Top Ad 728x90

Wednesday, May 13, 2015

, ,

Narkoba dan Sebuah Kisah Kepercayaan Diri

Gerakan Rehabilitasi 100.000 Penyalahgunaan Narkoba, BNN, Badan Narkotika Nasional, Narkoba, Napza, Gerakan Rehabilitasi 100.000 Penyalahgunaan Narkoba, Aceh, Bali Nine, Orang Tua, Lingkungan, Agama, Metro TV, Metro Malam, Aviani Malik, Rehabilitasi, mencegah lebih baik dari pada mengobati

 
Sumber: Asrial Pajo
Pentingkah pecandu narkoba direhabilitasi?

Atau, apakah sebaiknya di penjara saja?

Pertanyaan kedua, saya jawab di akhir artikel ini.
Sumber: Republika
Penting atau tidak rehabilitasi tergantung kemauan dari orang-orang yang sayang pada seseorang yang kena tipu obat-obatan ini. Mereka yang sakit terlihat sehat-sehat saja jika dilihat sambil lalu. Namun, jika diselami lebih dalam, fisik mereka sangatlah rapuh. Mata cekung. Badan kurus kering. Perasaan kehilangan yang menghantui akibat tidak mendapatkan obat dalam seketika. Melakukan kejahatan seperti mencuri, paling kecil mencuri dari dompet orang tua di rumah, atau mencuri ayam di kandang orang tua saat tidak ada simpanan membeli obat. Konsentrasi terhadap segala hal berkurang karena daya pikir melemah. Tenaga terkuras cepat karena otot-otot telah dikelabui oleh obat, hilang gairah hidup dan gejala-gejala lain.

Pecandu narkoba atau pemakai barang “berharga” ini tak lain kelompok yang kehilangan jati diri, tidak percaya dengan diri sendiri bahkan kurang memahami potensi di dalam dirinya.

Banyak alasan yang membuat seseorang terjerumus sebagai pemakai obat-obatan terlarang ini; broken home, ajakan lingkungan, kemudahan mendapatkannya, proses coba-coba, depresi karena satu dan lain hal maupun alasan-alasan tertentu yang hanya diketahui oleh orang bersangkutan.
Sumber: Berita Satu
Narkoba juga dikenal sebagai Napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif), tergolong barang mematikan, disentuh menghanyutkan, tak disentuh sangat menggoda. Bagi mereka yang cenderung hilang kendali – karena masalah tertentu di atas – narkoba adalah obat mujarab untuk kembali “pulih” dari derita. Narkoba mampu melupakan kesukaran dengan mengubah beban pikiran menjadi sebuah angan-angan. Sayangnya, halusinasi yang dibawa serta oleh narkoba bukanlah angan-angan atau mimpi yang penuh pencapaian. Narkoba menarik alam mimpi untuk berbuat sesuatu yang lebih menarik, merugikan diri sendiri dan lingkungan.

Narkoba akan membunuh, pelan-pelan saja sampai tubuh kokoh tak mampu menyangga keutuhan mahakarya ciptaan Tuhan.

Memang, fenomena narkoba seperti memakan simalakama. Serba salah. Banyak pihak yang menginginkan narkoba semakin merajalela. Banyak pihak yang mati-matian mengubah pola pikir ke arah lebih lurus dengan menolak obat terlarang ini. Banyak lembaga yang memusnahkan barang haram ini. Tak sedikit pula lembaga membela bandar narkoba karena takut dana asing tak lagi bergulir ke rekening mereka. Kita tentu tak lupa kasus hukuman mati yang diprotes besar-besaran oleh mereka yang mengatakan pejuang kemanusiaan. Namun, semua pembelaan tersebut setali tiga uang dengan kerja keras pemerintah dalam menumpas peredaran narkoba di Indonesia.

Pemerintah, melalui Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan banyak tindakan dalam memulangkan kembali jiwa yang direngut oleh narkoba. Pekerjaan ini tidak mudah, mengingat kasus narkoba semakin mengambil jiwa muda. BNN Provinsi Aceh mempunyai program menarik, Gerakan Rehabilitasi 100.000 Penyalahgunaan Narkoba. Kerjasama ini dilaksanakan bersama TNI, Polri, pegiat antinarkotika dan mahasiswa.

