Top Ad 728x90

Monday, August 11, 2014

, , ,

Karena Alam Akan Mengajar Luka Pada Kita

Tsunami, TDMRC, BPBA, Penanggulangan Bencana

Simpang Pelor, Meulaboh

Akhir tahun 2004 menjadi penutup sebuah kenangan pahit yang sangat membekas sampai ke anak-cucu. Tsunami telah membawa pergi harapan dan cita-cita yang sudah diangan-angankan sejak lama. Gempa 8,9 skala richter meratakan bangunan dengan tanah, jalan terbelah, longsor di beberapa daerah, lantas ie beuna tiba-tiba datang tanpa mengetuk pintu pemberitahuan. Lebih kurang 200.000 jiwa telah dibawa menuju peraduan Ilahi tanpa pernah mengucapkan salam perpisahan. Secara pribadi, saya sendiri baru mengetahui tentang tsunami setelah sebagian besar pesisir Aceh rata dengan tanah. Sebelumnya, saya hanya mengetahui bencana karena air adalah banjir atau banjir bandang. Betapa bodohnya saya – kita – waktu itu. Dengan mudah pula mengabaikan kaki berlari kencang setelah gempa, kita malah berdiam diri di tempat masing-masing, bahkan ada yang memungut ikan di tepi pantai yang sudah kering. Pengetahuan secuil itu membawa ratapan sampai kini.

Waktu tidak akan bisa ditarik ke masa tersebut. Kita tidak sedang hidup dalam dunia Doraemon yang penuh instrik untuk memudahkan segala sesuatu. Saya akui, Jepang punya banyak cara untuk meminimalkan bencana, tetapi negeri matahari terbit dengan berbagai kecanggihan teknologi tetap saja mengalami gempa besar bahkan tsunami. Tahun 2011 kembali terjadi tsunami di Jepang dan mereka tetap saja berada dalam kefanaan karena puluhan cara telah dilakukan untuk menghindar dari bencana.

Di Aceh, salah satu daerah yang diinformasikan sebagai daerah terparah dari terjangan tsunami memang sudah berbenah. Daerah pesisir barat Aceh kini telah melupakan banyak kenangan buruk atas kehilangan saudara bahkan harta benda. Di semenajung jalan menuju Banda Aceh, di daerah Samatiga misalnya sudah terlihat banyak bangunan berdiri kokoh. Saat tsunami, daerah ini hanya menyisakan bangunan runtuh. Warga yang selamat memilih ke pengungsian sebelum rumah bantuan selesai dibangun. Jika dilihat dari letaknya, daerah ini sangat dekat dengan laut dan disinyalir rentan terhadap tsunami atau air pasang. Di daerah ini pula tidak terdapat bangunan tinggi seperti Escape Building yang berada di daerah pinggir pantai Banda Aceh. Alternatif yang bisa dilakukan warga adalah ke Masjid Desa Suak Timah yang memiliki 2 lantai atau berdiri di atas jempatan Kuala Bubon. Dua bangunan tinggi tersebut paling tidak bisa menghalau air tinggi walaupun tidak tertutup kemungkinan lebih buruk dari itu. Pilihan lain tentu saja berlari ke daerah yang jauh dari terjangan air, dan sekali lagi tidak terdapat petunjuk jalur evakuasi, satu-satunya papan nama yang tersedia adalah penunjuk jalan, dan ini tidak bisa dijadikan patokan untuk masyarakat non pribumi.
 Masjid Suak Timah, Samatiga

