Top Ad 728x90

Thursday, August 14, 2014

,

Cidomo Dua Ribu Rupiah

Aceh, Cidomo, Lombok, 2000



Takengon di Aceh Tengah terkenal dengan pacuan kuda yang digelar setiap Agustus. Pacuan kuda di daerah bercuaca dingin tersebut untuk memainkan peran sebagai sebuah hobi dan hiburan semata. Jauh melangkah ke Nusa Tenggara Barat, barangkali juga di beberapa daerah lainnya, saya menemukan kereta kuda sebagai alternatif kendaraan umum. Pemandangan ini dapat kita lihat di kota Mataram, banyak kereta kuda yang terparkir di depan pasar rakyat menunggu konsumen yang sedang belanja di sana. Ternyata, tidak hanya di ibu kota provinsi saja kereta kuda berkeliaran mencari pelanggan. Di hampir seluruh Lombok, kereta kuda yang dikenal dengan sebutan cidomo menghiasi sepanjang mata menikmatinya.

Saya terdampar ke Mandar, Lombok Timur yang dahulu sempat saya baca sebagai daerah yang memegang teguh keislaman mereka. Sampai sekarang ini Mandar masih menjadi salah satu daerah yang taat menjalankan ajaran Islam. Hal ini ditandai dengan teraturnya masyarakat setempat menunaikan ibadah, termasuk perempuan Mandar yang mengenakan kerudung.

Waktu yang tidak mengizinkan saya beserta rekan satu tim untuk meminjam sebentar cidomo di Mataram membuahkan hasil bahagia. Ternyata, keinginan saya untuk sekadar mengabadikan kenangan berada di atas cidomo yang terhias rapi terealisasikan di Mandar.

Di Mandar, ketika sedang menikmati panorama pagi, saat matahari sedang mengintip naik sepenggalah, dalam dekapan angin Pelabuhan Balohan, di tengah hiruk-pikuk nelayan pulang melaut, saya menemukan sisa mimpi itu. Sebuah cidomo masuk ke jalan sempit di mana kami berada. Sebelum cidomo dan pemiliknya kabur menjadi pelanggan saya mencegatnya dengan penuh semangat.

Seorang bapak tua yang tidak saya ketahui namanya tersenyum senang saat kami duduk manis di cidomo miliknya. Saya patut berterima kasih kepada bapak itu dan merasa kerdil sekali karena sesuatu yang tidak pernah saya lakukan. Terima kasih saya karena mungkin di tempat lain saya tidak pernah bisa duduk di atas cidomo dengan gratis. Penyesalan saya, walaupun sebentar meletakkan lelah di atas kursi keras cidomo saya tidak membayar uang tunggu kepada bapak itu. Naif memang, setidaknya aku bisa mengganti kerugian waktu yang sudah kami pakai.

Bapak yang tidak dikenal itu mengizinkan saya duduk di atas cidomo, bergantian dengan teman baru saya, Zakaria Dimyati. Kami bergantian mengambil kenangan manis bersama bapak tua. Senyum kami terkembang tak terkata. Sedikit diskusi dengan pemilik cidomo tersebut. Terasa pahit bagi saya secara pribadi.

“Rute perjalanan kita ke mana saja, Pak?” ujar saya setelah memperkenalkan diri seorang pelancong dari Aceh dan Zakaria dari Bogor. Bapak itu menyebutkan seputaran Mandar, perkampungan penduduk, sekolah maupun pasar yang sudah bisa ditebak saya tidak mengetahui letaknya. Penumpang cidomo bisa beragam; anak-anak ke sekolah, para ibu ke pasar, atau penumpang lain dalam jarak yang sudah disebutkan di atas.

Saya beranikan diri bertanya tentang kelumrahan seorang penumpang sebelum menggunakan jasa cidomo, “Berapa ongkos sekali jalan cidomo kita ini, Pak?”

“Dua ribu saja,” jawab Bapak itu dengan senyum penuh makna. Saya terkejut. Benar-benar shock. Saya menetap di salah satu daerah dengan kebutuhan hidup tidak akan terpenuhi dengan angka 2 dengan tiga nol di belakangnya tersebut. Di Aceh, Rp. 2000,00. hanya  bisa ditukar dengan sebungkus kerupuk saja.

“Ke mana saja itu, Pak?” rasa penasaran saya tidak bisa dibendung.

“Seputara Mandar ini,” artinya? Mau ke mana saja di Mandar tetap dua ribu? Serius? Kasihan sekali si kuda ngos-ngosan diajak bertarung melawan panas dan dingin di udara tak tentu. Kuda tidak butuh bensin seperti kendaraan bermotor namun makhuk itu perlu mengonsumsi makanan bergizi sebelum kembali berlabuh di atas aspal beriringan dengan kendaraan canggih.

“Dalam sehari kira-kira berapa penghasilan kita, Pak?”

“Bisa 20 bisa 50,”

Cuma segitu? Belakangan saya baru mengetahui nominal yang disebutkan Bapak cidomo tersebut masuk dalam takaran memenuhi kebutuhan sehari-hari di sana. Segala kebutuhan rumah tangga tergolong murah dan mampu ditutupi oleh penghasilan seorang pemilik cidomo sebagai mata pencaharian mereka.

Mencari penumpang juga tak jauh beda dengan mencari jarum dalam beras. Banyaknya cidomo makin mengecilnya kemungkinan mendapatkan penumpang. Rasa lelah seharian menarik cidomo terobati dengan tercukupi kehidupan keluarga. Si Kuda yang tidak mengetahui apapun hanya bisa berlari membawa penumpang menuju tempat tujuan.


Susahnya saya, terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan susahnya Bapak itu, dan pemilik cidomo lainnya. Saya patut bersyukur bisa berkelana sampai keliling Lombok yang jaraknya entah berapa kilometer dari Aceh. Keindahan provinsi kepulauan negeri ini penuh segudang harapan bahagia dari jiwa yang menari dari puncak Gunung Rinjani sampai Pantai Senggigi. Siapa tahu di lain waktu saya bisa kembali ke sini! 

Pelabuhan Balohan, Mandar @bairuindra 

Bapak dengan cidomo, Mandar @bairuindra 


 Saya dan Bapak pemilik cidomo, Mandar @bairuindra

Zakaria Dimyati bersama Bapak pemilik cidomo, Mandar @bairuindra 


 Kami bersama Bapak dan cidomonya, Mandar @bairuindra

Mari kita mencari nafkah, Mandar @bairuindra

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90