Top Ad 728x90

Sunday, May 10, 2015

, ,

Bahwa Aku; Takut Jika Tertidur

Supernova, Supernova 5, Gelombang, Dee Lestari, Dewi Lestari, Mimpi, Alfa Sagala, Ichon, Eten, Uton, Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Sir Isaac Newton, Mimpi, Batak, Sianjur Mula-Mula, New Jersey, New York, Amerika Serikat, Resensi



Bahwa aku; takut jika tertidur!

Seperti biasa, segelas sanger hangat menemani saya. Sanger itu campuran kopi dengan susu, salah satu minuman khas di Aceh. Warung kopi adalah kenikmatan tersendiri, lepas dari pandangan orang yang menilai, saya tidak memedulikannya. Di antara denting gelas dan piring, saya membuka buku dengan kaver hitam. Tidak seperti biasanya, saya membuka laptop dan menulis sebuah artikel. Saya harus menuntaskan cerita di buku yang ditulis oleh penulis perempuan Indonesia, sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Buku tentang mimpi. Tentang dongeng sebelum tidur yang membuat saya ketakutan setengah mati. Saya merasa, Alfa Sagala adalah saya sendiri. Lelucon yang tak pernah mau saya akui pada siapapun. Bahwa, mimpi itu hanya bunga tidur karena tidak bermakna, walaupun setelah bermimpi saya berkeringat seperti habis olahraga dan detak jantung lumayan cepat.
***
Dee Lestari - Gelombang
Dee Lestari memulai kisah yang “tak penting” di bagian awal. Kisah Gio yang kehilangan perempuan tercinta di belahan bumi Amerika. Saya membaca cepat bagian ini karena Gelombang baru mulai mengaduk-aduk emosi saya saat masuk ke bagian Sianjur Mula-Mula. Sebuah daerah yang cukup rumit di dekat Danau Toba, Sumatera Utara, daerah permulaan bagi kaum Batak. Dee Lestari menggambarkan Sianjur Mula-Mula – begitulah adanya – suasana kampung yang biasa-biasa saja, karena saya juga tinggal di kampung dengan pemandangan gunung maupun sungai. Daya tarik dari Sianjur Mula-Mula itu karena adanya Si Jaga Portibi yang selalu mengikuti jejak langkah Thomas Alfa Edison, si Alfa Sagala, seorang anak yang dipercaya memiliki kemampuan melihat mahluk gaib tidak hanya di alam mimpi namun juga di dunia nyata. Lantas, hadirnya seorang pemuka Batak yang tak lain adalah dukun yang memuja-muji seluruh bagian makhluk halus untuk memperhalus langkahnya untuk dipercaya semua orang, Ompu Togu Urat.

Selangkah lebih maju, kedua orang tua Alfa Sagala memboyong ketiga putra mereka untuk merantau ke Jakarta, setelah banyak kejadian nyeleneh yang tak bisa dicerna akal sehat. Si Alfa Sagala, si Ichon itu, mau dijadikan murid oleh Ompu Togu Urat, namun di kemudian hari murid yang dimaksud adalah musuh yang harus dilenyapkan oleh si orang sakti itu karena si Ichon dianggap dapat menganggu kedigdayaannya. Si Ichon adalah bungsu yang terpandai dibandingkan kedua abangnya, Eten (Albert Einstein) dan Uton (Sir Isaac Newton). Imajinasi Dee Lestari mulai terbaca saat mendeskripsikan panggilan ketiga abang beradik ini. Imajinasi selanjutnya adalah bermain dengan ketakutan si Ichon dipadu dengan batu keramat pemberian Ompu Togu Urat, yang akan meredam mimpi-mimpi si Ichon yang tak lain adalah petunjuk penting di kemudian hari.

Dee Lestari menceritakan babak demi babak sebuah mimpi sehingga bersambung menjadi cerita yang padat, penuh skenario, jika digabungkan dengan dunia nyata, tentu saja tak mungkin karena mimpi malam ini belum tentu bertemu dengan mimpi di malam berikutnya, bahkan mimpi pertama, kemudian terbangun, akan berbeda dengan mimpi setelah tidur kembali. Namun si Ichon, memegang kendali atas mimpi-mimpinya sehingga mengarahkan tokoh ini untuk memecahkan teka-teki di masa depan.

Dee Lestari cukup singkat menceritakan kisah si Ichon di Jakarta. Singkatnya, si Ichon dilempar ke New Jersey, Hoboken, Amerika Serikat, jadi pendatang ilegal yang susah payah beradaptasi dengan lingkungan keras di antara para gangster di apartemen kecilnya. Si Ichon berubah menjadi Alfa Sagala yang dipandang sebagai pelajar terpandai di sekolah, peraih tiga beasiswa di tiga kampus berbeda New York, perawakan ganteng, dan cukup fasih berbahasa inggris dengan logat Amerika. Cukup mengerut kening saya karena seorang anak yang baru lulus SMA – baru melanjutkan SMA di Amerika – bisa mengubah logat bahasa dengan cepat. Barangkali, karena saya yang kurang tahu, atau memang si Alfa Sagala ini diberikan kelincahan dalam melipat lidahnya menjadi lenting sempurna. Alfa Sagala akhirnya melanjutkan pendidikan di Kampus Cornell, New York.

Perjalanan mimpi itu berlangsung semakin nyata, sehingga Carlos dan Troy, sahabat Alfa Sagala menganggap si Batak ini abnormal. Alfa Sagala hanya tidur jika ingin dan tak lebih dari satu jam. Alfa Sagala takut tertidur karena takut bermimpi. Dalam mimpi panjangnya Alfa Sagala akan bertemu dengan Si Jaga Portibi, yang tak lain, dicetuskan sebagai penjaga pemimpi.

