Top Ad 728x90

Thursday, March 12, 2015

, ,

7 Alternatif Memajukan Pariwisata Indonesia

Pariwisata, Aceh, Indonesia, Sunset, Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Agung, Wonderfull Indonesia


Indonesia menyimpan segudang budaya, suku, bahasa, panorama alam yang maha indah, segalanya. Namun kita terlupa bahwa semuanya adalah milik kita. Kitalah yang berhak mengatur keindahan itu menjadi lebih istimewa sampai ke kancah internasional. Kita lebih membanggakan kisah perjalanan ke luar negeri dibandingkan segenap kekayaan alam dari Sabang sampai Merauke. Wisatawan hanya mengenal Bali, Raja Ampat, Pulau Komodo dan beberapa destinasi lain. Padahal, di pelosok tertentu negeri kita sungguh lebih indah dibandingkan tempat-tempat yang sudah dikenal dunia.
Kata kunci dari sebuah perkenalan terhadap pariwisata Indonesia adalah promosi. Dunia sudah mengenal Angklung, Batik, Tari Saman dan lain-lain. Terkenal saja tidak cukup. Dunia harus mengetahui keberadaan kebudayaan lain yang tersimpan jauh di rimba Indonesia. Kementerian Pariwisata punya andil besar dalam mewujudkan cita-cita anak negeri mengenalkan Indonesia ke seluruh dunia. Para pemangku kebijakan ini tidak boleh senang-senang saja melihat, menyukai bahkan mengomentari foto-foto dan tulisan mengenai pariwisata yang bersemak di media sosial. Saya termasuk bagian dari mereka yang memposting foto-foto, menulis sedikit kisah tentang kekayaan alam kita. Apakah itu sudah menjadi sebuah jaminan negara kita semakin terkenal?
Saya memiliki tujuh alternatif yang dapat dilakukan Kementerian Pariwisata dalam rangka menarik wisatawan ke destinasi pilihan.

Maskapai Penerbangan dan Tiket Murah
Ayolah. Kita sama-sama mengetahui bahwa masyarakat Indonesia punya impian naik pesawat terbang. Saya termasuk di antara kalangan kelas bawah yang bermimpi bisa duduk manis di dalam sebuah penerbangan.
Kementerian Pariwisata ingin tempat-tempat indah dikunjungi banyak orang, bukan? Membawa banyak orang ke tempat dimaksud tidak mudah. Bayangkan jika dari Aceh lalu ingin ke Bali, ke Raja Ampat, ke pasar terapung di Kalimantan, ke mana-mana. Mahal sekali. Satu-satunya pilihan adalah kerja sama dengan maskapai penerbangan. Kementerian Pariwisata dan maskapai penerbangan bisa merencanakan program untuk kesejahteraan masyarakat kelas bawah yang bermimpi duduk manis di atas ketinggian ribuan kaki.
Kita ketepikan soal tiket murah tidak aman. Kecelakaan pesawat murni karena keadaan alam atau kesalahan teknis pada pesawat. Indonesia yang luas sekali dan berpulau-pulau tidak mungkin dijangkau dengan kendaraan roda empat. Jika sanggup pun, kecelakaan di darat malah lebih sering terjadi dibandingkan udara.
Kerja sama Kementerian Pariwisata dengan maskapai penerbangan tentu saja mewujudkan mimpi anak negeri yang isi dompet pas-pasan. Program yang ditawarkan bisa berupa tiket murah pada waktu tertentu, misalnya masa liburan. Antusiasme masyarakat untuk berlibur pada masa liburan sangat besar sekali. Pada kenyataannya, warga Indonesia malah lebih senang berlibur ke luar negeri karena beragam tiket murah dari maskapai penerbangan yang terkenal dengan semboyan everyone can fly. Pemilihan tiket murah tentu saja setelah pertimbangan matang. Tiket murah paling tidak bisa meminimalkan pengeluaran di tempat tujuan. Di tempat liburan kita akan menginap di hotel dalam yang belum tentu memberikan diskon, wisata kuliner, biaya transportasi, dan shopping yang bisa menghabiskan dana besar.
Sekarang, promosi besar-besaran hasil kerja sama Kementerian Pariwisata dengan maskapai penerbangan menjadi pilihan masyarakat Indonesia untuk tidak hanya berlibur ke luar negeri.

