Top Ad 728x90

Wednesday, April 22, 2015

,

Jeritan Pilu Seorang Ayah Tsunami

Tsunami, Aceh, Indonesia, Bencana Alam, 2004, Ie Beuna, Air Bah, Banda Aceh, Meulaboh

Miniatur di Museum Tsunami, Banda Aceh, Photo by Bai Ruindra
Di saat orang-orang berdoa, aku hanya memandang lautan. Dadaku sesak. Mataku perih. Detak jantungku seakan-akan berhenti di saat semua orang terlarut memanjatkan ampunan pada-Nya. Aku terlampau kecewa. Pada sesuatu yang tidak boleh kujadikan dendam. Perih itu memekik setiap 26 Desember tiap tahunnya. Sejak 2004. Tahun nahas yang membawa pergi cinta dan kasih sayang dari seorang laki-laki gagah sepertiku.

Oh, benarlah. Aku seorang laki-laki yang sangat gagah. Definisi tersebut disebutkan oleh kultur sosial kita jika anak keturunan memberi senyum pada dunia. Aku telah menghadirkannya. Istriku melahirkan anak kami. Karena aku mereka ada. Dan kini mereka tiada. Termasuk istriku. Perempuan yang selama ini kusia-siakan pengorbanannya.

Baru sekarang aku tersadar. Setiap aku melangkah keluar rumah. Mencari nafkah. Perempuan yang kusebut istri mengurus rumah tangga kami seorang diri. Bersama tiga putri kami yang semakin tumbuh besar. Cantik menawan. Putri tertua berumur delapan tahun. Putri kedua empat tahun. Putri ketiga baru bisa tertatih.

Kutinggalkan mereka di malam-malam sepi. Seminggu aku bekerja. Seminggu aku libur. Sebulan aku bekerja. Sebulan aku di rumah saja. Rutinitas yang tidak serupa. Namun aku mampu menghidupi keluarga kecil kami. Rumah kubangun dengan megah. Baju baru kubeli hampir tiap bulan. Makanan enak selalu terhidang di meja makan. Uang jajan selalu kuberikan pada istri. Mereka tidak kurang apa pun. Senyum mereka merekah. Lelahku hilang seketika jika rumah dihiasi tawa dan langkah kaki mereka.

Pagi yang indah itu. Aku di rumah. Kebetulan aku di rumah. Mungkin Tuhan sudah meminta hatiku untuk tidak bekerja. Padahal pekerjaanku sebagai pengusaha muda menumpuk di mana-mana. Bunyi handphone hitam putih tak bisa kuhitung semenjak subuh. Semuanya kudiamkan saja. Tidak kujawab. Tidak kubalas pesan maupun panggilan suara dari rekan kerja itu. Hatiku benar-benar telah ditutup-Nya supaya bersama istri dan ketiga putri kami. Menjaga mereka; entah dari apa yang belum terpikirkan detik itu. 

Dan tiba-tiba gempa menguncang tanah Aceh. Kami berlari keluar. Kupangku putri nomor dua. Putri bungsu sudah terlebih dahulu dibawa keluar oleh ibunya, bersama putri tertua dekatnya. Gaduh terdengar di mana-mana. Kendaraan yang melintas di jalan lintas kabupaten dari Meulaboh menuju Banda Aceh berhenti. Penumpang keluar dari sana. Terheran-heran. Sama halnya dengan kami yang kebingungan. Kulihat istana yang dua tahun lalu selesai kubangun. Kokoh berdiri dengan menawan. Padahal rumah tetangga ada yang sudah rata dengan tanah. Jerit perempuan dan anak-anak di mana-mana. Pekikan semakin terdengar keras saat kami melihat pancaran air keluar dari dalam tanah. Tidak hanya air saja, bongkahan gas juga tersembur bersama lumpur. Di depan rumah warga kampung kecil kami. Di jalan raya yang sebagian besar sudah retak. Aku tidak bisa menghitung, tepatnya tidak sempat menghitung berapa banyak pancaran air dan gas di kampung kami yang hampir rata dengan bangunan runtuh. Kami tercengang kala terdengar suara gemuruh kuat dari arah lautan di belakang rumah.

Setiap pandangan di sisi tempatku berdiri tak menyiratkan tanda tahu. Kami masih berdiam diri dalam ketidaktahuan. Hingga seseorang berteriak di atas jembatan yang menghadap ke laut.

“Air laut naik. Aku laut naik. Lari!!!”

