Top Ad 728x90

Monday, October 13, 2014

,

Listrik Gratis Untuk Keluarga Miskin

PLN, Aku dan PLN, IdeKu Untuk PLN, Blogdetik

 
Sumber: Blogdetik
Sebelumnya, saya patut berterima kasih kepada PLN yang sudah setia melayani masyarakat hingga kini. PLN memiliki jasa tak ternilai dalam menerangi seluruh jagad pertiwi. Walaupun sering kali kita merasa kesal ketika terjadi pemadaman listrik bergilir tetapi PLN sudah memberikan yang terbaik. Pemadaman yang sering terjadi merupakan suatu kewajaran, berbagai alasan yang diutarakan PLN cukup bisa diterima. Dan apa yang kita nikmati belum sebanding dengan masa-masa pemadaman tersebut. Lebih kurang, kita memakai jasa PLN hampir 24 jam dalam sehari. Sebut saja peralatan rumah tangga, smartphone, notebook dan lain-lain, semuanya dibantu oleh aliran listrik supaya dapat menyala.

Di saat kita berkeluh-kesah hidup dalam gelap sesaat, kita bahkan lupa sebagian dari masyarakat Indonesia masih berada di dalam kegelapan sebenarnya. Di saat kita menikmati tayangan televisi pada malam hari di bawah lampu temaram, sebagian dari kita sedang makan malam ditemani lampu teplok. Saya tidak memungkiri, di daerah saya sendiri masih terdapat masyarakat yang belum bisa menikmati terangnya rumah mereka di malam hari.
***
Saya mengenal Maimunah, seorang janda di Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat. Maimunah merupakan janda ditinggal mati suami dan hidup bersama seorang cucu piatu dan tiga anak laki-laki. Cucu Maimunah berusia empat tahun dan dilupakan ayah kandungnya. Ketiga anak Maimunah sudah beranjak dewasa namun belum memiliki pekerjaan selain bertani di sawah milik kerabat mereka.

Tinggal di sebuah rumah kayu beratap rumbia tidak lantas membuat kehidupan Maimunah terpuruk. Maimunah tetap semangat dalam menjalani hari-harinya. Selain membantu ketiga anaknya pada musim sawah, Maimunah tidak bekerja apa-apa. Di rumah yang atapnya sudah bocor tersebut menyisakan kenangan berharga dalam diri Maimunah, tentang listrik, tentang rasa terima kasih pada mereka yang telah membantunya.

Bermula dari data keluarga miskin, Maimunah menerima pemasangan listrik gratis lebih kurang 10 tahun lalu. Maimunah tidak dapat mengingat dengan jelas tahun berapa, bantuan tersebut datang waktu suaminya masih ada. Sejak dulu hingga kini, kehidupan Maimunah masih seperti itu. Pemasangan listrik gratis yang dialamatkan kepada rumahnya merupakan anugerah yang tak terganti. Maimunah tidak paham bagaimana proses pemasangan listrik. Maimunah hanya menyebutkan ada orang berseragam putih datang ke rumah bersama kepala desa, lalu meminta persetujuan untuk memasang listrik. Kala itu, Maimunah bersama almarhum suami benar-benar melarat dari segi ekonomi. Maimunah sempat menolak, namun kepala desa menegaskan manfaatnya akan besar di kemudian hari. Kepala desa juga meyakinkan jika suatu saat Maimunah tidak sanggup menulasi iuran bulanan, beliau dapat membantu melunasinya. Bahkan, sampai ini Maimunah masih termasuk dalam kategori keluarga miskin, perempuan yang sudah mengalami masalah dengan pendengarannya ini belum sekali pun meminjam uang kepada kepala desa yang sudah pensiun tersebut, atau kepada orang lain untuk melunasi iuran bulanan dari PLN.

Maimunah masih ingat betul, setelah menerima listrik gratis mereka dibebaskan iuran selama 4 bulan. Setelah 4 bulan pertama, Maimunah diwajibkan membayar iuran selayaknya konsumen lain. Modal keyakinan dari kepala desa akhirnya Maimunah tidak keberatan lagi. Baginya memasang listrik sungguhlah mahal sekali, namun membayar iuran tergantung pemakaian. Maimunah membuktikan, bahwa hidup pas-pasan tidak membuatnya menagih iba pada orang lain. Maimunah tetap mampu membayar iuran setiap bulan. Maimunah berhemat. Hanya menggunakan aliran listrik untuk menghidupkan lampu saja. Dari dulu belum ada penambahan peralatan rumah tangga yang membutuhkan aliran listrik. Maimunah sangat sadar, dirinya cuma sanggup membayar iuran bulanan dalam jumlah kecil. Dengan menambah peralatan rumah tangga modern, maka beban iuran bulanan akan bertambah. Berharap pada ketiga anaknya sama saja seperti menanti janji yang tak pasti. Maimunah tidak mau muluk-muluk, biar dikata bodoh ia memang perempuan kampung yang tak bisa berbuat apa-apa, namun Maimunah punya rencana kuat supaya listrik di rumahnya tidak padam.

