Top Ad 728x90

Tuesday, September 30, 2014

,

Dilema Konsumen LPG 12 Kg dan 3 Kg

LPG 12 KG, LPG 3 KG, Pertamina, Kenaikan LPG, Elpiji

Semula, saya termasuk orang yang sangat anti terhadap penggunaan LPG. Keengganan saya menggunakan tabung gas tersebut lebih karena musibah yang menelan korban, perorangan maupun satu keluarga. Walaupun kemudian, semakin hari semakin berkurang tabung gas yang meledak, dan setelah dipelajari alasan meledak bukan karena tabung gas melainkan karena faktor tertentu; misalnya pipa bocor dan lain-lain. Saya akhirnya berani memasak menggunakan LPG.  

Penggunaan LPG sudah sama halnya dengan memasak memakai kayu bakar maupun kompor di masa-masa dahulu. Secara universal masyarakat sudah menggunakan LPG dalam membantu kebutuhan memasak sehari-hari. LPG tidak hanya memberikan kemudahan namun juga memberikan ketepatan waktu. Memasak dengan cara konvensional (seperti dengan kayu bakar) akan memakan waktu sangat lama; menghidupkan api saja butuh beberapa menit, menunggu makanan matang juga butuh waktu panjang tergantung besar kecil api dikurangi terpaan angin. Saat sedang memasak penganan tertentu, api terlalu besar bisa jadi masalah, terlalu kecil pun bisa jadi petaka. Ketepatan waktu menggunakan LPG mendukung seseorang yang sedang memasak bisa melakukan kegiatan lain tanpa takut apinya mengecil atau membesar. Barangkali, Anda bisa mencuci sehelai celana jeans ketika soup ayam akan mendidih di dalam panci di atas kompor gas.

Dukungan pemerintah terlihat jelas terhadap LPG (Liquified Petroleum Gas). Pemerintah bersama Pertamina sudah melakukan berbagai upaya dalam rangka mewujudkan masyarakat mandiri serta berpindah ke cara memasak lebih praktis. Kondisi ekonomi Indonesia yang masih berada di garis menengah ke bawah menuntut pemerintah memberikan subsidi kepada LPG sehingga masyarakat kurang mampu dapat merasakan memasak menggunakan LPG dengan dihadirkannya LPG 3 kg. Pemerintah dan Pertamina sangat mempertimbangkan kebutuhan masyarakat sehingga tidak hanya masyarakat menengah ke bawah yang diperhatikan tetapi masyarakat menengah ke atas juga mendapat perhatian. Hal ini ditandai dengan murahnya harga LPG 12 kg di pasar Indonesia dibandingkan beberapa negara Asia lain. Pemerintah dan Pertamina sangat menyadari keputusan tersebut sudah berbuah rasa pahit terhadap pengadaan LPG.


Pertamina sendiri secara gamblang menjelaskan masalah kerugian yang dialami oleh mereka sejak tahun 2009. Berikut ini kutipan dari Pertamina, “Kerugian sejak tahun 2009 - 2013 mencapai Rp 17 Trilyun. Dengan asumsi yang dipakai dalam RKAP 2014 (CPA 833 USD/Mton, kurs 10.500 Rp/USD) pasca kenaikan harga Rp 1000 /kg di Januari 2014 diperkirakan kerugian 2014 akan mencapai Rp 5.4 Trilyun. Namun apabila harga bahan baku dan kurs lebih besar akan berpotensi rugi lebih besar.

Besarnya kerugian yang diterima Pertamina membuat perusahaan tersebut ketar-katir mencari bahan baku dalam mengupayakan LPG tetap memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kerugian yang sudah disinggung oleh Pertamina kemudian diperkuat oleh temuan BPK yang menyebutkan bahwa, “Pertamina menanggung kerugian atas bisnis LPG 12 kg dan 50 kg selama tahun  2011 sampai Oktober 2012 sebesar Rp. 7,73 Triliun.

Menyikapi hal tersebut, Pertamina mendiskusikan untung-rugi bersama Pemerintah lalu memutuskan untuk menaikkan harga LPG secara berkala. Kenaikan harga LPG berdampak pada kelangkaan LPG 12 kg maupun 3 kg di distributor atau agen. Masyarakat menengah ke atas yang cenderung manja dengan harga LPG 12 kg, lantas mengalami kepanikan saat terjadi peningkatan harga. Hal ini tidak menutup kemungkinan konsumen menengah ke atas mencari LPG 3 kg dalam menunjang aktivitas dapur mereka.


