Top Ad 728x90

Friday, May 23, 2014

, , ,

Sebungkus Jamblang

Perempuan, Kerja, Jamblang


Di saat masyarakat khususnya generasi muda terlena dengan warung kopi berfasilitas internet gratis, potret yang sangat menarik dan menjadi fenomenal di Banda Aceh tiap tahun adalah sosok perempuan di pinggir jalan raya. Bagi saya, potret ini tidaklah bisa dipandang sebelah mata karena setiap senyum, tawa dan candaan mereka bisa menghasilkan sesuatu yang rasanya manis, asam maupun asin.
Perempuan-perempuan ini menjajakan buah berry ungu khas Aceh, atau lebih dikenal dengan sebuah buah jamblang, dalam Bahasa Aceh disebut Boh Jambe Kleng. Masyarakat yang lalu-lalang di seputar jalan utama menuju Darussalam, Banda Aceh, sudah tidak asing dengan penjaja buah yang jika disantap akan membuat lidah maupun gigi berubah jadi ungu. Di antara mereka yang menjadi penjual, banyak kisah menarik sehingga tercipta suasana lelah, sabar dan bersaing secara objektif bersama sesama penjual lainnya.
Suasana menarik justru hadir dari mereka yang datang jauh-jauh ke pusat Ibu Kota Provinsi hanya untuk mendapatkan peruntungan. Musim jamblang menjadi satu-satunya alasan mencari rejeki lebih dari pada berdiam diri di rumah tanpa melakukan pekerjaan. Menjual sebungkus jamblang dengan harga Rp.5000,00 saja bisa membuat dapur mereka tetap mengepulkan asap di tiga kali jatah makan.
Sedikit saya berbagi tentang mereka, paling tidak bisa membuat kita terpesona sambil mencicipi ngilunya aroma jamblang!

Kisah Aminah


 Aminah, salah seorang perempuan penjual jamblang di antara segitu banyak perempuan lain di perempatan jalan Panglima Nyak Makam, Banda Aceh. Jika Anda melewati jalan sebelum mencapai Hotel Hermes Palace, Anda pasti akan menemui mereka saat musim jamblang tiba, walau terkadang mereka tidak menetap di satu daerah menikmati hari-hari dalam sabar menanti pembeli.
Tidak jauh berbeda dengan perempuan penjual jamblang lainnya, Aminah duduk termenung sambil menjaga jamblangnya agar tidak terkena sengatan matahari. Jika tidak, Jamblang yang dibawanya dari jauh akan layu dan tidak enak lagi di makan. Aminah menjual satu bungkus jamblang dengan harga lima ribu rupiah untuk ukuran plastik seperempat besarnya, bila sore tiba terkadang sepuluh ribu ia berikan tiga bungkus. Lagi-lagi tidak sebanding dengan keringatnya menuju tempat jualan ini.
Kebanyakan mereka datang dari Ujong Batee, pantai indah yang kerap dijadikan objek wisata akhir pekan dan di sana pula pohon-pohon jamblang banyak ditemui. Aminah juga berasal dari Ujong Batee, pagi-pagi sekali ia harus bangun membereskan segala keperluan rumah tangga lantas membeli jamblang dari pemetik. Aminah tidak memiliki pohon sendiri sehingga harus membeli jamblang pada orang lain yang mempunyai pohon. Aminah tinggal bersama suami sedangkan anak-anaknya sudah berkeluarga dan tidak tinggal bersama mereka lagi.
Saya mencoba melahirkan suasana lebih ringan saat berdiskusi dengan perempuan ini. Sengaja saya tanyakan padanya, “Kenapa tidak meminta suami petik jamblang, Bu?”
Aminah terkekeh sebelum menjawab, “Laki-laki kan malas, tidak mau melakukan hal-hal begini!”
“Oh begitu ya?”
“Iya, padahal bisa petik di pohon orang, jadi kami bisa beli lebih murah!”  
Aminah mengulurkan senyum dengan manis di antara getir hatinya. Saya pun tidak mau mengubris lebih dalam lagi isi hati perempuan ini, saya banyak tanya akan membuat banyak pula luka terbuka di usianya yang ingin bahagia saja.
Sosok Aminah yang tiap pagi menyusuri waktu agar bisa berjualan jamblang, untuk bisa menopang usia senjanya bersama suami. Aminah tidak mau bergantung pada anak-anaknya, ia sangat ingin mandiri di usia yang tidak lagi muda. Dengan menjual jamblang – saat musim – ia dan suami bisa bernapas lega.
Berada di jalan yang tidak dilalui labi-labi – kendaraan umum di Banda Aceh – akan membutuhkan banyak biaya. Tidak hanya itu, ongkos labi-labi dari Ujong Batee ke pusat kota biayanya lebih mahal. Sepuluh ribu untuk pulang pergi, jika jam enam sore labi-labi sudah jarang beroperasi ke tempat tinggal mereka. Padahal sore hari begini banyak sekali pembeli yang ingin mengecap rasa jamblang.
Selain ongkos labi-labi, tambah ongkos becak sepuluh ribu untuk pulang pergi ke di Jalan Panglima Nyak Makam. Berjalan kaki menuju tempat jualan ini sangatlah terasa jauh apalagi tengah hari, kebanyakan mereka mulai berjualan sehabis dhuhur. Karena ini merupakan waktu yang tepat untuk berjualan, dan pembeli juga ingin memakan buah segar.
Aminah mengatakan getir hatinya sambil lalu, dengan mata terbinar dan tersenyum ke arah saya. Sebuah perjuangan yang tidak bisa diriwayatkan oleh Aminah sendiri. Aminah terlihat sangat tegar menunggu pembeli walaupun pemasukan yang diterima tidak selayaknya. Aminah mencari sedikit rejeki sebelum lelah tiba di malam hari. Sedikit demi sedikit ditabung untuk kebutuhan hidup mereka berdua. Saya tidak bertanya lebih jauh mengenai suaminya, saya pikir Aminah punya privasi yang tidak sepatutnya saya langkahi.
“Kenapa tidak ke Darusaalam saja, Bu?”
“Di sana sudah banyak orang lain!”
Saya memahami persaingan dengan penjual lain.