Iklan Televisi
Pertumbuhan televisi swasta di Indonesia semakin pesat. Siapa yang tidak menonton televisi?
Televisi masih dan akan tetap menjadi pilihan hiburan sampai waktu tak tentu. Sayangnya, tayangan televisi belum mengarahkan penonton supaya berkunjung ke destinasi indah di dalam negeri. Kementerian Pariwisata tampaknya belum maksimal dalam memberdayakan keberadaan televisi. Salah satu pilihan yang masih “murah” adalah membuat iklan televisi. Tinggalkan Bali maupun Raja Ampat yang sudah sangat dikenal. Kementerian Pariwisata punya segudang referensi tempat-tempat yang layak dikunjungi wisatawan. Iklan layanan masyarakat tak lebih satu menit itu sangat berpengaruh terhadap penonton. Selama ini iklan yang banyak bermunculan malah produk-produk kosmetik maupun rokok. Kita lihat sendiri beberapa iklan yang dikenal karena keunikan. Unik itu menarik. Unik itu asing. Dan unik itu akan diingat bahkan ditiru.
Saya percaya Kementerian Pariwisata punya budget untuk ini. Kerja sama dengan perusahaan periklanan televisi menjadi pilihan tepat. Kementerian Pariwisata bisa juga bekerja sama dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam rangka menyiarkan iklan pariwisata pada jam prime time. KPI punya andil besar dalam mengatur pertelevisian Indonesia. Siapa yang tahu karena rayuan KPI, Kementerian Pariwisata mendapatkan spot gratis iklan yang dimaksud. Perusahaan penyedia iklan dan televisi dibawah izin KPI bukan? Siapa yang tidak mau destinasi di negeri ini dikenal orang banyak?

Iklan Media Sosial
Selain televisi, media sosial adalah tempat di mana banyak orang berkumpul hampir satu dekade. Seharusnya, Kementerian Pariwisata menggunakan momentum berharga ini dalam mempromosikan secara besar-besaran destinasi yang dimiliki negeri kita. Salah satu media sosial yang menampung iklan di wall mereka adalah Facebook. Media sosial ini masih dianggap sarana berbagi sejuta umat. Sayangnya, jika pun ada, hanya lembaga swasta yang menayangkan promosi wisata ke tempat tertentu. Lembaga swasta ini pun lebih banyak menawarkan tiket gratis karena alasan tertentu, misalnya ikut poling dan lain-lain. Selain Facebook, Google merupakan raksasa teknologi yang tiap detik dibuka pengguna internet. Beberapa kali Google menayangkan momentum tertentu di laman muka. Kesempatan ini juga bisa dilakukan oleh Kementerian Pariwisata, dekati Google dan minta mereka memasang destinasi indah di laman awal mesin pencari itu. Tak perlu tiap hari, sesekali saja, terjadwal dan berkelanjutan.
Kementerian Pariwisata adalah lembaga pemerintah yang punya wewenang besar terhadap sebuah kebijakan. Dalam memudahkan pintu masuk ke Facebook dan Google, misalnya, Kementerian Pariwisata mengeratkan kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Selama ini Kominfo mudah saja memblokir sebuah situs karena dianggap melanggar undang-undang yang berlaku di Indonesia (pornografi dan pornoaksi). Lantas, sebuah iklan pariwisata “gratis” tentu lebih mudah duduk manis di laman Facebook dan Google. Kalau Facebook tidak mau, kedua lembaga pemerintah ini bisa saja menonaktifkan Facebook di Indonesia. Saya yakin sekali, dengan jutaan akun aktif di Indonesia, Mark Zuckerberg akan mempertimbangkan dengan matang ajuan proposal ini. Masih ingat bukan, Mark memposting Candi Borobudur? Tanpa sengaja, Mark telah mempromosikan Indonesia tanpa campur tangan Kementerian Pariwisata.

Penulis & Blogger
Indonesia mempunyai banyak penulis dan blogger travel. Di antara mereka yang terkenal itu ada Trinity, Agustinus Wibowo, Marischka Prudence, Ahmad Fuadi atau Asma Nadia.
Secara tidak sengaja kelima nama yang saya sebutkan di atas telah mempromosikan Indonesia di akun media sosial maupun buku. Kelimanya aktif di Instagram (layanan berbagi foto yang kini dimiliki Facebook). Kelima orang hebat tersebut memposting foto-foto dari berbagai destinasi Indonesia dan dunia. Kelima penulis ini juga memiliki jutaan pengikut, sebuah poin penting di media sosial.  
Lalu apa yang penting dari mereka? Trinity dikenal sebagai blogger travel yang telah menerbitkan buku. Buku Naked Traveler lebih banyak menceritakan kisah di luar negeri. Agustinus Wibowo malah fokus menulis tentang negara yang berakhiran tan; salah satunya Afganistan. Marischka Prudence masih fokus menulis di blog pribadi dan Instagram dengan foto-foto indahnya. Ahmad Fuadi dan Asma Nadia memang belum menulis buku tentang wisata namun foto-foto di Instagram sudah cukup membuat kita paham keduanya mencintai pariwisata Indonesia.  
Kerja sama dengan kelima penulis dan blogger ini – juga dengan penulis lain – adalah sesuatu yang sangat “gratis” bagi Kementerian Pariwisata.  Saya sangat yakin kelima penulis ini akan senang sekali diajak kerja sama oleh lembaga pemerintah. Kementerian Pariwisata akan mendapat banyak keuntungan jika sudah bekerja sama dengan penulis & blogger terkenal. Foto maupun tulisan mereka disukai banyak orang, dari sekian yang lihat dan baca pasti ada yang tergoda untuk mengunjungi tempat tersebut.