Sebagai warga negara yang baik, imbas kenaikan LPG tentu saja besar jika dihitung menggunakan kalkulator kehidupan. Namun belum tentu jika dihitung menggunakan kalkulator cabai yang fungsinya menambah maupun mengurangi kebutuhan sehari-hari sesuai pemasukan perbulan.

Konsumen LPG 12 Kg
Menurut survey Nielsen, pengguna LPG 12 kg merupakan kaum menengah ke atas yang menduduki peringkat 17% dengan pembagian 16% di rumah tangga perkotaan dan 6% di pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih berada di bawah garis kemampuan untuk dapat membeli LPG nonsubsidi.

LPG 12 kg diperuntukkan bagi mereka yang mampu dari segi penghasilan perbulan. Masyarakat kita yang konsumtif dan kurang mendukung niat Pemerintah dan Pertamina seakan-akan kenaikan harga LPG merupakan sebuah kesalahan. Dalam aspek sosial saja, tingkat kebutuhan masyarakat tentu berbeda dari kelas menengah ke atas dengan menengah ke bawah. Masyarakat yang hidup berkecukupan dengan mudahnya membeli kebutuhan sekunder dari penghasilan mereka. Sebagai contoh saja, masyarakat menengah ke atas tidak tanggung-tanggung mengeluarkan tabungan puluhan juta untuk sebuah notebook, smartphone, tablet maupun peralatan rumah tangga termutakhir masa kini yang sudah dilengkapi konektivitas internet.

Pemerintah dan Pertamina sudah berusaha memisahkan pemaketan LPG dikarenakan tingkat ekonomi masyarakat kita. Masyarakat yang sudah berada di garis kemakmuran dan sejahtera menurut definisi Pemerintah (menaikkan gaji PNS dan Upah Minimum karyawan swasta), kenaikan ini bukanlah sebuah malapetaka. Kebutuhan sekunder lain dapat dipenuhi dengan mudah sehingga tidak ada alasan beralih ke LPG 3 kg.

Menurut saya, masyarakat yang masuk ke dalam golongan menengah ke atas antara lain PNS, pegawai swasta, maupun pengusaha yang memiliki penghasilan di atas upah minimum suatu daerah. Dengan demikian, anggapan apapun dari golongan ini, masyarakat menengah ke bawah menilai bahwa mereka hidup senang tanpa perlu memikirkan pemasukan setiap harinya.

Kita selalu berada di posisi mengeluh namun belum tentu mendapatkan imbasnya setelah dihitung sesuai kebutuhan masing-masing. Jika dalam sebulan kita sudah memiliki perencanaan keuangan yang mapan, membuat daftar kebutuhan primer dan sekunder, pemasukan yang didapat sudah mencukupi segala kebutuhan. Kebutuhan LPG 12 kg sendiri, menurut hemat saya sebagai konsumen, lebih kurang 3 bulan sekali baru diganti dengan yang baru. Penghematan dapat dilakukan sesuai perilaku dapur kita. Rumah tangga yang rutin memasak 3 kali sehari rata-rata akan memakan waktu menghidupkan LPG lebih kurang setengah jam, jika makanan yang kita masak beragam. Kecuali, kondisi hemat akan berbeda ketika posisi kita menjadi seorang pedagang olahan makanan tertentu yang membutuhkan waktu memasak lebih lama. Penghematan terjadi bukan pada besar kecil LPG namun lebih kepada penggunaan dari diri kita sendiri.




Konsumen LPG 3 Kg
Pengguna LPG 3 kg sudah cukup jelas sekali. Pemerintah dan Pertamina sudah jauh-jauh hari menjelaskan bahwa LPG 3 kg hanya diperuntukan kepada masyarakat menengah ke bawah atau kurang mampu. Dukungan pemerintah tidak hanya sampai mensubsidi LPG 3 kg saja, sekitar tahun 2007 Pemerintah sudah membagi LPG 3 kg untuk masyarakat menengah ke bawah di seluruh Indonesia. Pembagian LPG 3 kg tersebut menggarisbawahi bahwa golongan mana saja yang berhak memakai tersebut.

Bicara golongan, bicara pula kemapanan masyarakat menengah ke bawah yang semestinya pengguna LPG 3 kg. Saya menyadari, bukan pula merendahkan kedudukan mereka, masih banyak masyarakat yang mencari nafkah dari pagi sampai malam dengan pemasukan sedikit sekali. Tidak ada golongan lain yang layak menerima LPG bersubsidi dari Pemerintah dan Pertamina selain pekerja tanpa terikat kontrak atau tanpa gaji di atas upah minimum.

