Top Ad 728x90

Wednesday, July 9, 2014

,

Simalakama Seorang Guru Honor

Pendidikan, Guru, Guru Honor, mencerdaskan anak bangsa


Saya seorang guru. Menyebutnya saja bisa membuat bangga apalagi benar-benar melakoninya. Saya benar seorang guru, guru honor, guru yang dianggap sebagai pelengkap saja di sebuah sekolah. Bagaimana tidak, saya hanya mengajar jika tersedia jam kosong atau lebih dari guru pegawai negeri. Tidak hanya saya, guru honor lainnya juga mendapatkan perlakuan yang sama. Di saat isu sertifikasi semakin santer mengarak guru pegawai negeri untuk memenuhi 24 jam pelajaran dalam seminggu, tergerus pula jam pelajaran bagi kami guru honor. Guru-guru tersertifikasi wajib mengajar supaya dianugerahi gaji dua kali lipat di awal bulannya, atau di rapel percatur wulan. Sebagian guru honor lain, teman saya sendiri, malah datang ke sekolah sekadar menampakkan diri supaya terdata sebagai honorer walaupun tidak ada jam mengajar. Harapan diangkat menjadi pegawai negeri semakin menjadi asa yang tak terbendung, belum lagi informasi yang beredar bahwa honorer tidak akan diangkat lagi jadi pegawai negeri. Secara sadar atau tidak, mungkin hanya untuk menyenangkan hati lara, kami berkata pada diri sendiri akan sebuah kesabaran pasti ada hasil.

“Nanti, saat pemimpin kita diganti, kebijakan juga akan berganti!”

Saya berada di lingkungan yang sama dengan guru tersertifikasi. Keberuntungan masih memihak kepada saya walaupun hanya sedikit saja. Saya masih mendapat jatah jam mengajar pelajaran Teknologi Informasi (TIK). Padahal ijazah saya jelas-jelas tertera Sarjana Pendidikan Fisika. Saya mengajar TIK karena tidak ada guru yang bersertifikat TIK dan guru-guru lain di sekolah ini belum mahir mengoperasikan komputer.

Saya mengajar di dua sekolah, MTsN Blang Bale dan MAN Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat. Dan hanya dua sekolah ini pula yang sudah menerapkan bayaran perjam bagi guru honor. Saya masih berada di ujung keberuntungan, selain dibayar perjam, gabungan jam mengajar saya dari dua sekolah itu melewati batas 30 jam perminggu. Saya tidak bisa menyebutkan besar nominal yang diberikan dua sekolah tersebut, paling tidak cukup untuk saya beli bensin tiap hari ke sekolah. Jam mengajar saya lebih banyak dari guru bersertifikat sebagai guru profesional, bukan?

Saya membiarkan waktu berjalan sebagaimana mestinya. Di saat guru pegawai negeri bersertifikasi lupa mengajar karena harus mengurus kelengkapan pembelajaran (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Silabus, Program Semester, Program Tahunan, Minggu Efektif, Kriteria Ketuntasan Minimum), juga berkas-berkas kenaikan pangkat. Saya diwajibkan berkonsentrasi pada pelaksanaan pembelajaran itu sendiri. Saya masuk kelas lebih awal bersama guru honor lain. Mengajar sesuai jam yang telah diberi tanggung jawab kepada kami. Lalu pulang di jam yang sama dengan guru pegawai negeri.

Mengajar 30 jam di dua sekolah, saya menyiasatinya dengan sangat jeli. Berbagi hari antara dua sekolah terkadang tidak cukup memenuhi jumlah jam. Ada kalanya dalam satu atau dua hari saya harus memangkas pertemuan mengajar. Bila pagi sampai dengan jam istirahat di MAN, seusai istirahat saya akan ke MTsN. Untungnya lagi, jarak yang saya tempuh lumayan dekat dan waktu istirahat pun sama-sama mengambil pukul 10.30 WIB.