Lomba Blog
Tidak bisa dipungkiri, blog sudah sangat ekslusif untuk penulis. Beruntung sekali Kementerian Pariwisata menjalin kerja sama dengan Kompasiana dalam mengadakan lomba blog. Namun itu belum cukup. Merangkul blogger bukan hanya melalui lomba blog saja. Kementerian Pariwisata setidaknya menyediakan kanal khusus di Kompasiana atau di blog komunitas lain. Di kanal khusus wisata tersebut para blogger bisa mempromosikan tempat-tempat menarik di seluruh Indonesia. Dan tentu saja, pada periode tertentu, tiga bulan sekali dipilih blogger terfavorit yang menulis tempat eksotik dan unik. Kementerian Pariwisata memberikan sedikit cendera mata kepada blogger pilihan. Apresiasi yang paling menarik adalah memilih blogger inspiratif dengan kisah mereka di akhir tahun lalu memberikan tiket perjalanan ke destinasi pilihan dalam negeri. Blogger terpilih ditugaskan kembali untuk menulis kisah menarik di destinasi pilihan.
Internet adalah media yang akan hidup sepanjang masa. Kementerian Pariwisata jangan menyia-nyiakan momentum ini. Jika memilih penulis atau blogger terkenal seperti di poin sebelumnya lebih rumit, proses penyaringan melalui kanal khusus justru lebih mudah. Banyak sekali penulis yang menulis setiap hari. Media massa tidak memuat tulisan mereka, maka blog adalah alternatif terbaik.

Film & Drama
Saya sangat salut sekali dengan Korea Selatan. Boleh dikata, saya penggemar negeri ginseng tersebut. Anda akan setuju jika saya katakan, pemerintah Korea Selatan mati-matian mempromosikan budaya, kehidupan sosial, kemewahan teknologi dan lain-lain melalui film maupun drama.
Hebatnya, penonton Indonesia terpesona. Drama Korea Selatan yang masuk ke Indonesia ditonton ribuan orang.
Pentingkah itu? Sangat penting. Di antara sekian banyak judul drama, kita dapat mengetahui Dinasti Joseon, keindahan kota Seoul, maupun Pulau Jeju yang mungkin saja tak lebih kurang dibandingkan Bali. Bandingkan dengan drama/sinetron Indonesia yang lebih banyak tidak edukatif.
Kementerian Pariwisata tidak hanya bekerja sama dengan KPI saja dalam menyelipkan keindahan wisata Indonesia dalam drama. Pendekatan yang dapat dilakukan adalah kerja sama dengan rumah produksi. Tidak ada salahnya menawarkan ide-ide segar kepada rumah produksi. Kementerian Pariwisata menentukan tempat yang ingin diperkenalkan kepada penonton, menyediakan anggaran yang berlimpah dari pemerintah, lalu biarkan rumah produksi yang memainkan peran mereka. Tetapi konsep yang ingin ditayangkan tetap mengedepankan nilai-nilai pendidikan.
Tanpa kita sadari, beberapa film sudah mulai memberikan tontonan menarik tentang negeri ini. Para pegiat film secara sadar ingin sekali Indonesia dikenal oleh dunia. Sayangnya, Kementerian Pariwisata masih kurang terlibat dalam film-film yang memberikan sentuhan destinasi indah negeri kita.

