Top Ad 728x90

Friday, April 10, 2015

,

Merujuk Profesionalisme D’Academy dan KDI

Musik, Ajang Pencarian Bakat, Dangdut, D'Academy, KDI (Kontes Dangdut Indonesia), Dangdut, Juri, make up, Penilaian, X Factor Indonesia, Fatin Shidqia


Sumber: www.thecommunitypicnic.com
Perang dangdut dimulai lagi tahun 2015. Dua ajang pencarian bakat menyanyi lagu-lagu dangdut sudah digelar oleh dua stasuin televisi swasta nasional. Indosiar dengan D’Academy dan MNCTV dengan KDI (Kontes Dangdut Indonesia). Dua ajang pencarian bakat ini sama-sama mengusung tema pembaharuan terhadap musik dangdut. Kenapa saya katakan demikian? Dua kontes ini tak sama dengan ajang pencarian bakat lainnya, termasuk KDI yang dulu mengenalkan Siti, Gita maupun Nassar yang lebih heboh masalah pribadi dibandingkan kepopuleran lagu dangdut itu sendiri.

Sebenarnya? Apa yang dicari oleh dua ajang pencarian bakat dangdut ini? Penyanyi dangdut original? Penyanyi yang punya cengkok dangdut asli? Penyanyi yang mengerti banyak lagu dangdut? Penyanyi yang bisa mengaransemen ulang lagu-lagu dangdut sehingga semakin enak didengar? Penyanyi yang cantik saja? Penyanyi yang ganteng saja?

Kegalauan D’Academy dan KDI lebih kepada bagaimana menarik minat masyarakat Indonesia. Penonton – kita – senang sekali bermain perasaan. Saya teringat kata-kata Bebi Romeo saat mengomentari lagu Aku Memilih Setia saat dinyanyikan Fatin pertama sekali. Katanya, efek sedih itu mampu menghipnotis penonton!

Benar sekali. D’Academy memulai drama seri yang menyayat hati. Si ini dari keluarga kurang mampu. Di anu tulang punggung keluarga. Si itu anak yatim atau piatu. Lantas, KDI juga mengikuti jejak serupa karena penonton menyukainya. Kasihan karena “miskin” itu walaupun ketika menyanyi ada yang pas-pasan juga. Drama seri tersebut terus diskenariokan setiap malam – kedua ajang ini ditayangkan tiap malam dengan durasi tak wajar. Ruh dari ajang pencarian bakat sudah tak “ada”. Tujuan utama mencari bakat-bakat menyanyi malah tergadaikan dengan menggali kesusahan hidup peserta. Tiap malam diulang. Tiap malam memiliki kesedihan yang memuncak. D’Academy lebih parah dibandingkan dengan KDI. Di KDI, Iyet Bustami kadang menetralisir dan menegaskan ajang itu adalah mencari bakat muda. Namun, semakin ke sini, para kreatif sudah mendikte ketegasan Iyet Bustami karena satu alasan; rating.

Kembali ke masalah durasi, D’Academy tergolong paling lebay dalam hal ini. Seorang peserta bisa berdiri setelah menyanyikan lagu selama lebih kurang lima menit sampai satu jam lebih. Pegal-pegal nggak peserta itu? Sayangnya, komentar dari para juri acara unggulan Indosiar ini terlalu melibatkan skenario. Pertengkaran sesama juri yang memperlihatkan “kebodohan” mereka mengenai musik. Juri yang satu menjiplak komentar juri lain. Penilaian tata busana dan make up; ini sama sekali tidak perlu dikomentari di atas panggung. Tugas dari pesolek di belakang panggung adalah memberi sentuhan terbaik mereka kepada wajar peserta dan memasang baju indah pula. Kenyataannya, peserta dibantai habis-habisan karena make up begini atau begitu. Komentar seperti ini bukan untuk ajang pencarian bakan dangdut, melainkan untuk mencari model sampul majalah. Make up peserta D’Academy yang lebih tua dari usianya itu tugas penata rias untuk memolesnya semenarik mungkin. Komentar tentang dua hal ini terus berlanjut sampai sekarang dan tidak penting sama sekali.
Sumber: www.flickr.com
Berbeda dengan KDI. Durasi seorang peserta setelah menyanyikan lagu cenderung singkat. Tidak ada pertengkaran sampai seorang juri keluar arena. Komentar mengenai pakaian maupun make up tidak secara berlebihan sampai menyalahkan si ini dan si itu. Jika dilihat make up peserta KDI memang sudah wajar untuk usia mereka. Nilai minus terjadi pada penilaian seorang peserta, si A bisa mendapatkan durasi sampai satu jam, si B bisa hanya setengah jam saja, di A bisa dapat durasi dua scene, si B bisa hanya satu scene saja. Penilaian tidak objektif ini memunculkan perspektif lain bagi penonton maupun bagi para peserta. Memang, KDI meminimalkan derita masa lalu peserta dengan menggali lebih banyak bakat. Penggalian bakat inilah yang membedakan setiap peserta. Si A digali habis-habisan sampai ke akar-akarnya, di B hanya mendapatkan permukaannya saja. Si peserta yang bagus menyanyi akan dibela habis-habisan dengan komentar bagus. Si peserta yang kurang bagus dibantai dengan komentar tak bagus pula. Wajar penilaian demikian terjadi di suatu ajang pencarian bakat. Namun durasi tampil peserta sama sekali tak elok jika mendapatkan perbedaan.
Sumber: Twitter KDI di @kdioffc_mnctv
Saya memberi sedikit usulan kepada D’Academy dan KDI.

