Top Ad 728x90

Thursday, November 13, 2014

,

TIK: Dipraktik Bukan Dilirik

TIK, Guru, Pemanfaatan Teknologi dan Komunikasi (TIK), Guru Blogger

Makalan Siswa Kelas IX

Penilaian psikomotor adalah penilaian skill maupun kemampuan mempraktikkan ilmu dalam kehidupan nyata. Pembelajaran yang berlangsung diarahkan kepada tujuan tersebut. Pelajaran yang dimaksud di antaranya adalah TIK. Makanya, ketika isu menghilangkan TIK sebagai pelajaran inti menjadi persoalan rumit. Pengunaan TIK tidak hanya untuk mendukung pembelajaran karena belum tentu siswa paham. TIK tidak bisa digabungkan dengan pelajaran lain jika tujuan utama adalah untuk membisakan siswa dalam menggunakan peralatan teknologi mutakhir.

Saya memahami kegalauan siswa saat pembelajaran TIK berlangsung tanpa dipraktikkan. Siswa hanya bisa mengkhayal sesuatu yang abstrak. Siswa tak mampu mengapresiasikan pengetahuan kognitif mereka. Pelajaran ini menuntut siswa tidak hanya melihat tetapi merasakan langsung proses yang terjadi.

Saya seorang guru honorer, mengajar di dua sekolah di Aceh Barat yaitu menengah pertama dan atas. Saya bukan sarjana IT. Saya mengajar karena pelajaran ini yang masih menyisakan jam kepada guru honor. Dan alasan terakhir, karena saya memiliki sedikit ilmu dalam bidang ini.

Dua sekolah. Dua perbedaan yang sangat signifikan. Di sekolah menengah pertama saya melihat siswa lebih aktif mencari tahu banyak persoalan, misalnya mendesak saya menjelaskan mengenai perangkat penting komputer, media sosial maupun konten internet lain. Di sekolah menengah atas, saya mendapati siswa yang cenderung cuek, barangkali mereka sudah terbiasa menggunakan komputer atau menganggapnya tidak begitu penting di dalam pembelajaran. Di dua sekolah ini, pikiran saya terpecah antara masa anak-anak ke remaja dan remaja ke proses pendewasaan.

Nah, dari sinilah masalah muncul. Bukan karena sifat agresif dan pasif siswa. Masalah itu karena siswa masih minim pengetahuan mengenai komputer. Sifat diam dan cuek tidak menjamin siswa mampu mengimplementasikan pengetahuan mereka. Di sekolah menengah pertama, selain tidak tersedianya komputer di sekolah, hanya segelintir siswa yang memiliki komputer/laptop pribadi. Saya mengalami kebingungan akut mengenai hal ini. Harus memulai dari mana dan ke mana pelajaran TIK tanpa alat peraga. Saya berpikir lebih kuat supaya siswa tidak jenuh selama proses belajar mengajar.

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan siswa, saya memilih menyampaikan informasi terbaru supaya siswa tidak ketinggalan. Kurangnya fasilitas ditengah ribuan pertanyaan menjadi cambuk tersendiri. Di kelas VII sampai kelas VIII mudah saja mengajarkan mereka dengan buku paket, walau pemahaman mereka berada dalam angan-angan. Namun, di kelas IX malah terjadi sebaliknya. Siswa sudah mengetahui media sosial seperti facebook, twitter atau mesin pencari google. Memang, tidak semua siswa kelas IX sudah memahami perkembangan teknologi, tetapi saya tidak bisa mengabaikan siswa yang paham bahkan sudah memiliki akun di media sosial. Di kelas non inti saya mengajar dengan materi sesuai buku ajar saja. Di kelas inti saya harus memasang topeng lebih tebal karena siswa sudah banyak tahu dan lebih aktif. Di kelas inti pula saya mengadakan diskusi sesuai topik yang sudah saya tentukan. Hampir setiap tahun saya melakukan hal yang sama di kelas inti. Sayangnya, siswa kelas inti sudah memiliki kemampuan memadai namun belum terbiasa mempraktikkan ilmu mereka secara terbimbing. Sebagian besar siswa di kelas inti sudah memiliki laptop tetapi tidak mendapatkan arahan yang memadai. Orang tua masih membatasi penggunaan laptop, apalagi harus dibawa ke sekolah karena satu dan lain hal. Tugas saya jadi lebih berat saat siswa bertanya sedangkan apa yang ingin ditanyakan tersimpan di laptop mereka di rumah. Pertanyaan mereka sering kali tidak terarah dan saya mesti memilah-milah kata supaya jawaban tersebut menjadi ringan di telinga mereka.

