Top Ad 728x90

Saturday, May 3, 2014

, , , ,

Syariat Islam dengan Celana Ketat dan Jilbab



Pada dasarnya ruang lingkup syariat Islam hanya bisa dibicarakan di Aceh yang merupakan salah satu daerah yang menerapkan aturan sesuai peraturan dalam Islam. Apabila ditinjau lebih mendalam, penerapan syariat Islam juga pernah terbersit oleh beberapa daerah lain di Indonesia walaupun sampai sekarang belum ada yang menyusul Aceh. Sejak tahun 2003 Aceh sudah dipenuhi dengan berbagai atribut keagamaan, hal ini berdasarkan anjuran Islam yang sebenarnya sudah diketahui oleh masyarakat sendiri.
Pada pelaksanaanya secara berkelanjutan, sampai di tahun 2013 syariat Islam masih menjadi masalah khusus untuk orang luar Aceh berkunjung ke Serambi Mekkah. Perhatian lain juga dari masyarakat Aceh yang mengerjakan perintah Islam semata-mata karena ketakutan pada aturan. Daerah lain yang barangkali akan meniru Aceh menerapkan syariat Islam selayaknya tidak hanya memperhatikan yang terlihat diluar secara fisik, melainkan sesuatu yang terbenam di dalam hati harus dibenahi terlebih dahulu.
Aceh seakan jadi panutan daerah lain dalam rangka pelaksanaan syariat Islam, berdasarkan lintas agama Aceh memang kental sekali budaya dan peradaban Islam. Sedikit saja ocehan di Aceh yang dirasa tidak mengena maka seluruh Indonesia akan merasakan hal yang sama. Syariat Islam sudahlah menjadi aturan baku yang seharusnya dilaksanakan dengan sebenarnya dan sungguh-sungguh. Syariat yang dilaksanakan tidak hanya melibatkan fisik lantas psikis tidak dipedulikan sama sekali.
Sebuah Qanun yang menuntun cara berpakaian di Aceh sebetulkan dipahami betul oleh semua masyakarat Islam, tidak hanya Aceh namun seluruh masyarakat Indonesia yang sudah mengatasnamakan Islam mengetahui adab berpakaian. Adapun Qanun Nomor 11 Tahun 2002 pasal 13 mengatakan bahwa tata cara berpakaian adalah dengan menutup aurat, baik, sopan, tidak menunjukkan lekuk tubuh, serta tidak menimbulkan nafsu pada banyak pandangan. Sedangkan pada pasal 23 mencantum hukuman setiap pelanggaran berupa cambuk, denda, maupun penjara.
Qanun tersebut tertulis dan harus dilaksanakan oleh masyarakat Aceh baik laki-laki maupun perempuan. Belakangan, penerapannya ternyata tidak sejalan dengan aturan yang tertulis tersebut. Qanun berdiri sendiri, selanjutnya qanun-qanun lain lahir dengan begitu banyak peraturan namun pelaksanaannya hanya terfokus pada dua titik saja yaitu celana ketat dan jilbab!
Jelas bahwa perempuan harus menutup aurat sesuai qanun, lantas pelaksanaannya syariat Islam seakan baru menyentuh perempuan semata. Perempuan yang berpakaian tidak sopan, tidak memakai jilbab maka akan terang-terangan ditangkap polisi syariat. Pada kesempatan lain, razia celana ketat dan jilbab marak dilakukan di berbagai daerah di Aceh. Tidak bisa dipungkiri bahwa razia ini membuat perempuan Aceh was-was saat keluar rumah. Kesalahan bukan hanya terletak pada syariat Islam, pada masyarakat yang menjalankan serta pada penegak keadilan syariat tersebut. Masyarakat sudah pasti mengetahui betul aturan yang sudah tertera dalam qanun dengan tidak memakai pakaian yang ketat walaupun sebagian masih melanggar. Penegak keadilan yang dinamai polisi syariat tentu juga harus paham bagaimana cara mencegah orang melakukan hal demikian. Kebijakan justru terletak pada pimpinan di Aceh yang salah kaprah dalam mencegah pemakaian celana ketat. Perempuan-perempuan yang tertangkap razia mengenakan celana ketat lantas dikasih rok, pada perempuan yang tidak mengenakan jilbab lantas dikasih jilbab. Aturan seperti inilah yang semestinya ditelaah kembali, perempuan