Pertama, jangan membedakan peserta. Tempatkan peserta pada posisinya sebagai peserta bukan si bagus dan tidak bagus. Kesalahan pemilihan peserta bukan hanya pada voting namun pada pembelaan juri. D’Academy juri berhak memvoting peserta yang sudah tereliminasi. KDI memberikan bintang. Di ajang pencarian bakat lain, voting juri biasanya hanya terjadi satu kali di babak spektakuler/konser.

Kedua, samakan durasi peserta A dan B. Membedakan durasi antara A dan B sama saja menciutkan nyali peserta yang belum tampil. Peserta A digali sampai tuntas, peserta B malah sedikit sekali.

Ketiga, hindari pertengkaran antar juri. Juri “dibayar” untuk menilai secara objektif bukan malah memojokkan peserta dan sesama juri. Pertengkaran yang terjadi menjadikan acara tidak mendidik.

Keempat, kurangi canda tawa. Kedua ajang pencarian bakat ini sudah seperti acara lawak. Malam ini diundang si pelawak ini, si penata rias itu, si peramal ini, si tokoh itu. Canda dan tawa boleh saja di satu acara namun tetap kembali pada deskripsi awal acara tersebut.

Kelima, komentar juri harus benar dan jujur. Peserta bagus ya bagus. Peserta kurang bagus semestinya mendapat masukan berarti. Jangan sampai ada peserta yang tidak bagus di mata empat juri, seorang juri lain malah ngotot mengatakan bagus. Juri terbaik ajang pencarian bakat adalah penonton di seluruh Indonesia. Toh, pemenangan mereka dari akumulasi pesan singkat bukan?

Keenam, tim kreatif. Para punggawa acara ini harus benar-benar mengatur acara jangan sampai keluar dari ranah sebenarnya. Mereka punya andil kuat menyukseskan suatu acara, bukan malah menambah pundi-pundi amal bagi televisi penyelenggara.

Ketujuh, host. Saya rasa, ajang pencarian bakat yang dihiasi lebih dari dua orang pembawa acara tidaklah wajar. Lihat saja D’Academy dan KDI yang tak ubah acara lawak. Para pembawa acara berebutan memegang kendali dan melontarkan kata-kata lucu – bahkan tak mendidik. D’Academy lebih parah sampai ada pembawa acara yang menjatuhkan juri. KDI masih lebih mending karena pembawa acaranya dibagi persesi, tidak semua pembawa acara ikut dalam satu scene.

D’Academy dan KDI masih terus berlanjut sampai babak final. Masih panjang perjalanan mereka. Setting acara yang berlebihan dengan menghadirkan 5 orang peserta permalam adalah untuk memperlama masa tayang. Ironinya, ajang pencarian bakat lain datang menghadang. Siap-siap saja D’Academy maupun KDI menjadi tayangan lucu-lucuan. Ajang pencarian bakat yang telah menjadikan Fatin Shidqia begitu fenomenal adalah X Factor Indonesia. Musim pertama, ajang pencarian bakat ini memperlihatkan profesionalisme penyelenggara dan juri. Komentar-komentar yang dilahirkan pun tidak berlebihan dan durasi fokus pada penampilan peserta saat tampil, bukan pula mengorek-ngorek kehidupan pribadi peserta secara berlebihan.