Lantas, cukupkah gerakan rehabilitasi ini mencegah penyalahgunaan narkoba di Aceh? Kasus narkoba, merunut kepada mencegah lebih baik dari pada mengobati. Siapa saja yang telah terjerumus akan sulit sekali ditarik ke alam sadar karena narkoba membawa mimpi-mimpi. Mereka yang belum terlibat sepatutnya menerima sosialisasi kerugian besar dari narkoba.

Rehabilitasi adalah sebuah terobosan yang penting untuk pecandu narkoba. Mereka yang terlibat langsung dengan obat-obatan ini setidaknya mendapat pertolongan pertama, sebelum sembuh total. Rehabilitasi membutuhkan kematangan sebelum benar-benar diaplikasikan. Bentuk rehabilitasi yang patut dilakukan mencakup pendekatan orang tua, lingkungan dan agama.  

Orang Tua
Baik buruk seorang anak kembali kepada didikan orang tua. Orang tua memegang kendali kuat seseorang terjerumus sebagai pecandu narkoba atau bukan. Pusat rehabilitasi terpenting – sebelum maupun sesudah menjadi pecandu – adalah keluarga. Keluarga “baik-baik” akan mengarahkan seorang anak untuk berkelakuan baik pula. Keluarga yang kurang memperhatikan anak, maka narkoba sangat mudah merasuki jiwa anak tersebut.

Kesan pertama yang disimpulkan anak dari orang tua adalah kenyamanan. Nyaman di rumah bisa datang dengan beragam definisi, tetapi rasa aman dan terlindungi membuat anak jauh dari jangkauan narkoba. Anak tidak terpikir untuk menyentuh obat-obatan terlarang karena dukungan moril berlebihan dari orang tua.

Jika anak sudah terlanjur menggunakan obat-obatan terlarang, orang tua juga sebagai tempat kembali. Orang tua memberikan rehabilitasi tak terkira bagi anak. Dalam lingkungan keluarga, memori anak kembali disegarkan, dikembalikan kepada rasa nyaman sehingga pemikiran untuk kembali menggunakan obat-obatan terlarang bisa dikurangi. Orang tua memang bukanlah paramedis yang mampu menyulap seorang pencandu langsung pulih. Namun tahap ini adalah terobosan yang kuat untuk menjawab tantangan rehabilitasi.
Sumber: BNN Pusat
Pendekatan Lingkungan
Pengaruh lingkungan tak bisa dielak untuk anak yang pernah berinteraksi dengan pencandu narkoba. Dari lingkungan pula seorang anak menjadi pencandu narkoba, dan dari lingkungan pula seorang anak kembali ke wujud aktifnya dalam beragam kegiatan. Rehabilitasi terpenting dalam lingkungan adalah dengan mendekatkan anak dengan kegemarannya. Anak yang telah menjadi pecandu narkoba aktif, akan susah sekali kembali ke peradaban sebenarnya. Anak cenderung minder untuk berbuat sesuai hobi. Dengan menggali potensi dalam diri anak, efeknya justru berlangsung dalam jangka panjang. Anak akan tersibuk dengan aktivitas yang sesuai kemampuan mereka.

Tindakan pendekatan dengan lingkungan adalah untuk menimbulkan kembali rasa percaya diri anak yang telah direnggut paksa oleh narkoba. Kesibukan yang diakibatkan oleh lingkungan akan mengarahkan pada pemikiran melupa. Anak akan lupa keinginan untuk mengomsumsi narkoba.

Aktivitas anak dalam lingkungan disesuaikan dengan bakat dan minat sehingga anak bisa mencapai sukses dengan sendirinya. Mendekatkan anak dengan golongan yang sesuai hobi setidaknya memudahkan pendekatan terhadap lingkungan. Anak-anak yang memiliki hobi sama akan saling membantu satu sama lain untuk menuju keberhasilan.

Dalam pendekatan lingkungan, seorang anak yang telah pulih sebaiknya dihindari mendekati golongan yang rawan. Lingkungan yang dihiasi oleh pencandu narkoba, akan memudahkan anak tersebut kembali pada keinginan untuk mencoba mengonsumsi narkoba.
Sumber: Idola News
Pendekatan Agama
Belum terlambat untuk mendekatkan diri dengan agama. Agama adalah satu-satunya tempat kembali menjadi tenang. Pendekatan agama lebih kuat dari pendekatan mana pun. Agama tidak hanya mengarahkan untuk berbuat kebaikan semata, namun juga membentengi untuk melakukan kejahatan.

