Top Ad 728x90

Wednesday, June 11, 2014

,

Kemelut Hati Sinyak Mayong



Sejak dulu, Aceh dikenal sebagai negeri kaya sumber daya alam. Bahkan, kita tidak dapat memungkiri, perusahaan-perusahaan berskala global berdiri dengan gegap gempita di hampir seluruh wilayah Aceh selama bertahun-tahun lamanya. Kehadiran PT. Arun dan Exxon Mobil di Lhokseumawe, PT. Semen Andalas Indonesia di Lhok Nga, Aceh Besar, maupun PLTU yang akan beroperasi di perbatasan Aceh Barat dengan Nagan Raya. Perusahaan-perusahaan ini menuangkan devisa tidak sedikit untuk kemakmuran masyarakat Aceh.

Lantas, sudahkah rakyat Aceh makmur? Sudah terpenuhi janji-janji selama dua tahun ini? Tentu saja, sebagian masyarakat Aceh mengecap manisnya Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) yang diberikan persemester sebesar Rp. 300.000,00 bagi pemilik kartu BLSM yang dikeluarkan oleh Kementerian Sosial RI.
Adalah Sinyak Mayong, bersama rekan-rekannya yang lain, salah seorang perempuan di pelosok Aceh Barat ini masih bertahan dengan pekerjaannya. Berawal setelah tsunami, saat perekonomian menghimpit keluarganya, perempuan ini menapaki langkah ke hutan belantara. Pekerjaan semula sebagai penakik karet sudah tidak lagi dilakoni, selain tidak memiliki kebun karet sendiri, juga karena penjualan getah karet yang angin-anginan serta musim hujan yang sering menghalangi langkahnya. Sinyak Mayong beralih profesi menjadi seorang pencari daun pandan hutan (on layah).
Dalam seminggu, Sinyak Mayong akan berangkat ke hutan mencari on layah sebanyak empat kali di hutan berbeda. Bersama rekan-rekannya, ia mencari on layah yang masih bisa diambil. Dari pagi sampai menjelang senja. On layah tidak lagi setinggi hampir sebatang pohon karet, mereka tidak mendapat penghasilan. On layah kembali bermekaran, senyum mereka merekah karena harapan hidup sejahtera akan terurai lagi.
Sinyak Mayong dan rekan-rekannya, memotong on layah untuk dijual kepada pengrajin tudung khas Aceh. Dalam satu ikat on layah terdiri dari lima sampai enam sisir, satu sisir berjumlah lebih kurang 50 lembar, satu ikat on layah ini bisa berkisar 250-300 lembar. Satu ikat 300 lembar akan dijual dengan harga Rp. 60.000,00. Dalam sehari Sinyak Mayong dapat membawa 2 ikat on layah dari tengah hutan ke lokasi terdekat yang bisa dijangkau mobil angkutan barang. Jika dikalkulasikan selama empat hari kerja tidak putus, tanpa mengurangi kehabisan on layah di hutan, secara kasar Sinyak Mayong mendapat penghasilan Rp. 1.920.000,00. Cukup besar untuk ukuran masyarakat pedalaman, namun tidak akan besar karena pekerjaan ini musiman, saat on layah tidak sedang rimbun daunnya penghasilan sejumlah tersebut hanya menari-nari dalam angan-angan semata.
Banyak sekali penghasilan Sinyak Mayong, bukan? Penghasilan tersebut akan segera habis pada hari itu juga. Sinyak Mayong menjual on layah, Sinyak Mayong membeli kebutuhan keluarganya. Sinyak Mayong bekerja seorang diri tanpa ditemani suami. Suami Sinyak Mayong menjadikan pengangguran sebagai pekerjaan paling budiman selama di dunia ini. Sinyak Mayong pulang di waktu senja, suami dan anak-anak langsung menodong dengan telapak tangan terbuka. Soal menabung selalu berada di alam mimpi tak terdefinisi.
Lelah badan memotong on layah berduri, memikul ikatan on layah dalam jarak sangat jauh, tangan menjadi kasar, maupun mata letih, melupakan janji-janji pemimpin negeri ini dua tahun lalu. Sinyak Mayong tidak menuntut hak dari janji 1 juta/KK. Sinyak Mayong bekerja, karena dengan itu dapur rumahnya tetap mengepulkan asap 3 kali dalam sehari.



Kisah Sinyak Mayong, berada di antara ribuan kisah lain di nanggroe penuh duka ini. 

6 komentar:

  1. Keren bang.... kmi aja bca smpek hbes ne. Bereh2z

    ReplyDelete
  2. kek tulah buat janji semu!

    ReplyDelete
  3. @Kisruh hati: Semoga bermanfaat ya, terima kasih sudah mampir :)

    ReplyDelete
  4. @Anonymous:
    Kita harus bijaksanalah menilai, setidaknya memahami situasi dan kondisi saat ini, barangkali ada banyak persoalan lain yang lebih genting.

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90