Top Ad 728x90

Monday, June 30, 2014

,

18 Menit Bersama Air Kehidupan

Air Untuk Kehidupan Nusa Tenggara Barat



Di mana pun itu, setiap kehidupan membutuhkan air!
Anggapan di atas tidak saya kutip dari ahli manapun. Saya sendiri merupakan manusia yang tidak akan pernah bisa menahan dehidrasi dalam semenit saja, kecuali saat berpuasa. Tidak bisa dibayangkan jika suatu tempat mengalami curah hujan sangat minim sehingga penghijauan berkurang dan kekeringan tidak bisa dielakkan. Selama ini, saya hanya melihat dan membaca berita di belahan dunia Arab yang menjalani kehidupan mereka dalam kekeringan teramat sangat. Ternyata, di pedalaman Indonesia juga masih terdapat masyarakat yang memikul bergalon-galon air dari mata air di dataran tinggi untuk penghidupan lebih berseri.

Belum lama ini, bersama Dompet Dhuafa – salah satu lembaga independen yang bekerja dalam rangka kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah – saya berkesempatan mengunjungi Semoyong, pedalaman Lombok yang mengalami masa-masa kritis kekurangan air sampai saat ini. Sebelumnya, daerah kering di Desa Kidang, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah ini bertahun-tahun tidak merasakan nikmatnya kehidupan mereka bersama air. Jauh sebelum 22 Juni 2011, saat Dompet Dhuafa memberikan bantuan, masyarakat dataran rendah Semoyong ini mencari air di daerah-daerah lain di mana mata air masih mengalir. Jarak yang ditempuh berkilo meter sehingga mereka lupa mengukur jalan karena memikul air begitu berat mencapai rumah mereka.
Dompet Dhuafa berdedikasi memberikan bantuan kepada masyarakat Desa Kidang, Nusa Tenggara Barat ini dengan melakukan pengeboran mata air. Di bantu masyarakat setempat pengeboran ini dilakukan sehingga mencapai mata air di kedalaman 75 meter. Bagi saya yang tinggal di daerah dengan curah hujan sangat merata angka tersebut sangatlah besar sekali.
Jauh meninggalkan 2011, masyarakat Kidang seakan melupakan kehidupan mereka yang kering. Air bor yang difasilitasi dananya oleh Dompet Dhuafa tersebut diberi nama Air Untuk Kehidupan. Setidaknya masyarakat setempat sudah bisa bernafas lega dalam menghilangkan dahaga maupun kulit kering akibat tidak tersentuh air.
Ceritanya jauh berbeda ketika Burhanuddin, salah seorang warga yang dipercaya sebagai ketua kelompok mengatakan bahwa Air Untuk Kehidupan tersebut tidak selamanya bisa menyala. Pengeboran mencari air di kedalaman hampir mencapai perut bumi tersebut tidak lantas membuat keluarga bahagia di daerah ini. Mereka kembali diajarkan sabar, saling berbagi, menahan dahaga saat air tidak keluar sebagaimana harapan, dan tentu saja mereka sudah sangat terbiasa dengan itu.
Menurut Burhanuddin, air bor tersebut dinikmati setidaknya 100 kepala keluarga. Menyiasati kekurangan air mereka membagi kelompok-kelompok kecil supaya kehidupan benar-benar layak. Air Untuk Kehidupan tersebut dihidupkan dalam jarak waktu 4 jam sekali dengan durasi 18 menit sebelum berhenti mengalir. Pagi hari dihidupkan sekitar jam 6 untuk satu kelompok, kemudian jam 10 untuk kelompok lainnya, dan seterusnya selama rentang waktu sehari. Satu keluarga juga dibatasi hanya bisa menerima air sebanyak 6 wadah plastik berukuran besar seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini. Air tersebut digunakan secukupnya dalam waktu seharian penuh. Dan jika listrik padam maka masyarakat setempat tidak bisa menikmati air di setiap sendi kehidupan mereka. Sebagian mereka yang memiliki kemampuan ekonomi berlebih sudah membeli penampungan air dengan harga di atas 1 juta rupiah. Sedangkan mereka yang memiliki kehidupan kurang beruntung cukup menahan haus berkepanjangan dalam waktu tak menentu.


