Top Ad 728x90

Friday, February 27, 2015

, , ,

Perempuan Penambal Ban

Perempuan Penambal Ban, Perempuan, Ban, Kerja, Work, Gender, Aceh, Indonesia

Perempuan Penambal Ban
Siang yang panas menyengat. Aspal hitam yang licin. Jalan lurus. Tikungan tajam. Gunung berliku. Lautan lepas membentang biru. Semua bercampur aduk di antara kecemasan. Saya sebagai pengendara sepeda motor dari Banda Aceh ke Meulaboh (Aceh Barat). Perjalanan di bawah terik matahari itu memakan waktu lebih kurang lima jam perjalanan dalam jarak lebih kurang 245 KM.

Saya termasuk orang yang tidak menyukai tantangan berlebihan dalam berkendaraan. Spidometer motor matic tak pernah menunjukkan angka lewat dari 100 km/jam. Tergolong lamban untuk ukuran perjalanan jarak jauh lintas kabupaten. Setidaknya saya meninggalkan Ibu Kota Provinsi, masuk ke daerah Aceh Besar, Aceh Jaya, kemudian baru sampai di Aceh Barat.

Malang tak bisa dihindar. Biar pun saya sudah menservice motor itu sehari sebelumnya, musibah datang tak pernah diundang.

Satu hal yang patut saya syukuri, kejadian nahas tersebut tidak menimpa saya seorang diri di atas gunung perbatasan antara kabupaten Aceh Besar dengan Aceh Jaya. Ada tiga gunung tinggi yaitu Gunung Kulu, Gunung Paro dan Gunung Geureute. Gunung terakhir merupakan salah satu pengunungan yang indah, tidak hanya pemandangan lautnya saja, warung kopi pun berjejer di sana.

Tiba-tiba saja motor saya oleng saat turun dari gunung terakhir. Sebuah tanda angin ban belakang kempes. Dalam keadaan panik saya langsung berhenti. Melihat kondisi ban yang benar-benar sudah kempes. Saat itu saya sudah berada di kawasan Lamno, Aceh Jaya, lebih kurang dua jam perjalanan dari Banda Aceh.

Di terik matahari, keringat membasahi sekujur tubuh. Jelas sekali saya sangat panik. Masih puluhan kilometer lagi dan lebih kurang tiga jam lagi baru sampai di rumah. Sebenarnya, saya tidak takut pada keadaan lingkungan. Jalanan ramai. Perumahan penduduk padat. Tapi entah kenapa, saya benar-benar sangat takut. Mungkin karena seorang diri.

Saya mendorong motor hampir satu kilometer. Peluh jangan ditanya lagi. Hati saya langsung bersorak ketika menjumpai sebuah bengkel. Kecil saja bengkel di pinggir jalan raya itu. Tampak sekali bengkel itu khusus untuk sepeda motor.

Begitu saya memarkirkan motor di halaman bengkel itu, tidak ada seorang pun di sana. Saya mengucapkan salam. Tak lama seorang perempuan keluar dari dalam. Perempuan itu berusia sekitar 40 tahun. Kulitnya lebih terang. Matanya biru, rata-rata masyarakat Lamno yang dikata keturunan Portugis.

Karena saya tidak tahu, saya menanyakan suaminya. Kebodohan yang saya seseli kemudian. Wajar saya bertanya demikian, selama ini saya belum pernah menemukan seorang perempuan bekerja di bengkel kecil begini.

Saya terhenyak begitu perempuan itu menyebutkan dirinya yang menambal ban motor.

Serius?

Perempuan itu tidak menjawab pertanyaan yang belum sempat saya tanyakan. Dengan cekatan perempuan yang sampai saat ini belum saya ketahui namanya membongkar ban belakang motor saya. Menyiapkan kebutuhan untuk menambal ban kempes. Peralatan penting sudah di sampingnya.

Saya malah melongo.

Jujur. Saya tidak percaya. Pekerjaan kasar itu seharusnya dilakukan seorang laki-laki. Namun perempuan itu malah lebih “gagah” dari perkiraan saya sebelumnya. Oh, benarlah. Kenapa saya merendahkan kedudukan perempuan itu?

Profesi. Tepat sekali. Mungkin itulah profesi perempuan itu. Saya akui, hasil kerjanya telah mengantarkan saya sampai ke rumah. Aceh Barat yang barangkali belum pernah disinggahinya. Saya sangat berterima kasih kepada kerja kerasnya!


Apapun alasannya. Perempuan itu mengajarkan satu hal. Bahwa, perempuan juga bisa mengerjakan pekerjaan laki-laki (kasar). Anda setuju? 

4 komentar:

  1. Pekerjaan kasar itu seharusnya dilakukan seorang laki-laki. --> Ubai terlalu patrialism kali ya :D Ini udah abad 21 bai, bukan lagi jaman kerajaan Majaphit. Nggak jamannya lagi bedain pekerjaan anu untuk laki-laki dan pekerjaan ono untuk perempuan.
    Di luar negeri, perempuan kerja konstruksi malah udah biasa lho, malah ada yang kerja di perkapalan di laut lepas. Apalagi cuma bengkel motor, nggak ada apa-apa ini mah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru aku terbiasa dgn hal ini. Ingat kan ak pernah kerja di salah satu LSM perempuan.
      Kisah ini cm berbagi saja biar laki-laki juga tdak egois dlm bertindak.

      Delete
  2. Maksud komen aku bukan untuk tulisan kisah ini bai, tetapi fokus ke opini ubai sendiri untuk kisah ini, di kalimat ini opini ubai:
    Pekerjaan kasar itu seharusnya dilakukan seorang laki-laki
    -->
    Opini Ubai itu bisa bias karena:
    1. Nggak jamannya lagi bedain pekerjaan anu untuk laki-laki dan pekerjaan ono untuk perempuan.

    2. Terkesan meremehkan perempuan yang mana perempuan nggak bisa kerja kasar. Kasar atau tidak, jangan dilihat dari laki-laki atau perempuan, tetapi lihat dari kemampuan individu. kalau si perempuan sanggup mengerjakannya, kenapa tidak? Misalnya ada pemanjat kepala perempuan, kalau sanggup ya kenapa tidak tho?

    Intinya, lihat sesuatu itu berdasarkan kemampuannya, bukan jenis kelaminnya.

    Sekali lagi, ini fokus ke kalimat yang kubilang itu aja ya, bukan ke kisah ini, qeqe...

    ReplyDelete
  3. @Fardelyn Hacky:Oh iya, kalimat itu memang sangat bias Ki. Intinya, di kalangan masyarakat banyak perempuan melakukan pekerjaan "kasar" namun bagi mereka itu bukanlah penjelasan dari gender. Gender yang menurut teori sangat sukar dipahami oleh masyarakat awam, kecuali memberikan contoh yang konkret.

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90