Karena masih dianggap anak bawang, sebutan kepada guru honor, saya mengerahkan segenap kekuatan untuk berbagai bidang ilmu di luar ijazah yang saya emban. Mengajar di MAN lebih leluasa saya lakukan karena sudah tersedia Laboratorium Komputer, sedangkan di MTsN saya lebih mengandalkan pengetahuan dan buku-buku sebagai penunjang. Menghadapi lebih kurang 300 siswa dalam seminggu membuat batin saya lelah sekali. Antara siswa MAN yang beranjak dewasa tentu saja berbeda dengan siswa MTsN yang masih berangkat dari anak-anak menuju masa remaja. Belum lagi mengajarkan ilmu praktik tanpa disertai sarana pendukung membuat saya kelimpungan. Terlebih, saat siswa-siswi sudah mengenal internet, berinteraksi di facebook maupun twitter, saya dituntut kerja ekstra menjawab pertanyaan dari mereka. Saya menjelma menjadi seorang guru ahli komputer, mereka bertanya semua hal, termasuk guru-guru di dua sekolah yang menggantungkan harapan bisa mengetik soal-soal ujian dengan benar di keyboard kepada saya.

Saat saya tidak bisa mengandalkan komputer karena mati lampu atau alasan lain, saya memastikan siswa-siswi bisa belajar dengan metode lain. Mengenalkan kepada mereka istilah-istilah dasar dalam pengoperasian komputer atau mengadakan diskusi kelompok. Di MTsN yang belum memiliki laboratorium komputer, saya mengajak siswa-siswi bermain games karena mereka lebih suka bermain di luar kelas.
 Siswa MAN sedang berdiskusi di halaman sekolah 

Siswa MTsN bermain games

Siswa MTsN bermain games 

Konsentrasi saya sering terpecah antara tuntutan 30 jam pelajaran. Saya butuh, seperti yang sudah saya sebutkan di awal, hanya dua sekolah ini yang memberikan kemakmuran bagi kami guru honor walaupun sering kali terlambat satu bulan bahkan sampai satu semester. Saya meninggalkan satu sekolah saja, calon guru honor yang lain akan mengantri datang melamar. Seakan, kami tidak mengindahkan teguran pemerintah yang mengatakan tidak ada lagi kemungkinan guru honor diangkat jadi pegawai negeri. Tapi kami tetap mengajar, karena itulah aktivitas kami di daerah sempit lapangan pekerjaan. Paling tidak, sudah rapi setiap pagi membawa kebanggaan tersendiri karena kami seorang sarjana.

Sebagai guru honor, selain diabaikan oleh sekolah kami pun dianak-tirikan oleh pemerintah. Saya termasuk salah satu guru honor dari sekian ribu guru honor yang sudah mengabdi puluhan tahun. Satu dua di antara kami menerima tunjangan fungsional sebesar Rp. 250 ribu sebulan dan dibayar persemester. Dan jika dalam satu sekolah tidak semua guru honor mendapatkannya, kami berhak membagi sama rata. Saya mendapatkan sedekah dari pemerintah itu dari MTsN, dan kami membagikannya kepada guru honor lain yang datanya belum tersimpan di Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat. Besaran angka tersebut sangatlah minim untuk motivasi seorang guru yang mengajar saban waktu mencerdaskan anak bangsa. Saya bisa memahami pengeluaran pemerintah dalam hal ini, tetapi mereka, guru honor yang lebih tua, lebih lama mengabdi, nominal itu sungguh sangat berarti.

Terakhir, selain isu sertifikasi, datanglah Kurikulum 2013 yang memangkas beberapa mata pelajaran termasuk TIK. Sebagai guru yang hanya mengajar TIK saja maka saya akan kehilangan jam pelajaran tersebut di masa mendatang. Di saat-saat seperti ini, saya mengharapkan suatu keajaiban datang dari mana saja. Satu sisi, kurikulum baru tersebut bagus untuk dilaksanakan di daerah urban. Di sisi lain, kurikulum tersebut menciptakan kebingungan kepada guru mata pelajaran dan menghilangkan banyak harapan guru-guru honor di seluruh negeri ini. Tapi pemerintah tahu yang terbaik untuk dunia pendidikan Indonesia yang semakin tertinggal. Mungkin kami yang semestinya berbenah, mengepakkan sayap mencari harapan di dunia baru lainnya.


