Top Ad 728x90

Sunday, June 1, 2014

, , , , ,

Anak Keempat

Anak, Perkawinan, Pernikahan


Hamil lagi? Mana mungkin? Baru bulan lalu aku menceraikan ASI untuk si bungsu. Aku harus menghitung ulang tanggal halangan bulan lalu. Aku berharap perhitungan ini salah. Bulan lalu aku halangan sekitar tanggal dua atau tiga. Bulan ini sudah hampir sampai di penghujung. Yang benar saja?
Hari terus berlalu, ini tanggal lima belas bulan kedua aku tidak datang bulan. Aku juga merasa aneh. Tiap melihat ikan asin aku langsung muntah-muntah, padahal aku paling suka makan ikan asin ditemani sayur daun ubi. Saat ini, membayangkan saja aku bisa tidak selera makan.
Tadi pagi, aku muntah-muntah tidak karuan. Sampai siang begini, matahari terik dan aku kepanasan, mual dan muntah juga belum hilang. Tidak mungkin terus percaya tidak ada masalah apa-apa atau sekadar masuk angin.
***
Sudah bulan ketiga aku tidak halangan. Aku sama sekali tidak berniat periksa ke puskesmas. Ke bidan di ujung kampung, sama juga, tidak akan kulakukan. Semenjak mual-mual dan muntah satu bulan lalu, aku juga jarang berinteraksi dengan tetangga. Semua keperluanku dicukupi suami yang pergi pagi pulang sore.
Tiap hari aku bersemedi rumah. Menunggu keajaiban datang bulan. Sejak kelahiran si sulung berumur delapan tahun kini, aku sudah membulat tekad tidak akan mengandung lagi. Namun dua tahun kemudian adik si sulung lahir, anak perempuan yang tidak mau kukucirkan rambutnya. Dan dua tahun lalu aku baru melahirkan bayi tembam yang tiap malam merengek menganggu tidurku.
Bersama bulan ketiga kupastikan hamil lagi. Kenapa harus aku yang hamil terus? Si Ainun, tetangga rumahku, sudah lima belas tahun kawin belum hamil-hamil juga. Ainun pernah berobat ke mana-mana, belum ada tanda-tanda akan mengandung. Aku yang tidak menginginkan punya anak lagi, terus saja mengandung!
Ainun bertanya padaku, apa resep agar bisa punya anak? Resep? Ainun pikir aku sedang membuat kue bolu? Ada-ada saja pertanyaan si Ainun itu.
Kenapa aku tak ikut KB? Si Ima, setelah ikut KB, dua bulan kemudian langsung melar. Ima malah ngeluh dan menyesal ikut keluarga berencana. Berencana apa? Katanya hanya merencanakan waktu akan mengandung lagi. Kalau ingin punya anak, KB bisa dilepas. Tapi, si Ita, dua tahun lepas KB, sampai sekarang belum beranak juga. Lain lagi dengan Muna yang malah langsung beranak selepas lepas KB. Aku bingung.
Aku memang tidak ingin punya anak lagi. Tapi aku tidak mau KB. Ini sudah pilihan tepat. Lain halnya dengan suamiku, dia tidak mau tahu aku lelah melahirkan anak terus-terusan. Aku juga capai membesarkan tiga anak yang selalu berulah. Apalagi si sulung. Seluruh kampung sudah memvonis dia. Musim rambutan dia panjat rambutan orang tanpa meminta. Mangga di rumah tetengga sedang berbuah, dia malah panjat malam hari. Belum lagi jambu di rumah Ainun yang dia petik lalu dijual. Ainun marah besar. Untuk dimakan sendiri, Ainun tidak masalah. Tapi si sulung malah menjualnya. Ainun yang punya pohon jambu belum pernah menjualnya sendiri. Ainun menegur. Si sulung lari terbirit-birit. Aku geram. Ainun melapangkan dada. Menerima tapi perang dingin denganku, sindirnya aku tidak bisa mengajari baik buruk pada si sulung.
Lima bulan sudah. Perutku semakin membesar. Selera makanku bertambah. Rasanya berat badanku juga naik beberapa kilo.
***
Bulan ketujuh. Tandanya sudah sangat jelas. Selangkah pun aku tidak keluar rumah. Aku tidak mau orang lain melihat hamilku. Di kampung ini semua jadi bahan ejekan. Aku merasa mereka mencemoohku karena mengandung lagi.
Tugasku sekarang, masak, mencuci, tidur, menonton tivi. Ketiga anakku yang keluyuran di luar rumah, aku tidak peduli. Yang penting mereka masih ingat pulang. Selain keluarga, tidak ada yang tahu aku hamil. Jika ada yang datang bertamu, aku memilih sembunyi di kamar. Aku tidak ikut lagi kegiatan ibu-ibu. Tidak ke undangan pesta di kampung. Tidak ke mana-mana.