Tak ada yang terpana. Kami lari. Ke utara. Ke arah hutan belantara. Ke jalan setapak yang belum terbentuk sempurna, hanya bekas sedikit saja pertanda jalan itu digunakan pekebun ke kebun karet mereka. Kubopong putri kedua dengan erat. Kutarik lengan istriku yang mendekap putri bungsu kami. Putri tertua memegang erat tangan ibunya.

Kami sudah berlari sekuat tenaga. Namun lari kami seperti siput.

“Jangan lihat ke belakang!” ujarku. Aku sendiri tidak bisa menahan rasa penasaran. Kulirik kejaran air laut. Pohon-pohon kelapa tertutup. Tumbang satu persatu. Rumah besar kami dihantam keras. Tak berbekas.

Arus air laut tak berpenghalang. Menghalau apa saja yang ada di depannya. Tanpa ampun. Tanpa permisi. Tanpa permintaan maaf. Tanpa ucapan salam. Tanpa penutup salam. Air laut itu bagai pencuri; merampas semua kemewahan hidup kami.

Dalam seketika jilatan air sudah menyentuh telapak kakiku. Dari belakang satu dua dari kami roboh. Tenggelam. Tak pernah muncul lagi ke permukaan.

“Panjat pohon kelapa!” saran istriku.

Kupanjat saja. Padahal seumur hidup belum pernah aku memanjat pohon berbentuk vertikal itu. Ketiga putriku menjerit kuat. Suara mereka sampai tertahan. Kutarik putri tertua. Dia udah aman bersama adiknya di atas pokok kelapa. Kutarik istriku. Tangis putri bungsu kami membahana. Kupegang erat tangan perempuan yang begitu kucintai. Air laut sudah sebatas punggungnya. Deras sekali. Kami sudah hampir sampai di pucuk kelapa. Namun air yang mengejar masih tinggi di belakang kami. Kutarik lagi istriku. Entah apa yang terjadi. Putri bungsu kami terlepas dari dekapannya. Tenggelam. Hanyut entah ke mana. Tanganku dingin. Tangan istriku melemas. Lepas dari tarikanku. Ditarik ke dasar air. Di antara puing bangunan dan pohon tumbang. Menggulung istri dan putri bungsuku. Pekikan kedua putriku di atas pucuk kelapa terdengar begitu sendu. Memanggil ibu dan adik mereka.

“Ayah!!! Air sudah…,” belum terucap sampai selesai kalimat putri bungsuku, air laut menampar kami. Keras sekali. Aku meraba-raba. Badanku ditarik ke dasar sana. Air itu bercampur lumpur, puing bangunan dan pohon tumbang. Badanku dipantul ke segala arah. Kugapai-gapai sejauh tanganku mampu menjangkaunya. Tidak kutangkap tangan mungil kedua putriku.

Mereka telah hilang!

Aku kembali sendiri.

Kehilangan itu berlalu seiring waktu melupakan kenangan dalam ingatanku. Kehilanganku mulai kembali ke permukaan setelah 10 tahun berlalu. Saat kulihat anak perempuan tetangga yang selamat sudah menjadi gadis. Saat anak itu dinikahkan orang tua mereka pada usia belasan. Ingatku pada putri tertua kami. Karena padanya sempat kutaruh bahagia berlebih. Sempat kuingin melihatnya duduk di pelaminan. Sempat kurindukan seorang cucu terlahir darinya.

10 tahun tsunami. 18 tahun putri tertua kami. Usia remaja yang membuat putriku sangat bahagia jika hidupnya masih bernyawa. Namun aku tidak menemukan jejak tubuhnya sampai kini. Seorang pun dari perempuan yang begitu kucintai itu terpampang nyata di penghilatanku.

Aku kembali memulai hidup baru. Menikah lagi di tahun 2006. Anakku lahir kembali. Seorang putri di tahun 2007 dan putra akhir 2008. Usia putri baruku hampir sama dengan putri sulungku yang telah tiada. Butuh waktu 10 tahun lagi untukku menunggu masa. Seperti kurindu putri sulungku yang akan meremaja suatu masa yang sudah terlupa.
***

Terinspirasi dari kisah nyata. 

4 komentar:

  1. nyeri rasa tsunami itu ternyata masih ada ya bang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih Yudi. Musibah besar yang belum bisa dilupakan :)

      Delete
  2. Semoga arwahnya diterima di tempat yang layak di sisi tuhan. Musibah tsunami aceh adalah duka seluruh rakyat indonesia

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90