Top Ad 728x90

Friday, March 13, 2015

,

Dear, Dokter Jutek

Dokter, Pendidikan, Sakit, Obat

Sumber: segelassususapi.blogspot.com
Semua orang akan sakit!
Sedikit emosi, hampir saja saya mengeluarkan kalimat tersebut di depan dokter cantik itu.
Kondisi fisik saya sudah sangat tidak bersahabat. Keadaan makin kacau menghadapi dokter tinggi semampai, berwajah tirus, memainkan smartphone high end, berpakaian serba putih termasuk kerudung yang diikat ke leher. Sayangnya wajah rupawan tersebut tidak tersenyum melihat kedatangan saya yang pucat.
Baiklah. Dokter nan menawan itu bekerja.
Hei! Semua orang juga seorang pekerja! Bukan beliau saja yang lelah menghadapi beragam pasien maupun mengingat banyak jenis obat. Saya punya alasan menghadap perempuan yang bergelar dokter itu. Sebagai dokter selayaknya beliau memberi senyum menawan kepada pasien, lupakan persoalan lelah dan masalah rumah tangga yang tak kunjung usai. Saya tidak mau tahu, pikiran saya hanya mencatat perempuan itu adalah seorang dokter; pemberi obat untuk menghilangkan rasa sakit di sekujur tubuh.
Berhadapan dengan dokter bermuka masam itu, saya ingin berucap, saya tidak memintanya menjadi dokter!
Banyak kisah rumit lain dalam menghadapi dokter yang cantik maupun tampan. Orang sakit butuh lebih banyak dukungan dibandingkan cemoohan. Salah satu dukungan tersebut dari dokter yang dianggap manusia terhebat dalam menyembuhkan penyakit. Walaupun kesembuhan itu kembali kepada kuasa Tuhan, usaha menjumpai dokter lalu mendapatkan obat adalah pilihan terbaik. Setiap penyakit pasti ada obat. Berdiam diri di rumah tanpa berobat sama saja bohong, bukan?
Saya berharap banyak pada dokter yang saya jumpai. Setidaknya, setelah mendapat diagnosa dan menerima obat, saya bisa kembali pulang dengan bahagia. Oh benar, kondisi bahagia merupakan obat mujarab selain obat yang diberikan dokter. Kebahagiaan yang seharusnya saya dapatkan malah diganjal dengan sikap judes dokter dari rumah sakit umum milik pemerintah.
Derita saya tidak berhenti dengan sifat dokter yang sudah menjabat sebagai pegawai negeri tersebut. Saya hanya menerima pertanyaan ringan saja, tanpa diagnosa lebih mendalam. Tak lama sang dokter menulis resep obat dengan sangat terpaksa. Tulisan cakar ayam tak mampu saya pahami dengan benar. Saya memahami memang demikian tulisan dokter, tapi caranya menulis bagai enggan menorehkan tinta di atas kertas putih. Saya pun menerima resep obat tanpa semangat, bergegas ke apotek di dalam lingkungan rumah sakit umum itu. Setelah menerima obat, saya langsung pulang dalam kondisi masih pusing. Berharap banyak akan kesembuhan penyakit ini. Salah satu penyakit akibat saya abai sarapan pagi. Lelahnya lebih terasa karena antrean panjang pendaftaran berobat, menunggu panggilan masuk ke dalam ruangan dokter dan antre di apotek.
Sesampai di rumah, saya memulai percakapan dengan seorang teman melalui fasilitas chatting di salah satu media sosial. Teman saya seorang dokter umum yang baru lulus kuliah. Saya diskusikan keluhan penyakit. Menjelaskan sudah berobat ke rumah sakit dan bertemu dokter cantik itu. Teman saya meminta mengirimkan jenis obat yang diberikan sang dokter. Saya menulis dengan cepat dan langsung mengirimkannya. Teman saya malah membalas dengan ikon tertawa. Tak sabar saya menagih alasannya. Teman saya mengatakan obat tersebut adalah obat generik biasa yang bisa saya dapatkan tanpa perlu ke dokter, apalagi dokter itu tidak mendiagnosa lebih lanjut.
