Top Ad 728x90

Tuesday, June 2, 2015

, , , ,

Waspada! Petir Bisa Menyambar Laptop

Laptop Tersambar Petir, Cara Koneksi Internet Android, Cara Koneksi Portable Hostpot Android, Cara Koneksi Portable Hostpot Android Dengan Kabel, Cara Koneksi Portable Hostpot Android Samsung, Hindari Kerusakan Hardware Laptop/Komputer, Service Laptop, Bongkar Laptop, IBM Windows XP, IBM ThinkPad, IBM Model Lama, IBM Produk Tahan Banting, IBM Produk Kuat, Wi-Fi, Internet Gratis, Warung Kopi Aceh, Warung Kopi Internet Gratis, Warung Kopi Wi-Fi


Tiada hari tanpa bercinta dengannya!

Tepat sekali. Aku yakin, kamu juga demikian. Tiap hari kerjanya pelototin layar sepuluh atau dua belas inci. Ada kebanggaan tersendiri jika sudah berinteraksi dengan perangkat elektronik ini. Gayanya nggak gagap teknologi!

Ke mana-mana, laptop dibawa. Apalagi, di Aceh, warung kopi dengan fasilitas internet gratis itu bagai kita mencari makanan ringan. Gampang sekali. Asalkan ada uang lima ribu rupiah untuk menebus secangkir kopi. Terserah kamu mau ngapain, kamu menghabiskan waktu dari pagi sampai sore pun nggak masalah, kamu mau download film terbaru silakan saja. Asyik sekali pokoknya!

Dunia terasa milikku!

Orang lain mah lewat. Mau dianggap pengangguran, terserah. Mau dianggap tak ada penghasilan rapopo – kata Julia Perez. Mau dibilang cuma nongkrong saja, no problem. Nyatanya? Nggak demikian. Facebook cukup jarang kubuka pakai laptop. Twitter pun jarang-jarang. Paling sering update status dengan link tulisan terbaru. Dan ini, blogger adalah laman website satu-satunya yang selalu kukunjungi, selain Kompasiana. Aku termasuk pembaca yang jarang komentar di blog orang lain. Mungkin ini pula alasan orang jarang komentar di blog aku – hapus kalimat terakhir!

Duniaku hancur

Bukan putus cinta, toh aku jomblo budiman. Bukan karena kehilangan ide menulis. Bukan karena nggak ada lagi internet gratis.

Sedih itu karena laptopku tiba-tiba tidak mau menyala!

Aku kayak kembali ke masa purbakala. Kurang paham apa yang terjadi dengan kekasih berukuran sepuluh inci ini. Jika dikata tiak paham teknologi sama sekali, mungkin kurang tepat, aku masih bisa membedakan laptop blank total dan tak bisa disembuhkan dengan blank setengah total yang datanya masih bisa diselamatkan. Laptopku masih hidup. Sesekali aku masih bisa masuk ke Windows. Di lain kali malah lebih sering menampilkan barisan kalimat yang tak kumenegrti. Di layar itu tertulis ada perangkat hardware yang mengalami masalah.

Kepalaku pusing. Kalimat mujarab itu, hindari kerusakan hardware! Tiba-tiba menjadi kenyataan. Hardware. Kata kunci itu. Perangkat penting sebuah laptop/komputer. Jika rusak artinya harus ganti baru. Aku selalu nggak masalah jika software yang mati total karena cukup instal ulang.

Saatnya mengejar tukang service. Mana tahu laptop tua ini salah menulis notifikasi. Ya kan? Nama juga perangkat tua. Salah-salah wajar dong!

Laptopku ini termasuk kategori laptop tahan banting. Sangat bisa kuandalkan. Dan aku sangat percaya dengan produk keluaran IBM ini. Jika kusandingkan dengan produk laptop terbaru sekarang, kecepatan laptopku dua kali lebih cepat dalam mengakses data maupun konektivitas internet. Walaupun laptop dengan slogan ThinkPad ini hanya mendukung Windows XP namun hasil kerjanya lebih menjamin dibandingkan laptop yang sudah support Windows 7 maupun Windows 8.

Aku duduk santai di sebuah toko service komputer. Tak perlu kukatupkan kedua tangan untuk mendoakan semoga si laptop yang tak kuberi nama itu baik-baik saja.

“Ada perangkat yang rusak,”

“Apa itu, Bang?” mataku melotot.

“Kita bongkar dulu,”

Aku mendengus. Bongkar?

“Boleh?”

Aku mengiyakan. Laptop tua itu dibongkar. Aku juga penasaran dengan perangkat mana yang rusak.