Saya, di antara ribuan guru honor lain. Beginilah nasib kami. Curahan hati saya barangkali lebih bahagia dibandingkan guru honor lain. Saya masih mendapatkan imbalan dari dua sekolah dengan dihitung perjam masuk. Guru honor lain, akan dibayar persemester sealakadarnya saja. Seandainya mereka bisa menulis, bisa mengakses internet, kegetiran mereka akan lebih menyayat hati! 

Tujuan pendidikan kita adalah mencerdaskan anak bangsa, dan saya akan merealisasikan semboyan itu!

*Gambar koleksi pribadi.

29 komentar:

  1. kasihan banget hidup lu bai wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk yg menertawakan tulisan ini, saya hanya bisa mendoakan anda mendapatkan teguran dr Tuhan supaya anda sadar dari orang2 yg anda ketawakan ini, anda bisa mengoperasikan hp, komputer dan internet...

      Delete
    2. Hai... Semoga Tuhan menyadarkan hatimu.. Anda bisa mengerti internet karena perjuangan dr orang2 yg anda ketawakan..

      Delete
    3. Terima kasih dukungannya ya, guru itu tetap pahlawan tanpa tanda jasa bukan?

      Delete
  2. Sabar mas, semua ada hikmahnya kok asal dijalanin dengan ikhlas....

    ReplyDelete
  3. sedih kali bacanya, yg sabar ya!

    ReplyDelete
  4. @Anonymous:
    Beginilah hidup, susah senang dijalani saja :)

    ReplyDelete
  5. @Anonymous:

    Terima kasih ya, semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang sabar.

    ReplyDelete
  6. sama kita,
    saya juga lulusan pendidikan fisika, ngajar di mts n smk, + rangkap jadi TU hiks :)
    tapi selalu ingat saja apa kata pa anies "kami disini ada untuk melunasi janji kemerdekaan" :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ya sudah saling berbagi. Saya yakin, Tuhan menyadari perjuangan kita tdak sia-sia...

      Delete
  7. ya itulah memang nasib guru honorer sekarang ,ga usah mahal2 sekolah kalau tak ada harapan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah yang terjadi di lapangan mas. Tapi pemangku kebijakan menutup mata soal itu, berdalih macam cara saat dilakukan protes. Saya bisa menulis jdilah sya berbagi. Bgmn dgn guru honor lain yg tidak ada kemampuan menulis? Mngkn hny bisa menertawakan sedih dlm diam. Tks ya mas sdh membaca :)

      Delete
  8. Para pengomen tanpa nama, terima kasih masukan dan sarannya ya :)

    ReplyDelete
  9. Semangat!!!!! Jalani dgn ikhlas..tuhan tdk menutup mata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Semoga bermanfaat ya :)

      Delete
  10. alay manja pantas negara bodoh diajarkan guru tak bermutu cuih!

    ReplyDelete
  11. Nyari kerja lain aj mas bai, bakat nulis udh ad insya allah rejeki ada di mana-mana kok..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga diberikan kelapangan dan kemudahan rejeki ya :)

      Delete
  12. berkah dari sebuah kesabaran adlah suatu kepastian,bu guru. karena sesungguhnya kesulitan pasti ada kemudahan........

    ReplyDelete
  13. Ganti pemerintahan,,pasti ganti kebijakan,,,tetap semangat untuk terus mengabdi dan mencerdaskan anak bangsa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita doakan saja ya, semoga pemerintah bisa mengatasi hal ini ke depan...

      Delete
  14. Pntesan lah drimu kurus gtu... Sbr aja deh ya..psti da jln yg trbaik nti. Yg pntg drimu dah berusha dn tntu aja brdoa. Memang kenyataaan di lapngan byk yg qta mgkn gk tau. Scr drimu bs nulis jd bs ksh tau.. btw bai drimu kyk slh ambl jur deh wktu kul dlu ;)

    ReplyDelete
  15. Kenapa tidak coba berbenah, bersusah-susah lanjut S2 atau S3 kemudian menekuni dunia pendidikan?

    Saya pun pernah menjadi guru honor, tahun 1996 di salah satu SMK. Kemudian dengan bersusah payah merantau dan lanjut kuliah, alhamdulillah sekarang sudah kelihatan buahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih masukannya ya, utk lanjut pendidkan sya memiliki keterbatasan sehingga belum mampu ke arah sana.

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90