Top Ad 728x90

Monday, February 23, 2015

, ,

Menyimak Kegembiraan Miss dan Puteri Indonesia 2015

Miss Indonesia, Puteri Indonesia, Aceh


Awal tahun 2015 menjadi episode menarik bagi sebagian perempuan muda Indonesia. Perempuan-perempuan muda yang dimaksud adalah calon ratu “semalam” di bumi pertiwi. Pertarungan yang dilaksanakan dari tahun ke tahun memiliki konsep yang sama, tak ubah mengumbar kecerdasan, kecantikan alami maupun kepribadian melalui keseksian. Lantas, benarkah dalam menilai seseorang itu harus berlenggak-lenggok di atas catwalk? Berbicara teratur setelah digodok habis-habisan melalui salon kepribadian?
Setiap penilaian mempunyai porsi masing-masing. Dua ajang pencarian bakat populer di Indonesia adalah adaptasi dari kegiatan serupa yang dilaksanakan secara global. Ajang ini disinyalir hanya menguntungkan satu kalangan, walaupun tetap mengatasnamakan kedaerahan. Semua peserta melebeli dirinya berasal dari berbagai provinsi, padahal proses seleksi belum tentu dilaksanakan di daerah bersangkutan. Inilah salah satu sisi lemah dalam perhelatan acara besar menurut kalangan fashionista, entertainer maupun kalangan lain yang selalu mengagungkannya.
Memang, tidak ada dalil membesar-besarkan masalah pemilihan perempuan yang sekonyong-konyong benar-benar tercantik di Indonesia setiap tahunnya. Masalah yang muncul justru pada proses seleksi yang tidak kredibel, tidak transfaran, tidak melibatkan pemerintahan daerah, tidak mengedepankan ciri khas kedaerahan maupun perkara lain.
Dua perempuan yang mewakili Aceh ke ajang nasional tahunan itu adalah mereka yang penuh kontroversi sejak di awal kehadirannya disorot media. Apakah keduanya benar orang Aceh? Selintas, keduanya adalah keturunan Aceh. Keturunan saja tidak cukup. Darah berbeda dengan tanah tinggal. Keturunan Aceh yang tinggal di luar Aceh belum tentu mengerti keAcehan secara menyeluruh apalagi fasih berbahasa Aceh. Ini poin penting. Seseorang yang mewakili suatu daerah ke tingkat nasional maupun internasional haruslah memahami dengan benar ciri kultur daerah tersebut. Tidak cukup sekadar paham saja namun mempraktikkan tingkah laku kedaerahan. Orang ke Aceh karena budaya. Orang merongoh kocek mahal untuk mendapatkan tiket pesawat ke Aceh karena tidak hanya jejak tsunami yang ada di sini. Aceh punya baju adat berbagai motif di tiap daerah, Aceh punya rumoh Aceh, Aceh memiliki beragam bahasa daerah, terakhir Aceh dikenal sebagai salah satu daerah yang telah menerapkan syariat Islam. Poin terakhir menjadi salah satu alternatif wisata masyarakat luar bahwa Aceh adalah destinasi wisata religi. Apa yang terjadi jika perwakilan Aceh di tingkat nasional tidak mewakili unsur-unsur keAcehan tersebut?
Dua perempuan yang ikut ambil bagian dalam tayangan live di stasiun televisi swasta ini sama sekali tidak menggambarkan perempuan Aceh pada definisi sebenarnya. Wakil Aceh pada Miss Indonesia 2015 adalah Ratna Nurlia Alfiandini. Perempuan ini bahkan “hanya” menjelaskan dirinya sebagai keturunan Aceh namun tak terlihat sifat perempuan Aceh dalam dirinya. Perempuan ini berdomisili di Surabaya dan sedang menempuh pendidikan di sana. Wakil Aceh di ajang yang sama, Puteri Indonesia 2015 adalah Jeyskia Ayunda Sembiring. Perempuan ini lahir di Aceh namun menetap di Pekanbaru, bahkan pernah menjadi Duta Lalu Lintas Riau 2006. (atjehpost, online).
Dua perempuan, dua ajang berbeda, satu harapan, dan mewakili Aceh di tingkat nasional. Patutkah Aceh berbangga?