“Kemungkinan perangkat untuk Wi-Fi, Bang?” ujarnya sambil membuka bagian belakang laptop itu.

Aku menunggu. Menghitung berapa banyak nada yang tersimpan dalam lagu Ku menunggu, Rossa Roslaina. Mana tahu sebuah keajaiban bisa datang. Aku tak perlu mengganti perangkat keras yang dimaksud.

“Kita coba copot yang ini,” tangannya langsung melepas kabel yang tersambung ke perangkat keras sebesar tiga jari itu. “Kemungkinan memang ini yang tidak mendukung lagi,”
Support Wi-Fi - Bai Ruindra
Support Wi-Fi - Bai Ruindra
Selesai memisahkan perangkat kecil itu dengan badan laptop, ia menekan tombol Power. Laptop menyala dengan mulus.

“Ini tidak bisa lagi, Bang!”

Selesai.

Perangkat sebesar tiga jari itu tak lain perangkat dukungan untuk konektivitas internet melalui Wi-Fi. Perangkat itu dicopot, otomatis internet melalui Wi-Fi tidak bisa disambung lagi.

Malapetaka!

Sehari-hari aku bekerja dengan internet!

“Apa penyebabnya, Bang?” tanyaku lugu. Padahal, aku sudah memprediksi alasan rusaknya perangkat keras itu.

“Bisa jadi karena tersambar petir!”

Benarkan?

“Masih untung tidak terbakar semua, Bang,”

“Memang bisa terbakar semua?”

“Bisa!” ujarnya mantap. “Jika terbakar semua, laptop bisa meledak!”

Aku membayangkan kemungkinan terburuk itu. Meledak? Habislah semua data-dataku di hardisk.

Aku pulang dengan lesu. Laptopku memang tidak kenapa-kenapa. Namun dicopotnya perangkat keras untuk mendukung Wi-Fi sama saja aku bekerja tak terkoneksi internet. Perangkat keras serupa – seperti bawaan – tidak dijual terpisah, katanya satu-satunya pendukung Wi-Fi adalah perangkat berbentuk flashdisk yang harganya mendekati dua ratus ribu.

Jelas saja aku jadi pelit. Entah kenapa aku menjadi sangat sensitif. Aku pun memutar otak ke mana suka. Aku punya smartphone Android, akan kucoba mengoneksinya dengan itu. Memang, Android sudah mendukung Portable Hostspot, fungsinya sama dengan Wi-Fi kebanyakan. Namun laptopku sudah tidak bisa tersambung lagi dengan Wi-Fi jika tak ada kabel pendukung.

Aku duduk lemas di warung kopi. Mengutak-atik smartphone Android andalan, yang sewajarnya tidak boleh dihidupkan dukungan Wi-Fi secara berlebihan. Aku berharap tidak lagi keluar biaya tambahan. Mataku terbelalak. Wi-Fi dari Android bisa dikoneksikan dengan kabel. Dan, yang lebih semarak lagi, aku bisa mencangkok jaringan Wi-Fi dari warung kopi itu, tak payah menggunakan jaringan seluler.
Screenshot Koneksi Internet Android  Samsung - Bai Ruindra
Screenshot Koneksi Internet Android  Samsung - Bai Ruindra
Oh, Android

Tapi, aku jadi sangat sensitif terhadap cuaca. Nggak lagi-lagi aku menghidupkan laptop saat petir. Aku tidak tahu apakah tersambar saat online atau offline. Kemungkinan bisa banyak hal. Laptop ini pun sudah tersambar sekali. Jika kedua kali? Separuh nyawaku pergi, seperti kata Anang Hermansyah!


Pengalaman ini cukup “menggiurkan” diulang kembali! 

8 komentar:

  1. beneran mas ? ditempat saya lagi ujan yang sepaket sama petirnya loh.
    jadi ngeri -__-

    ReplyDelete
  2. kalo aku laptopnya suka di bungkus terus masukin ke kolong kasur mas, biar g ke sambar petir , hehe

    ReplyDelete
  3. Beneran tu mas? Soalnya saya sering hidupin laptop dalam keadaan hujan dan petir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mas. Port yg difoto itu hardware pendukung wifi trpaksa dicopot krn tdk support lg. Skrg koneksi internet pakai kabel/modem.

      Delete
  4. Ngeri. Tadi sore di tempatku hujan dan ada petirnya lumayan kenceng. Langsung aku matiin buru-buru itu PC padahal lagi asyik denger lagu di youtube. :(

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90