Aceh tidak boleh pakai celana ketat pimpinan di Aceh harus menyeleksi seluruh pakaian yang dijual ke Aceh. Pasar-pasar yang disterilkan tanpa menjual celana ketat, hanya menjual rok-rok saja serta baju sopan akan melahirkan protes dari pelaku pasar. Simalakama ini dirasakan pemerintah dengan membiarkan celana-celana ketat terus terpajang rapi di pasar, baju ketat terus dibeli konsumen. Masyarakat Aceh akan terus mengenakan celana ketat dan baju ketat selama kedua pakaian tersebut dijual dengan sangat murah di pasar-pasar Aceh. Jalan yang ditempuh pemerintah dengan membagi-bagikan rok maupun jilbab sampai kapan pun tidak akan berhasil, masyarakat hanya takut pada aturan bukan dasar keinginan sendiri.
Penerapan syariat Islam yang seakan sepihak sangat menyudutkan perempuan. Benar perempuan salah karena berpakaian ketat dan tidak berjilbab, solusinya bukan membagi-bagikan rok maupun jilbab. Anggaran yang dikeluarkan dalam membeli rok dan jilbab tersebut bisa digunakan dalam rangka peningkatan pemahaman masyarakat Aceh terhadap syariat itu sendiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa di seluruh Aceh terdapat banyak ulama besar yang bisa memberikan pemahaman mendalam terhadap Islam. Pendekatan pemerintah dengan ulama seperti sambil lalu, suara ulama begitu keluar langsung diserbu pendapat lain yang menyudutkan ulama-ulama. Masalah lainnya juga karena ulama dan pemerintah tidak melakukan pendekatan khusus, hanya menyuarakan baik dan tidak baik, benar dan tidak benar, serta halal dan haram. Masyarakat modern tentu tidak serta merta mau menerima perintah dengan sekali tunjuk, masyarakat yang sudah kritis akan memutar balik fakta lalu menyalahkan aturan yang diterapkan pemerintah.
Syariat Islam dengan celana ketat dan jilbab membuat arti syariat sebenarnya hilang ditelan kedua jenis pakaian tersebut. Syarita yang hanya fokus pada bentuk tubuh dan hawa nafsu sudah mengalihkan definisi dasar syariat dalam Islam. Syariat bukanlah sebuah benda yang harus dipoles fisiknya saja sedangkan batin tidak berisi sama sekali. Aturan yang mengharuskan perempuan di Aceh berpakaian sopan tidak pula diikuti aturan terhadap laki-laki yang tidak berpakaian sopan. Belakangan baru muncul aturan pelarangan laki-laki bercelana dibawah lutut, rasanya sudah sangat terlambat untuk sebuah aturan mengingat berulang kali razia celana ketat dan jilbab untuk perempuan dilaksanakan.

Syariat sudah terlena dengan celana ketat dan jilbab, pakaian ketat dan jilbab selalu dirazia. Ke mana polisi syariat dan pemerintah yang menandatangani aturan syariat saat pinggir jalan dipenuhi penjual di waktu magrib, pasar-pasar yang masih menjual celana ketat dan baju ketat, serta koruptor duduk santai di warung kopi. Selamanya syariat akan sulit ditegakkan selama perhatian pemerintah hanya pada bentuk fisik yang membawa nafsu bagi mata yang melulu memikirkan itu! 

3 komentar:

  1. iya betul, namun untuk saat ini aturan-aturan baku yang telah ada perlahan terkikis oleh peradaban yang semakin tidak tentu arahnya,, dalam berbusana, wanita muslim wajib menutup auratnya..
    kenapa ya para cewek sekarang kok tidak risih dengan memperlihatkan bagian tubuhnya??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. Semua kembali pada kesadaran masing2 akan agama yang dianut.

      Delete
  2. ini sudah merupakan tanda-tanda akhir zaman dimana para wanita berpakaian namun pada hakekatnya telanjang. Saya sangat prihatin keadaan wanita muslimah sekarang ini, apalagi muncul istilah jilbobs dikalangan masyarakat.

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90