Top Ad 728x90

Saturday, July 4, 2015

,

Islam Nusantara Dari Warisan Budaya Indonesia

Islam Nusantara, Apa bentuk Islam Nusantara, Mengapa Islam Nusantara, Apakah Islam Nusantara, Bagaimana terbentuk Islam Nusantara, Islam Nusantara termasuk golongan atau aliran apa, Baik atau buruk Islam Nusantara, sejarah masuknya Islam ke nusantara, bagaimana proses terbentuknya Islam Nusantara


Islam Nusantara. Agama barukah? Golongan yang termasuk ke dalam 73 itu? Sebuah organisasi Islam?

Ternyata bukan. Islam Nusantara tak lain Islam itu sendiri yang lahir dari warisan budaya bangsa. Bagaimana Islam Nusantara terbentuk karena kebudayaan negara kita membentang luas di seluruh negeri. Bahkan di satu daerah saja bisa beragam budaya dan bahasa. Islam yang berbaur dengan masyarakat yang telah lama mempercayai keyakinan leluhur, mau tidak mau ikut bercampur dalam kebiasaan ini; jika ingin diterima.

Kisah Wali Songo yang mengajarkan Islam dengan berbagai kesenian Jawa menjadi salah satu bentuk warisan ini. Wali Songo mengenalkan Islam dengan cara yang gampang. Masyarakat Jawa yang gemar kesenian seperti Wayang Kulit dan Wayang Orang tentu lebih mudah menerima pelajaran Islam dari kisah pewayangan. Wali Songo mempraktikkan trik ini dan kemudian berhasil merangkul banyak golongan untuk merengkuh Islam.

Memang bukan perkara mudah, apalagi ketika masa terus berbenah, teknologi merajalela, ilmu agama terkuras zaman, pengetahuan ini itu mudah didapat, namun pembenaran dari sebuah ilmu belum tentu diperoleh dengan benar.

Mengapa ini terjadi? Mengapa Islam Nusantara dikecam?

Karena – terkadang – pemahamana agama hanya modal tulisan blog di internet. Atau mendengar sekilas dari ceramah. Atau hanya sesekali ikut terlibat dalam diskusi keagamaan. Atau hanya baca dari buku agama tanpa pembimbing. Atau…

Padahal, Islam itu sangat universal. Di mana-mana pembelajaran Islam diajarkan. Tidak ada yang salah dengan praktik belajar Islam seperti di paragraf sebelum ini. Namun, alim ulama yang telah belajar dari banyak literatur, mempelajari isi kandungan al-Quran, menafsirkan ayat demi ayat, menelaah berbagai hadist; bahkan terlupa untuk dikunjungi karena gampangnya belajar ilmu agama sekilas-sekilas.
Islam Nusantara - Republika
Mengutip wawancara Detik.com dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siroj, “Islam Nusantara bukan agama baru, bukan juga aliran baru. Islam Nusantara adalah pemikiran yang berlandaskan sejarah Islam masuk ke Indonesia tidak melalui peperangan, tapi kompromi terhadap budaya.”

Jika masuk ke dalam suatu golongan; pelajaran utama adalah mempelajari bahasa dan budaya mereka.

Para pembawa agama Islam dikenal sebagai pedagang dari Timur Tengah. Tentu mereka tidak membawa senapan seperti Belanda maupun Jepang dan penjajah lainnya yang sempat hinggap di negeri ini. Penyiar Islam kemudian berbaur dengan adat-istiadat sehingga Islam diterima dengan arif di golongan masyarakat Indonesia yang lebih dahulu mempercayai agama lain seperti Hindu dan Budha.
Islam Masuk ke Nusantara (Indonesia) - EraMuslim 
Penyebaran Islam di Indonesia - Arrahman
Di sinilah akar permasalahan yang menjadi pedebatan panjang. Isu mudah merebak karena media sosial sangat mendukung. Isu berkembang pesat karena sebagian dari mereka yang paham agama sedikit ikut nimbrung dan meramaikan dengan status “paham” segala. Sedangkan para alim ulama yang tak menyentuh media sosial – bisa disebut sedikit yang aktif karena tokoh penting negeri ini maupun pandai agama yang jadi selebriti – tidak tahu-menahu soal ini. Sekalipun para alim ulama mendengar selintas dari televisi maupun radio, mereka tetap saja tidak bisa memberikan pemahaman maupun menyanggah pernyataan.

Salahkah Islam Nusantara itu “lahir”?

Islam Nusantara baru kali ini terdengar. Dulu Islam ya Islam. Tak ada lebel nusantara maupun Indonesia. Merujuk pada beragam perilaku masyarakat Indonesia, masih banyak pula kebudayaan agama lain melekat dalam Islam. Perpaduan inilah yang membuat Islam di Indonesia menjadi kaya tanpa membuang nilai-nilai keislaman dan menggantikan dengan kebudayaan maupun kebiasaan masyarakat. Islam tidak mengubah konteks Wayang yang dipertontonkan. Islam hanya menyelipkan ilmu agama sehingga masyarakat paham betul pengajaran dalam Islam. Peristiwa lain lahir dari tolak bala yang sering dilakukan menjelang Ramadhan. Hari Rabu terakhir dijadikan sebagai hari untuk menolak semua bencana sebelum kembali suci di hari puasa. Konteks yang salah adalah dengan menceburkan sesajen ke lautan lepas berhadap di makan entah oleh siapa. Proses tolak bala sendiri yang digubah menjadi lebih manis dalam Islam. Tolak bala dilakukan dengan doa bersama tanpa melupakan “sesajen” yang kemudian di makan bersama setelah berdoa.

Benar Islam mengubah konsep sebuah budaya. Pengubahan ini lebih kepada bentuk keyakinan terhadap-Nya. Inilah Islam citarasa Indonesia atau Islam Nusantara. Karena Islam seperti ini hanya ada di nusantara.


Islam ibarat teman, pintar-pintar bergaul agar dapat merangkul banyak teman…
Sahabat Sejati - Ayobuka

3 komentar:

  1. islam di nusantara. saya kira jika memang bersahabat dg kebiasaan masyarakat tentulah strategi dakwahya tidak berhenti di modifikasi saja, tapi sungguh-sungguh setahap demi setahap mengarahkan pada islam yang sesuai dg yg diajarkan Rasulullah. perkara yang lalu biarlah berlalu. janganlah niat baik dan perjuangan penyebar islam di masa awal di nusantara ini berhenti karena kita tak cukup berani mengambil langkah seperti mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. Kebiasaan suatu masyarakat akan mudah diterima dr pd budaya lain. Ibaratnya, pelajari bahasa jika ingin mengetahui suatu bangsa. Dan terbukti bahasa jd perantara mengetahui bnyk hal dn mengajrkan bnyk hal pula.

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90