Proses Seleksi
Proses seleksi dua ajang pencarian perempuan cantik itu tidak di laksanakan di daerah domisili. Para peserta yang ingin ikut serta di dua ajang itu harus mengirimkan aplikasi/mendaftarkan diri ke alamat yang dituju. Proses seleksi yang dilakukan adalah oleh mereka yang hanya memahami dunia entertaiment. Sedikit sekali melibatkan pihak-pihak yang mengerti akar daerah masing-masing. (rcti.tv, online).
Menelaah laman pendaftaran online,  wajar saja peserta yang mengirimkan biodata “bisa” mewakilkan diri atas nama daerah tertentu. Contohnya, pendaftaran Miss Indonesia 2015 di www.rcti.tv/onlineauditionmissindonesia hanya dengan mengisi formulir dan memilih daerah. Mudah saja seseorang memasukkan daerah perwakilan karena tidak ada ketentuan khusus dari panitia pelaksana.
Kedua perempuan yang tersebut di atas; karena punya darah Aceh, karena pernah tinggal di Aceh, karena lahir di Aceh, karena ini dan itu. Berhak ambil bagian untuk mengikuti proses seleksi di Jakarta. Faktor-faktor itu belum memenuhi syarat untuk mengikuti suatu seleksi dalam membawa suatu daerah. Penilaian khusus yang semestinya digarisbawahi misalnya mampu berbahasa daerah dengan fasih, bisa memasak makanan daerah, mengetahui banyak suku di daerah, mengetahui jumlah kabupaten di daerah yang diwakilkan, mengetahui aturan (perda) daerah, maupun hal-hal sensitif lainnya yang dianggap perlu dalam mewakili kedaerahan.
Jika tidak memahami itu, apa tujuan mewakili daerah sedangkan tidak tahu-menahu tentang daerah di maksud? Namun, proses seleksi yang dilakukan tanpa menilai ke arah itu. Aplikasi yang masuk dinilai sebatas kemampuan bakat seni seperti modeling, akting, maupun tarik suara dan olahraga. Padahal kemampuan dasar daerah patut masuk ke dalam penilaian utama. Seorang yang mewakili daerah, mau tidak mau membawa nama daerah bukan nama dirinya. Daerah mana yang dibawa itulah identitas yang dipanggil. Tidak mengetahui seluk-beluk daerah, untuk apa membawa nama baik daerah tersebut?
Miss Indonesia maupun Puteri Indonesia – dalam tak terdefinisi – seakan-akan mensyaratkan setiap peserta untuk tidak menutup aurat mereka. Barangkali, kita tidak mengetahui apakah ada putri terbaik dari Aceh yang mengirim aplikasi ke kedua ajang tersebut. Merujuk pada antusiasme, bisa saja putri Aceh mengirimkan biodata mereka namun tidak lulus di mata panitia karena berjilbab atau alasan lain.
Perempuan Aceh sangat terkenal dengan aturan main dalam berbusana. Beberapa tahun belakangan, perwakilan Aceh selalu saja “bukan” perempuan asli dan dan berdomisili di Aceh. Putri Aceh pernah mewakili ajang yang sama dan masih mengenakan jilbab sebagai identitas seorang muslimah. Adalah Andina Agustina, Pemenang Puteri Favorit tahun 2004 salah satu contoh wakil Aceh yang istiqamah menggunakan jilbab. Aceh adalah Islam. Islam adalah Aceh. Aceh dan Islam merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. (wikipedia, online).

