Top Ad 728x90

Sunday, April 12, 2015

Anak Nakal Dilarang Ikut UN

Ujian Nasional, UN, Guru, Siswa, Siswa Nakal, Anies Baswedan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, 40%, 60%, Standar Kelulusan UN, Kelulusan UN 2015

Ujian Nasional (UN) akan berlangsung besok, 13 April 2015. Suka cita dirasakan seluruh peserta UN dan sekolah yang menyelenggarakan ujian berstandar nasional tersebut. Alasannya sudah sangat jelas; standar kelulusan tahun ini 40% dari hasil UN dan 60% dari sekolah. Keputusan Anies Baswedan – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah – cukup menghibur ditengah maraknya kecurangan UN dan proyek pembuatan soal yang mengibuli masyarakat awam seperti kami di kelas teri.

Dua hari lalu, saya terlibat debat yang cukup alot bersama seorang wartawan. Pasalnya, rekan-rekan wartawan baru saja membebaskan seorang siswa yang digadang-gadang tak bisa ikut UN karena masih mendekam dalam penjara. Kedua siswa tersebut disinyalir telah mencuri. Mereka telah mencoreng almamater sekolah dan merugikan lingkungan sekitar. Berita ini mencuat ke permukaan karena dua orang siswa tersebut tidak terdaftar sebagai peserta UN. Untuk urusan panjang mengenai keterlibatan kedua siswa dalam mencuri bukan ranah saya menjabarkannya. Namun, perdebatan kami lebih kepada “boleh” dan “tidak” seorang siswa nakal ikut UN.

Secara gamblang; semua siswa kelas dua belas berhak ikut UN!

Sebenarnya, bagaimana karakter seorang siswa dikatakan nakal? Dalam sebuah sekolah, aturan tetap berlaku bagi semua siswa. Aturan baku tersebut tentu saja mempunyai standar hukuman menurut tingkat perlakuan seorang siswa. Guru maupun orang tua siswa telah memahami hal ini secara tidak tertulis. Orang tua tidak hanya mengantar anaknya ke sekolah lalu lupa undangan dari sekolah untuk menghadiri pertemuan orang tua. Setiap sekolah pasti punya jadwal khusus dalam rangka mensosialisasikan aturan dan kebijakan yang berlaku dalam lingkungan sekolah. Orang tua melimpahkan wewenang kepada guru untuk mengubah karakter dan menambah pengetahuan kepada anak mereka. Guru demikian juga, sebagai orang pengajar dan pendidik akan punya batasan-batasan dalam rangka membisakan seorang siswa dalam suatu materi, maupun menarik karakter buruk dalam diri siswa sehingga lebih bermartabat di kehidupan nyata.

Apakah guru mengajarkan tindakan buruk? Mencuri misalnya. Tentu saja tidak. Ranah pendidikan sudah punya aturan baku dari pemerintah sampai ke elemen terbawah. Kurikulum yang tiap tahun mengalami perombakan dan membuat shock guru dan siswa adalah untuk perubahan bangsa. Benar atau tidak, pengetahuan siswa kembali lagi kepada kemampuan intelektual yang tidak bisa dipaksakan. Siswa yang mengandalkan otak kanan maka jiwa seninya akan melimpah. Siswa yang fokus dengan otak kiri maka sesuatu yang abstrak akan mudah dipahaminya.

Guru mengajarkan kebaikan. Setiap kebaikan dituntut untuk dipahami dengan benar oleh siswa. Siswa yang melenceng dari pembelajaran kerap kali menganggap bahwa pendidikan yang diberikan guru semata-mata melepas beban terhadap diriya. Akhirnya, apa yang terjadi? Siswa yang merasa ego terhadap proses belajar mengajar akan terbuai dengan waktu, ikut arus ke arah yang tak terkendali, bermain dengan kata-kata kasar, cuek terhadap materi ajar, dan akhirnya melompat ke permainan yang penuh candu; merokok sampai mencuri.

Saya yakin sekali, semua sekolah punya rahasia yang disimpan rapat. Sekolah menjaga nama baik mereka demi generasi selanjutnya. Namun, jangan pernah melupakan bahwa di sekolah tidak hanya ada kepala sekolah, staff pegawai, guru, maupun penjaga. Anggota yang paling penting di sekolah adalah siswa itu sendiri. Guru dapat membungkam aib dari pihak luar. Ratusan siswa belum tentu dapat melakukannya.

Wajar saja, ketika terjadi suatu kejadian memalukan di sekolah, pihak sekolah menutupinya dari pihak luar. Sepandai-pandainya kita menyimpan nangka, semakin matang maka semakin harum wanginya. Satu dua kali kejadian tak enak bisa ditutupi, berulang kali pihak luar akan mengetahuinya.