Pegiat Seni Peran
Orang terkenal sangat mudah menarik massa. Anggapan saya demikian. Lihat saja Nicholas Saputra yang tetap dikenang. Mira Lesmana yang semakin produktif membuat film beragam tema dan filmnya laris manis. Dua tokoh ini lebih banyak memposting keindahan alam Indonesia di akun Instagram pribadi dibandingkan Kementerian Pariwisata.
Baik Nicholas dan Mira adalah kekayaan intelektual berharga negeri ini. Pemerintah Pariwisata dapat melibatkan keduanya – juga pegiat seni peran lain – dalam mempromosikan keindahan alam Indonesia. Saya sendiri sangat ingin mengunjungi tempat-tempat yang terposting di akun Instagram keduanya. Tidak hanya itu, kedua tokoh ini memiliki peran besar terhadap perfilman Indonesia. Menambahkan poin sebelumnya, sentuhan film terhadap wisata sangat besar pengaruhnya bagi masyarakat. Film yang sudah usai masa tayang di bioskop akan dibeli lisensi oleh televisi. Penonton televisi tak pernah dapat dihitung seperti penonton bioskop. Di setiap pelosok desa terdapat televisi. Film-film yang menawarkan keindahan wisata akan ditonton oleh banyak mata. Jika kita kalkulasikan dalam 1000 ada 100 yang terpikat dengan tempat yang ada di film tersebut, maka Indonesia benar-benar menarik minat untuk dikunjungi.
***
Coba kita berkaca pada Korea Selatan maupun Tiongkok. Korea Selatan merupakan negara kecil yang mendadak terkenal dalam waktu singkat. Tiongkok tak lain adalah negara besar yang berdiri sendiri tanpa bergantung pada negara adidaya lain. Kedua negara Asia ini dikenal dunia karena kekuatan besar mereka. Usaha besar-besaran dari kedua negara yang penduduknya bermata sipit ini membawa perubahan besar. Bahasa Mandarin menjadi salah satu bahasa internasional. Tampaknya, Bahasa Hangul (Korea Selatan) juga akan mendunia mengingat gaung K-Pop semakin semarak akhir-akhir ini.
Kunci sebuah perkenalan adalah bahasa. Korea Selatan dan Tiongkok sudah berhasil menghipnotis kita. Kedua negara ini juga tidak mewajibkan warganya menggunakan bahasa Inggris. Anda yang sudah berkunjung ke kedua negara ini pasti merasa kesulitan berkomunikasi dengan warga setempat yang kurang paham bahasa nomor satu dunia.
Kedua negara ini bukan saja sebagai tujuan wisata alam yang indah, kekuasaan teknologi menjadi wisata ilmu pengetahuan tak terbantahkan. Produk-produk teknologi dari kedua negara ini sudah mendunia. Mungkin, di antara Anda yang membaca tulisan ini merupakan konsumen smartphone dan tablet dari kedua negara yang ingin saya kunjungi suatu saat nanti.
Di akhir tulisan panjang ini. Di mana posisi pariwisata Indonesia? Semoga Kementerian Pariwisata mempertimbangkan salah satu alternatif dari saya. Terima kasih telah membaca dan nikmatilah beberapa potret Aceh di bawah ini.  
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Photo by Bai Ruindra
Masjid Raya Baiturrahman Dini Hari, Banda Aceh, Photo by Bai Ruindra

Masjid Agung, Meulaboh (Aceh Barat), Photo by Bai Ruindra
Jembatan Peunayong, Banda Aceh, Photo by Bai Ruindra
Gunung Geureute, Aceh Jaya, Photo by Bai Ruindra
Sunset di Aceh Barat, Photoby Bai Ruindra
***
Referensi:
1.      Agustinus Wibowo à Blog di http://agustinuswibowo.com/
2.      Ahmad Fuadi à Instagram di http://instagram.com/afuadi
3.      Air Asia Indonesia à http://www.airasia.com/id/id/home.page?cid=1
4.      Asma Nadia à Instagram di http://instagram.com/asmanadia
6.      Detik Travel à http://travel.detik.com/
7.      Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif à http://www.parekraf.go.id/
8.      Kompas Travel à http://travel.kompas.com/
9.      Marischka Prudence à Blog di http://marischkaprudence.blogspot.com/ Instagram di http://instagram.com/marischkaprue
10.  Mira Lesmana à Instagram di http://instagram.com/mirles
11.  Nicholas Saputra à Instagram di http://instagram.com/nicholassaputra
12.  Tiket Gratis Garuda Indonesia à http://campaigns.garuda-indonesia.com/gatravelresolution/

5 komentar:

  1. iklan emang sudah paling efektif deh. entah lewat socmed ataupun tv...

    ReplyDelete
  2. @i Jeverson:Benar. Iklan sangat mempengaruhi kelangsungan pariwisata kita :)

    ReplyDelete
  3. Dari berbagai cara di atas, iklan mungkin yang paling efektif. Juga karena pangsa pasar dari iklan itu sendiri juga luas. Melalui penulis blog (blogger) juga lumayan efektif, sudah banyak yang punya blog tentang pariwisata Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Arya, iklan blog alternatif terbaik saat ini :)

      Delete
  4. biar banyak yg tau, ya harus d sebar,
    iklan salah satu media paling membantu dalam hal memajukan pariwisata
    jasa lukis dinding

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90