Keterlibatan Pemerintah Daerah
Sejauh mana pemerintah Aceh terlibat dalam rekrutmen wakil Aceh ke kedua ajang nasional itu? Selama ini pemerintah Aceh hanya mendukung perwakilan Puteri Pariwisata. Ajang serupa itu dilaksanakan di Aceh dan dinilai oleh orang Aceh kemudian baru diwakilkan ke tingkat nasional.
Pro dan kontra keikutsertaan dua perempuan yang sudah saya sebutkan diatas berulangkali terjadi. Tiap tahun masyarakat Aceh memprotes namun pemerintah tidak mengambil sikap tegas. Tahun ini, terulang kembali aksi protes. Namun, sampai acara kini pemerintah Aceh belum memberi aba-aba akan memboikot keikutsertaan dua perempuan entah bagaimana pengetahuannya tentang Aceh terlibat di dalam acara skala nasional itu.
Hadirnya dua perempuan di depan layar dengan pakaian serba minim; berselempang ACEH adalah noda merah di mata masyarakat Aceh. Orang akan berkata, “Itu perwakilan Aceh!.” Kita juga akan bersuara, “Wakil Aceh kok tidak berjilbab?
Pertanyaan-pertanyaan akan muncul dari setiap benak penonton. Acara ini live di televisi swasta nasional. Kita akan menggali asal-usul kedua wakil Aceh itu. Kita akan menghujat mengenai penampilan wakil Aceh dengan gaun malam nan seksi. Bukankah setiap tahunnya pemerintah Aceh diam saja? Pemerintah Aceh tidak hanya bersuara di media namun melaksanakan tindakan nyata. 
Pertama, jika masih ingin mengikuti kedua ajang pencarian bakat tersebut, pemerintah Aceh harus tegas kepada panitia pelaksana. Wakil Aceh harus diseleksi di Aceh dan harus putri Aceh asli. Tidak hanya mengerti adat-istiadat namun kukuh sebagai muslimah sejati. Pemilihan wakil rakyat saja diwajibkan membaca al-Quran dan wawancara keagamaan, hal serupa juga dapat diterapkan pada wakil yang mewakili Aceh di tingkat nasional. Pemerintah Aceh memiliki lembaga pemerintah seperti Kementerian Pariwisata yang berhak mengatur segala urusan. Wakil yang telah diseleksi kemudian baru dikirim ke penyelenggara, baik Miss Indonesia maupun Puteri Indonesia. Panitia pelaksana menolak, stop keikutsertaan di kedua ajang tersebut. Tidak ada ruginya, bukan?
Kedua, boikot wakil Aceh di dua ajang tersebut. Jika pemerintah Aceh menganggap kedua acara ini tidak ada manfaat bagi pemerintah daerah, solusinya absen saja dari acara itu. Surat terbuka kepada penyelenggara dikirimkan oleh pejabat berwenang dengan menitikberatkan; Aceh Absen!
Ketiga, masyarakat Aceh juga memiliki andil dalam menghentikan wakil Aceh di dua ajang ini. Masyarakat bisa membuat petisi yang dialamatkan kepada kedua yayasan penyelenggara.
Protes yang dilakukan di media online tak menghentikan kaki wakil Aceh untuk tetap kukuh di kedua ajang yang sama. Pemerintah Aceh hanya boleh memberi izin kepada wakil yang dianggap benar-benar lulus seleksi berdasarkan kriteria keAcehan.

Keuntungan Untuk Aceh
Masih ingat Qory Sandioriva Pemenang Puteri Indonesia 2009? Apa keuntungannya bagi kita? Aceh semakin terkenal? Kita terkenal bukan karena menangnya wakil Aceh di dua ajang yang penilaian final dari jawaban yang diberikan juri. Aceh sudah terkenal dari dulu. Namun wakil Aceh yang menang sungguh tidak membawa nama baik Aceh, keAcehan yang seharusnya dikenalkan kepada masyarakat luar malah tertutupi karena kasus pribadi.
Wakil Aceh – siapapun itu – menang atau tidak harus kembali ke Aceh lalu membawa kembali bendera di Aceh ke dunia luar. Kekayaan alam Aceh berlimpah. Panorama alam nan elok. Kebudayaan memukau. Suku beragam. Bahasa penuh tata krama. Sayangnya, wakil Aceh yang telah ikut acara itu bahkan tidak kenal Aceh secara keseluruhan. Mereka hanya membawa nama Aceh. Cukup nama saja. Lantas lupa. Sibuk dengan aktivitas tanpa sangkut paut dengan Aceh.
Wakil Aceh selalu menyisakan kenangan pahit setelah keikutsertaan mereka di dua ajang ini. Kesan cantik, seksi, anggun, pintar, berbakat, bertalenta; semua dibalut dalam semalam dan menyirnakan pertaruhan bertahun-tahun perempuan Aceh yang dirazia oleh polisi syariat akibat memakai pakaian tidak sesuai kaidah Islam.
Miris sekali, saat selebriti ibu kota berlomba-lomba menutup aurat, wakil Aceh di dua ajang ini malah berbangga mencoreng nama baik muslimah Aceh yang membela keimanan mereka dibalik jilbab menjuntai ke dada!
*** 

2 komentar:

  1. Tahun ini wakil Aceh memang agak gawat kali ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Sangat parah; dari dunia antah berantah.

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90