diam saja dan mengajar sesuai kemampuan yang ada.
Syarifah menghembuskan napas panjang. Siti yang duduk di belakangnya, sama-sama bukan guru tetap mencokeh pundaknya.
“Saya dengar kabar, gaji ktia semester lalu juga belum turun,” kata Siti, tampak amarah di mata dan kata-katanya.
“Kamu dengar dari siapa?”
“Kepala TU tadi bilang sama saya. Saya kok jadi heran ya? Apa karena kita gutu bantu terus hak kita diabaikan?”
“Mungkin memang belum ada dana,”
“Nggak tahulah. Saya nggak tahan begini terus. Tahun lalu juga begini, waktu dikasih hanya dua ratus ribu satu semester. Bandingkan dengan mereka ngajarnya sama dengan kita tapi dapat gaji tiap bulan!”
“Sabar saja dulu, siapa tahu Pak Kepala punya solusi lain,”
“Ah, sama saja. Pak Kelapa pun kadang lupa dengan kita. Padahal ada dana yang bisa disisihkan untuk membayar gaji kita,”
“Dana dari mana?”
“Lho? Kan ada dana BOS, dana pembangunan, dana lain?”
“Itu sudah ada jatah masing-masing kan?”
“Jadi menurutmu kita nggak ada jatah, begitu?”
“Bukan itu maksud saya, jatah kita ada mungkin saja belum turun,”
“Ada? Kalau Kepala sekolah kita pandai-pandai menyiasati dana yang masuk ke kas sekolah, kita nggak akan sesenggara ini!”
“Kenapa begitu? Masingg-masing sudah ada tempat sendiri-sendiri, dana BOS untuk apa, dana ini untuk apa, dana itu untuk apa, semua sudah jelas dan nggak bisa sembarangan!”
“Lalu kita ditelantarkan? Apa juga program pemerintah yang banyak itu kalau tidak sanggup mencapai rakyat jelata seperti kita?”
“Sudahlah, kita harus bersabar dulu,”
“Sampai kapan? Kamu mau terus-terusan begini?
“Tidak juga. Kalau kita sabar kali saja kita masuk dalam daftar pemutihan,”
“Pemutihan? Itu cuma omongan gombal siang hari, kita berdua sudah lama mengabdi, bahkan kamu sudah dua puluh tahun. Kenapa juga kamu belum diangkat juga jadi pegawai?”
“Mungkin belum,”
“Belum? Kamu lupa kemenakan Pak Kepala yang diangkat tahun lalu? Baru satu dua tahun mengabdi langsung jadi. Kamu sendiri sudah dua puluh tahun belum jadi-jadi juga!” nada suara Siti mengejek.
Syarifah terkena sihir itu. Bukan hanya Siti yang mengejek, suami dan anak-anak sudah jauh hari melarang Syarifah ke sekolah. Mereka sudah lelah mendengar omongan tetangga yang selalu bertanya kapan Syarifah diangkat jadi pegawai.
“Harapan itu selalu ada,” kata Syarifah tersenyum. Siti tak acuh dan berlalu keluar kantor yang makin panas dengan hawa tawa guru-guru lain. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Belum bunyi juga bel hari ini. Bel panjang hari pertama sekolah.
***
“Belum dikasih juga?” tanya Ridwan penuh emosi. Syarifah mengeleng. “Mak sudah lama mengabdi kenapa mereka tidak perhatikan itu?”
Syarifah diam saja. Malam ini gelap gulita, lagi-lagi listrik negara padam. Syarifah menuang kopi panas ke empat cangkir biru tua.
“Berapa gaji Mak disana? Biar saya yang bayar!” Ridwan mengeluarkan isi dompetnya.
“Sabarlah, Ridwan,” sela Bapak, “Kau tak lihat Makmu sangat lelah?”
“Mak sendiri yang buat lelah, dua puluh tahun mengabdi tidak jadi pegawai juga. Orang lain begitu selesai kuliah langsung jadi. Negeri macam apa ini?”
“Negeri penuh tipu daya, bang,” sahut Kurnia, adiknya yang baru duduk di samping Bapak. Meniup kopi yang masih panas. “Mak masih mending belum dibayar, masih ada kita yang bayar hidup kita. Orang lain masih lebih susah dari kita, lihat di televisi banyak yang tidak bisa ke sekolah karena tidak punya biaya!”