Kisah Zainab

Seperti kata Aminah, di trotoar depan Fakultas Ekonomi, Unsyiah, ada Zainab yang saya temui di hari selanjutnya, jarak sepuluh kaki ke kiri dan kanan juga terdapat penjual lain. Saya harus membeli jamblang jika ingin berbicara dengan mereka, tiap hari beli jamblang bisa-bisa perut saya sakit karena rasa asam melilit perut, namun karena kisah ini harus saya telurusi mau tidak mau dibeli juga. Mana mungkin saya hanya mengajak mereka mengobrol panjang lebar sedangkan saya tidak membeli jajanan mereka.
Zainab juga membeli jamblang dari pemetik untuk dijual. Tidak jauh berbeda dengan Aminah, Zainab juga bertutur tidak sempat memetik jamblang, namun ia menambahkan lebih tepatnya tidak punya pohon Jamblang. Zainab membeli  jamblang dengan harga 13 sampai 20 ribu per bambu, satu bambu bisa sampai enam mug (1 mug sama dengan 1 plastik isi seperempat). Satu plastik kemudian dijual dengan harga Rp.5000,00. Belum lagi jika tidak terjual, jamblang berubah tidak enak lagi di makan esok hari dan terpaksa dibuang. Zainab tidak perlu repot membeli jamblang pada agen karena suami setiap pagi sudah membawa pulang jamblang untuk dijual.
Zainab memilih tempat ini karena banyak mahasiswa yang tiap hari melintas. Zainab masih muda, ditemani anak dan suami ia ingin jamblangnya habis hari ini. Jika Aminah harus naik labi-labi untuk sampai ke tempat jualannya, Zainab malah di antar-jemput oleh suaminya. Sebuah dukungan pasti akan membawa hasil yang maksimal pula bukan?

Kisah Siska

Kita lupakan Aminah dan Zainab. Seorang perempuan lain terlihat lebih menarik di mata saya. Ada Siska, perempuan imut yang membantu ibunya menjual jamblang tidak jauh dari Zainab menunggu jamblangnya sampai habis terjual. Gadis imut ini baru kelas satu sekolah dasar. Ibunya menunggu jemblang terjual beberapa meter di samping kanannya.
Siska senang sekali menjadi penjual jamblang di antara orang tua, dengan senyum manis mampu membuat pembeli singgah di depannya. Siska menjual jamblang untuk membantu orang tuanya. Siska tidak meminta royalty setelah jamblang itu terjual, orang tua hanya memberikan jajan tiap pagi setiap Siska akan ke sekolah.

Inilah hidup yang harus disemarakkan dengan kerja keras. Perempuan-perempuan berbeda generasi tersebut hanya segelintir kisah di antara perempuan lain. Mereka hanya saya temui saat musim jamblang saja, barangkali di musim jamblang berikutnya mereka sudah tidak menjajakan jamblang lagi karena satu dan lain hal.
Bahwa hidup harus dibiarkan tetap bernyawa, karena itu, apapun harus dilakukan supaya ekonomi keluarga berjalan sebagaimana mestinya. Entah apa yang akan Aminah, Zainab, maupun Siska akan lakukan jika musim jamblang berakhir. Tentu, mereka punya kemauan dan kesanggupan masing-masing supaya senyum tetap terkembang begitu perut terisi.

Hidup ini harus dijalani saja, bukan?***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Gerakan Perempuan Aceh.Tonton videonya di Channel Youtube ini.


18 komentar:

  1. Saran; bukannya mestinya ditulis berry ungu bang? bukan strawberry ungu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah... tks ya sarannya. Akan segera diganti :)

      Delete
  2. kisah menarik ya, jadi miris bacanya, saya suka sekali makan jamblang...

    ReplyDelete
  3. bagus banget. sangat inspiratif.

    ReplyDelete
  4. @putra:
    Makasih ya Rinal, semoga kehidupan mereka lebih baik ya...

    ReplyDelete
  5. Sedih kali liat kondisi org tu ya? Moga mudah rezeki amin!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Semoga dimudahkan jalan mereka oleh-Nya :)

      Delete
  6. Jamblang enaknya dicocol pakai pliek atau gula garam hmmm

    ReplyDelete
  7. Keren bg, byk hikmah bs dptik: bsyukur n lbih mhrgai prmpuan.. dtggu crita lain jg..

    ReplyDelete
  8. Ohh ternyata buah ya..kl di daerah jawa barat jamblang itu nasi jamblang ..kuliner khas dr Cirebon ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, rasanya manis, asam, asin.
      Iya, saya prnah dengar nasi jamblang itu ;)

      Delete
  9. Benar kata ibu itu, laki-laki tak akan mau metik2, tapi menurut saya bukan karena malas, melainkan karakter laki-laki yang tidak suka dengan pekerjaan sepele seperti itu. Buktinya mau juga kan kalau urusan antar jemput? :))

    ReplyDelete
  10. @Lusiana T:
    Benar Mba, demikianlah kacamata para ibu di ranah pengetahuan mereka yang begitu. Terima kasih ya, semoga bermanfaat :)

    ReplyDelete
  11. keknya pernah liat adek itu, tp dimana ya ?

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90