Diskusi Kelompok Siswa Kelas IX

Lain halnya dengan pengajaran di sekolah menengah atas. Di sana saya sudah leluasa mengajar TIK karena sudah tersedia komputer. Di kelas X saya mengajarkan materi Microsoft Office Word dasar, kelas XI dengan materi Microsoft Office Excel dasar dan kelas XII dengan materi Microsoft Office Power Point dasar. Sangat jauh dari materi yang dituntut Kurikulum. Tapi ini di kampung, bukan di kota besar yang mudah fasilitas dari sekolah dan orang tua.

Di kelas X, materi yang saya tekan adalah pada pencapaian siswa memahami dasar-dasar pengetikan dan edit dokumen. Siswa yang belum terbiasa berhadapan dengan komputer setidaknya dapat mengetik dan membuat tulisan di halaman Word agar terlihat rata kiri dan kanan (justify), maupun pengetahuan dasar lainnya. Mungkin, sebagai guru saya dianggap ketinggalan materi. Tetapi saya bukan mengejar materi sampai ke Photoshop atau CorelDraw. Siswa kampung sangat berbeda dengan siswa kota. Dengan mengajar Word dasar, siswa kelas X dapat mengetik dengan lancar seusai tamat sekolah.

Di kelas XI, materi lanjutan adalah Excel. Sekali lagi saya tekankan, hanya dasar-dasar Excel. Harapan saya, setelah lulus nanti siswa-siswa dapat membedakan fungsi IF SUM, Average, dan yang paling penting perbedaan halaman Word dengan Excel yang patut dipahami siswa dengan benar. Berulang kali saya tekankan, siswa harus mengatur Page Layout supaya kertas A4 dan Legal dapat dibedakan, atau Portrait dengan Landscape sudah diatur dengan sebenarnya.

Di kelas XII, kebanyakan siswa sudah sangat paham pengetikan dasar. Materi inti adalah Power Point. Harapan terakhir saya, lulus dari sekolah siswa dapat membuat sebuah presentasi dengan tampilan menarik sesuai kemampuan mereka. Saya menuntut siswa membuat tugas secara personal. Dengan slide hasil kerja tersebut siswa mampu memformat Design dengan indah, animasi berjalan, maupun format lainnya. Saya membebaskan siswa memilih materi tertentu asalkan bermanfaat. Setelah membuat sebuah slideshow, saya meminta siswa mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Tugas siswa bukanlah menjelaskan isi di lembar-lembar tersebut, melainkan memaparkan bagaimana memformat sebuah paragraf bisa berjalan di atas slide mereka, dan format-format lain. Saya menuntut siswa untuk lebih kreatif. Power Point merupakan klimaks dari pembelajaran kami semenjak kelas satu. Selain itu, siswa dapat menggunakan pengetahuan ini untuk membuat slideshow untuk pelajaran lain. Sayang sekali, di tahun-tahun sebelumnya saya tidak mengabadikan penampilan siswa di depan kelas. Semester ini, baru minggu depan siswa kelas XII tampil dengan presentasi masing-masing.

Siswa Kelas XI

Terlepas dari ketiga materi dasar tersebut. Sekali kesempatan saya menginformasikan (bukan mengajarkan) penggunaan internet secara aktif dan bermanfaat. Selain media sosial, saya juga menganjurkan siswa untuk aktif sesuai bakat mereka. Karena saya memiliki kemampuan menulis, maka saya perkenalkan blog untuk mereka berkreativitas.


Rasanya, tidak semua dapat saya jabarkan di sini. Kesimpulan dari pelajaran TIK yang saya ajarkan adalah membisakan yang belum bisa, memberitahu yang belum diketahui dan mengarahkan ke tujuan bermanfaat. Nilai dalam bentuk angka hanyalah sebuah penghargaan kepada siswa. Mari kita rayakan keaktifan dan kreativitas siswa!

4 komentar:

  1. Anak akan lebih mudah paham kalau praktik langsung ya. Dan penting bagi anak-anak memahami TIK. Apalagi sekarang kalau kerja ada syarat bisa komputer. Nah lhooo...
    Salam dari Demak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. Terima kasih sudah mampir. Salam kembali.

      Delete
  2. ulasan menarik gan. komputer tu kudu dipraktek langsung. setuju dengan tulisan ente.

    ReplyDelete
  3. @Kisruh Hati: Terima kasih sudah mampir ya. Semoga bermanfaat. Ilmu TIK memang praktik bukan cuma lihat-lihat saja :)

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90