Kau tahu apa? Sekolah saja belum selesai,” Ridwan tidak mau kalah, “Kau pikir kerja Mak sebagai guru itu mudah? Pagi mengajar, malam belajar lagi, bahkan bawa lembar jawaban untuk periksa di rumah, itu pun tidak ditambah bayarannya!”
“Sudahlah, Ridwan,” Bapak menengahi, “Kau minum dulu kopi itu sebelum dingin. Urusan itu biarkan Makmu yang pikirkan,”
“Sebagai anak, saya tidak terima, Pak!” Ridwan bersikukuh. “Besok saya ke sekolah dan minta penjelasan dari kepala sekolah!”
Suara jengkrik membuat malam semakin suram.
“Mak ikhlas, Ridwan,” akhirnya Mak bicara. “Mak sudah lama mengajar, jiwa Mak ada bersama siswa-siswa Mak. Kau sudah berhasil seharusnya berpikir lebih dewasa. Tak apa Mak tidak dibayar asalkan ilmu Mak tidak hilang. Kau tahu sendiri satu huruf saja kita ajarkan, beribu pahala datang menemui kita sebagai ganti!”
Lampu menyala. Tampak wajah Ridwan tidak puas dengan ucapan Mak. Kurnia meniup lampu teplok. Mati bersamaan padamnya listrik negara lagi.
“Bayar atau tidak sama saja, mai juga kau!” cetus Ridwan kesal.
Bapak meraba-raba korek di lantai semen licin rumah mereka. Lampu teplok kembali menyala.
“Kau tidak perlu khawatirkan Mak, Ridwan,” Syarifah menyeruput kopi panas. “Tak jadi pegawai pun Mak sudah tidak apa, kau sudah berhasil kami sekolahkan bahkan sudah jadi orang sukses!”
“Di mata orang saya memang seorang pegawai dan sudah sukses, tapi Mak tidak ada harga di masyarakat kita karena masih guru bantu bertahun-tahun!”
“Tak apa, Ridwan, biarkan Mak bahagia dengan alan yang sudah Mak pilih,”
Ridwan memperhatikan putra sulungnya dengan bangga. Syarifah memang bukan pegawai, tintanya sangat berpengaruh di raport siswa di akhir semester. Penanya sudah tua, setua Syarifah di empat puluh tahun belum pegawai juga. Layaknya cita-cita kebanyakan orang kampung ini.
Syarifah memandang orang tercinta satu persatu. Suami, Ridwan dan Kurnia. Mereka adalah kebahagiaan tak terhingga bagi Syarifah. Ia tidak bisa memungkiri rasa sedih sering merayapinya mendengar banyak orang yang lulus pemutihan pegawai negeri. Syarifah masih tertinggal di tempat yang sama, sering kabar terdengar berkas Syarifah tertinggal. Bukan sekali dua kali Syarifah berikan kembali berkas-berkas yang diminta. Berulang kali. Hasilnya tetap sama, ia tidak dipanggil-panggil juga jadi pegawai.
Benar kata Siti, mereka sudah tua, dianggap sudah tidak berkompetensi untuk mengajar jiwa-jiwa muda. Syarifah mencintai profesinya sebagai pengajar, dari kecil hingga sekarang. Ia tidak mau memisahkan diri dari pekerjaan ini. Syarifah tetap Syarifah. Belum pernah terbersit di benaknya akan berhenti mengajarkan agama di sekolah.
Malam itu, listrik negara tidak juga hidup sampai larut. Syarifah memasang lampu teplok di sudut kamar. Membuka buku, besok ia akan mengajar lagi. Pagi-pagi ia akan mendayuh sepeda menuju sekolah. Bertemu siswa-siswa. Belajar bersama mereka.

***
Cerpen ini dimuat di Majalah Ummi, Mei 2013
Cerpen di atas merupakan naskah asli sebelum diedit editor handal Ummi. Selamat membaca :)

4 komentar:

  1. Wah keren, cerpennya dimuat dimjalah Ummi. Kisah yang sungguh inspiratif. Selamat ya kak :).

    Kak, tengok postingan aku yg ini dong : http://catatandewisri.blogspot.com/2014/05/hidup-bahagia-dan-sejahtera-di-usia.html.
    Dan jika berkenan tinggalkan komentar ya kak hehee makasih banyak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah... terima kasih ya sudah membaca. Semoga bermanfaat :)

      Delete
  2. sama2 kak. makasih juga ya udh mau comment di postingan aku yg tadi hehhee :)

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90