Kita tunggu saja, sejauh mana D’Academy dan KDI bertahan dalam rating! 
***

Cara Mendapatkan Lebih Banyak Jackpot Draw Let's Get Rich

Sudah bisa dipastikan siapapun yang mempergunakan aplikasi Chatting Line, pasti pernah bermain Let's Get Rich, atau paling tidak pernah mendapat Invitation untuk memainkan game ini. Kali ini ada beberapa tips dan trick bagi Anda yang telah lama bermain game ini, namun jarang mendapatkan kemenangan karena karakter Anda kurang kuat, pendant Anda rendah dan gold Anda sedikit.
Salah satu kunci mendapatkan kemenangan adalah dengan mempunyai pendant yang tinggi. Pendant bisa juga disebut senjata Anda karena pendant mempunyai banyak fungsi seperti mendobelkan angka dadu Anda, berjalan mundur, free toll, dan bahkan mencuri Gold musuh Anda. Untuk mendapatkan pendant, Anda bisa memperolehnya dari Jackpot Draw yang bisa Anda tarik dengan mempergunakan 5 buah kunci emas yang satu kuncinya bisa Anda dapatkan dengan 20 mileage.
Perlu Anda ketahui, 1 mileage bisa Anda dapatkan dengan mengirim clover kepada teman Get Rich Anda atau Anda invite orang-orang yang ada pada kontak Line. Jumlah Mileage yang Anda terima juga cukup beragam tergantung program atau event yang ada di permainan ini yang biasanya diperbaharui setiap minggu. Bila normal, mengirim 1 clover mendapatkan +1 mileage dan 1 gold clover mendapatkan +3 mileage. Namun beberapa hari yang lalu saat ada event, 1 clover bisa dihargai +5 mileage dan gold clover +10 mileage. Sementara untuk invite friends mendapatkan +3 mileage.
Clover akan muncul untuk dikirimkan setiap 12 jam namun ada batasan pengiriman 100 clover setiap 24 jam. Jadi dengan kata lain, lebih baik Anda mengirimkan gold clover lebih banyak daripada clover biasa. Gold clover biasanya muncul ketika teman yang ada di kontak Line kita pernah bermain game get Rich ini namun kemudian tidak aktf selama 2 minggu, baik karena tidak pernah login atau karena game ini sudah tidak diinstall lagi di perangkatnya.
Jadi sebanyak mungkin Anda harus mendapatkan teman Get Rich yang tidak aktif main Get Rich. Bagaimana caranya? Sangat mudah, yaitu dengan membuka aplikasi Line dan dan masuk ke Line Alumni. Tuliskan nama sekolah atau kampus Anda dan tahun angkatan Anda. Disitu ada banyak sekali teman-teman Anda yang pakai Line. Add saja mereka ke kontak Anda. Pasti sebagian besar dari mereka tidak aktif bermain Get Rich lagi dan ini sudah dibuktikan oleh penulis. Dari 50 teman alumni yang Anda add,ada lebih dari 35an yang tidak bermain get Rich lagi, artinya Anda bisa mengirimkan Gold Clover ke 35 orang tersebut dan mendapat 35 x 10 mileage = 350 mileage. Jika satu kunci adalah 20 mileage maka 350/20 adalah 17,5 kunci, yang artinya Anda bisa mendapatkan 3X jackpot draw.
Lumayan bukan, bisa menaikkan jumlah jackpot draw yang Anda bisa Anda tarik dan sekaligus meningkatkan kesempatan Anda mendapatkan berbagai hadiah seperti pendant kelas atas, gold, character, diamond dan lain lagi.
Sumber: Pricebook
Perbandingan harga terbaik di Indonesia di Pricebook.co.id

8 komentar:

  1. D academy memang sukses di tahun 2014, karena waktu itu masyarakat indonesia sedang -kangen -kangen nya aka musik dandut, KDI pun belum ada waktu itu, Di saat D acedemy satu satu nya kontes dandut, masyarakat tidak ada pilhan, indosiar jadi stasiun tv yang banyak di tonton waktu itu, terutama bagi pengemar dandut. D acedemy menarik minat masyarakat, dangdut disukai banyak kalangan, acara tesebut sukses. KDI pun bangkit kembali, apalagi kdi dianggap pelopor dangdut indonesia, tak mau ketinggalan kdi pun bersaing dengan d acedemy hingga sekarang. nah sekarang bagaimana D acedemy dan KDI mengemas acaranya masing -masing.kemasan itulah yang masyarakat akan menilai, apakh bagus,bikin muak, bosan, makin menarik, atau makin dirindukan. waktu akan membuktikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. D'Academy dan KDI sedang bersaing sekuat tenaga memperebutkan hati masyarakat. Segala cara dilakukan untuk mendapatkan rating terbaik. Saya melihat kedua acara ini sudah kehilangan ruh dangdut, sudah banyak lucunya. Terima kasih ya sudah komentar.

      Delete
  2. Paling males kalok ada pencarian bakat yang drama gitu.. Plus yel-yel yang ngga penting harus dinyanyiin rame-rame sampek capek.. -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. Sama sekali tidak profesional, bnyk lawak ketimbang manfaat dr acara itu sendiri.

      Delete
  3. sy termasuk mengapresiasi acara dangdut tersebut, namun belakangan sy melihat lebih byk dari acara lawakannya yg ditonjolkan dibanding dangdutnya. salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mas. Banyak lawak ketimbang tujuan awal acara tsb.

      Delete
  4. Artikelnya keren. sangat menggambarkan apa yang dirasakan sebagian besar org yang senang menikmati ajang-ajang pencarian bakat. termaksud saya sendiri. makin kesini ajang-ajang sperti itu makin tidak berkualitas, tapi kok tetap eksis ya...herannn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Begitulah kondisi yang terjadi saat ini. Tdk lagi mngutamakan kualitas ttp lbh pd materi (sms bisa menghasilkan milyarn bg penyelenggara)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90