Siswa yang nakal – dalam hal ini sampai tidak bisa mengikuti UN – adalah mereka yang saya yakin adalah penerima raport merah secara tertulis dan tak tertulis. Sekali atau dua kali, barang ringan atau sedikit berat, pihak sekolah tentu saja sudah menyelesaikan dengan damai antara guru dan siswa di sekolah. Siswa yang sama melakukan perbuatan lain yang lebih berat, orang tua akan dipanggil dan diberi pengarahan dan sejenisnya. Kejadian terus terulang pada siswa yang sama, misalnya sampai mencuri barang mahal, tentu saja sekolah tidak mampu menutupi bahkan mengajarkannya. Siswa demikian merupakan kategori nakal yang kebal hukum alam. Guru di sekolah hanya bisa mengatakan, “Kasihan si A, tidak mau berubah juga!” atau “Kasihan orang tua si A, anaknya masih saja bandel!

Problematika ini tak tersentuh oleh dunia dari mereka yang tak terlibat langsung dengan siswa di sekolah setiap hari. Guru memahami benar karakter siswa sehingga dikategorinya nakal, sedang, baik dan baik sekali. Guru berinteraksi dengan siswa setahun 360 hari, tiga tahun 1.080 hari. Kejadian berulang dan terus berulang pasti memuakkan. Apalagi untuk siswa yang telah menerima teguran, dipanggil orang tua sampai harus tinggal kelas.

Teman saya itu – seorang wartawan tadi – berkilah bahwa saya menilai terlalu subjektif terhadap kelakuan seorang siswa. Memang, pagar rumah orang lain tentu sangat indah dari luarnya saja. Cobalah masuk ke dalam dan coba menetap minimal setahun di sana, lalu rasakan apa yang terjadi. Memvonis seorang guru terlalu subjektif tentu sangat naif. Guru senantiasa mengajar dengan objektif. Guru menilai siswa secara individu. Guru mengajarkan baik buruk. Guru menginginkan siswa mengubah kepribadiannya ke arah yang benar.

Salahkah guru ketika tidak membela seorang siswa nakal? Pembelaan yang mana? Setiap guru akan menggarisbawahi siswa mana yang berhak dibela dan mungkin dibela. Namun, hati guru sama sekali tidak akan mengeluarkan kata tidak membela.

Saya tidak mengatakan siswa nakal tidak boleh ikut UN. Ikut saja jika dia ingin. Namun, apakah siswa nakal itu ingin sekolah?

Dari segenap kelakuannya. Dari teguran. Dari malu orang tua berulang kali ke sekolah. Dari kebal telinganya mendengar ocehan guru di kelas. Apa yang diinginkan siswa tersebut?

UN tidak hanya ujian tiga hari. UN itu adalah sekolah keputusan bagi siswa. Sekolah sebenarnya dari masa tiga tahun. Pernahkah “mereka” di luar pagar melihat guru menangis saat membaca pengumuman siswa “nakal” tidak lulus UN?

Guru tak lain manusia yang peka terhadap cita-cita siswa. Senakal apapun siswa akan dibela. Sejelek apapun siswanya pasti ada sisi baik. Sebagai siswa, jangan pernah terlena dengan sisi nakal yang kian tumbuh. Media massa boleh saja merong-rong dari pagar besi; sekolah itu tak bermoral telah menghukum siswa. Media massa boleh saja menjelek-jelekan sekolah.

Tahukah apa yang terjadi setelah hari ini? Kelulusan siswa nakal itu diujung pena guru yang pernah disakiti hatinya. Tahun ini guru akan berdebat di dalam ruang pengap. Guru akan membela. Guru akan kasihan. Guru akan menangis. Guru akan khawatir. Guru akan…

Mengatakan; semua siswa wajib lulus UN!

6 komentar:

  1. Mungkin guru BP perlu pendidikan tambahan agar bisa mengakomodir setiap karakter siswa, bukan hanya siswa pintar yang perlu diperhatikan sebaliknya justru yang terindikasi nakal lebih butuh perhatian lebih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mas. Menurut hemat saya guru BP malah tak memiliki fungsi kuat di sebuah sekolah. Jika melht kondisi di lapangan peran guru BP dn guru agama teramat penting sekali.

      Delete
  2. Sama kasusnya kayak kawan sekelas ku pas SMA.. Dia ketauan nyuri sepeda motor dan dipenjara, trus langsung dikeluarin dari pihak sekolah.. Padahal wali kelas ku berupayaaaa banget biar dia bisa ikut UN :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tindak kriminal dgn sekolah memiliki konteks yg berbeda Mbak. Pertimbangan pasti ada seblum dibuat keputusan. Namun si anak itu apakah pernah berpikir logis sebelum berbuat. Guru juga tdk serta merta memberi hukuman bukan?

      Delete
  3. Bener kak, yang paling sulit itu menentukan standarisasi nakal, bahkan orang yang dibilang nakal di daerah A belum tentu termasuk nakal di daerah B, ambil contoh standar nakalnya sekolah di Kota dan di Desa pasti beda ya, :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu perkara yg sangat rumit. Di lingkungan sekolah, guru pasti bisa membedakan si A dgn si B.

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90