Ainun pun tidak tahu aku mengandung kalau saja mulut si sulung bisa diplester. Si sulung dengan enteng pamer ke Ainun akan punya adik lagi. Pulang dari situ, kumarahi di sulung, tapi dia malah nyengir dan tertawa.
Lain halnya dengan kedua adik si sulung. Di acara arisan ibu-ibu mereka minta nasi lebih untukku yang sedang hamil. Naas sudah. Seluruh kampung tahun aku hamil.
Sorenya Ainun bertandang ke rumah. Mau tidak mau aku membukakan pintu untuknya. Ainun membawa masakan enak. Ada kerang dimasak dengan santan. Tahu goreng. Tempe goreng.
Senyum Ainun merekah. Siapa yang hamil di sini? Kenapa malah Ainun yang berona bahagia?
Tidak mungkin. Ainun pasti datang mengejek. Aku tidak bisa terima ini. Senyum palsu. Makanan jadi suap untuk bisa menjengukku. Tanpa kupersilahkan, Ainun menerobos masuk dan meletakkan makanan bawaannya di meja makan. Menyuruhku makan banyak. Bertanya persiapan persalinan. Kandunganku sehat atau tidak? Sudah periksa ke bidan? Sudah ini? Sudah itu? Ainun banyak tanya. Dengan alasan ingin istirahat, aku meminta Ainun pulang.
Selepas Ainun pulang, Kusantap makanan pemberiannya dengan lahap.
***
Sudah sembilan. Mengapa waktu begitu cepat berlalu? Perutku makin membesar. Tidak lama akan pecah. Penantianku selama ini akan berakhir. Aku sudah tidak tahan. Senyum Ainun. Semangat dari Ima dan yang lain tidak lantas membuatku bahagia.
Aku masih malu punya anak lagi!
Kuambil sapu, memerhatikan rumah yang sangat kotor. Seperti berhari-hari aku tidak menyapu. Ainun yang memerhatikan di teras rumahnya langsung menghampiri. Aku tidak mendengar celoteh Ainun yang memintaku istirahat. Mengerti apa dia? Satu pun anak belum dia lahirkan!
Aku terus menyapu. Kusapu debu di dalam rumahku sampai dua anak tangga dapur. Terasa dunia berputar. Pusing. Aku terpeleset. Jatuh ke dapur di anak tangga kedua. Ainun berlari menghampiriku. Dia melihat ada pendarahan. Dia berteriak minta tolong. Aku menepis tangannya yang akan memapahku ke kamar.
Aku tidak apa-apa. Aku belum mau melahirkan!
Ima datang tergopoh-gopoh. Si sulung sudah dia minta jemput ayahnya. Ima juga sudah meminta suaminya menjemput bidan. Aku masih membantah, belum saatnya persalinan!
Kedua perempuan ini tidak peduli. Mereka menarikku ke dalam kamar dan melepaskan pakaian bawahku. Ima berteriak. Ainun histeris meminta air dan kain bersih. Kepala bayi sudah keluar!
Bantahanku terhenti dan malah mengedan. Sakit luar biasa. Luar dalam. Sekali lagi teriakan napasku. Tangisan bayi pecah. Kata Ainun, diraut wajah lelahnya, dan Ima yang pias, bayiku laki-laki.
Lima menit kemudian, bidan kampungku baru datang bersama suami dan si sulung. Bidan langsung memeriksaku dan bayi baru lahir. Ocehan bidan tidak lagi kudengar. Rasanya sakit sekali. Aku juga malu. Namun senyum bahagia suamiku, membuat emosiku sedikit mereda.
Bidan memintaku tidak berpikir yang negatif. Katanya, bayi kami sehat dan baik-baik saja. Mendengar itu, hatiku kembali galau. Belum lama berhenti menyusui, hari ini sampai dua tahun ke depan aku kembali harus menyusui.
Apa yang harus kulakukan untuk ini? Kulihat Ainun, Ima dan bidan kampungku. Tidak ada ejekan dari raut wajah mereka. Senyum mereka merekah. Aku yang tidak bahagia, mengapa mereka begitu bahagia?
Aku menatap kosong. Beban pikiranku akan bertambah banyak. Empat anak. Suami yang selalu minta dilayani. Masak. Menyusui. Cuci baju. Mendengar tetangga yang selalu merendahkan si sulung yang bandel. Menegur kedua adik si sulung yang selalu telat mandi.
Memikirkannya saja membuatku letih sekali. Kelahiran keempat ini semakin membuatku kacau. Aku tak paham, adakah yang salah denganku. Mengapa aku tak dapat merasakan bahagia sebagaimana perempuan lainnya. Bagaimana harus kujalani hari-hari ini? Adakah yang dapat mengerti aku?

***
Cerpen ini dimuat di Majalah Ummi Edisi Mei 2014. 

2 komentar:

  1. Pas aku baca di Majalah Ummi, ternyata ini to orangnya...hehe. Selamat!

    Hasan, Bandung!

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90