Imajinasi Dee Lestari semakin menyeruak saat menghadirkan bangunan Asko, sebuah bangunan yang nyata, seseorang yang menunggu, mimpi saling terhubung, mimpi yang mengaitkan satu sama lain, mimpi yang menarik kenyataan dari dunia nyata. Sampai akhirnya, Alfa Sagala dipertemukan dengan Nicky, dokter imut yang kemudian menemani Alfa Sagala menjumpai dr. Colin, seorang terapi mimpi yang telah bekerja hampir sepuluh tahun. Dr. Colin bersama Nicky memberi terapi kepada Alfa Sagala. Semua terbaca nyata dalam novel terbitan Bentang Pustaka ini. Seakan-akan, mimpi Alfa Sagala adalah benar adanya. Mimpi-mimpi yang menjadi penghubung satu sama lain, pertemuan dengan mereka yang memegang batu-batu khusus. Tak sedikit pula, Alfa Sagala membekap wajah dengan bantal sehingga sulit bernapas, maupun mencekik lehernya sendiri dalam mimpi, untuk menghadirkan rasa sakit, agar segera lepas dari mimpi-mimpi.

Alfa Sagala yang semula menghindari mimpi, semakin terobsesi untuk bermimpi. Setiap mimpi adalah petunjuk. Setiap petunjuk mengantarkannya pada pencarian panjang, termasuk seorang perempuan bernama Ishtar. Alfa Sagala percaya perempuan itu – ia yakini telah dicintai itu – benar-benar nyata di kehidupan sebenarnya. Alfa Sagala meminta bantuan pada Carlos dan Troy untuk mencari tahu keberadaan perempuan misterius itu, tampaknya Dee Lestari sengaja menyembunyikan Ishtar sehingga muncul di buku berikutnya, jika ada.

Kedahsyatan mimpi Alfa Sagala mengantarnya ke dataran Tibet. Menemui seorang penulis buku yang membuatnya bingung, seorang dokter, seorang penafsir mimpi, dr. Kalden.

Di sini, saya kembali bingung dengan sebutan Peretas, Infiltrant dan Savara. Tiga kata ini kemudian mengantarkan pada penjaga dan pembunuh. Alfa Sagala merupakan Peretas yang tak lain menjaga mimpi-mimpi (rahasia) agar tidak mencapai pendengaran dan penciuman Savara, pembunuh yang tak pernah mati jika dibunuh. Infiltrant adalah seseorang yang memiliki kepentingan untuk membantu Peretas mencari jalan keluar dari masalahnya tanpa mendikte bagaimana cara sebenarnya. Gampang-gampang susah mencerna masalah ini, namun dongeng mimpi Dee Lestari cukup menghibur untuk dilupakan.

Kitab mimpi yang ditulis Dee Lestari tak lain adalah untuk membuat saya berhenti bermimpi. Saya jadi takut seperti Alfa Sagala. Dee Lestari mengerahkan semua pengetahuan dan imajinasinya untuk menulis Gelombang menjadi sesuatu yang bukan main. Sebagai pembaca, saya diajak untuk merenung sebuah makna dibalik mimpi, bukan perjalanan Alfa Sagala dalam mencari identitas dirinya sebagai seorang pemimpi. Penulis cukup bijaksana bermain dengan adat-istiadat yang tak pernah padam di Indonesia. Biar masa telah berubah dan menjadikan teknologi semakin terdepan, Ompu Tugo Urat yang mencari si Ichon untuk dijadikan murid atau dibunuh masih berseliweran. Para dukun itu terus “beranak-pinak” sehingga ilmunya tidak pudar.

Perpaduan tradisional dengan modern adalah pilihan tepat dalam novel ini. Ompu Tugo Urat. Dr. Colin, Nicky dan Dr. Kalden. Semua memiliki padu-padan yang sesuai. Ompu Togu Urat mewakili sisi “primitif” yang masih mempercayai hubungan dengan makhluk gaib adalah nyata dan diamalkan dengan benar sehingga kuat tak terkira. Dr. Colin dan Nicky mewakili peradaban modern yang mencoba menelaah mimpi melalui alat-alat canggih tanpa mengubah konteks – keinginan – seseorang untuk bermimpi. Sedangkan Dr. Kalden, mewakili keduanya dalam memadukan paham “radikal” dengan paham kekinian.

Pemilihan kata yang tepat, cerita yang mengalir, menjadi bagian terpenting dalam buku yang diterbitkan akhir tahun 2014 ini. Saya termasuk salah seorang yang terlena dengan diksi yang dihadirkan Dee Lestari. Buku ini lebih dari cukup masuk ke dalam lemari kaca rumah pembaca!
Dee Lestari - Gelombang
***
Dan, jika Anda yang belum memiliki buku ini, bisa mengunjungi Bukupedia untuk mendapatkannya. 

6 komentar:

  1. di ujung cerita si Alfa Sagala ini diikuti oleh Savara yang sudah tewas dalam sebuah bom ranjau di Thailand (Vietnam?) pada buku berjudul Petir. Bikin pensaran dengan buku selanjutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.
      Aku memang sudah duga klu si penumpang gelap itu savara. Kita tunggu aja kelanjutannya ya :)

      Delete
  2. Belum baca buku, jdi banyak yang tak kupahami, hahaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Ki, Buku ini menarik untuk dibaca. Dee punya pesona menarik pembaca untuk larut dalam dimensi yang penuh kejutan.

      Delete
  3. Replies
    1. Terima kasih Mas. Ini resensi buku Dee, buku lama, 2014, tp baru sempat baca dan resensi sekarang :)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90