 Jembatan Kuala Bubon, Samatiga

 Dari atas Jembatan Kuala Bubon, Samatiga

 Nelayan pulang melaut; melupakan duka tsunami 

 Penunjuk jalan di Suak Timah, Samatiga 

Perumahan di bibir pantai, Kuala Bubon

Lantas, kita beralih ke Kota Meulaboh, daerah paling parah terhadap dampak tsunami. Seputaran Suak Ribee yang padat penduduk juga menyisakan sepenggal harapan dangkal, sejauh ini hanya penunjuk Jalur Evakuasi yang dipajang di beberapa lorong menuju ke dataran menjauh dari lautan. Di Kampung Belakang, daerah yang dahulu rata dengan tanah pun tidak berdiri bangunan kokoh penyelamat warga setempat. Hanya saja, di sepanjang bibir pantai terlihat timbunan pasir meninggi untuk menghalau air pasang mencapai rumah warga. Beranjak ke Ujung Karang, di dekat pelabuhan barang, perumahan penduduk sudah sangat padat namun tidak pula terdapat bangunan tinggi supaya evakuasi lebih mudah teratasi. Di bibir pantai terlihat batu-batu besar sebagai penghalau air laut merembes ke jalan dan perumahan penduduk. Tetapi batu-batu besar tersebut tidak memberi jaminan apa-apa, apalagi saat air pasang menjelang Ramadhan 1435 H, masyarakat terkena imbas yang cukup parah. Padahal, di daerah seperti ini mesti berdiri bangunan tinggi mengingat jalur evakuasi tidak menjamin semua terangkut dalam waktu mendadak di saat semua orang lari menyelamatkan diri. Bangunan-bangunan tinggi di sepanjang jalan adalah pertokoan milik warga yang sebagian bekas tsunami dan sisanya didirikan setelah itu. Dan mereka – kami – kembali pada masa sebelum tsunami. Di mana semua serba manual dan berharap ada tangan yang berkuasa atas segala kepasrahan saat menyelamatkan diri jika bencana besar kembali terjadi.

 Pertokoan di Jalan Teuku Umar, arah ke Ujung Karang, Meulaboh 

 Ujung Karang, Meulaboh

Kampung Belakang, Meulaboh

Lalu, apa yang akan kita lakukan saat atau menghindar dari bencana besar nanti?

Pengetahuan Kebencanaan
Tsunami sudah lama meninggalkan luka. Alam terus memperbaiki segala kekurangan dalam dirinya. Waktu dan kecerobohan manusia telah membuat bumi semakin menua dan lemah. 26 Desember 2004 menjadi awal terjadinya gempa dan kita terus merasakan getaran bumi dalam waktu tak tentu. Bahkan, kita sudah terbiasa dengan gempa dan akan berlari mencari dataran tinggi jika kekuatan gempa melampaui batas ketakutan dalam diri kita.

Tsunami mengajarkan banyak hal akan sebuah musibah besar. Secara sadar pula kita menghindar jika terjadi gempa. Bencana tidak hanya gempa dan tsunami. Kekurangan pengetahuan akan suatu bencana membuat kerugian material yang cukup besar. Untuk daerah yang tidak mengenal Escape Building atau Jalur Evakuasi maka pihak terkait berhak memberikan pengetahuan sejak dini. Sosialisasi diberikan kepada masyarakat supaya menjauh dari daerah rentan bencana. Masyarakat berhak mengetahui apa yang harus dilakukan jika terjadi suatu bencana. Selain itu, pihak terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) atau Tsunami and Disaster Mitigation ResearchCenter (TDMRC) melakukan pendekatan ke sekolah-sekolah dalam rangka sosialisasi mengenai kebencanaan ini. Kedua lembaga tersebut bisa saja melakukan sosialisasi kepada siswa karena fasilitator dari kedua lembaga dianggap paling mumpuni memyampaikan informasi kepada siswa dibandingkan guru yang mengejar materi ajar dan kurikulum. Dalam pelajaran IPA maupun IPS, pengetahuan tentang kebencanaan hanya diajarkan selintas guna menjawab permintaan pemerintah dalam hal target nilai kelulusan. Perbedaan yang signifikan akan terlihat saat simulasi dilakukan oleh dua lembaga berwenang tersebut di atas, kedua lembaga sudah sangat berperan penting dalam menangani bencana oleh BPBA maupun TDMRC.