Bukannya sembuh, saya malah semakin down. Urusan pribadi dokter itu bukan tangan saya menjamahnya. Namun sebagai dokter, seharusnya mendiagnosa dengan benar seorang pasien. Saya merasa perut perih, mual dan gejala lain. Jika tahu demikian, buat apa saya antre panjang di rumah sakit, menunggu panggilan masuk ke ruangan dokter spesialis, lalu menerima perlakuan demikian. Lebih baik saya mengeluarkan biaya besar ke dokter praktek, bukan?
Sebagai masyarakat biasa, sedikit saya kasih masukan untuk dokter tercinta. Baik tampan atau cantik. Baik lelah atau senang.
Pertama; saya seorang pasien. Akses pasien saat di rumah sakit pemerintah tentu saja sudah sangat manja. Sang dokter paham benar hal itu. Saya memang tidak mengeluarkan biaya lebih, tetapi pemerintah sudah menjaminnya dalam kartu kesehatan yang saya pegang. Kadang tidak cukup kartu kesehatan saja. Saat pendaftaran berobat pihak rumah sakit juga meminta fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), dan rekomendasi dari Puskesmas asal. Melengkapi kebutuhan tersebut, umpamanya bisa menyembuhkan penyakit dalam diri pasien.
Dokter memahami pola di atas dengan benar, mengantisipasi lelahnya pasien dokter mengantre maka dokter mengerahkan segenap kekuatannya dalam memberi solusi terbaik kepada pasien.
Kedua; pelayanan serius. Baiklah, saya datang dalam kondisi badan tidak lemah. Saya ke rumah sakit, menjumpai dokter spesialis karena alasan sakit yang berlangsung lama. Saya butuh diagnosa lebih lanjut dan dokter yang saya tuju wajib memberikannya. Jika memberikan obat generik saja, dengan mudah saya dapatkan di apotek terdekat, bahkan sudah berulang kali saya lakukan. Selain obat, saya butuh masukan dari dokter, apa yang boleh dan tidak saya lakukan, boleh dan tidak saya makan dan lain-lain.
Ketiga; bicara baik-baik pada pasien. Seseorang menjumpai dokter karena butuh obat. Obat mujur bukan cuma pil-pil yang harus diminum tiga kali sehari. Sifat dokter yang ramah justru menjadi obat tak ternilai. Perhatian yang diberikan dokter, mendiagnosa dengan lemah-lembut, menulis resep obat dengan bertanya pernah alergi makan apa sehingga obat yang diberikan tidak tumpah-tindih, dan alasan lain. Ini perlu, mengingat pasien adalah raja saat sakit.
Keempat; ikhlas. Kematian seseorang bisa dialamatkan kepada dokter. Dokter yang kurang ikhlas bisa saja mendiagnosa dengan tergopoh-gopoh lantas berakibat fatal pada penyakit yang diderita. Dokter yang terburu-buru seperti berharap cepat usai kerjanya dan bisa langsung ke tempat praktek karena di sana menerima gaji lebih besar. Alasan apapun, keikhlasan seorang dokter terlihat dari sikapnya memperlakukan pasien.
Kelima; jujur. Tidak ada salahnya berkata apa adanya mengenai sakit si pasien. Tentu saja dengan bahasa yang halus dan saran terbaik sehingga pasien mampu mencerna dengan benar.

Sekeras apa pun kita menjaga tubuh supaya selalu sehat, suatu saat pasti akan sakit juga. Dokter juga akan mengalami hal demikian. Mungkin ini segelintir pengalaman yang saya terima selama berobat. Saya berharap, dokter kita lebih bijaksana menerima keluhan pasien. 

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90