Top Ad 728x90

Friday, May 22, 2015

,

Bangku Sekolah Keok Itu

Pendidikan, Sekolah, Bangunan Sekolah, Sekolah Rusak, Mencerdaskan Anak Bangsa, Laskar Pelangi, Negeri 5 Menara, SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal), Kelayakan Sekolah, Ujian Nasional (UN), DPR RI, Provinsi, Aceh



Sekolah ini – malu saya sebutkan namanya – telah berdiri sejak tahun 1960-an. Di pelosok desa, di Indonesia nanpermai. Sekolah ini adalah madrasah ibtidaiyah yang telah melahirkan banyak generasi. Generasi yang saya maksud telah mengabdi pada negeri dengan beragam profesi: pegawai negeri, pegawai swasta, pengusaha, kepala desa, imam masjid, imam madrasah, sedang melanjutkan ke sekolah lanjutan pertama, lanjutan atas, sampai di perguruan tinggi.

Nahasnya, sekolah ini – seperti itulah. Tak ada yang menawan. Tak ada yang menarik dari sekolah di sudut desa terlupa. Sekolah ini, enggan sekali, saya injak kaki ke sana. Karena pemandangan luar tak mendukung untuk berlama-lama di sana.

Benar. Bentuk fisik bukan ukuran menilai isi dalam “sesuatu!”

Pada sebuah sekolah, sesuai janji itu, mencerdaskan anak bangsa, bangunan “mewah” itu perlu. Karena bangunan yang megah akan menyimpan segudang alat peraga, buku-buku baru dan bagus, buku-buku yang menyimpan rahasia dunia luar, yang mampu menyimak kisah seperti Laskar Pelangi maupun lima sekawan Negeri 5 Menara. Memang benar, Laskar Pelangi tidak memiliki bangunan kokoh menjulang angkasa, itu kapan waktunya, bukan di saat dunia pendidikan sesejahtera kini. Memang benar, Negeri 5 Menara mengisahkan perjuangan pendidikan yang ketat, fasilitas sekolah cukup memadai di sekolah agama itu.

Namun perubahan tahun semestinya mengubah bangunan kuno menjadi lebih menawan. Di mana pemerintah terus memberantas buta aksara, di mana pemerintah terus merencanakan dana pendidikan dalam jumlah besar, di mana pemerintah menelurkan program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal), guru-guru disertifikasi, dikasih tunjangan lumayan besar, gaji ketiga belas. Pengeluaran dana dari pemerintah tak seimbang dengan apa yang diucap dan terjadi di lapangan. SM3T misalnya, generasi muda itu memingkul derita lumayan panjang karena harus mengajar di daerah-daerah terpencil. Lalu, di mana guru pegawai negeri? Kenapa pengajar SM3T yang belum sepenuhnya “profesional” berlayar ke daerah yang mungkin hampir hilang dari peta Indonesia.  

Ini tahun 2015, Teman!

Layakkah bangunan sekolah masih seperti ini?

Photo By Bai Ruindra
Photo by Bai Ruindra
Photo by Bai Ruindra
Photo by Bai Ruindra
Begitukah bangunan sekolah di saat program pemerintah yang “bagus-bagus” itu. Pantaskah bangunan sekolah compang-camping di saat Ujian Nasional (UN) memacung satu persatu cita-cita anak bangsa karena mengenai nilai semata. Mungkinkah bangunan sekolah dimakan rayap saat guru-guru mendapatkan gaji dua kali lipat, uang makan, uang ini dan itu, uang lainnya…

Bangunan luar saja menampakkan bagaimana keperihan di dalam sana. Buku-buku lusuh. Kursi dan meja lapuk. Papan tulis kotor. Lukisan di dinding cuma  dari karton yang ditulis tangan, acak-acakan. Dinding kayu yang ditembusi sinar matahari dengan bebas, disertai “tercurinya” sebagian bangunan sekolah.

Konsentrasi mana yang diharapkan?

Anak-anak cenderung ingin tahu. Ingin melihat. Ingin merasa. Lihatlah mata mereka bergoyang ke sebelah kiri saat suara kendaraan mengitari jalan di samping kelas berlubang menganga itu. Bayangkan bagaimana sakitnya mata mereka saat matahari menanjak dari timur, langsung masuk dari dinding tak bertembok. Apa yang mereka rasakan saat celah-celah dinding kayu itu dirasuki cahaya terang, membayang ke segala penjuru, memerihkan mata mereka, kasihan mata kecil itu terlanjur sakit di usia sangat produktif.

Dan, sudahlah berspekulasi. Inilah bangunan sekolah kita. Di Indonesia. Di pelosok negeri Aceh. Di salah satu sekolah dasar yang bermarga pendidikan agama.

Apa yang dielus-elus oleh pemerintah di Pusat dan di Provinsi?

Goyang-goyang kaki saja sambil menanti ketukan palu DPR RI. Perbanyak tidur dari pada meninjau ke jalan setapak tak beraspal. Bermain gadget sambil menonton video “menarik” dan menaikkan birahi. Menuntut tunjangan. Menuntut kesejahteraan. Menuntut segala rasa….

Banyak kisah yang terus tercetus di media sosial. Foto-foto bahkan video tersebar. Sayangnya, pemerintah tetap buta. karena sebagian itu tidak terdata dalam database pemerintah. Pemerintah berdamai dengan keadaan yang “dekat” dengan kabupaten/kota maupun provinsi. Namun, bagian terkecil dari negeri ini luputlah dari jangkauan karena rakit, deru ombak, mabuk laut, mabuk darat, mendaki gunung, tak sanggup mereka jangkau dengan alat telekomunikasi yang pulsanya dari anggaran khusus yang dipakai dalam smartphone kelas atas.  

Bangku sekolah itu, tak selamanya kokoh. Mereka lapuk. Dimakan usia. Dimakan segala nyawa bukan ras manusia. Namun jangan lupa, dari bangku sekolah itu kita berjaya, mengarungi negeri, bahkan sampai jadi anggota DPR RI.


Bulan Mei itu diagung-agungkan sebagai bulan pendidikan. Apakah benar pendidikan itu telah merata?  

1 komentar:

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90