Top Ad 728x90

Thursday, May 28, 2015

Berbagi Bahagia Bersama TabloidNova.com

Bahagia, Berbagi Kebahagiaan, Inspirasi Kebahagiaan, Bahagia Bersama Sahabat, Bahagia Bersama Keluarga, Berbagi Bahagia Bersama TabloidNova.com, Lomba Blog Berbagi Bahagia Bersama TabloidNova.com, Bahagia Bersama Tabloid Nova, Kontes SEO Tabloid Nova, www.tabloidnova.com

Bahagia Karena Aksara

Bahagia itu sederhana saja; buat orang lain tersenyum!

Tidak mudah membuat bahagia. Tidak gampang menarik orang lain terlarut dalam cerita suka yang kita hadirkan. Apalagi, saat berhadapan dengan orang yang dihinggapi banyak masalah, bahagia itu rasanya jauh sekali.


Aku tidak mau main-main dengan kebahagiaan!

Berangkat dari daerah jauh, aku ingin mengalirkan kebahagiaan untuk mereka yang diabaikan oleh dunia luar. Aceh sudahlah tempat lahir dan orang tua serta kerabat menetap. Medan tak lain adalah rumah kedua, bisa dikatakan aku lebih mengetahui jalan tikus di Medan dibandingkan Banda Aceh. Besar di Medan membuatku terlalu sering merengkuh kebahagiaan bersama sahabat yang selalu ingin bahagia. Kami bisa mendapatkan bahagia di mana saja. Kapan saja. Kami adalah pengendali bahagia itu sendiri. Karena kami menciptakan kebahagiaan untuk membuat diri kami senang menghadapi hidup keras di kota besar.

Selesai kuliah di diploma tiga keperawatan gigi, aku berbagi kebahagiaan ke Meulaboh, Aceh Barat. Daerah ini cukup membuatku tertantang di awal-awal tsunami. Selain belum pernah ke sini, juga belum tahu-menahu kondisi masyarakat pesisir barat setelah dilanda musibah. Namun, ceritaku bukanlah kegiatan kemanusiaan seusai musibah besar itu. Ceritaku kini, dari pelosok negeri kita, dari hutan belantara, dari deru angin di antara pucuk-pucuk pohon besar, dari dataran tinggi yang jauh dari lautan. Dari pedalaman tertinggal, tempat mereka yang hanya berbicara namun tak mampu menulis.

Inilah rimba!

Perjalanan enam jam dari Jambi, ke daerah terlupa di Taman Nasional Bukit Dua Belas. Di sinilah kebahagiaan itu bermula, lebih memuncak dibandingkan bahagia-bahagia lain yang pernah kurasa selama ini. Orang-orang rimba itu berpacu dalam waktu. Menarik semua luka menjadi bahagia. Mengubah segala rasa menjadi apa adanya. Tak kenal luka karena mereka selalu bahagia ditengah keterbatasan aksara.

Aku tidak mengajarkan “bahagia” pada mereka. Aku cuma bermain-main dengan huruf abjad sehingga mereka bisa membaca. Apapun itu, membaca tetap membuka cakrawala. Mereka tertawa. Mereka mengerutkan kening. Mereka. Mereka sendu. Mereka bernyanyi. Mereka bermain di antara sungai dan batang ilalang. Mereka bersenandung di antara cicit burung di atas pohon-pohon yang menghalangi sinar matahari terjun beban ke tanah basah berserak daun-daun.

Kuajarkan aksara tanpa berharap mereka bisa dalam sekali baca. Kesabaran adalah kunci segala di saat mereka tidak begitu memahami pelafalan dalam bahasa negara. Keterbatasan bahasa daerah membuatku terpingkal-pingkal sendiri saat tidak mengetahui keluhan hati mereka. Aku terbuai dengan ayunan suara mereka, karena kutahu mereka tidak mencemooh maupun menghina kedudukanku di antara mereka. Kulit kami boleh beda. Kuning langsat dan lebih gelap. Namun kami disatukan oleh rasa yang sulit kuungkapkan dengan suara.

Seorang saja dapat membaca, ragaku diterbangkan ke angkasa tak bertahta. Tiada lain yang membuahkan dada lapang selain mereka tertawa senang. Mereka dapat membaca, mereka dapat menelusuri seluruh negeri, tidak hanya di rimba yang perkasa.
Inilah bahagia sebenarnya!

Aku berbagi kebahagiaan, menebar inspirasi kebahagiaan, karena mereka sahabat dan keluarga di luar ikatan darah. Di sinilah aku bahagia bersama sahabat. Aku bahagia bersama keluarga. Mereka menjadikan sahabat. Mereka memeliharaku sebagai saudara, sebagai keluarga. Setiap langkahku diperhatikan. Setiap hela napasku menjadi acuan bahwa ragaku masih bernyawa di tengah hutan belantara. Kami sama-sama berbagi. Aku membaca gerak-gerik alam yang keras di tengah orang-orang rimba. Dan mereka, membaca aksara supaya dunia tidak terlewatkan dalam ingatan muda dan semangat menyala.
Aku, Shasa, salam bahagia dari rimba di bawah langit Jambi maharaya!
***

4 komentar:

  1. Salam kenal mas...sy pikir tadi emak2. Hihi..suami saya besar di Lamno.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kembali Mbak. Saya laki-laki, ini cerita teman saya.
      Salam ya buat suaminya :)

      Delete
  2. Salam kenal juga mas Indra :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal Mas. Terima kasih sudah mampir :)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90