Top Ad 728x90

Friday, April 24, 2015

, ,

Stroberi 5000 Rupiah

Stroberi, Strawberry, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), 5000, Rp. 5000, Senggigi, Kuliner, Wisata, Budaya, Alam, Mandar,

Pertengahan tahun 2014, saya berkesempatan berkunjung ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sebuah rasa syukur dari menulis.

Sebuah perjalanan melelahkan bagi saya. Apalagi baru pertama kali melakukan perjalanan jauh dengan pesawat terbang. Saya berangkat dari Bandara Sultan Iskandar Muda pukul enam pagi, transit di Kualanamu sekitar setengah jam, lalu kembali terbang menuju Bandara Soekarno-Hatta lebih kurang 2,5 jam perjalanan. Saya menghirup udara pengap Jakarta pukul 10 pagi. Kemudian menunggu keberangkatan selanjutnya pada pukul tiga sore bersama Mas Dian Mulyadi dan Zakaria Dimyati. Kami sampai di Bandara Praya sekitar pukul delapan malam. Sungguh perjalanan yang menarik minat saya untuk kembali melakukannya.

Kami dijemput oleh Mas Hindra, salah satu rekan kerja Mas Dian dan Mas Jan sebagai guide. Dari Bandara Praya yang malam itu dipenuhi kedatangan TKI dari Malaysia, kami menuju Sembalun. Saya belum tahu di mana daerah tersebut, katanya dekat gunung Rinjani. Baiklah. Gunung dengan anak sungai di atasnya itu.

Malam yang panjang. Saya begitu kurang percaya diri dalam kendaraan roda empat. Alasannya; saya mabuk perjalanan!

Sesampai di Sambalun tengah malam, saya dan Zakaria langsung tidur di daerah yang dingin sekali itu. Paginya kami menjumpai beberapa orang untuk keperluan liputan selama di sana.

Nah, pulang dari sana barulah saya merasa sangat tidak nyaman. Perut saya kembali diaduk tak karuan. Jika sebelumnya, karena terlalu lelah dan malam hari mudah saja saya tertidur. Pagi ini malah sebaliknya. Saya duduk diapit Mas Dian dan Zakaria. Pikiran sudah berkunang-kunang. Mau minta berhenti, tidak ada alasan yang jelas. Mau muntah juga tidak jadi-jadi. Mau bilang pusing pada keempat orang di dalam mobil itu, mereka malah adem-ayem saja.

Jalanan semakin menikung. Kepala saya berputar. Jalanan berputar. Kepala saya ikut berputar-putar. Sesekali Zakaria membuka jendela, hawa dingin menusuk di antara pengununan dan rumah penduduk dataran Rinjani. Zakaria memotret beberapa pemandangan indah yang tidak bisa saya lihat dengan jelas.

Bahkan, di dalam mobil kami tidak ada makanan apa pun. Padahal perut saya sangat tidak bersahabat lagi. Saya ingin perjalanan ini cepat berakhir. Namun, jalan setapak menuju puncak Rinjani saja belum terlihat. Kami masih meraba-raba di jalan berlubang daerah Sembalun dan sekitarnya.

Hei! Tunggu dulu. Di pinggir jalan berlubang itu, pemandangan maha dahsyat terhampar luas. Udara semakin dingin saat jendela mobil terbuka. Dan gubuk-gubuk kecil menawarkan buah segar. Salah satu stroberi.
Photo by Zakaria Dimyati
Saya melupakan rasa muntah sesaat. Stroberi yang dijual di tepi jalan itu tampak segar sekali. Mas Jan memarkirkan mobil. Mas Hindra membuka jendala lalu bertanya berapa sebungkus stroberi yang dijual oleh perempuan berjilbab itu. Pemandangan yang menyejukkan; Sembalun tak ubah sama dengan Aceh di mana semua perempuan berjilbab, berbeda dengan Mataram pada hari berikutnya kami sampai di sana.

“Lima ribu?” mata saya membulat. Mas Hindra dan Mas Jan malah ngakak. Zakaria diam saja.