Selama 18 menit tersebut pula mereka sudah diajarkan cara berhemat. Kehidupan mereka sangatlah timpang. Di saat air berkurang dari hari ke hari mayoritas masyarakat Kidang tidak mendapatkan pekerjaan layak. Kaum laki-laki lebih banyak mengurus ternak sedangkan kaum perempuan bekerja sebagai penenun. Ternak sapi kadang tidak terurus, bahkan kandangnya terletak di dekat mata air kehidupan yang diambil warga. Hasil tenunan pun tidak kalah pilunya di saat tidak ada pembeli yang berminat mengambil hasil kerja keras mereka.
Masyarakat Kidang, umumnya di pedalaman Semoyong, mereka membutuhkan air untuk kehidupan layak. Anak-anak tumbuh dalam kekeringan dan tidak tercukupi kebutuhan dahaga mereka. Saya hanya berharap, barangkali ada jiwa lain yang terketuk pintu hati mereka selain Dompet Dhuafa. Tidak bisa dipungkiri dengan air sebanyak itu, dengan tata cara pelaksanaannya, dengan durasi hidup mati air tergantung pada listrik, kehidupan mereka benar-benar jauh dari makmur.
Dengan kata lain, mereka juga butuh air bersih untuk diminum. Air Untuk Kehidupan tersebut belum tentu mampu memenuhi air minum jika dilihat dari ketergantungan kebutuhan lain. Air Untuk Kehidupan tersebut juga sangat jauh dari kata sehat jika dilihat sumber air mengalir berdiri di antara kandang sapi dan durasi 18 menit. Mereka yang menerima air di kesempatan pertama tentu saja sangat berbeda dengan mereka yang menerima air di kesempatan terakhir. Air yang mengalir tanpa penyaringan lantas diminum sudah bisa dibayangkan bagaimana kehidupan generasi penerus di dataran kering ini.

Saya merasa, mereka, di Kidang, Nusa Tenggara Barat ini, sangat butuh perhatian lebih dari berbagai pihak. Pemerintah yang abai kita lupakan saja karena masyarakat ini sudah sangat sabar menghadapinya. Mereka tidak manja, hanya kehidupan mereka tidak seberuntung kehidupan kita. Saat ladang mereka mengering, penghasilan tidak ada, air kehidupan berhenti mengalir, entah apa yang mereka rasa.

Semoyong jadi sepenggal kisah yang terlupa, karena mereka ada kita pun bisa menyelami hidup lebih bermakna! 

9 komentar:

  1. Inspiratif Bai.
    Jadi, ini tugas dari hasil perjalanan kemarin ya?

    ReplyDelete
  2. Terimakasih ya Ki.
    Iya, jika melihat sendiri lbih perih lagi dlm kondisi mrka yg benar-benar "kering"

    ReplyDelete
  3. One of the most stunning gemstones has to be the ruby with
    its rich deep red colour it is lovfed by jewellery
    makers in creating there handcrafted jewrllery designs.
    Satin headbands and jewel-encrusted barrettes annd clkips make a huge statement at
    very little cost. Whatever tthe name is, it iss very much ideal for all the occasions
    like bridal party, New Year's Eve, holiday gett together, wedding day,anniversary,special sbows and even ffor everyday fashion.

    my web site: Portsmouth wedding jewellery designer

    ReplyDelete
  4. Kasihan sekali orang Kidang.
    Cerita yang inspiratif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, smg mereka diberikan kesabaran dan ketabahan ya. Tks sdh mampir.

      Delete
  5. Ya Tuhan masih ada kehidupan demikian di negeri kita, miris sekali!

    ReplyDelete
  6. Howdy! I know this is kind of off topic but I was wondering which blog platform are you using for this site?
    I'm getting fed up of Wordpress because I've had problems with hackers
    and I'm looking at alternatives for another platform.
    I would be great if you could point me in the direction of a good
    platform.

    Take a look at my homepage; Algatrium

    ReplyDelete
  7. I'm so pleased that I stumbled on your blog.
    You truly know what you're writing about, and you made me feel like I should learn more about this.


    my weblog :: get rid of acne scars

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90