Begitulah, Maimunah sudah menjaga amanah besar dari pemberian orang lain. Sekarang ini lampu masih menyala di rumahnya. Dalam terbinar Maimunah mengatakan tidak mampu menebus biaya pemasangan listrik yang semakin hari semakin mahal. Rasa syukur Maimunah tidak hanya kepada aparat desa yang memedulikannya, juga kepada PLN yang sudah menerangi rumah gubuknya.
Maimunah di depan rumah

Maimunah saat diwawancara

Maimunah dan lampu yang sudah rusak

Maimunah sedang membersihkan ikan

***
Kita tinggalkan Maimunah, seorang janda kampung tak paham soal managemen keuangan namun bisa melunasi iuran bulanan listrik rumah gubuknya. Masih di daerah yang sama, saya bertemu Isa dan Aisyah. Dua orang yang lebih muda dari masih kuat bekerja dibandingkan Maimunah. Isa dan Aisyah sama-sama memiliki sawah milik sendiri, kebun karet milik sendiri dan anggota keluarga masih utuh. Malang nasib keduanya, listrik yang semula menyala terang mau tidak mau kembali gelap. PLN sudah menegaskan, pihaknya hanya mengratiskan pemasangan tetapi tidak dengan iuran bulanan. Isa dan Aisyah berulang kali mendapat teguran dari PLN karena tunggakan iuran hingga triwulan. Peneguran ketiga berdampak pada pemutusan arus listrik. Jika dalam waktu tiga bulan tidak melunasi tunggakan dimaksud maka seluruh peralatan yang sudah diberikan akan dicopot. Keberuntungan belum memihak pada keduanya. Saat PLN melakukan pencopotan, Isa dan Aisyah hanya bisa gigit jari dan meratapi nasib dalam gelap setiap malam-malam buta.

PLN sudah sangat baik mengratiskan pemasangan yang menelan biaya besar. Semakin hari semakin bertambah biaya pemasangan listrik. Sebagai konsumen sepatutnya kita menjaga dan melunasi tanggung jawab dengan benar. Walaupun demikian, sedikit masukan saya untuk PLN lebih baik lagi ke depan, semoga terus menerangi seluruh negeri!


Pertama, PLN melanjutkan program pemasangan listrik gratis kepada masyarakat miskin yang sudah berlangsung turun-temurun. PLN bersama pemerintah daerah menata kembali masyarakat miskin yang berhak menerima pemasangan listrik gratis agar benar-benar tepat sasaran.

Kedua, PLN dibantu pemerintah daerah setempat menggratiskan iuran bulanan. Hal ini merupakan bentuk nyata bantuan kemanusiaan untuk masyarakat miskin. Pelunasan iuran setiap bulan lebih berarti dibandingkan memberikan bantuan tunai. Tidak bermaksud menjatuhkan kalangan tertentu, namun pemberian dana khusus tidak tertutup kemungkinan digunakan untuk keperluan lain.

Ketiga, listrik sebagai penerangan. Biarkan menyala di rumah-rumah keluarga miskin, karena generasi muda sedang menulis dan membaca dalam rangka membangun bangsa dan negara di masa-masa mendatang.

Tidak hanya untuk PLN, kepada keluarga miskin yang sudah dan akan menerima bantuan ini di seluruh Indonesia, harapan saya:


Pertama, menjaga pemberian PLN dengan mencintainya sepenuh hati. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan memakai sesuai kebutuhan. Penghematan dilakukan supaya terhindar dari iuran besar dan tunggakan iuran yang berakhir pada pemutusan aliran listrik.

Kedua, melunasi iuran bulanan sesuai pemakaian, dengan demikian kita sudah membantu beban PLN dalam menghidupkan listrik sepanjang waktu.

Ketiga, mari bersyukur dan berterima kasih. Seandainya PLN tidak menggratiskan pemasangan awal arus listrik maka malam-malam kita akan tetap bersama lampu teplok. 
***

Artikel ini diikutsertkan dalam lomba blog Aku dan PLN. Tertarik dengan lomba ini, yuk klik banner berikut.


8 komentar:

  1. Bagus bai, inspiratif kisah maimunah :D

    ReplyDelete
  2. penilaian objektif bro. makasih pln!

    ReplyDelete
  3. PLN tolong benahi listrik mati terus-terusan di daerah saya!

    ReplyDelete
  4. @Kisruh Hati:Terima kasih, kita harus lihat realita kehidupan sebelum menilai bukan?

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90