“Nama juga kita beli di kebunnya, Bai,” ujar Mas Dian kemudian. Sayang sekali kami tidak sempat mampir ke kebun stroberi.

Satu bungkus stroberi seberat setengah kilo itu cuma Rp. 5000,- saja. Seriuslah. Saya takut dikibuli oleh Mas Hindra. Pendengaran saya jadi ikut-ikutan mabuk perjalanan. Pertanyaan saya terjawab saat Mas Dian mengeluarkan lembaran dua puluh ribu untuk empat bungkus buah berbentuk hati itu. Seandainya langsung pulang hari itu juga, saya akan memboyong banyak bungkus stroberi segar untuk dibawa pulang ke Aceh.

Rasa stroberi yang asam manis melegakan sedikit kerongkongan saya. Di antara kami berempat, hanya saya yang makan lebih sebungkus.

Rupanya, jalanan semakin tak karuan. Menanjak dan berliku. Perut saya kembali diaduk. Saya mencoba tidur. Susahnya minta ampun. Rasanya waktu berjalan sangat lamban sekali. Saya tidak tenang. Mau muntah ditahan. Malu yang ada.

Dalam keadaan tersiksa, saya tertidur juga. Syukurlah.

Sampai di daerah yang saya tidak tahu benar di mana. Sudah di perkotaan. Kami berhenti di salah satu rumah makan. Perut saya sangat tidak bersahabat lagi. Saya berlari ke kamar mandi. Dan muntah!

Oh, Stroberi lima ribu keluar semua!

Saat saya kembali ke dalam rumah makan kecil itu, keempat yang lain sudah menyantap makanan masing-masing.

“Muntah, Bai?” tanya Mas Dian.

“Iya, Mas. Sayang sekali stroberi lima ribu terbuang semua!” jawab saya malu-malu.
Mereka berempat tertawa.

“Di Aceh berapa sebungkus itu kira-kira,”

“Dua puluh ribu, Mas!”

Mata mereka terbelalak. “Mahal sekali, Bai!”

Perut saya yang baik sekali itu sudah menumpahkan semua. Kami tidak mungkin kembali, membeli banyak stroberi murah. Tepatnya, kami tidak mungkin membawa pulang stroberi karena mesti mengejar sunrise di Mandar dan sunset di Senggigi. Setelah hari menyesakkan hati itu.


Selamat tinggal, stroberi lima ribu rupiah! 
Photo by Zakaria Dimyati

10 komentar:

  1. Seumur hidup belum pernah liat pohon strowberry

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum pernah lihat juga Rudhy, kami cuma lewat saja karena keburu waktu ke Mataram jadi gk sempat mampir lagi :(

      Delete
  2. 5000 setengah kilo??? Huaaaa....muraaaaahnyooooooo...aseliiiii...murah itu bai.
    Btw, aku suka banget sama tulisan ubai kali ini. Terasa hidup dan feel-nya dapat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Ki. Sangat murah. Sayangnya gk bisa beli bnyk krn kmi blm plng hari itu.
      Makasih ya, mngkn soal rasa aja jd enak bacanya.

      Delete
  3. Di Berastagi - Sumut uda ngga dapet stroberi 5 ribu.. Hahah.. :D Lombok emang asyik ya. Sempet ke Kuta sama Tanjung Aan ngga, Bang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Beby. Sayang sekali saya belum sempat ke Berastagi :(

      Kami cuma jalan ke Rinjani, Mandar, terus ke Mataram (Senggigi) sebelum bertolak ke Jakarta, saya kembali ke Aceh. Tiga hari nggak cukup mengitari Lombok, apalagi ke Rinjani butuh perjalanan hampir setengah hari.

      Delete
  4. murah banget 1 bungkus cuma 5000. beratnya hampir 1/2 kilo lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mas. Kami beli di dekat kebunnya, jika ke kebun bisa lebih murah lagi :)

      Delete
  5. jadi pengen liat ke kebun strowbery saya belum pernah mas. xixi

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90