Menghilangkan Panik dan Menjauh dari Lokasi Bencana
Gempa dengan panik sebuah hal yang wajar. Saya sendiri kerap sekali mengalami guncangan jiwa saat gempa. Sifat naluriah ini menjadi sebuah penentu keputusan dalam waktu mendesak. Hal pertama yang mesti dilakukan saat terjadi bencana adalah mengendalikan diri. Kita dianjurkan menjauh dari lokasi bencana. Selama proses tersebut kita lakukan dengan tidak tergesa-gesa, semua orang pasti ingin segera mencapai tempat tertinggi namun karena menerobos jalan atau melakukan kecurangan lain selama di jalan maka petaka selanjutnya akan terjadi. Banyak sekali kecelakaan saat melarikan diri karena menganggap orang lain tidak akan selamat dan kita yang pintar melajukan kendaraan adalah manusia paling direstui nyawanya. Saat panik menimpa diri kita, sering kali pula kita lupa bahwa nyawa adalah segala dengan menyelamatkan harta benda terlebih dahulu. Inilah perlunya pengetahuan kebencanaan, dari pengetahuan tersebut kita akan paham keputusan selanjutnya. Jika gempa kita harus keluar dari bangunan, mencari lapangan kosong atau berlindung di bawah meja. Jika disusul tsunami kita dianjurkan menuju dataran tinggi. Bencana-bencana lain juga punya cara tersendiri dalam menyelamatkan diri, harta benda akan kita dapatkan kembali namun nyawa tidak akan diberikan untuk kedua kali.

Penunjuk Arah
Ikutilah jalur evakuasi. Saya rasa semua orang sangat mengerti akan hal ini. Tanpa diberitahu petunjuk pun masyarakat sangat sadar mereka akan lari ke mana jika terjadi suatu bencana. Dengan mengikuti penunjuk jalan tersebut masyarakat sudah mampu menjauh dari bencana. Jalur evakuasi sangatlah penting ada di suatu daerah mengingat tidak hanya penduduk pribumi saja yang bisa menetap di sana. Tidak tertutup kemungkinan pendatang menetap di suatu daerah dan tidak mengetahui arah evakuasi.

Jalur Evakuasi, Suak Ribee, Meulaboh

Penghijauan
Tanpa perlu diajarkan masyarakat diminta untuk sadar dengan sendirinya mengenai pentingnya penghijauan ini. Di daerah pantai sudah mulai ditanam mangrove seperti di Banda Aceh di mana pengetahuan akan kebencanaan di sana lebih memadai, selain pemerintah kota sadar betul kebutuhan ini juga terdapat lembaga yang serta-merta ikut terlibat langsung (BPBA & TDMRC). Untuk daerah pesisir barat yang masih kurang pemahaman akan hal tersebut, ditambah kurangnya sosialisasi dari kedua lembaga yang fokus kerja pada bencana itu, masyarakat hanya menanam mangrove seadanya saja atau kelapa seperti yang terlihat bibir pantai Meulaboh, atau membiarkan tanaman alami (bak nipah) beregenerasi dengan sendirinya. Walaupun tidak tertutup kemungkinan penghijauan ini bisa menghalau bencana datang, tetapi usaha manusia tetap akan ada hasilnya. Pepohonan di bibir pantai akan menahan waktu berlari kencang mencapai puncak tertinggi saat terjadi bencana.

 Kelapa dan Mangrove

 Mangrove di Kampung Belakang, Meulaboh 

Bak Nipah di sepanjang jalan menuju Banda Aceh, daerah Samatiga

Alam selalu berdamai dengan kita jika dijaga dengan penuh cinta. Sesuai janji Allah swt. bahwa terjadi kerusakan di bumi akibat ulah manusia. Sehingga tugas kita adalah menjaga supaya terjadi keseimbangan dengan mengambil seperlunya saja dan meninggalkan sisanya untuk diambil oleh generasi selanjutnya. Berikut kutipan arti Q.S. Ar-Rum ayat 41: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah swt. merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Dan benar, karena kita bencana itu datang. Kini adalah waktu merenung kembali musibah besar dan menjaga keseimbangan di darat dan di laut. Tsunami adalah kenangan. Pencegahan adalah cara. Sekadar membuka luka kita, juga berterima kasih kepada Sherina, saya ajak Anda mengikuti lantunan syahdu yang kerap kali diputar lebih kurang 10 tahun lalu.





3 komentar:

  1. suka dgn judul-a bg ^_^

    ReplyDelete
  2. menarik ulasannya bencana akan datang kapan saja kok jadi siapkan mental!!!!!

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90