Top Ad 728x90

Thursday, October 30, 2014

, ,

Dilema Sertifikasi dan Pendidikan Karakter

Guru, Sertifikasi Guru, UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, SBY, Pendidikan karakter


Sumber: Panduanguru.com

Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa pendidikan diselenggarakan untuk mencerdaskan bangsa. Kembali menarik benang merah dari tujuan pendidikan seperti termaktup dalam undang-undang tersebut, tujuan dasar dari pendidikan tak lain untuk membuat semua manusia di Indonesia menjadi tahu apa yang tidak diketahui sebelumnya. Dengan belajar di sekolah-sekolah setiap individu akan mendapatkan pengetahuan layak sehingga dapat memilih kehidupan mana yang akan ditempuh.

Kisruh pendidikan semakin menjadi pokok pembicaraan akhir-akhir ini. Muhammad Nuh menjadi sorotan selama menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional sejak tahun 22 Oktober 2009 menggantikan Bambang Sudibyo. Sejak duduk di kursi jabatannya tersebut Muhammad Nuh sudah membuat gebrakan yang begitu berarti kepada para pendidik. Konon, menteri era pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I dan II ini merupakan mantan rektor Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya. Pencapaian Muhammad Nuh dalam prestasinya sangat jauh dari hal berbau pendidikan sehingga menimbulkan ragu mampu memimpin kementerian strategis itu. Hal ini pula yang membuat saya pribadi meragukan posisi beliau sebagai menteri pendidikan, ditambah dengan banyak persoalan saat ini kedudukan tersebut dirasa sangat pincang.

Selama 8 tahun perjalanan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, selama itu pula para pendidik mendapat perhatian lebih. Dari guru biasa hingga menjadi guru profesional. Kata profesional merupakan istilah untuk para guru yang sudah lulus ujian kompetensi sesuai aturan main yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 62 Tahun 2013 Tentang Sertifikasi Guru dan Jabatan Dalam Rangka Penataan dan Pemerataan Guru.

Guru tersertifikasi tersebut wajib mengajar dalam jumlah 24 Jam Pelajaran sesuai bidang studi keahlian. Guru-guru profesional itu pontang-panting mengejar jam pelajaran dalam seminggu dengan mengabaikan tugas sebenarnya sebagai seorang pendidik.

Tahun 2014 menjadi petaka besar bagi sebagian besar guru yang mengajar tidak sesuai bidang keahlian. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terjun payung ke daerah-daerah untuk mengaudit dana yang sudah dikucirkan pemerintah kepada guru tersertifikasi. Guru yang selama ini mengajar di luar jam pelajaran bidang studi ahli sebagian harus membayar kembali dana sertifikasi tersebut. Peraturan pembelajaran bidang studi linear (agama; fiqih, qur’an hadis, akidah akhlak) bisa diajarkan oleh guru tersertifikasi dari salah satu bidang sudah tidak berlaku lagi. Sebenarnya memang tidak dibolehkan sejak dulu, pemahaman yang tidak memadai atau ingin cepat kuota kurang jam terpenuhi sehingga masih terdapat kecolongan tersebut.

Setelah BPKP menggebrak aksinya di awal 2014 ini dengan menemukan banyak kasus tidak sesuai harapan, guru-guru tersertifikasi semakin bingung ke mana akan ditempel sertifikat guru profesional. Karena itu pula banyak guru yang melarikan diri ke sekolah-sekolah di luar sekolah wajib untuk memenuhi kekurangan jam. Tuntutan 24 Jam Pelajaran membuat guru lupa tugas pokok mereka sebagai pendidik bukan hanya pengajar saja. Guru menjadi sosok yang hanya memenuhi kewajibannya sebagai guru profesional dengan mengabaikan hasil akhir dari suatu pembelajaran. Proses belajar mengajar menjadi tidak optimal sehingga siswa tidak benar-benar paham materi yang baru diajarkan. Kedekatan siswa dengan guru juga berkurang sehingga tidak ada komunikasi nonverbal antara pendidik dan si terdidik.

Guru profesional seperti sangat ketakutan kehilangan jumlah gaji dua kali lipat. Saya tidak sedang menyalahkan guru sebagai orang yang sudah mengajarkan saya baik buruk. Sistem pemerintah sudah tidak seperti kemauan undang-undang di awal tulisan ini. Sejak dulu guru sudah profesional sehingga banyak manusia sukses di Indonesia. Cara pemerintah menerapkan kebijakan ini malah merugikan guru dan peserta didik yang ngos-ngosan mengejar waktu maupun materi pelajaran. Sebagai orang yang sudah tua dari saya, siapapun itu, pasti sangat memahami bagaimana pendekatan guru masa lalu sehingga bisa melahirkan sosok seperti BJ.Habibie yang dikenang sepanjang masa di negeri ini.

Ada baiknya meletakkan posisi guru di tempat selayaknya karena mereka yang akan melahirkan pena emas di seluruh negeri. Niat pemerintah cukup beralasan dengan menggandakan gaji guru tersertifikasi, namun ada cara lain yang masih bisa diterima tanpa istilah 24 Jam Pelajaran, tanpa kerja paksa mengejar materi ajar, adalah dengan menambahkan gaji kepada guru pegawai lantas bekerja profesional sesuai keahliannya. Dengan demikian, materi ajar dipahami siswa dan kedekatan guru dengan siswa pun menjadi dasar memahami karakter siswa sebenarnya.

Di posisi sekarang ini, pendidikan karakter yang diagung-agungkan oleh pemerintah malah menjadi momok terlupakan. Guru mengejar kekurangan jam mengajar sedangkan siswa butuh perhatian. Memaksa guru mengajar penuh tanpa sempat mengenal – bahkan – nama siswa sekolah sendiri, bagaimana dengan siswa sekolah kedua?

Semua sudah terlanjur diciptakan sehingga tercipta pusara terjal. Pemerintah tentu saja menerima imbas dari dana sertifikasi yang bergulir setiap tahun. Namun itu bukan tugas saya menelaah masalah tersebut, biarkan mereka mencari kesenangan dari uang negara. Masalah sekarang adalah tergerusnya identitas pendidikan Indonesia.

Saya sendiri merasa sejak dulu pendidikan di Indonesia sudah berkarakter. Siswa-siswa terdahulu jarang sekali kita dengar melakukan tawuran sampai memakan korban jiwa. Siswa sekarang, di saat guru mengajarkan karakter dalam sertifikat guru profesional, malah berbuat lebih dari tawuran. Di mana-mana siswa menggelar perhelatan mengejutkan, bahkan di sekolah saja siswa bisa menciptakan video mesum, perkelahian sampai mencemooh gerakan-gerakan dalam ibadah wajib kaum muslim. Hal ini karena siswa sudah lebih berkarakter ke arah negatif, sebabnya tak lain karena guru lupa, diciptakan melupakan oleh pemerintah, dengan tugas sebagai seorang guru sebenarnya.

Pendidikan kita sudah sangat rancu, paling tidak di masa mendatang lahir generasi yang mampu menarik kembali cita-cita pendidikan sebagai dasar penting kemajuan negeri ini!

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90