Di mana Posisi Kita?
Kenaikan LPG 12 kg semakin marak diberitakan dan menyudutkan Pertamina maupun Pemerintah. Sebagai konsumen, saya dan Anda berada di posisi masing-masing. Saya berhak memilih LPG 12 kg maupun 3 kg. Anda juga memiliki hak yang sama. Tetapi kesadaran untuk membantu Pertamina terletak pada sifat dalam diri kita sendiri. Pertamina sudah sangat baik mensubsidikan LPG sampai Bahan Bakar Minyak (BBM). Kesadaran lain lahir karena naluri manusiawi saat melihat dari atas dan ke bawah. Melihat ke atas untuk membandingkan dengan orang yang sama mapannya dengan kita. Melihat ke bawah untuk menyelami bahwa masih banyak orang lain berada di bawah kemapanan ekonomi kita.

Dengan memahami posisi ini, atas sadar sendiri pula, kita sudah membantu kebijakan Pemerintah bersama Pertamina dalam menaikkan harga LPG 12 kg dengan alasan yang sangat akurat. Saya tidak menjelaskan alasan tersebut secara terperinci, karena tidak memiliki kepasitas seperti halnya Pemerintah dan Pertamina. Jelasnya, kita dapat melihat dan membaca di berbagai media kedua pihak sudah menjelaskan secara gamblang mengenai penjelasan ini.  

Secara kecil-kecilan, bersama rekan-rekan saya melakukan survey ke sebuah toko distributor di Aceh Barat. Saya menemui Mursalim, seorang pedagang LPG 12 kg dan 3 kg. Menurut beliau, kenaikan LPG 12 kg sangat berimbas pada masyarakat walaupun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sampai tanggal 16 September 2014, harga LPG 12 kg di kota Meulaboh berada di kisaran Rp. 135.000 per tabung. Sedangkan harga LPG 3 kg berada antara Rp. 18.000 sampai Rp. 20.000 per tabung.

Sejauh pengamatan Mursalim, masih sedikit masyarakat yang beralih ke LPG 3 kg. Masyarakat sekitar masih menyadari posisi masing-masing dan Mursalim memperingatkan konsumen membeli sesuai tingkat ekonomi mereka. Selain itu, LPG 3 kg sering mengalami kekosongan disebabkan jadwal pemasokan selama 3 hari sekali. Mursalim sendiri memiliki komitmen menjual LPG satu orang satu sehingga dapat merata. Laki-laki yang berusia 54 tahun tersebut juga menyesalkan kenaikan LPG karena membuat masyarakat resah, namun karena hal itu sudah menjadi kebijakan bersama mau tidak mau terpaksa dipatuhi. Sebagai pedagang, beliau juga tidak meneliti dengan cermat pembeli yang datang benar berasal dari golongan menengah ke bawah atau ke atas. Baginya, setiap ada pembeli, baik 12 kg maupun 3 kg tetap akan dijual.

Namun, selama saya berada di toko Mursalim, terdapat hal unik yang membuat semua pembeli tahu diri berada di posisi mana saat akan membeli LPG. Sebuah spanduk dengan tulisan besar ditempel di dinding toko tersebut. Tulisan ini berbunyi, “Elpiji 3 KG Untuk Rakyat Kurang Mampu, Elpiji 12 KG Untuk Rakyat Mampu Golongan Menengah  Ke Atas.”

Tidak hanya itu, masih terdapat tambahan tulisan lain di spanduk tersebut, “Golongan Menengah Ke Atas Jangan Merampas Hak Rakyat Kurang Mampu!

Miris, Bukan?

Dan satu kalimat lainnya, “Tidak Malukah Anda Menggunakan Elpiji 3 KG?

Sindiran terakhir jelas sekali untuk golongan yang sudah dimaksud di atas. Lantas, benarkah kita sudah mengetahui posisi masing-masing?

Saya patut acungi jempol kepada Mursalim, membuat spanduk ini tentulah tidak serta-merta datang dengan sendirinya tanpa didasari atas kerisauan hati beliau. Mursalim mengerti sekali masyarakat menengah ke bawah akan kesulitan membeli LPG 12 kg (LPG nonsubsidi).

Lalu, bagaimana dengan kita? Ayo, kita pilih LPG yang ramah dengan kantong masing-masing. Lihat yuk, hasil liputan kami di video berikut ini. 


Sumber:
1.      Dokumentasi pribadi
2.      Pertamina
3.      www.kompas.com
4.      www.lemigas.esdm.go.id
5.      www.wikipedia.co.id
6.      dan referensi lain yang memadai. 

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90