Pecandu narkoba membutuhkan pendampingan agama yang lebih dalam. Rehabilitasi tidak cukup dengan memberi kontak psikologis saja tanpa dibarengi dengan pendalaman agama. Mengenal diri sendiri memang penting, namun mengenal Tuhan jauh lebih penting karena Dia yang menciptakan segala. Mereka yang telah menggunakan narkoba sepanjang waktu tertentu, tak lain mereka yang kurang percaya dengan hadirnya kekuasaan Ilahi dalam setiap langkah. Narkoba memang meringankan beban pikiran. Agama justru lebih mujarab; shalat lima waktu, puasa sunnah, puasa Ramadhan, membaca al-Quran, maupun kegiatan ibadah lain akan mengurangi resiko penggunaan obat-obatan.

Mereka yang pernah terlena dengan obat-obatan, cenderung susah mendapatkan suntikan ilmu agama. Pikiran melayang-layang kerap kali merasuki jiwa mereka. Namun itulah tantangan yang harus dijawab. Tempat rehabilitasi khusus tidak cukup menguatkan kesembuhan seseorang tanpa diikuti dengan pendalaman agama. Mau tidak mau seorang pemuka agama (ustad) wajib hadir di pusat rehabilitasi setiap waktu. Agenda penting yang mesti dilakukan antara lain shalat berjamaah, tadarrus al-Quran, shalat sunnah, shalat malam berjamaah, puasa sunnah Senin dan Kamis, diskusi agama, ceramah singkat setelah shalat dan kegiatan-kegiatan lain.
Sumber: Antara News
Imbas narkoba memang tidak bisa disembuhkan seperti membalik telapak tangan. Usaha yang dilakukan patut didukung. Para korban yang sempat meradang sakit sangat membutuhkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Narkoba mengambil akal sehat perlahan-lahan dan penyembuhan narkoba juga perlahan-lahan. Inilah proses kematian yang memilukan dari pada sebuah musibah semisal bencana alam.
Sumber: Berita Intrik
***
Terlepas dari pendekatan yang dilakukan, pemerintah memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar. Saya menemukan sebuah cuplikan video hasil wawancara dengan bandar narkoba. Wawancara ini dilakukan oleh stasiun televisi nasional, Metro TV, dalam program Metro Malam, dipandu oleh Aviani Malik. Inilah alasan mengapa seorang pecandu narkoba tidak dibenarkan berada dalam penjara. Penjara merupakan salah satu “rumah mewah” penyalahgunaan narkoba. Hasil wawancara ini merupakan bukti kuat bahwa begitulah keadaan sebenarnya.
Sumber: Youtube

Sebuah pekerjaan rumah bagi pemerintah. Di saat BNN mengusahakan rehabilitasi bagi penyalahgunaan narkoba, para bandar narkoba justru berpesta ria di mana-mana. Hasil wawancara ini sepatutnya dijadikan pelajaran bahwa Indonesia begitu gawat narkoba.

Apakah BNN cukup berhenti diisu rehabilitasi saja?
***

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog BNN Aceh, tertarik dengan lomba ini, silahkah klik banner di bawah. 

Sumber: 
Youtube  https://youtu.be/rYjSSl7l-Lc

10 komentar:

  1. Replies
    1. Ada ya?
      Cm tahu boh trueng pungo digongseng dan smpt lht anak-anak jalanan ngisap lem di Peunayong dulu.

      Delete
    2. Dodol ganja? Baru dengar dan gak bisa membayangkannya gimana, hahaa...
      Btw, ini kapan DL-nya bai. mau ikut juga aaaah

      Delete
    3. Iya Ki. Baru dengar juga.
      Kalau gk salah sekitar awal Juni. Ayo kita ramaikan :)

      Delete
    4. ada dong bang.. kak.. ada..
      tuh buktinya di blog yudi nulis tentang itu :D

      Delete
    5. Ok. Lngsung dicek ke sana :)

      Delete
  2. Narkoba harus menjadi musuh bersama, pendekatan lingkungan harus menjadi solusi efektif

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mas. Lingkungan sngt mempengaruhi seseorang terlibat narkoba.

      Delete
  3. Tulisannya cerdas mengupas Bai. Good Luck.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Lina. Semoga bermanfaat dan generasi muda terjauh dari narkoba.

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90